NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 13: Awal Perubahan pun Dimulai

^^^Kamis, 23 Agustus^^^

Pagi itu hujan turun rintik-rintik.

Bima berdiri di depan jendela kamarnya, menatap tetesan air yang mengalir pelan di kaca. Tangannya yang diperban sudah dibuka tadi malam—lukanya mulai mengering, meninggalkan bekas kemerahan yang masih sedikit perih jika disentuh. Tapi setidaknya sekarang ia bisa menggenggam tanpa merasa sakit.

Di dapur, suara mamahnya terdengar. Suara panci, suara piring, suara langkah kaki yang mondar-mandir. Suara-suara yang biasa. Tapi ada yang berbeda.

Semalam, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, mamahnya bersuara.

Udah, cukup. Anak itu gak salah apa-apa.

Kalimat itu masih terngiang di kepala Bima. Dan pelukan itu—pelukan yang sudah bertahun-tahun tidak ia rasakan—masih terasa hangat di pundaknya.

"Bim! Sarapan!"

Bima tersentak. Ia meraih tasnya, lalu berjalan ke dapur. Di meja makan, sepiring nasi goreng sudah menunggu. Mamahnya duduk di seberang, menyeruput kopi dari cangkir kesayangannya. Tidak ada rokok di asbak. Tidak ada tatapan kosong.

Hanya pagi yang tenang. Dan untuk pertama kalinya, Bima merasa bahwa "tenang" bukan berarti "sunyi".

"Mah," Bima memulai, suaranya ragu. "Semalem..."

Mamahnya meletakkan cangkirnya. Matanya menatap Bima—masih sembab, masih lelah. Tapi tidak lagi kosong. "Mamah minta maaf."

Bima membeku.

"Harusnya mamah ngomong dari dulu. Harusnya mamah gak diem aja." Suara mamahnya bergetar. "Tapi mamah takut. Mamah pikir... kalo mamah diem, semuanya bakal baik-baik aja. Ternyata enggak."

"Mah..."

"Makan dulu." Mamahnya mendorong piring nasi goreng itu lebih dekat. "Nanti kamu telat."

Bima menatap piring di depannya. Nasi goreng yang sama seperti dulu. Yang dulu selalu dibuatkan mamahnya sebelum semuanya berubah. Ia menyuap satu sendok. Rasanya sama. Persis sama.

Air matanya hampir jatuh. Tapi kali ini ia menahannya. Bukan karena malu. Tapi karena ia ingin mengingat momen ini—momen di mana ia makan nasi goreng buatan mamahnya, dan semuanya terasa seperti dulu lagi.

...~•~•~•~...

Azril duduk di bangku pojok dekat jendela. Teks pidatonya yang baru tergeletak di atas meja, penuh coretan dan revisi semalaman. Matanya sedikit perih karena kurang tidur, tapi semangatnya tidak surut.

Ia menatap kalimat pembuka yang ia tulis ulang. Honorable judges, respected teachers, and my fellow students. My name is Azril Erlangga. And before I begin my speech today, I want to tell you something: I have asthma.

Setiap kali ia membaca kalimat itu, jantungnya berdebar lebih kencang. Membaca tentang Majapahit dan Gajah Mada di depan umum adalah satu hal. Tapi menceritakan tentang dirinya sendiri—tentang inhaler birunya, tentang ketakutannya, tentang perjuangannya—adalah hal yang sama sekali berbeda.

"Wah, udah revisi ya?"

Azril mendongak. Bima berdiri di sampingnya, senyumnya kembali seperti biasa—tapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Lebih tenang. Lebih ringan.

"Lo... kenapa?" Azril bertanya.

"Kenapa apaan?"

"Wajah lo."

Bima menyentuh wajahnya sendiri. "Emang ada noda?"

"Bukan. Lo... beda."

Bima terdiam. Lalu ia duduk di bangku sebelahnya, meletakkan tasnya di atas meja. "Semalem... nyokap gue ngomong."

Azril menunggu.

"Dia minta maaf. Karena udah diem terus. Karena gak belain gue." Bima menatap meja, jari-jarinya memainkan ujung tasnya. "Gue nangis, Zril. Tapi bukan nangis sedih. Nangis... lega."

Azril tersenyum. "Itu bagus, Bim."

"Iya. Gue tau." Bima mendongak, senyumnya kembali. "Makanya hari ini gue seneng. Dan karena gue seneng, gue mau dengerin lo latihan pidato. Ayo, mulai dari awal."

Azril menghela napas. Ia menatap teksnya, lalu mulai membaca.

"Honorable judges, respected teachers, and my fellow students. My name is Azril Erlangga. And before I begin my speech today, I want to tell you something: I have asthma..."

Bima mendengarkan dengan mata berbinar. Dan saat Azril selesai, ia bertepuk tangan—keras, seperti biasa.

"Lo liat? Lo bisa! Itu jauh lebih bagus dari yang kemaren!"

"Serius?"

"Serius! Yang kemaren lo kayak robot. Sekarang lo kayak... manusia."

Azril terkekeh. "Apaan sih."

"Beneran! Ada perasaannya. Pendengarnya bakal ngerasa." Bima menepuk bahunya. "Lo harus percaya sama gue. Gue kan manager lo."

Azril menatap teksnya. Lalu menatap Bima. "Makasih, Bim."

"Sama-sama, Zril. Nanti pas lo menang, traktir gue nasi campur dua bungkus."

"Dua bungkus? Lo kira gue menang berapa duit?"

"Serah! Yang penting traktir!"

Mereka berdua tertawa. Di luar jendela, hujan mulai reda.

...~•~•~•~...

Kelas XII IPS 2 siang itu agak riuh. Tidak ada guru yang masuk—Pak Hamdan sedang rapat mendadak—jadi para siswa sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang mengerjakan tugas, ada yang main ponsel, ada yang tidur-tiduran di meja. Tapi di sudut depan kelas, sesuatu yang berbeda sedang terjadi.

Faris duduk di bangkunya dengan buku gambar terbuka. Di sampingnya, Aini duduk di kursi yang ia tarik dari meja sebelah. Beberapa siswa melirik penasaran—tapi tidak ada yang berani mendekat.

"Ini... gambarnya agak susah," Aini berkata pelan. "Aku gak bisa gambar tangan."

"Pelan-pelan." Suara Faris masih serak. "Garis... dulu."

Aini mengikuti instruksinya. Tangannya bergerak hati-hati, membuat sketsa tangan—tidak sempurna, tapi lebih baik dari sebelumnya.

"Kayak gini?"

"Lebih... kecil. Jarinya."

"Oke, oke."

Mereka berdua sibuk dengan kertas masing-masing—Faris menggambar sesuatu yang belum selesai, Aini mencoba meniru. Sesekali Faris menunjuk dengan pensilnya, memberi arahan tanpa bicara. Sesekali ia berbicara—kata-kata pendek yang keluar dengan susah payah, tapi keluar.

Di bangkunya di belakang, Elang memperhatikan adiknya dan Faris. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi Bima yang duduk di sampingnya menyenggol lengannya.

"Lo liat, Lang?"

"Liat apa?"

"Adik lo. Sama Faris."

Elang mengangguk pelan.

"Dulu Faris gak bisa ngomong sama sekali. Sekarang dia ngajarin adik lo gambar."

Elang menatap punggung Faris yang sedikit membungkuk di depan. "Dia udah berubah."

"Kita semua berubah, Lang." Bima menyandarkan punggungnya ke kursi. "Lo juga."

Elang tidak menjawab. Tapi ia tidak membantah.

...~•~•~•~...

Sore harinya, lapangan sekolah sepi seperti biasa.

Tapi hari ini bukan Bima yang memukul samsak.

Elang berdiri di depan samsak gantung yang sudah usang, tangannya mengepal. Pukulan pertama mendarat dengan suara buk yang keras. Pukulan kedua lebih keras. Pukulan ketiga lebih terkontrol.

"Lo latihan?"

Elang menoleh. Bima berdiri di pinggir lapangan dengan dua botol air mineral di tangan. Ia melempar satu ke arah Elang, yang menangkapnya dengan satu tangan.

"Gue cuma..." Elang membuka botolnya, minum seteguk. "Mikir."

"Mikir sambil mukulin samsak? Serius amat."

"Bukan gue yang mulai kebiasaan ini."

Bima tertawa. "Iya, gue yang mulai. Tapi kan dulu gue butuh pelampiasan."

"Gue juga sekarang lagi butuh pelampiasan."

Bima berjalan mendekat, duduk di bangku besi di pinggir lapangan. "Emang lu lagi mikirin apa?"

Elang diam sejenak. "Marcel."

"Marcel? Gue kira udah kelar."

"Belum." Elang menatap samsak di depannya. "Dia masih di sekolah. Dia masih punya geng. Dia... gue gak tau. Mungkin dia bakal balas dendam. Mungkin enggak."

"Lo takut?"

Elang menoleh. "Gue takut buat kalian."

Bima terdiam.

"Gue udah biasa dihantem. Tapi kalian..."

"Lang." Bima memotong. "Lo lupa? Kita udah dihantem bareng. Dan kita masih di sini."

Elang menatap Bima.

"Kalo Marcel balik lagi, kita hadepin lagi. Kalo dia gak balik, ya syukur. Tapi lo gak usah mikirin sendirian." Bima berdiri, menepuk bahu Elang. "Kita tim, inget? Lo, gue, Azril, Faris, Aini."

"Aini lo bawa-bawa."

"Dia adik lo. Dan dia bagian dari kita sekarang."

Elang menghela napas. Tapi sudut bibirnya terangkat. "Lo banyak omong."

"Itu keahlian gue." Bima menyeringai. "Nah, sekarang gantian gue yang mau mukul samsak. Lo minggir."

Bima berdiri di depan samsak, menarik napas, lalu mulai memukul. Pukulannya tidak sekuat Elang, tapi ritmenya teratur.

"Bim."

"Apa?"

"Makasih."

Bima berhenti. Ia menoleh, menatap Elang dengan alis terangkat. "Tumben lo ngomong makasih."

"Udah. Lanjutin."

"Asik lo sekarang. Udah berubah."

Elang tidak menjawab. Tapi ia tetap duduk di bangku, menunggu Bima menyelesaikan latihannya.

Matahari sore mulai condong ke barat. Di langit, awan-awan mulai menipis, digantikan semburat jingga yang hangat.

...~•~•~•~...

Malamnya, lima ponsel bergetar hampir bersamaan.

Di grup chat yang baru dibuat Aini tadi siang—Catur Mithra—sebuah pesan muncul.

Aini: Besok jumat. Jangan telat upacara ya.

Azril: Lo sendiri yang jangan telat, Ai. Pulang duluan dari ruang OSIS.

Aini: Aku kan ketua OSIS 🫢

Faris: Aku besok bawa gambar.

Bima: GAMBAR APA RIS?!

Faris: Rahasia.

Bima: JANGAN RAHASIA-RAHASIAAN DONK!

Elang: Bim, suara lo.

Bima: INI CHAT! GAK ADA SUARA!

Azril: Tapi pake caps lock semua.

Bima: Oh iya sorry.

Aini: Kakak ngomong di chat sekarang.

Elang: Biar lo gak ngeluh gue diem mulu.

Aini: Aku gak ngeluh 😊

Bima: WIH ELANG BAIK! TUMBEN!

Elang: Gue tinggal.

Bima: JANGAN! Becanda doang!

Azril: Udah ah, gue mau tidur.

Faris: Aku juga.

Aini: Selamat malam semuanya. Sampai ketemu besok.

Bima: MALAM!

Elang: Malam.

Azril: Malam, Ai.

Di kamarnya yang sempit, Azril menatap layar ponselnya. Senyum kecil mengembang di bibirnya. Ia menutup ponsel, lalu menatap teks pidatonya yang tergeletak di meja. Inhaler biru di sampingnya. Pion catur di sampingnya. Kacamata retak di sampingnya.

Besok adalah hari Jumat. Lomba tinggal seminggu lagi.

Tapi ia tidak lagi merasa takut.

Di rumahnya, Bima meregangkan tubuhnya di atas kasur. Tangan kanannya yang sudah tidak diperban ia angkat, menatap bekas luka yang mulai mengering. Ia ingat bagaimana dulu ia menyembunyikannya. Sekarang ia tidak perlu lagi.

Di kamar yang sunyi, Faris menutup buku gambarnya. Gambar itu sudah selesai—lima orang duduk di bangku kantin, dengan latar belakang pohon rindang dan langit sore. Di bawahnya, ia menulis satu kata: Kita.

Di balik bantalnya, Elang menyimpan kertas lipatan. I want to change. Masih ada di sana. Tapi sekarang ia menambahkan satu kertas lagi, yang ia tulis tadi malam: I am changing.

Dan Aini, di kamarnya yang rapi, menatap ponselnya. Pesan di draft yang belum ia kirim sejak kemarin. Ia membaca ulang: "Pidato kamu bagus. Tapi versi yang baru... aku yakin lebih bagus." Ia menghapusnya. Menulis ulang. Menghapus lagi.

Akhirnya, ia hanya mengetik: "Semangat ya, Zril."

Tidak dikirim. Tapi mungkin suatu hari nanti.

...~•~•~•~...

Langit malam itu cerah. Bintang-bintang bermunculan satu per satu, seperti lampu kecil yang dinyalakan oleh seseorang di atas sana. Di lima rumah yang berbeda, lima remaja tertidur dengan pikiran masing-masing—tapi dengan perasaan yang sama.

Harapan.

Karena besok adalah hari baru. Dan mereka sudah tidak lagi sendirian.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!