BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13 — “Aku Tidak Takut Bermimpi Lagi”
Malam semakin larut, tetapi Arga masih duduk di depan kontrakannya sambil memegang gelas kopi yang tinggal setengah. Lampu jalan di ujung gang memancarkan cahaya redup, sementara suara motor sesekali lewat memecah kesunyian malam.
Pikirannya masih dipenuhi banyak hal tentang hari pertama kerjanya.
Tentang rasa gugup saat masuk kantor.
Tentang ketakutan melakukan kesalahan.
Tentang bagaimana ia terus mencoba terlihat tenang padahal dadanya terasa berdebar sejak pagi.
Namun di balik semua rasa lelah itu, ada sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya dan akhirnya kembali muncul—
Harapan.
Arga menatap layar ponselnya lagi. Pesan dari Alya masih terbuka.
"Nah itu baru Arga."
Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana bahkan. Tapi entah kenapa, kata-kata dari Alya selalu terasa berbeda baginya. Seolah perempuan itu bisa melihat sisi dirinya yang selama ini tidak pernah benar-benar dipahami orang lain.
Arga tersenyum kecil lalu mengetik pelan.
"Makasih ya."
Tak lama kemudian Alya membalas lagi.
"Untuk apa?"
"Karena masih percaya sama gue."
Beberapa detik tidak ada balasan. Arga pikir Alya mungkin sudah tidur. Namun ponselnya kembali bergetar.
"Kadang seseorang cuma butuh satu orang yang percaya kalau dia bisa bangkit."
Arga membaca pesan itu berulang kali.
Dadanya terasa hangat.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang berbicara sebaik itu kepadanya.
Dulu ketika hidupnya berantakan, banyak orang perlahan menjauh. Beberapa menganggap Arga terlalu lemah. Beberapa lagi bahkan menertawakan kegagalannya.
Saat ia kehilangan pekerjaan lama, tidak sedikit yang berkata bahwa dirinya memang tidak akan bisa sukses.
Ucapan-ucapan itu pernah menghancurkan dirinya pelan-pelan.
Sampai akhirnya Arga sendiri mulai percaya bahwa ia memang gagal.
Namun sekarang keadaan mulai berubah sedikit demi sedikit.
Belum sempurna.
Belum benar-benar bahagia.
Tetapi setidaknya ia sudah mulai berjalan lagi.
Arga menatap langit malam cukup lama sebelum akhirnya masuk ke kamar kontrakannya.
Kamar itu masih sama seperti biasanya.
Sempit.
Panas.
Cat dinding mulai mengelupas di beberapa bagian.
Kasurnya tipis dan lemari kecil di sudut ruangan bahkan pintunya sudah rusak.
Namun malam itu kamar kecil itu terasa jauh lebih nyaman dibanding sebelumnya.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga pulang dengan perasaan tidak sepenuhnya kosong.
Ia merebahkan tubuhnya perlahan sambil menatap langit-langit kamar.
Ponselnya kembali berbunyi.
Kali ini dari ibunya.
"Ibu bangga sama kamu."
Hanya empat kata.
Namun mata Arga langsung terasa panas.
Ia memejamkan mata sambil menarik napas panjang.
Selama ini ia selalu merasa gagal menjadi anak yang bisa dibanggakan. Kehidupan yang sulit membuatnya terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa bagaimana rasanya dihargai.
Arga langsung mengetik balasan.
"Arga belum sukses, Bu."
Balasan dari ibunya datang beberapa menit kemudian.
"Kesuksesan bukan cuma soal uang. Kamu mau bangkit lagi aja ibu sudah senang."
Arga terdiam cukup lama.
Air matanya hampir jatuh, tetapi ia buru-buru mengusap wajahnya sambil tertawa kecil.
“Kenapa jadi cengeng begini,” gumamnya pelan.
Malam terus berjalan.
Di luar, suara jangkrik terdengar samar bercampur angin yang masuk dari jendela kecil kamarnya.
Tubuh Arga memang lelah, tetapi pikirannya justru terasa jauh lebih tenang.
Ia akhirnya tertidur dengan senyum kecil yang masih tersisa di wajahnya.
Pagi berikutnya Arga bangun lebih awal dibanding biasanya. Alarm ponselnya bahkan belum berbunyi ketika ia sudah membuka mata.
Cahaya matahari masuk dari sela jendela kecil kamar kontrakannya.
Untuk beberapa detik Arga hanya duduk diam di pinggir kasur.
Ia masih belum terbiasa dengan perasaan ini.
Perasaan ingin menjalani hari.
Biasanya setiap pagi ia selalu bangun dengan rasa sesak dan pikiran kacau. Dunia terasa berat bahkan sebelum hari dimulai.
Namun sekarang ada alasan untuk bangun.
Ada tujuan yang ingin ia kejar.
Arga segera mandi lalu bersiap berangkat kerja. Sebelum keluar kamar, ia sempat melihat dompetnya.
Isi uangnya memang belum banyak.
Tetapi kini ia tidak lagi merasa sepenuhnya kehilangan arah.
Di perjalanan menuju kantor, Arga melihat banyak orang sibuk dengan kehidupan masing-masing. Ada yang berjualan di pinggir jalan, ada yang terburu-buru mengejar bus, dan ada juga anak sekolah yang bercanda sambil berjalan bersama temannya.
Dulu Arga sering merasa hidupnya paling berat.
Namun semakin dewasa, ia sadar semua orang ternyata sedang berjuang dengan caranya masing-masing.
Sesampainya di kantor, suasana sudah mulai ramai.
“Pagi, Ga!”
Arga menoleh dan melihat Reza melambaikan tangan dari mejanya.
“Pagi.”
“Nah gitu kek senyum. Kemarin muka lu kayak mau sidang skripsi.”
Arga tertawa kecil.
Entah kenapa, candaan Reza cukup membuat suasana jadi lebih ringan.
Hari kedua bekerja mulai terasa sedikit lebih nyaman. Arga memang masih sering gugup, tetapi setidaknya ia sudah tidak terlalu takut seperti kemarin.
Ia mulai memahami beberapa pekerjaan dasar dan mencoba lebih berani bertanya ketika bingung.
Siang harinya, Nisa menghampiri meja Arga sambil membawa beberapa dokumen.
“Ga, tolong file ini diinput ya.”
“Iya, Kak.”
Nisa memperhatikan Arga sebentar lalu tersenyum kecil.
“Kamu cepat belajar ternyata.”
Arga sedikit salah tingkah. “Masih banyak salahnya juga.”
“Namanya juga proses.”
Kalimat itu kembali membuat Arga berpikir.
Proses.
Mungkin benar.
Selama ini ia terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia selalu ingin semuanya langsung berhasil, langsung sempurna.
Padahal hidup tidak pernah berjalan secepat itu.
Ada jatuh.
Ada gagal.
Ada rasa kecewa.
Namun semua itu memang bagian dari perjalanan.
Sore harinya pekerjaan kantor mulai selesai. Beberapa karyawan sudah bersiap pulang sambil bercanda satu sama lain.
Arga membereskan mejanya pelan.
“Ga, ikut makan nggak?” tanya Reza.
Arga sempat ragu.
Biasanya ia lebih sering menolak ajakan orang lain karena merasa tidak nyaman berada di lingkungan baru.
Namun kali ini ia mencoba berbeda.
“Boleh.”
Reza langsung tersenyum lebar.
“Nah gitu dong.”
Mereka akhirnya makan di warung sederhana dekat kantor bersama beberapa karyawan lain. Awalnya Arga hanya diam sambil mendengarkan mereka berbicara. Namun perlahan ia mulai ikut tertawa ketika suasana semakin santai.
Sudah lama sekali Arga tidak merasakan hal sesederhana ini.
Duduk bersama orang lain tanpa merasa sendirian.
Saat perjalanan pulang, Arga berjalan pelan sambil menatap langit sore yang mulai berwarna jingga.
Angin sore terasa sejuk.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, langkahnya tidak terasa seberat dulu.
Ia sadar hidupnya memang belum benar-benar berubah total.
Masalah masih ada.
Keuangan masih pas-pasan.
Masa depannya masih belum pasti.
Namun sekarang ia punya alasan untuk terus bertahan.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Ponselnya kembali berbunyi.
Pesan dari Alya lagi.
"Gimana hari ini?"
Arga tersenyum kecil sebelum membalas.
"Lebih baik dari kemarin."
Alya membalas cepat.
"Tuh kan. Gue bilang juga apa."
Arga memandangi layar ponselnya sambil tersenyum tipis.
Kadang kebahagiaan memang datang dari hal-hal sederhana.
Bukan tentang punya segalanya.
Tetapi tentang hadirnya orang-orang yang membuat hidup terasa lebih ringan untuk dijalani.
Arga memasukkan ponselnya ke saku lalu melanjutkan langkahnya pulang.
Langit sore perlahan berubah gelap.
Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Dan di tengah perjalanan hidup yang masih panjang itu, Arga akhirnya mengerti satu hal—
Bahwa harapan tidak pernah benar-benar hilang.
Kadang ia hanya tertutup oleh rasa takut dan luka yang terlalu dalam.
Namun selama seseorang masih mau berjalan…
Masih mau mencoba…
Masih mau bangkit meski berkali-kali jatuh…
Maka selalu ada kesempatan untuk memulai kembali.