Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sesampainya di bawah pohon pinus yang rindang itu, suasana langsung terasa riuh karena kedatangan mereka. Semua teman sudah berkumpul di sana, tertawa dan bercanda dengan gembira.
Di tengah keramaian itu, Jonathan tiba-tiba mengajak semua orang untuk diam sejenak. Dia maju selangkah mendekati Aletta dengan napas yang sedikit terengah karena gugup namun matanya menatap tajam ke arah gadis itu.
"Aletta, ada satu hal yang sudah lama ingin aku sampaikan padamu," ucap Jonathan memulai pembicaraan dengan suara yang terdengar jelas namun sedikit bergetar.
"Apa itu, Jo? Kok kamu bicara seolah ada hal penting banget," jawab Aletta dengan nada bercanda namun wajahnya mulai terlihat bingung.
Jonathan menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya, "Selama ini kita sudah sering menghabiskan waktu bersama, entah kenapa setiap ada kamu rasanya hariku jadi lebih indah dan berwarna. Jujur saja, aku sudah lama menyukaimu, bahkan aku mencintaimu, Aletta. Maukah kamu menjadi kekasihku dan menemaniku menjalani hari-hari ke depannya?"
Semua teman yang ada di sana langsung bersorak mendengar ucapan Jonathan. "Terima! Terima! Terima!" seru mereka serentak. Sementara itu, Aletta hanya terdiam dengan wajah yang memerah padam karena terkejut mendengar pengakuan itu.
"Iya aku mau" Ucap Aletta dengan keraguan entah kenapa dia sendiri tidak bisa mengartikan perasaannya saat ini.
Jujur saja hatinya menolak tetap mulutnya berkata iya apa yang sebenarnya yang iya mau.
Jonathan memeluk Aletta didepan semua orang dan sangat bahagia karena bisa mendapatkan Aletta.
"Karena gue lagi seneng, semua makanannya gue terakhir deh" Ucap Jonathan tersenyum bahagia.
"Asik dapet pajak jadian nih kita" Ucap Riko senang begitu pun semua orang yang ikut datang juga merasakan kebahagiaan.
Di saat yang sama, Dilan baru saja mendapatkan panggilan telpon dari Erik yang baru saja lewat dari arah kawasan pohon pinus langsung mengabari Dilan dengan antusias.
"Hei Dilan! Gue liat Aletta dia ada di bawah pohon pinus sama cowok dan segerombolan anak anak cinta mulya" kata Erik mengamati keberadaan Aletta dihadapannya.
"Coba loh sher lokasinya ke handphone gue? dan thanks buat infonya, gue langsung ke sana sekarang!" jawab Dilan dengan wajah yang tiba-tiba bersinar cerah karena kegembiraan.
Tanpa membuang waktu sedikitpun, Dilan langsung berlari menuju lokasi yang dimaksud Erik. Namun sesampainya di sana, langkah kakinya tiba-tiba terhenti dan hatinya terasa hancur berkeping-keping saat melihat apa yang sedang terjadi di hadapan matanya.
Dia melihat Jonathan sedang menyatakan cintanya kepada Aletta dan melihat betapa bahagianya wajah teman-teman mereka yang mendukung pernyataan cinta itu.
"Jadi begini ternyata... Pantas saja dia terlihat sibuk akhir-akhir ini," gumam Dilan pelan dengan suara yang tertahan oleh kesedihan. Dia tidak sanggup melihat kelanjutan kejadian itu, perlahan dia membalikkan badan dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa ada satu orang pun yang menyadari kepergiannya.
"Loh gak menepati janji Al buat gak pernah ninggalin gue" Ucap Dilan tersenyum kecewa dengan Aletta menerobos jalan raya yang ramai dengan kendaraan bermotor.
Dia tidak peduli dengan orang lain yang sudah meng klakson dirinya karena hampir menabrak dia hanya ingin segera menjauh dari tempat itu dan melupakan kejadian yang barusan dia lihat.
Sejak kejadian itu, Dilan berubah menjadi sosok yang pendiam dan sering melamun. Perubahan sikapnya itu tidak luput dari perhatian Tamara yang sudah lama menaruh hati padanya. Suatu hari, Tamara memberanikan diri mengajak Dilan berbicara di taman sekolah yang sepi.
"Dilan, boleh gue bicara sebentar?" tanya Tamara membuka percakapan dengan nada lembut.
"Boleh saja, ada apa, Tamara?" jawab Dilan singkat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Tamara.
"Gue tahu apa yang loh rasakan belakangan ini. Gue tahu hati loh sedang sakit dan kecewa. Tapi sampai kapan loh akan terus meratapi hal yang sama terus menerus? Lihatlah diri loh sekarang, loh bukan Dilan yang ceria dan penuh semangat seperti dulu lagi," ujar Tamara dengan nada sedih namun tegas.
"Lalu apa yang harus gue lakukan? Rasanya sangat sulit bagi gue untuk melupakan semuanya," balas Dilan dengan nada suara yang penuh keputusasaan.
Tamara memegang lembut lengan Dilan lalu berkata, "Kalau begitu cobalah buka hati loh untuk orang lain, Dilan. Buka hati loh untuk gue. Gue sangat menyayangi loh dan gue berjanji akan melakukan apa saja untuk membuat loh bahagia. Berikan gue kesempatan itu ya, Dilan?"
Dilan hanya terdiam mendengar permintaan Tamara. Ia sadar gadis itu tulus menyayanginya, namun hatinya masih sepenuhnya milik Aletta sehingga dia tidak mampu menjawab permintaan itu saat itu juga.
Beberapa hari berlalu, namun perasaan Dilan tidak berubah bahkan rasa rindunya semakin menjadi-jadi. Hingga pada suatu sore di mana hujan turun sangat deras disertai suara guntur yang menggelegar, Dilan bertekad untuk pergi ke rumah Aletta.
dia berjalan menyusuri jalanan yang berlumpur tanpa mempedulikan dinginnya air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Sesampainya di depan pintu rumah Aletta, dia langsung mengetuk pintu itu dengan tangan yang sudah menggigil kedinginan.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan tampak wajah Aletta yang terkejut melihat kondisi Dilan yang basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Ya Tuhan Dilan! Kenapa loh ada di sini dalam kondisi seperti ini? Loh gak takut sakit apa?" seru Aletta dengan nada panik dan khawatir.
"Gue hanya ingin bertemu dengan loh, Aletta. Gue tidak peduli dengan hujan atau rasa dingin ini," jawab Dilan dengan suara yang lemah namun penuh perasaan.
"Masuklah cepat! Jangan berdiri di depan pintu terus, nanti loh makin kedinginan," kata Aletta sambil menarik tangan Dilan masuk ke dalam rumahnya. Ia segera mengambilkan handuk kering dan menyuguhkan secangkir teh hangat agar tubuh Dilan menjadi lebih hangat kembali.
Setelah suasana menjadi sedikit tenang dan hening, akhirnya Aletta memulai pembicaraan dengan nada bicara yang serius dan tajam. Ia menatap lurus ke arah mata Dilan seolah ingin menembus isi hati pemuda itu.
"Dilan, ingatkah loh dengan janji yang pernah loh ucapkan pada gue dulu?" tanya Aletta tiba-tiba.
"Janji apa maksudnya, Aletta? Gue sudah banyak berjanji pada loh, mana yang loh maksud?" jawab Dilan dengan nada bingung.
"Loh pernah berjanji pada gue kalau loh akan melupakan perasaan loh pada gue dan mencoba mencintai Tamara dengan tulus. Loh bilang loh akan berusaha membahagiakannya dan tidak akan menyakiti hatinya. Tapi sampai hari ini apa yang loh lakukan? Loh malah terus mencari-cari gue dan mengabaikan Tamara yang selalu ada untuk loh," ucap Aletta dengan nada suara yang meninggi karena kesal.
Mendengar ucapan itu, emosi Dilan yang selama ini dia tahan akhirnya meledak juga. Dia berdiri dengan kasar dari tempat duduknya lalu berteriak ke arah Aletta.
"Loh pikir semudah itu gue bisa melupakan loh? Loh pikir janji itu bisa gue penuhi begitu saja padahal hati gue hanya milik loh seorang?! Loh gak tahu betapa sulitnya gue berusaha melakukan apa yang loh minta! Loh gak perasaan mengerti sedikit pun perasaan gue, Aletta!"
Tanpa mau mendengarkan jawaban apa pun dari Aletta, Dilan langsung berlari keluar dari rumah itu kembali menerobos derasnya hujan, meninggalkan Aletta yang hanya bisa terdiam sambil menahan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Di halaman belakang rumahnya, Dilan duduk bersandar pada batang pohon besar yang sudah ada sejak dia masih kecil. Matanya menatap kosong ke arah sudut halaman, sementara pikirannya melayang jauh ke masa lalu.
Dia teringat betapa seringnya dia dan Aletta berlari-lari di sana, tertawa bersama, dan menghabiskan hampir seluruh waktu mereka berdua. Setiap sudut tempat itu seolah menyimpan kenangan manis yang tak terlupakan—mulai dari saat mereka masih balita yang saling berebut mainan, hingga masa remaja di mana mereka sering berbagi cerita dan impian. Semua kenangan itu berputar terus di kepalanya, membuat hatinya terasa semakin berat dan sakit.
Tanpa disadari, Citra sudah berdiri di dekatnya cukup lama, memperhatikan wajah anak laki-lakinya yang tampak murung dan sedih. Perlahan, Citra mendekat lalu duduk di samping Dilan.
"Dilan, kamu lagi mikirin apaan sih sampai gak nyadar loh ada Bunda di sini?" tanya Bunda lembut sambil menepuk pelan bahu Dilan.
Dilan tersentak kaget, lalu memalingkan wajah berusaha menyembunyikan kesedihannya. "Ah, gak ada apa-apa, Bun. Aku hanya teringat masa lalu saja," jawabnya lirih.
Citra menghela napas panjang, lalu menatap putranya dengan tatapan penuh pengertian dan kasih sayang. "Bunda tahu apa yang ada di pikiran dan di hati kamu, sayang. Kamu sedang teringat Aletta, kan? Bunda mengerti rasanya, sulit sekali melupakan seseorang yang sudah tumbuh besar bersama kita dan mengisi hampir seluruh hidup kita. Tapi tolong dengarkan nasihat Bunda, jangan terus-terusan larut dalam kesedihan seperti ini. Hidup tidak boleh berhenti hanya karena cinta yang tak sampai."
Dilan hanya diam menundukkan kepalanya, mendengarkan setiap kata yang diucapkan Bundanya, karena jujur saja dia sedang putus asa dan tidak tau harus berbuat apa.
"Dan satu hal lagi yang harus kamu ketahui," lanjut Citra dengan nada suara yang tegas namun lembut.
"Bunda yakin betul bahwa apa yang dirasakan dan dilakukan Aletta selama ini pun tidaklah mudah baginya."
"Maksud bunda apa" Tanya dilan menatap Citra karena memang dia tidak bisa berpikir secara jernih perasaannya sedang bercampur aduk.
"Jangan kira dia bisa dengan santai dan gampang menjalin hubungan dengan Meldi, padahal dia baru saja mengenal pemuda itu. Semua keputusan dan sikapnya dia ambil bukan tanpa alasan, sayang.
"Aduh Bun bisa langsung ke intinya saja gak Dilan pusing " Ucap Dilan kebingungan mengartikan percakapannya Citra, Citra hanya tersenyum melihat Dilan yang kebingungan.
"Dia melakukan semua ini semata-mata demi kebaikanmu, agar kamu bisa melupakan dia dan mau membuka hati kamu untuk Tamara yang sangat tulus menyayangi kamu. Dia berkorban perasaannya sendiri supaya kamu bisa bahagia bersama orang lain."
Mendengar penjelasan itu, Dilan langsung mengangkat wajahnya dengan tatapan penuh ketidakpercayaan dan kebingungan. "Tapi kenapa, Bun? Kenapa dia harus melakukan semua ini kalau rasanya berat dan sulit? Aku benar-benar tak habis pikir dengan sikapnya.
Bunda menepuk pundaknya Dilan agar dia merasa tentang dan tidak terbawa emosi dengan keadaannya saat ini.
"Di depan orang lain dia terlihat biasa saja, bahkan seolah bahagia bersama Meldi, tapi di saat yang sama dia selalu mendorongku untuk bersama Tamara. Aku jadi bingung sendiri sebenarnya apa isi hatinya," bantah Dilan dengan nada suara yang terdengar kesal sekaligus sedih.
"Kamu harus mengerti posisinya, Dilan," jawab Bunda dengan sabar.
"Dia mengambil keputusan itu karena dia yakin itulah jalan terbaik untukmu.
"Sekarang, tugasmu hanyalah menerima apa pun keputusan yang sudah dia ambil dengan kepala tegak. Jangan lagi menuntut atau mempertanyakan alasannya, karena dia sudah menentukan pilihannya." Ucap Citra berharap Dilan bisa mengerti dan memahami Aletta.
Citra juga awalnya tak setuju dengan keputusan yang Aletta ambil namun setelah mendengar isi hati Aletta yang dia bilang tak enak kepada Tamara karena keluarga yang sudah merawat dia di kala Puspa dan Baskara sibuk dengan kerjanya dia jadi ngerti.
Mungkin yang paling berat disini adalah Aletta makanya dia mencoba meyakinkan anaknya Dilan untuk menerima keputusan Aletta dan tidak membenci Aletta dan mau membuka hubungan dengan Tamara.
Bunda menggenggam tangan Dilan erat-erat, lalu melanjutkan ucapannya, "Mengenai Tamara, Bunda ingin kamu berpikir dengan bijak. Cobalah buka hatimu sedikit saja dan berikan kesempatan padanya." Menghentikan pembicaraannya dan menatap Dilan.
"Namun, ingat satu hal yang paling penting jika nanti kamu merasa tidak nyaman, merasa terpaksa, atau merasa hubungan itu hanya menjadi beban, maka sebaiknya jangan dilanjutkan. Tapi jika sebaliknya, kamu merasa tenang, nyaman, dan bahagia bersamanya, maka pertahankan dan lanjutkan lah hubungan itu dengan sungguh-sungguh. Ikuti kata hatimu, tapi jangan sampai menyakiti hati siapa pun juga." Ucap Citra memberikan Nasehat kepada Dilan agar dia tidak salah jalan.
Dilan menatap mata Bundanya dalam-dalam, meresapi setiap nasihat yang disampaikan. Perlahan, ia menganggukkan kepalanya seolah mulai mengerti dan mau mencoba menerima kenyataan yang ada.
Setelah Citra masuk kembali ke dalam rumah, Dilan masih tetap duduk diam di tempatnya. Kata-kata Citra terus berputar di dalam kepalanya, menembus jauh ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Dia kembali menatap sekeliling halaman belakang itu—tempat di mana ia dan Aletta tumbuh bersama, berlari, tertawa, dan berbagi segalanya sejak mereka masih kecil.
"Jadi selama ini dia menderita juga ya... Selama ini gue hanya memikirkan sakit hatinya sendiri, padahal dia pun menanggung beban yang sama beratnya bahkan mungkin lebih berat dariku," batin Dilan berbicara pada dirinya sendiri dengan nada yang penuh penyesalan.
Dia teringat kembali saat-saat di mana Aletta selalu mendorongnya untuk bersama Tamara, saat ia menagih janji di tengah hujan, hingga saat ia berkata dengan tegas bahwa Dilan adalah pacarnya Tamara di hadapan Jonathan.
Dulu Dilan mengira semua itu karena Aletta memang tidak memiliki perasaan yang sama dengannya, atau bahkan ia mengira Aletta sudah melupakannya begitu saja demi orang baru. Tapi setelah mendengar penjelasan Citra, semuanya menjadi terang baginya.
"Ternyata dia melakukan itu semua karena dia menyayangi gue. Dia rela terlihat tegas dan dingin, dia rela membuat dirinya terlihat bahagia dengan orang lain, semata-mata agar gue bisa melupakannya dan membuka hati gue untuk Tamara." Menutup wajahnya dan mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Dia mengorbankan perasaannya sendiri demi kebaikan gue... Betapa bodohnya gue yang malah marah dan menyalahkannya selama ini," pikir Dilan sambil menundukkan wajahnya, rasa bersalah mulai menyelimuti seluruh hatinya.
Di sisi lain, bayangan wajah Tamara juga muncul di benaknya. Ia teringat bagaimana Tamara selalu ada untuknya, betapa sabarnya gadis itu menghadapi sikapnya yang sering kali dingin dan menjauh, serta ketulusan cintanya yang tidak pernah berkurang sedikitpun meski sering kali disakiti oleh sikap Dilan sendiri.
"Tamara sungguh gadis yang baik. Dia tidak pernah memintaku lebih dari sekadar kesempatan. Dia tidak pernah menuntut cintaku, dia hanya ingin aku membuka hatiku sedikit saja untuknya. Dan Bunda benar...gue gak boleh terus-terusan terjebak di masa lalu. Aletta sudah memilih jalannya, dia sudah memutuskan untuk menjauh demi kebaikan gue, dan gue harus menghargai keputusannya itu," batinnya semakin mantap.
Pertanyaan Citra kembali terngiang di telinganya Jika tidak nyaman jangan dilanjutkan, tapi jika nyaman maka lanjutkan lah.
Dilan mulai mengingat kembali saat-saat bersama Tamara. Meski hatinya selama ini masih terikat pada Aletta, dia harus mengakui satu hal—bersama Tamara dia merasa tenang.
Tamara tidak pernah memaksanya, Tamara selalu mengerti, dan keberadaan Tamara selalu bisa membuat suasana hatinya menjadi lebih baik meski hanya sejenak. Tamara memberinya perhatian dan kasih sayang yang tulus, sesuatu yang pantas dia balas dengan kejujuran dan kesungguhan hati.
Perlahan namun pasti, Dilan mengangkat wajahnya dan menatap ke depan dengan tatapan yang lebih tegas dan mantap.
Beban berat di dadanya terasa sedikit terangkat. Dia sadar, terus meratapi apa yang sudah terjadi tidak akan mengubah apa pun, dan itu juga tidak akan membuat Aletta tenang. Justru sebaliknya, jika dia bahagia dan menjalani hidupnya dengan baik, itulah hadiah terbesar yang bisa dia berikan untuk pengorbanan yang telah dilakukan Aletta.
"Aku sudah mengambil keputusanku, Bun... Aku akan menerima keputusan Aletta dengan lapang dada. Aku tidak akan lagi menyalahkannya atau mempertanyakan sikapnya, karena aku sudah tahu alasannya dan aku mengerti perasaannya. Mulai sekarang, aku akan mencoba menutup lembaran masa laluku bersamanya, menyimpannya hanya sebagai kenangan indah yang akan selalu ku hargai."
"Dan untuk Tamara... aku bertekad untuk benar-benar membuka hatiku sepenuhnya. Aku akan berusaha mencintainya dengan tulus sebagaimana dia mencintaiku. Aku akan menjaganya, menyayanginya, dan berusaha membuatnya bahagia. Karena aku sadar, Tamara adalah masa depanku sekarang, dan dia pantas mendapatkan yang terbaik dariku," tekad Dilan di dalam hatinya dengan sungguh-sungguh.
Dengan perasaan yang sudah jauh lebih tenang dan pikiran yang jernih, Dilan bangkit dari duduknya. Dia memandang sekeliling halaman itu untuk terakhir kalinya seolah berpamitan pada masa lalunya, lalu tersenyum tipis.
Langkah kakinya melangkah masuk ke dalam rumah dengan semangat baru, siap menjalani babak baru dalam hidupnya sesuai dengan keputusan yang sudah dia ambil.
~back to continuous~