🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)
•••
Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.
Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.
Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Menjenguk Yudhi
Keanu baru saja keluar dari kamar dengan langkah pelan, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Di dalam kamar, Shaka sudah tertidur pulas setelah bermain tanpa jeda.
Keanu menatap pintu kamar itu sejenak, memastikan semuanya aman, sebelum akhirnya ia berbalik arah menuju ruang tengah.
Belum sempat ia duduk, suara pintu terdengar terbuka. Kedua orang tuanya masuk bersamaan, masih dengan pakaian rapi dari acara bisnis yang mereka hadiri sejak pagi.
Ibu Keanu langsung melangkah masuk, matanya menyapu ruangan seperti biasa, mencari keberadaan sang cucu.
"Shaka mana?" Tanya ibu Keanu sembari meletakkan tas di atas sofa.
Keanu langsung berjalan menghampiri, menyalami kedua tangan orang tuanya satu persatu, kebiasaan yang mulai ia jaga sejak mengenal Anindia.
"Shaka baru aja tidur, Ma," ujar Keanu dengan suara yang pelan.
Ibu Keanu mengangguk kecil, ekspresinya langsung melunak. "Oh, ya udah kalau begitu."
Keanu menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Mama sama Papa udah pulang?"
Ayah Keanu mengangguk pelan, tangannya meletakkan jas di sandaran kursi. "Iya, baru aja sampai. Lumayan lama juga acaranya."
Keanu mengangguk pelan. Lalu, tangannya merapikan sedikit ujung bajunya, seolah memastikan semuanya siap sebelum ia kembali keluar rumah lagi. "Ma, Pa, titip Shaka sebentar, ya," ujarnya.
Ibu Keanu langsung menoleh, alisnya sedikit mengernyit. "Mau kemana lagi, nak?"
"Aku mau jemput Nindi di kampus, Ma." Ujar Keanu lagi, lalu menghela nafas pelan. "Habis itu kami mau ke rumah sakit sebentar, jenguk Yudhi, teman SMA dulu."
Ayah Keanu mengernyitkan dahinya, seperti mencoba mengingat nama yang disebutkan putranya itu.
"Yudhi?" Gumam ayah Keanu pelan, seolah memastikan. "Yang di resepsi saat itu?"
Keanu mengangguk pelan, membenarkan perkataan ayahnya. "Iya, Pa," jawabnya singkat. "Yudhi kecelakaan."
Ibu Keanu langsung menoleh, ekspresinya yang tadinya santai, kini berubah serius. "Loh, kecelakaan?" Tanyanya dengan nada terkejut.
"Kapan kejadiannya?" Tanya ayah Keanu tak kalah seriusnya.
"Tadi pagi, Pa," jawab Keanu.
Ibu Keanu menghela nafas pelan, seolah sedang memproses informasi itu. "Ya ampun... Gimana keadaannya sekarang?"
Ayah Keanu tidak langsung menanggapi, tapi wajahnya jelas menunjukkan perhatian yang sama.
"Belum tau pasti Ma, Pa," ujar Keanu dengan gelengan kecil. "Tadi Nindi yang bilang. Dia juga dapat infonya dari teman yang lain."
"Kasihan juga," ujar ibu Keanu lirih.
Ayah Keanu mengangguk kecil, matanya menatap Keanu dengan lebih tenang namun tetap serius. "Rencananya mau langsung ke sana sekarang?"
Keanu mengangguk tanpa ragu. "Iya Pa, ini mau berangkat sekarang."
Ibu Keanu menatapnya lembut, lalu mengangguk singkat. "Iya nak, hati-hati di jalan."
"Iya, hati-hati," ujar ayahnya menimpali.
Keanu membalas dengan anggukan kecil. Tanpa banyak bicara lagi, ia langsung berbalik dan melangkah menuju luar rumah. Langkahnya mantap, seolah pikirannya sudah sampai dulu ke tujuan.
Ia menuju ke arah motornya. Tanpa menunggu lama, ia memutar kunci dan menghidupkan mesin. Suara deru motor memecah ketenangan rumah. Keanu segera melajukan motornya, meninggalkan rumah itu di belakang.
Sementara itu, di kampus, Anindia baru saja keluar dari ruang kelasnya. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, tasnya sudah tersampir di bahu.
Beberapa mahasiswa masih terlihat keluar masuk ruangan, sementara koridor mulai kembali ramai setelah jam kelas berakhir.
Anindia langsung berjalan menuju parkiran, berusaha menghindari Ardy, karena tidak ingin membuat suaminya menunggu.
Sesampainya di sana, Anindia berdiri di dekat salah satu sudut, menunggu dengan sabar. Matanya sesekali menyapu sekitar, memperhatikan setiap kendaraan yang masuk.
Suara langkah kaki terdengar mendekat, diselingi dengan sapaan yang terdengar familiar.
"Hai, Nin."
Anindia langsung menoleh. Matanya sedikit membulat saat mendapati sosok Raisa berdiri tidak jauh darinya, dengan senyum hangat yang masih sama seperti dulu.
"Eh, hai Sa," balas Anindia dengan seutas senyum.
Raisa berjalan mendekat, penampilannya masih sama seperti biasanya. Tangannya memegang buku-buku tebal di tangannya, ciri khas mahasiswi dari jurusan manajemen yang memang menuntut banyak teori dan analisis.
"Jarang banget ketemu kamu sekarang," ujar Raisa santai.
Anindia tersenyum kecil, lalu mengangguk. "Iya, sekarang udah sibuk masing-masing. Lagipula aku sempat tunda dua tahun juga, dari sejak hamil Shaka."
Raisa langsung terkekeh pelan, bahunya sedikit terangkat. "Iya deh, Mamah muda," godanya.
Anindia hanya terkekeh kecil, sedikit malu dengan sebutan itu. Sementara Raisa, ia yang awalnya santai, kini ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.
"Nindi, kamu udah tau kabar tentang Yudhi?" Tanya Raisa pelan. "Katanya dia kecelakaan."
Senyum di wajah Anindia ikut hilang, lalu ia mengangguk. "Iya, aku udah tau." Ujarnya. "Ini lagi nunggu Mas Keanu, mau langsung ke rumah sakit."
"Bareng aja, Nin. Aku juga mau jenguk." Ujar Raisa kemudian. Lalu, ia mengangkat kunci motor di tangannya, memberitahu. "Aku bawa motor kok, nanti ikut di belakang kalian aja."
Anindia menoleh sekilas, "Iya boleh."
Suasana hening sejenak. Tak lama kemudian, suara deru motor terdengar mendekat, memecah keheningan di antara mereka.
Anindia refleks menoleh ke arah sumber suara. Dari kejauhan, ia sudah mengenali motor itu dan sosok di atasnya.
Motor Keanu melambat saat memasuki area parkiran, berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Keanu melepas helmnya, merapikan sejenak rambutnya dengan tangan. Pandangannya langsung tertuju pada Anindia, namun alisnya sedikit terangkat ketika menyadari Raisa ada di samping istrinya.
"Eh, Raisa," sapa Keanu singkat, sebelum akhirnya menoleh ke arah Anindia. "Udah lama nunggu?" Tanyanya setelah turun dari motor.
Raisa membalas sapaan Keanu dengan senyuman, sementara Anindia menggeleng pelan. "Enggak lama kok, Mas." Ujarnya, pandangannya kini tertuju pada Raisa. "Mas, Raisa juga mau jenguk Yudhi."
Keanu melirik sekilas ke arah Raisa, lalu mengangguk santai. "Oh, yaudah bareng aja."
Tanpa banyak kata lagi, mereka pun bersiap. Anindia naik ke belakang motor Keanu, sementara Raisa juga sudah siap dengan motornya sendiri.
Mesin kembali dinyalakan, dan tak lama kemudian mereka berangkat meninggalkan area kampus. Motor Keanu melaju lebih dulu, diikuti motor Raisa di belakang. Jalanan siang itu cukup ramai, namun tetap bisa dilalui dengan lancar.
Di tengah perjalanan, Keanu sempat memperlambat laju motornya saat melewati deretan pertokoan. Pandangannya sekilas menyapu sekitar, hingga matanya tertuju pada sebuah toko buah. Ia menepi, tepat di depan toko itu.
"Kenapa, Mas?" Tanya Anindia di belakang.
Keanu mematikan mesin, lalu turun dari motornya. "Bentar, kita beli buah dulu."
Anindia mengangguk pemahaman, lalu ikut turun dari motor. Raisa juga berhenti dan ikut melangkah masuk ke dalam toko buah.
Setelah membeli beberapa buah-buahan segar, ketiganya kembali menaiki motornya. Hal sederhana, tapi setidaknya cukup untuk menunjukkan bahwa mereka tidak datang dengan tangan kosong.
Mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan, roda berputar membawa mereka ke tempat tujuan awal.
Jalanan terasa sedikit lebih padat, namun Keanu maupun Raisa tetap fokus mengendarai motornya. Sementara Anindia sesekali memperhatikan jalan.
Beberapa menit kemudian, bangunan rumah sakit mulai terlihat di depan mata. Mereka memasuki area rumah sakit, dan langsung menuju ke arah parkiran.
Setelah mematikan mesin, merek bertiga berjalan berdampingan ke dalam rumah sakit. Aroma khas rumah sakit langsung terasa begitu mereka melangkah masuk.
Mereka berhenti di meja resepsionis. Seorang petugas yang berdiri di sana langsung menoleh.
Keanu melangkah sedikit maju. "Permisi, Mbak." Ujarnya sopan. "Mau tanya, ruang rawat atas nama Yudhi Setiawan di mana ya?"
Petugas resepsionis itu langsung mengecek data di depannya sejenak, lalu kembali menatap Keanu.
"Yudhi Setiawan, ya? Di lantai dua, ruang rawat mawar. Dari sini lurus aja, nanti ada tangga dan lift di sebelah kanan." Jelasnya ramah.
"Iya Mbak, terima kasih," ujar Keanu dengan anggukan singkat.
"Iya sama-sama, Mas," jawab wanita itu.
Setelahnya, mereka kembali berbalik, mengikuti arah yang tadi ditunjukkan. Mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang cukup panjang, melewati beberapa orang yang berlalu lalang dengan urusannya masing-masing.
Mereka memilih untuk menaiki lift, karena tidak butuh waktu lama untuk mencapai lantai dua.
Ting.
Tak butuh waktu lama, mereka tiba di lantai dua. Tanpa pikir panjang, ketiganya kembali melangkah menuju ruang mawar, tempat Yudhi di rawat.
Keanu mengetuk pintu sekali, lalu membukanya perlahan. Begitu pintu terbuka, terlihat dua sosok di sana.
Yudhi terbaring di atas ranjang pasien. Beberapa bagian tubuhnya dibalut perban, sementara salah satu kakinya tampak terpasang gips. Wajahnya sedikit pucat, matanya menatap langit-langit ruangan entah apa yang ia pikirkan.
Di sampingnya, Edo duduk di tepi ranjang dengan posisi yang tenang. Tangannya bertumpu di paha, sementara pandangannya langsung tertuju ke arah pintu.
Keanu melangkah lebih dulu ke dalam, diikuti dengan Anindia dan Raisa. Anindia sempat terpaku beberapa detik, melihat kondisi Yudhi. Sementara Raisa, refleks menutup mulutnya dengan tangan, merasa ngilu melihat keadaan temannya itu.
Anindia langsung berjalan mendekat ke arah ranjang. Tatapannya tertuju pada Yudhi, raut wajahnya jelas menunjukkan kekhawatiran.
"Yudhi, gimana keadaan kamu?" Tanya Anindia tanpa berbasa-basi.
Yudhi langsung menoleh dan nyeletuk dengan nada khasnya. "Pake nanya lo, Nindi. Lo liat sendiri keadaan gue."
Anindia sedikit terkejut, tapi tidak mempermasalahkan, karena ia tahu sifat Yudhi memang seperti itu.
Edo langsung menggeleng singkat, tidak habis pikir dengan sohibnya itu. "Masih aja," ujarnya santai. "Udah kayak gitu, mulut gak bisa diem."
Yudhi mendengus pelan. "Ya emang kenapa? Kalo diem malah makin kerasa sakitnya."
Keanu yang sejak tadi berdiri memperhatikan akhirnya melangkah mendekat. Tatapannya mengarah ke Yudhi, lalu ke kaki yang di gips itu. "Masih bisa ngoceh berarti aman," ujarnya.
Yudhi langsung melirik Keanu, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Lo santai aja. Belum waktunya gue pensiun."
Keanu mengangkat sebelah alisnya, sangat tipis. "Pensiun apaan? Hidup lo aja belum jelas."
"Enak aja lo," Balas Yudhi cepat.
Raisa akhirnya menghela nafas pelan, lalu melangkah mendekat. "Gak berubah sama sekali. Padahal lagi sakit, lho," komentarnya singkat, merasa sedikit kesal namun juga lega melihat Yudhi yang masih bisa berbicara seperti biasa.
Pertemuan itu terjadi begitu saja, tanpa rencana dan persiapan khusus. Namun, di dalam ruangan sederhana itu, ada sesuatu yang terasa kembali hidup.
Obrolan yang tadi terdengar santai, bahkan sembarangan justru membawa mereka pada satu hal yang sama, masa lalu yang pernah mereka lewati bersama.
Kenangan masa SMA itu kembali muncul tanpa diminta, meskipun dalam suasana yang berbeda.
Namun, ada satu hal yang terasa kurang. Niko, tidak ada di ruangan itu. Jarak memisahkan, kesibukan membawa mereka pada jalannya sendiri. Dan di tengah pertemuan sederhana itu, mereka sadar bahwa waktu boleh berjalan ke mana saja, tapi tidak dengan hubungan mereka.
"Kenapa bisa kayak gini, Yudhi?" Tanya Anindia di sela-sela keheningan.
Kali ini, Yudhi tidak menjawab dengan celetukan seperti sebelumnya. Ia menghela nafas panjang, menatap langit-langit sebentar sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangannya ke arah mereka.
"Salah gue," ujar Yudhi singkat, nadanya terdengar lebih rendah dari biasanya.
Ruangan mendadak terasa lebih tenang, masing-masing dari mereka memfokuskan diri pada Yudhi, menunggu pemuda itu untuk melanjutkan.
"Gue telat masuk kerja pagi tadi," lanjut Yudhi. "Jadi gue nyalip kendaraan di depan... Maksa."
Tangan Yudhi yang bebas bergerak sedikit, seolah menggambarkan kejadian itu.
"Cuma... Gue hilang kendali." Ia berhenti sejenak, menelan ludah. "Dan dari arah berlawanan ada motor, gue gak sempat ngindar."
Tidak ada yang langsung menanggapi, seolah sedang membayangkan kejadian yang baru saja dijelaskan. Meskipun demikian, rasa terkejut jelas terlihat dari raut wajah mereka, diselingi rasa ngilu ketika membayangkannya.
Keanu menghela nafas pelan, rahangnya sedikit mengeras. "Makanya jangan ugal-ugalan," ujar Keanu datar, tapi kelas menyimpan kesal.
Edo hanya menunduk sedikit, lalu menggeleng pelan. "Untung masih selamat."
Raisa menatap Yudhi dengan alis yang mengernyit. "Serius deh, kamu tuh kadang..." Ucapnya menggantung.
Anindia menatap Yudhi dengan sorot mata yang campur aduk, antara lega karena Yudhi masih selamat dan juga kesal karena kecerobohannya.
"Lain kali hati-hati," ujar Anindia pada akhirnya.
Yudhi hanya mengangguk singkat, seolah menyadari kecerobohannya. Tidak ada lagi yang menambahkan apa-apa, mereka kemudian duduk bersisian di lantai beralaskan tikar.
Di balik candaan dan kebiasaan lama yang masih sama, ada satu hal yang tidak bisa mereka abaikan, bahwa kini semuanya sudah hidup di fase yang berbeda. Tanggung jawab, pilihan, dan konsekuensi semuanya terasa lebih nyata.
Di ruangan itu, mereka tidak hanya datang sebagai teman yang menjenguk. Tapi juga sebagai pengingat bahwa hidup tidak selalu berjalan santai seperti dulu.
^^^Bersambung...^^^
Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁