NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan keluarga

Malam itu, suasan rumah berubah menjadi panggung sandiwara yang paling mendebarkan.

​Aku melangkah masuk dengan gaun sederhana pilihan Martin, sementara Rain berjalan di sisiku dengan kemeja yang pas di tubuhnya. Kami tampak seperti pasangan serasi dari sampul majalah, namun di balik itu, tubuhku kaku seperti papan kayu.

​"Ingat," bisik Martin dari belakang, suaranya nyaris tak terdengar.

"Sentuh lengannya sesekali. Jangan seperti orang mau berkelahi."

​Di ruang tengah, "sidang " keluarga sudah menanti. Bapak duduk di kursi utama dengan kopi hitamnya, Ibu tampak gelisah namun penuh harap, sementara Nenek Elia dan Kakek Andrew duduk tenang seperti hakim agung.

​"Jadi..." Bapak memulai, suaranya berat, memecah keheningan.

"Bisa kalian jelaskan foto-foto itu? Dan kenapa baru sekarang?"

​Rain berdehem, suaranya tenang namun ada nada gugup yang manusiawi, akting yang bagus, atau mungkin memang dia benar-benar tegang.

​"Maaf, Pak, Bu," ucap Rain pelan.

"Kami memang tidak pernah... berpacaran dalam arti yang biasa orang lakukan. Kami hanya menjalaninya saja. Karena bagi kami hubungan ini bukan untuk dipamerkan, kami tidak terpikir untuk memberi tahu sebelumnya. Kami pikir, biarlah ini menjadi urusan kami berdua sampai waktunya tepat."

​Aku menunduk, mencoba terlihat malu-malu, padahal sebenarnya aku sedang menghafal poin-poin akta notaris di kepalaku.

"Iya, Pak. Kami merasa kenyamanan kami lebih penting daripada status. Jadi kami simpan sendiri."

​Dari sudut ruangan, aku melihat Martin memberikan kode keras. Ia menyentuh telinganya sendiri, memberi isyarat agar aku lebih dekat pada Rain. Dengan gerakan yang kurasa sangat kaku, aku menggeser dudukku hingga bahu kami bersentuhan. Rain tidak menjauh; ia justru meletakkan tangannya di atas sandaran kursiku, seolah melindungiku.

​"Tapi Nak Rain," Ibu menyela, suaranya bergetar senang. "Foto-foto itu... kalian terlihat sangat serasi. Kenapa tidak dari dulu?"

​"Karena kami ingin memastikan satu sama lain dulu, Bu," jawab Rain mantap. Ia menoleh padaku, sebuah tatapan yang sangat meyakinkan sampai-sampai aku hampir lupa kalau ini adalah aliansi logika. "Dan sekarang kami sudah yakin."

​Nenek Elia tersenyum, matanya berbinar penuh kemenangan. "Kalau begitu, tidak ada alasan untuk menunda. Lusa, saat resepsi Bian, kita langsungkan saja ijab kalian. Sederhana, sakral, di halaman belakang. Bagaimana?"

​Aku tersentak. Lusa? Dua hari lagi?

​Martin di sudut ruangan hampir menjatuhkan gelasnya.

Ia memberikan kode "oke" dengan jarinya, meski wajahnya sendiri tampak pucat melihat betapa cepatnya keluarga mengeksekusi rencana ini.

​"Kami setuju, Nek," jawab Rain tegas, sebelum aku sempat protes.

Ia menggenggam jemariku di bawah meja—sebuah genggaman yang dingin namun sangat kokoh. "Dua hari lagi. Kami akan bersiap."

​Malam itu, di bawah lampu rumah sewa yang temaram, kesepakatan notaris kami baru saja bertemu dengan realita pelaminan. Kami pulang dengan satu beban besar yang terangkat, namun ribuan tanggung jawab baru yang mulai mengintai di balik pintu akad.

Ketegangan yang tadinya sedingin es di ruangan itu perlahan mencair, digantikan oleh kehangatan khas keluarga yang sedang berpesta.

Begitu interogasi selesai, suasana berubah drastis. Ruang tengah rumah sewa itu mendadak penuh dengan canda tawa yang mengalir alami, seolah beban rahasia besar tadi menguap begitu saja.

​Cinta, dengan sifatnya yang ekstrovert, langsung terlihat "klik" dengan Martin. Mereka berdua duduk di sudut karpet, asyik membicarakan peralatan kosmetik. Martin, dengan keahlian profesionalnya, mulai memberikan tips riasan yang membuat adikku itu terpana.

​Ibu, yang sejak tadi diam-diam mengagumi fitur wajah Martin, berkali-kali mendekatkan wajahnya untuk memastikan apakah kulit pria itu asli atau hasil polesan.

​"Ya ampun, Nak Martin," puji Ibu sambil memegang pipinya sendiri. "Ibu tidak menyangka, selain mendapatkan menantu tampan seperti Rain, Ibu juga mendapatkan satu lagi anak laki-laki yang luar biasa tampan seperti kamu."

​Martin tertawa renyah, sebuah tawa yang selalu berhasil mencuri perhatian. Ia tidak merasa risih, malah dengan gerakan yang sangat manis, ia merangkul bahu Ibuku.

​"Bu," ucap Martin dengan nada manja yang khas. "Tapi anak laki-lakimu yang satu ini mungkin sesekali tingkahnya seperti perempuan. Suka dandan, suka wangi-wangian, dan bicaranya lembut. Apa Ibu tidak malu punya anak laki-laki yang... ya, seperti ini?"

​Ibu terdiam sejenak, menatap mata Martin yang jujur. Namun, bukan hanya Ibu yang merespons. Bapak yang sedang menyeruput kopi dan Kakek Andrew yang sedang menyimak pun ikut menoleh.

​"Dengar ya, Nak Martin," ujar Bapak dengan suara  yang tenang namun mantap. "Selama itu bukan penyimpangan perilaku yang merugikan orang lain, kamu akan selalu diterima. Dunia ini luas, dan keluarga ini cukup lapang untuk menerima siapa pun yang tulus. Menjadi lembut itu bukan dosa, yang penting hatimu baik."

​Nenek Elia ikut mengangguk, menepuk tangan Martin pelan.

"Justru pria yang mengerti keindahan itu jarang, Nak. Kami malah senang kalau ada yang bisa diajak diskusi soal kebaya besok pagi."

​Martin tampak tersentuh, binar matanya menunjukkan bahwa ia baru saja menemukan sebuah "rumah" yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di sudut lain, aku dan Rain hanya bisa saling lirik. Ada rasa haru yang menyelusup di antara logika-logika dingin kami. Ternyata, keluarga kami jauh lebih terbuka dan progresif daripada ketakutan-ketakutan yang selama ini kami bangun di kepala.

​Malam itu, di tengah hiruk-pikuk persiapan pernikahan dua hari lagi, aku menyadari satu hal: Martin telah resmi menjadi bagian dari kami. Dan mungkin, aliansi "dingin" antara aku dan Rain ini akan mendapatkan dukungan paling hangat dari orang-orang yang tidak pernah kami duga sebelumnya.

--

​Rain berdiri di balkon, menatap kegelapan jalanan dengan perasaan syukur yang sulit ia definisikan. Selama ini, ia mengira pernikahan adalah beban ekspektasi sebuah panggung di mana ia harus menjadi pahlawan, penyedia, dan pelindung bagi wanita yang mungkin akan menuntut seluruh hatinya yang sudah retak.

​Namun, menatap Ayyara hari ini, Rain merasa telah menemukan oase di tengah gurun kegilaan.

​"Ayyara adalah jawaban bagi pria mana pun yang masih berpikiran waras di dunia ini," batin Rain.

​Ia tidak butuh lagi wanita yang pandai merayu atau yang menggantungkan seluruh hidupnya pada bahu laki-laki. Ia menemukan sosok dewasa yang tahu persis apa yang ia inginkan, yang mencintai dirinya sendiri sebelum meminta dicintai, dan yang menawarkan kejujuran brutal di atas keromantisan palsu.

Bagi Rain, kemandirian Ayyara bukanlah ancaman, melainkan pembebasan. Ia merasa bersyukur karena dalam pernikahan ini, ia tidak perlu berpura-pura menjadi sempurna. Ia hanya perlu menjadi partner bagi seorang wanita yang sudah "selesai" dengan dirinya sendiri.

​Di kamarnya, akh memandangi salinan akta notaris yang kini tersimpan rapi di tas. Lembaran kertas itu terasa dingin di ujung jariku, namun anehnya, ada kehangatan yang menjalar di dadanya saat ku mengingat bagaimana Rain menandatanganinya tanpa ragu.

​"Ini terasa seperti kontrak bisnis," gumam ku pada bayangannya di cermin. "Tapi, kenapa rasa percayanya justru lebih kuat daripada janji suci mana pun?"

​Aku menyadari bahwa perjanjian ini bukan dibuat untuk saling membatasi, melainkan untuk saling menghargai. Di dunia masa depannya, ia melihat banyak pernikahan hancur karena ekspektasi yang tidak terucapkan. Namun di sini, bersama Rain, semua kartu sudah dibuka di atas meja.

​Pernikahan ini memang diawali dengan "hitam di atas putih", namun justru karena itulah aku merasa aman. Ia tidak perlu takut kehilangan jati dirinya, karena Rain telah berjanji secara legal untuk menjaganya tetap utuh. Rasa percaya itu tumbuh bukan karena rayuan, melainkan karena mereka berdua sepakat untuk tetap menjadi manusia merdeka di bawah satu atap yang sama. Bagi ku, ini adalah bentuk cinta yang paling dewasa: cinta yang tidak memiliki, tapi mendampingi.

​Di kejauhan, lampu-lampu rumah sewa perlahan padam satu per satu. Dua hari lagi, ijab kabul itu akan dilaksanakan. Bukan sebagai penyatuan dua jiwa yang saling haus akan perhatian, melainkan sebagai peresmian aliansi dua jiwa dewasa yang telah sepakat untuk saling menjaga kewarasan di tengah hiruk-pikuk tuntutan dunia.

​Martin benar—kegilaan mereka mungkin adalah hal paling logis yang pernah terjadi di kota ini.

Jumat pagi yang tenang. Keputusan sudah diketuk: kami mengambil cuti satu hari ini untuk mempersiapkan segalanya sebelum hari Sabtu yang menentukan.

Di dunia kantorku yang biasa, akhir pekan berarti kebebasan dari laporan, namun di lini masa ini, akhir pekan depan adalah awal dari sebuah aliansi legal yang dibungkus sakral.

​Rencana awal untuk menikah di halaman belakang rumah sewa mendadak berubah. Nenek Elia, dengan ingatannya yang tajam dan koneksinya yang tak terduga, teringat pada sebuah vila milik sahabat lamanya di pinggiran kota yang tenang.  Sebuah tempat dengan taman yang luas, dikelilingi pepohonan rindang dan udara pegunungan yang sejuk.

​"Ayara, Nenek sudah bicara dengan Martin," ucap Nenek Elia sambil mengusap bahuku lembut pagi tadi. "Taman di vila itu jauh lebih indah. Di sana ada paviliun kayu yang cantik untuk akad.

Nenek Rain dan orang tuamu juga bisa menginap dengan nyaman tanpa harus berdesakan. Tapi, Nenek harus tanya dulu... kamu benar-benar suka? Ini pernikahanmu, Nak."

​Aku menatap Nenek Elia dengan mata berkaca-kaca.

Perasaan haru yang menyesakkan dada tiba-tiba menyerangku. "Nenek... ini terlalu indah. Bukankah ini seperti di drama serial? Aku tidak menyangka akan mendapatkan tempat seperti itu."

​Satu hari satu malam ini, suasana berubah menjadi "pingitan" darurat. Aku tetap tertahan di rumah sewa milik keluarga rain, dikelilingi Ibu dan Cinta yang sibuk mengemas hantaran terakhir.

Aku dilarang keras bertemu Rain, apalagi bicara dengannya. Rain sendiri dikabarkan berada di rumahnya, ditemani Kakek Andrew yang kabarnya sedang memberikan "wejangan pria dewasa" yang mungkin saja membuat Rain semakin pusing.

​"Sabar, Kak. Cuma sampai besok pagi kok nggak ketemu 'calonnya'," goda Cinta sambil memasukkan kain brokat ke dalam kotak mika.

​Aku hanya mendengus, meski dalam hati ada rasa janggal. Terbiasa berdiskusi secara logis dengan Rain membuat satu hari tanpanya terasa seperti kehilangan kompas navigasi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!