NovelToon NovelToon
Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Anak Terbuang Milik CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

kisah perjalanan Marsha valerine yang kehadirannya ditolak oleh ibunya, dan saat merencanakan perjalanan ke Eropa bersama keluarga besar, ibunya dengan kejamnya meninggalkan Marsha valerine yang saat itu masih kecil.

Marsha Zaiva Dominic.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa hawa dingin yang tak mampu mengusik ketenangan yang ia bangun selama bertahun-tahun. Ia tidak tahu bahwa nama yang ia bawa sekarang bukanlah miliknya sejak lahir.

Ia hanya tahu—hidupnya dimulai kembali saat ia diadopsi oleh sepasang dokter.
Dokter Erlan Dominic dan Dokter Shafira Hanazawa.
Dari merekalah ia mengenal arti rumah. Bukan tempat yang megah, tapi tempat yang hangat. Bukan sekadar keluarga, tapi orang-orang yang memilih untuk mencintainya tanpa syarat.

Dari mereka pula, Marsha belajar tentang kehidupan tentang merawat, tentang bertahan, dan tentang menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain.
Dan dari sanalah… ia memilih jalan yang sama.
Menjadi dokter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Masih mencari...

Sejak hari itu, sesuatu di dalam keluarga Halvard tidak pernah benar-benar kembali seperti semula, hubungan antara Andreas Halvard dan Selena Ardith perlahan membeku bukan dalam bentuk pertengkaran besar, melainkan diam yang berkepanjangan. Mereka masih berada di bawah atap yang sama, namun seperti dua orang asing yang hanya berbagi ruang, bukan kehidupan.

Tidak ada lagi percakapan ringan, tidak ada lagi kehangatan yang dulu sempat ada, sementara itu, Archio mulai merasakan perubahan yang tidak bisa ia jelaskan, rumah yang dulu terasa besar kini justru terasa kosong, sunyi yang aneh, seolah sesuatu yang penting telah hilang dan tidak pernah kembali.

Apalagi Selena semakin jarang pulang, jika pun ia datang, kehadirannya hanya sebentar cukup untuk membuat suasana semakin dingin sebelum kembali pergi tanpa penjelasan, Rumah itu tetap berdiri megah, namun tidak lagi terasa seperti rumah.

Beberapa tahun pun berlalu…

Waktu mengubah banyak hal termasuk mereka yang pernah hilang, di sudut lain dunia, jauh dari masa lalu yang menyakitkan, Marsha tumbuh dengan cara yang berbeda, ia tidak lagi menjadi anak kecil yang tersesat di keramaian Paris.

Kini, ia berdiri sebagai seorang gadis dewasa tenang, anggun, dan memiliki sorot mata yang dalam. Marsha tumbuh menjadi wanita cantik dengan pembawaan lembut, namun menyimpan keteguhan yang tidak mudah goyah.

Di London, ia menjalani hidup yang sederhana, namun penuh makna, hari itu, di sebuah ruang istirahat rumah sakit, Marsha menatap pria yang sudah ia anggap sebagai dunianya. “Daddy… sudah mulai tua, kurangi jadwalnya,” ucapnya lembut, namun ada nada khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.

Erlan Dominic hanya tersenyum kecil, menatap putrinya dengan hangat. “Tidak bisa, sayang. Lagi pula Daddy masih sangat sehat.”

Ia melirik sekilas ke arah pintu, seolah memastikan seseorang yang ia maksud tidak terlalu jauh.

“Berkat Mommy yang selalu menjaga pola makan kita.”

Marsha ikut tersenyum, matanya sedikit melembut. “Benar juga ya, Daddy…” ada kehangatan sederhana di antara mereka tidak berlebihan, tidak pula dibuat-buat, hanya kebiasaan kecil yang terasa nyaman, seperti sesuatu yang telah lama menjadi bagian dari hidup mereka.

Ia mungkin tidak tumbuh di tengah kemewahan seperti keluarga kandungnya dahulu, tidak ada istana besar dan tidak ada kekuasaan atau nama besar yang dibanggakan, namun Marsha tumbuh di lingkungan yang tidak kalah berharga, Ia dididik oleh orang tua yang memahami arti perhatian, dibesarkan dengan nilai yang sederhana namun kuat, dan diajarkan untuk berdiri dengan kemampuannya sendiri.

Di bawah bimbingan Shafira Hanazawa, ia belajar memahami emosi bukan menekannya, sementara dari Erlan, ia belajar tentang keteguhan dan tanggung jawab. Dan tanpa ia sadari kehidupan yang ia jalani sekarang jauh lebih utuh daripada apa yang pernah ia miliki. Bukan karena segalanya sempurna melainkan karena di sana ia benar-benar dianggap ada.

Tidak semua dari keluarga Halvard benar-benar pergi meninggalkan Eropa, Archio memilih tetap tinggal di London, alasannya sederhana menyelesaikan studi S3 yang telah ia mulai, namun di balik itu, ada sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan dengan jelas, ia tidak benar-benar berhenti mencari.

Archio dikenal sebagai sosok yang dingin dan cenderung cuek. Ia tidak banyak bicara, tidak pula menunjukkan emosi secara terbuka, bahkan sejak kecil, ia memang seperti itu tenang, sulit ditebak, dan sering dianggap tidak peduli.

Namun justru karena itulah, tidak ada yang benar-benar tahu apa yang ia lakukan diam-diam, di sela kesibukannya sebagai mahasiswa doktoral, Archio perlahan membangun kehidupannya sendiri. Ia berinvestasi di beberapa perusahaan, menanamkan modal dengan perhitungan matang, hingga namanya mulai dikenal di kalangan bisnis muda di kota itu.

Namun stabil, selain itu, ia juga memiliki sebuah kafe kecil yang cukup populer di sudut kota De'valerine, nama yang terdengar sederhana, namun menyimpan sesuatu yang tidak banyak orang pahami.

Nama tengah dari adik kecilnya yang hilang Marsha Valerine Halvard, tidak ada yang tahu alasan di balik pemilihan nama itu, bagi orang lain, mungkin itu hanya terdengar seperti nama yang elegan. Namun bagi Archio itu adalah cara paling sunyi untuk tetap mengingat.

Kafe itu tidak terlalu besar, namun hangat. Interiornya sederhana dengan sentuhan klasik, menghadirkan suasana nyaman bagi siapa saja yang datang, banyak pelanggan tetap yang menyukai tempat itu, tanpa pernah tahu bahwa pemiliknya jarang benar-benar terlihat, Archio lebih sering berada di balik layar. Dan sesekali duduk diam di sudut ruangan, memperhatikan orang-orang yang datang dan pergi, bukan tanpa alasan, setiap wajah yang masuk, setiap kemungkinan tidak pernah benar-benar ia abaikan.

Malam hari di London terasa dingin, namun tidak bagi Archio, ia berdiri di depan jendela kafe, memandang jalanan yang basah oleh sisa hujan, lampu kota memantul di aspal, menciptakan bayangan yang samar, tangannya masuk ke dalam saku, sementara pikirannya kembali pada satu nama yang tidak pernah benar-benar hilang.

Marsha adik bungsunya tidak ada foto baru apalagi kabar baik yang selama ini ditunggu, tidak ada kepastian, namun entah mengapa, ia tidak pernah benar-benar percaya bahwa adiknya telah hilang begitu saja. “…kalau kamu masih di sini,” gumamnya pelan, nyaris tidak terdengar, “setidaknya… lihat tempat ini sekali saja.” suaranya datar.

Namun ada sesuatu yang tertahan di dalamnya, Archio mungkin tidak menangis, tidak juga menunjukkan rasa kehilangan seperti yang lain, Namun caranya mencari tidak pernah berhenti, hanya saja dilakukan dalam diam.

Berbeda dengan Archio yang memilih diam dalam caranya sendiri, kehidupan Valerina justru berjalan di jalur yang jauh lebih keras, Ia tumbuh menjadi sosok yang ambisius, bukan semata karena keinginan pribadi, melainkan karena tuntutan yang sejak lama melekat dalam hidupnya.

Selena Ardith seorang ibu yang tidak pernah benar-benar menunjukkan kasih sayang dengan cara yang hangat, melainkan melalui standar yang tinggi dan nyaris tanpa celah, di mata Selena, tidak ada ruang untuk kesalahan dan Valerina tumbuh di bawah bayang-bayang itu.

Sejak kecil, ia diarahkan untuk menjadi sempurna, dalam penampilan, dalam sikap, dalam kemampuan, dunia yang ia kenal bukanlah dunia yang memberi ruang untuk gagal, melainkan dunia yang menilai tanpa ampun. Dan dari situlah, Valerina menemukan jalannya di dunia desain.

Ia tidak hanya belajar ia mengejar, tidak hanya mencoba ia menuntut dirinya untuk selalu lebih, sketsa demi sketsa ia buat tanpa henti, memperbaiki setiap detail hingga mendekati sempurna, seolah kesalahan sekecil apa pun adalah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan, namun di balik itu semua, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia akui, ia tidak pernah merasa cukup.

Selena tidak pernah berkata, “Aku bangga padamu.” yang ada hanyalah… “Ini masih kurang.”

Dan kalimat itu, perlahan, menjadi suara yang terus hidup di dalam kepala Valerina, mendorongnya, menekan, sekaligus membentuknya.

Ia menjadi desainer yang berbakat, tajam dalam melihat detail, dan memiliki selera yang tidak biasa. Karyanya mulai dikenal, diapresiasi, bahkan dipuji oleh banyak orang, namun setiap pujian itu tidak pernah benar-benar sampai, karena standar yang ia kejar bukan miliknya sendiri.

1
Risma Surullah
di bab lain marsha anak bungsu yg dibenci, di bab selanjutnya archio adalah adik marsha...hehe bingung bingung aq bingung
Muji Lestari
lanjut thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!