Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Di Kafe
Axel menaiki taksi menuju rumah Bella keponakannya, dia tidak mau merepotkan kakaknya untuk menjemputnya meski pun supir kakak iparnya.
"Kemana tuan?" tanya supir taksi.
Axel diam sejenak, tiba-tiba dia ragu untuk pergi ke rumah kakaknya. Dia pun akhirnya merubah rencananya untuk tinggal di hotel sementara waktu, Axel tidak mau pergi ke apartemennya karena ingin beristirahat dengan tenang tanpa harus merapikan kembali barang-barangnya.
"Ke hotel Mulia saja pak," jawab Axel.
"Baik tuan."
Axel menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil, matanya terpejam sejenak menghilangkan penat di pikirannya.
"Aku kembali lagi kesini, tanpa harus pulang ke Jerman," gumam Axel.
Pak supir memperhatikan Axel dari kaca spion, sedikit senyum di bibirnya tampak terlihat ketika melihat Axel yang sedang terpejam. Pelan-pelan tapi pasti, sang supir melakukan mobilnya dengan tenang. Dia tidak ingin mengganggu penumpangnya tidur.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan hotel mewah. Sang supir diam sejenak, memperhatikan Axel dari kaca spion di depannya. Dia tidak berani membangunkan Axel yang terlelap karena kelelahan perjalanan jauh dari Jerman ke Indonesia.
Tak lama Axel membuka matanya, matanya memicing dan menatap supir. Lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, dia kaget melihat ke depan supir tersenyum padanya melalui kaca spion.
"Sudah sampai tuan di depan hotel Mulia," kata sang supir.
"Oh ya maaf ketiduran." ucap Axel.
"Tidak apa. Anda kelihatannya lelah sekali tuan," ucap sang supir lagi.
Axel mengangguk sambil tersenyum, dia merogoh saku jaketnya lalu memberikan selembar uang berwarna merah kemudian keluar dari mobil.
Supir taksi pun ikut keluar untuk mengambilkan dua koper Axel dan menyerahkannya pada laki-laki itu.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Sang supir masuk lagi ke dalam mobil taksi, Axel berjalan menuju hotel Mulia. Dia di sambut oleh penjaga hotel dan mengambil kopernya hendak di bawa masuk. Axel chek in selama dua hari di hotel mulia untuk beristirahat, setelah melakukan administrasi Axel mengikut petugas hotel membawanya ke kamar yang di pesan.
_
Malam hari, di lobi hotel. Kania duduk dengan wajah di tekuk, dia sangat kesal sekali karena papanya sangat lama untuk bertemu rekan bisnisnya. Dia ikut papanya menemui rekan bisnis papanya di hotel itu karena memang rekan bisnis papanya berasal dari luar negeri yang sedang menginap di hotel tersebut.
"Ma, papa lama banget sih. Emang lagi negosiasi harga sama orang Inggris itu?" tanya Kania.
"Mama ngga tahu sayang, rekan bisnis papa kan banyak dari luar negeri. Jadi kamu harus maklum," ujar mamanya.
"Ya tapi kenapa ketemunya malam hari? Besok kan bisa?" tanya Kania masih kesal dengan lamanya dia menunggu papanya.
"Orangnya ngga banyak waktu di Indonesia sayang, jadi kapan pun ketemunya ya harus siap papanya."
"Ih, sebel jadinya. Ini kan udah satu jam lebih di sini, udah jam berapa ini? Mau jam sembilan ma, masa makan malamnya malam-malam banget. Bisa gendut nanti," ucap Kania lagi.
"Sabar dong, mungkin sebentar lagi selesai. Udah jangan ribut terus, pesan kopi sana di kafe. Ribet banget, lagian kenapa tadi mau ikut?"
"Ya kan, aku pikir cuma sebentar ma."
Mamanya menatapnya kesal juga, perempuan itu juga sama sebenarnya kesal karena menunggu cukup lama. Namun dia tidak mau berisik seperti anaknya yang manja.
"Ya udah, aku ke kafe aja. Kesal aku nunggu papa ngga selesai-selesai," ucap Kania.
Dia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kafe yang memang ada di hotel itu juga. Dia juga sedikit lapar, jadi niatnya pergi ke kafe mau cari makan serta kopi late kesukaannya.
Berjarak lima belas meter dari lobi, belok kiri dan cukup ramai juga kafe hotel tersebut. Kebanyakan pengunjung hotel seperti pebisnis seperti papanya.
Kania melangkah menuju tempat kasih, dia memesan kopi serta cemilan kue basah. Tak lupa dia juga memesan es jeruk untuk teman cemilannya.
"Di bawa kemana mbak?" tanya pelayan.
Kania melihat sekeliling bangku kafe, cukup tenang dengan suara musik lembut. Dan pandangannya mengarah ke kursi kosong saling berhadapan dekat dengan jendela dan di sebelahnya ada satu laki-laki yang sedang menikmati kopi di kafe juga.
"Di bangku itu aja mbak, masih kosong ya." jawab Kania menunjuk kusir kosong.
"Oke, nanti kamu antar kesana." kata pelayan.
Kania mengangguk, dia pun berjalan menuju bangku kosong yang di sebelahnya seseorang laki-laki sendirian. Kania terus berjalan hendak melewati laki-laki menunduk pada cangkir kopinya, sejenak Kania terdiam memperhatikan laki-laki itu.
Alisnya mengkerut, lalu melebar. Senyumnya terbit dan suaranya hampir menggema memanggil nama seseorang.
"Om Axel?!"
Laki-laki yang di panggil Axel itu mendongak dan menatap Kania juga, dia kaget tapi kemudian tersenyum kecil.
"Kania, kamu di sini?" tanya Axel.
"Waah, ada om Axel di sini. senangnya," ucap Kania dengan girangnya.
Lagi-lagi Axel tersenyum, dia melihat sekeliling kafe lalu menatap Kania lagi.
"Kamu sendirian di sini? Ngga sama Bella?" tanya Axel.
Kania duduk di depan Axel, masih menatap laki-laki itu dengan wajah berbinar.
"Om, kenapa ada di sini?" tanya Kania tanpa menjawab pertanyaan Axel.
"Om di sini lagi..."
"Kania!"
_
_
******