Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sambil menyeka air matanya, Xena merogoh tasnya dan mengambil ponsel.
Dengan jemari yang masih sedikit bergetar, ia menekan nomor ayah mertuanya.
Hanya dalam dua kali nada sambung, telepon langsung diangkat.
"Halo, Ayah," ucap Xena, suaranya serak namun terdengar lega.
"Hasilnya sudah keluar. Prabu dinyatakan layak terbang kembali, Yah."
Di seberang sana, sempat terjadi keheningan selama beberapa detik sebelum akhirnya suara tangisan sesenggukan Ayah Prabu pecah.
Pria tua itu menangis sejadi-jadinya, campuran antara rasa syukur yang luar biasa dan beban berat yang akhirnya terangkat dari pundaknya.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Xena. Terima kasih, Nak..." isak Ayah Prabu di sela tangisnya.
Xena menarik napas panjang, menatap lurus ke depan dengan tatapan yang mendadak kosong.
"Tugas Xena sudah selesai, Ayah. Xena akan mengembalikan Prabu kepada Ayah. Semua tanggung jawab pengobatan dan pemulihannya sudah Xena tunaikan."
Prabu yang mendengarnya langsung terdiam. Kalimat itu menghujam jantungnya lebih dalam daripada vonis dokter mana pun.
Mengembalikan Prabu kepada Ayahnya. Itu bukan sekadar kata-kata; itu adalah pernyataan bahwa kontrak pernikahan mereka telah mencapai titik akhirnya.
Xena benar-benar serius dengan ucapannya di rumah sakit.
Xena mematikan sambungan telepon dan mulai merapikan tasnya, bersiap untuk pergi.
Prabu melihat gerak-gerik istrinya yang seolah ingin segera menghilang dari sana.
Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa membiarkan Xena pergi begitu saja dalam suasana seperti ini.
"Xena," panggil Prabu cepat.
Xena berhenti, namun tidak menoleh.
"Aku lapar. Ikut aku beli bakso di tempat langganan kita dulu, yuk?" ajak Prabu dengan nada yang sengaja dibuat santai, meski hatinya sedang kacau balau.
Ia mencoba menggunakan kenangan sederhana—tentang bakso favorit mereka—untuk menahan waktu.
Xena tertegun. Ia tahu itu hanya taktik Prabu untuk mengulur waktu, tapi perutnya yang memang kosong dan kelelahan emosional yang ia rasakan membuatnya tidak memiliki energi untuk mendebat.
"Hanya makan bakso, Pra. Setelah itu, kita pulang dan urus semuanya," jawab Xena dingin, tanpa menoleh, lalu melangkah lebih dulu menuju pintu keluar.
Prabu mengikuti dari belakang dengan langkah berat.
Di satu sisi, ia menang karena Xena mau ikut dengannya, namun di sisi lain, ia sadar bahwa mangkuk bakso itu mungkin akan menjadi saksi bisu dari jamuan terakhir mereka sebagai suami istri.
Prabu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang mulai padat. Xena hanya bersandar di kursi penumpang, matanya menatap hampa ke arah bangunan-bangunan yang mereka lewati.
Ia hanya ingin makan dengan tenang, lalu menyelesaikan segala urusan administrasi perpisahan mereka.
Namun, saat mobil melewati deretan gerobak bakso langganan mereka tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, dahi Xena berkerut.
"Pra, baksonya terlewat," ucap Xena pelan.
Prabu tidak menjawab. Ia justru menambah kecepatan, memutar kemudi ke arah jalur yang sangat Xena kenali. Jalur menuju pesisir.
"Pra, kamu mau ke mana? Kamu bilang mau makan bakso!" suara Xena mulai naik, ada kecemasan dalam nada bicaranya.
Prabu tetap diam, rahangnya mengeras, sementara tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat erat.
Ia melajukan mobilnya menuju pantai, tempat yang menjadi saksi bisu kehancuran sekaligus penyembuhannya.
"Pra!"
Mobil itu akhirnya berhenti dengan derit ban yang tajam di atas pasir putih yang masih lembap.
Deburan ombak yang kencang menyambut mereka.
Prabu langsung keluar dari mobil, meninggalkan Xena yang masih terpaku dalam kebingungan.
"Keluar, Xen. Lihat aku!" teriak Prabu dari luar, suaranya bersaing dengan deru angin laut.
Xena keluar dengan langkah ragu. Ia berdiri di samping pintu mobil, menatap suaminya dengan bingung sekaligus takut.
"Apa yang kamu lakukan? Kita harus pulang!"
Prabu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepaskan kemejanya yang rapi hingga menyisakan kaus dalam, lalu ia mengambil ancang-ancang di atas pasir. Tanpa aba-aba, ia mulai berlari sekuat tenaga.
"Satu!" teriak Prabu sambil berlari melintasi garis pantai.
Xena mematung. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat.
Ia sangat ingat janji yang pernah Prabu ucapkan saat di dalam bathtub.
"Kalau sampai suatu saat nanti aku jatuh cinta padamu, si kutu buku, aku akan berlari sepuluh kali di sepanjang pantai ini sambil meneriakkan namamu."
"Dua! XENA, AKU MENCINTAIMU!" teriakan Prabu menggema, memecah kesunyian pantai.
Prabu terus berlari. Napasnya mulai memburu, peluhnya bercucuran, namun ia tidak berhenti.
"Tiga! XENA, JANGAN TINGGALKAN AKU!"
"Empat! AKU MENCINTAIMU, XENA!"
Xena yang melihat pemandangan itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Air mata yang tadi sempat kering, kini kembali tumpah dengan lebih deras.
Ia melihat pria yang selama ini begitu sombong, pria yang dulu membuang pialanya dan mengabaikan surat cintanya, kini sedang menghukum dirinya sendiri demi sebuah janji masa lalu.
"Lima... Enam..." Prabu mulai terengah, langkahnya terasa berat di atas pasir yang mengisap kakinya, namun ia terus memacu dirinya hingga putaran kesepuluh.
Setelah putaran terakhir, Prabu jatuh terduduk di depan Xena.
Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan hebat. Ia mendongak, menatap Xena dengan mata yang merah dan basah.
"Sepuluh. Aku sudah melakukannya, Xen. Sepuluh kali..." bisik Prabu parau.
Ia merangkak mendekat, lalu memeluk kaki Xena dengan tubuh yang gemetar karena kelelahan dan emosi yang meluap.
"Jangan kembalikan aku ke Ayah, Xen. Jangan, aku mohon..." isak Prabu pecah di bawah kaki istrinya.
"Aku memang bajingan, aku memang terlambat menyadarinya. Tapi tolong, jangan buang aku sekarang saat aku baru saja menemukan arah jalanku kembali. Jangan cerai, Xen. Aku tidak bisa terbang kalau tidak ada kamu yang menungguku di bumi."
Angin laut berembus makin kencang, membawa aroma garam yang tajam, namun suasana di antara mereka mendadak membeku.
Prabu masih bersimpuh di atas pasir, napasnya masih memburu hebat setelah lari sepuluh putaran yang melelahkan itu.
Matanya menatap Xena penuh harap, mencari sisa-sia cinta yang mungkin masih terselip di balik luka.
Namun, Xena perlahan melepaskan tangan Prabu dari kakinya.
Ia mundur selangkah, menciptakan jarak yang terasa seperti jurang yang tak tertembus.
"Maaf Pra, aku nggak bisa," ucap Xena. Suaranya datar, tanpa emosi, namun getaran di dalamnya menunjukkan betapa hancurnya ia di dalam.
Prabu tertegun. Dunia seolah berhenti berputar. "Xen, aku sudah melakukan janjiku. Aku sudah sadar. Aku mencintaimu, Xen. Sungguh."
Xena tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.
Air matanya mengalir, membasahi perban yang masih menempel di pipinya.
"Sepuluh tahun, Pra. Sepuluh tahun aku menunggu kalimat itu. Aku menunggumu berlari di pantai ini saat hatiku masih utuh, saat harapanku masih tinggi," bisik Xena pedih.
"Tapi kamu baru melakukannya sekarang. Sekarang, setelah wajahku memar karena tanganmu. Sekarang, setelah hatiku sudah menjadi abu."
"Xen, aku akan perbaiki semuanya. Beri aku satu kesempatan..."
"Kesempatan untuk apa, Pra? Untuk menunggu kapan lagi kamu akan memanggil nama Tryas saat kita bersama? Atau menunggu kapan lagi kamu akan kehilangan kendali dan memukulku?" Xena menggelengkan kepalanya dengan kuat.
Ia menghapus air matanya dengan kasar, mencoba mengumpulkan sisa martabat yang ia miliki.
"Kamu sudah sembuh, Pra. Tugas medis dan tugasku sebagai istri sudah selesai. Aku sudah memberikan segalanya—waktuku, cintaku, bahkan harga diriku. Sekarang, aku hanya ingin memberikan satu hal untuk diriku sendiri: kedamaian."
Xena berbalik, melangkah menuju mobil dengan kaki yang gemetar namun pasti.
"Jangan ikuti aku. Aku akan pulang ke rumah Ayah hanya untuk mengambil barang-kerjaku, setelah itu aku akan pergi. Surat perceraian akan dikirim oleh pengacaraku minggu depan."
"Xena! Jangan pergi! XENA!"
Teriakan Prabu membelah langit pantai, namun Xena terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Di bawah cahaya matahari yang mulai meredup, sang Pilot akhirnya menyadari bahwa beberapa luka memang terlalu dalam untuk disembuhkan, bahkan oleh cinta yang paling tulus sekalipun yang datang terlambat.
wwkwkwkwk
gemes bgt sama nie orang dech
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣