Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.
Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."
Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.
Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.
Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.
Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 PULANG TINGGAL LUKA
Napas.
Itu hal pertama yang kusadari. Kami bisa napas lega. Udara Desa Larangan yang 2 minggu ini anyir darah dan belerang, sekarang cuma bau tanah basah habis hujan. Normal.
Langit di atas purnama, tapi sinarnya putih, bersih. Tidak pucat kebiruan seperti purnama kematian.
“Udah... udah selesai?” suara Dina serak. Dia duduk di tanah, memeluk lututnya, badannya gemetar. Bukan karena takut. Karena lega yang terlalu besar.
Rendi yang pertama berdiri. Dia lihat tanganku yang gosong karena megang pemukul tulang tadi. “Tangan lu...”
“Perih,” jawabku jujur. “Tapi gue masih bisa ngerasain perih. Berarti gue masih hidup.”
Kami berlima ketawa. Ketawa gila, ketawa orang yang baru lolos dari maut. Ketawanya lepas, tapi air mata ikut keluar.
Bayu nyamperin Paklik Joyo yang masih tergeletak. “Paklik! Paklik!” Dia goyang-goyang bahu Paklik Joyo.
Paklik Joyo ngerang. “Ukh...” Matanya kebuka pelan. Dia lihat ke sekeliling. Lihat ke bekas sumur yang sekarang cuma tanah lapang ditumbuhin rumput tipis. Dia lihat ke kami berlima yang utuh.
Lalu Paklik Joyo nangis. Nangis kenceng kayak anak kecil. “Lestari... Genduk... kalian bebas, Nduk... bebas...”
Genduk. Nama anak Kuncen pertama yang jadi pemukul tulang. Nama Lestari.
Jadi Paklik Joyo... dia siapa? Cucu Kuncen pertama?
Pertanyaan itu kutahan dulu. Yang penting sekarang: kami selamat.
Fajar nengok ke kanan kiri. “Ardi mana?”
Kami semua langsung diem. Ketawa kami berhenti.
Iya. Ardi mana?
Tadi pas lonceng pecah, kami lihat Ardi berubah jadi cahaya. Sama kayak tumbal lain. Katanya bebas. Tapi bebasnya ke mana? Pulang ke alamnya? Atau...
“Dia udah tenang,” kata Paklik Joyo, nyusut air mata pake ujung bajunya. “Semua tumbal udah pulang ke tempatnya. Tidak akan gentayangan lagi. Kontrak 50 tahun udah lunas.”
Lunas. Kata itu enak banget didenger.
Malam itu kami tidur di posko untuk terakhir kalinya. Tidak ada yg jaga. Tidak ada yg takut. Untuk pertama kalinya dalam 2 minggu, kami tidur pules. Tidak ada suara gamelan. Tidak ada Mbak Dewi. Tidak ada apa-apa.
Paginya, hari ke-16 KKN, kami beres-beres.
Anehnya, warga Desa Larangan pada keluar. Ibu-ibu ke sumur umum, bapak-bapak ke sawah, anak-anak lari-lari. Seperti desa normal. Mereka lihat kami, tapi cuma senyum tipis. Tidak ada yg nyapa, tidak ada yg ngajak ngomong. Seolah 2 minggu kemarin tidak pernah terjadi.
“Paklik,” panggil Rendi pas kami pamitan di depan rumah Paklik Joyo. “Kami mau balik hari ini. Mau lapor ke rektorat kalau KKN kami selesai.”
Paklik Joyo ngangguk. Mukanya 10 tahun lebih tua dalam semalem. “Pulanglah, Le. Ninggalke desa iki. Ojo mbalik meneh. Lupakan semua.”
Lupakan semua. Gampang ngomongnya.
“Lalu... Desa Larangan gimana, Paklik?” tanyaku. “Udah aman?”
Paklik Joyo menatap ke arah bekas sumur. Sekarang di sana udah ada anak-anak main bola. “Selama 10 tahun ke depan... aman. Gerbang udah tutup. Tidak ada yg nagih tumbal. Tapi...”
Dia tidak lanjutin. Tapi kami ngerti. Setelah 10 tahun? Entahlah. Bukan urusan kami lagi.
Sinta ngasih Paklik Joyo bungkusan. Isinya sembako yg kemarin kami beli buat program kerja. “Buat Paklik. Makasih udah nolong kami.”
Paklik Joyo nerima. Tangannya gemeter. “Kalian... kalian lebih wani dari KKN-KKN sebelumnya. Genduk Lestari... dia milih orang yg tepat buat nyelametin dia.”
Lestari. Nama itu bakal kebawa sampe mati.
Jam 10 pagi, mobil jemputan dari kampus datang. Akhirnya sinyal masuk desa. Akhirnya kami bisa pulang.
Di dalam mobil, kami berenam diem. Bukan diem canggung. Tapi diem karena kepala masing-masing penuh.
HP pada bunyi semua. Notif WA, IG, TikTok numpuk. 2 minggu hilang sinyal.
Aku buka grup WA keluarga. Puluhan chat dari Ibu. “Nak, kok ga bisa dihubungi? Ibu khawatir. Kamu baik?”
Aku bales cepet: “Baik Bu. Sinyal susah. Nanti telpon.”
Terus aku buka grup angkatan. Rame banget. Bahas KKN.
“Woy grup Desa Larangan kok ilang? Gimana kabar?”
“Buset udah 2 minggu ga ada kabar, pada mati apa?”
“Eh denger-denger Desa Larangan emang angker tau. KKN 3 tahun lalu juga ada yg hilang.”
Hilang. Ardi.
Aku lirik ke bangku paling belakang. Kosong. Kursi Ardi.
Sampai kampus sore hari. Kami langsung ke ruangan rektorat. Pakai baju KKN dekil, muka lecek, tanganku diperban.
Bu rektor kaget. “Kalian kenapa? Kok kayak habis perang? Mana Ardi?”
Rendi yg maju. Dia udah siapin cerita dari tadi. “Bu, kami mau lapor. KKN kami di Desa Larangan selesai. Tapi... ada musibah. Ardi... Ardi hilang. Hanyut di sungai pas survei. Kami udah lapor ke Polsek setempat. Jenazahnya belum ketemu.”
Bohong. Tapi itu cerita paling logis. Mau bilang “Ardi ditarik dedemit ke sumur” siapa yg percaya?
Bu rektor lemes. Dia panggil tim kampus. Urus surat, urus lapor kehilangan, urus pemulangan kami ke orang tua masing-masing.
KKN kami dinyatakan selesai. Nilai? A. Karena “berhasil bertahan di daerah sulit”.
Ironis.
Malamnya, aku sampe rumah. Ibu langsung meluk, nangis. Bapak nepuk pundak. “Syarate dadi wong lanang, Le. Kudu wani rekasa.”
Kalo Bapak tau rekasa-nya kayak apa...
Aku masuk kamar. Rebahan di kasur empuk. AC dingin. Lampu terang. Jauh beda sama posko.
Aku buka HP. Iseng buka galeri. Cari foto KKN.
Ada foto kita bertujuh di hari pertama. Di depan gapura “Selamat Datang di Desa Larangan”. Semua senyum. Ardi paling lebar.
Aku zoom muka Ardi. Dadaku sesak.
Tiba-tiba...
TING.
Notifikasi IG. DM masuk. Dari akun @ardi_prakasa. Akun Ardi.
Aku kaget. Akun Ardi? HP-nya aja ketinggalan di posko.
Aku buka.
Isinya foto.
Foto kami berlima. Di mobil jemputan tadi siang. Dari kursi paling belakang.
Kursi yg kosong.
Caption-nya:
“Akhirnya pulang :)”
Dingin. Seluruh badan gue dingin. Keringat dingin ngucur.
Aku blok akun itu. Hapus DM. Lempar HP.
Tidak mungkin. Ardi udah bebas. Paklik Joyo bilang udah tenang.
Itu pasti... akunnya di-hack. Atau...
Aku tidak mau mikir. Aku tarik selimut. Coba tidur.
Jam 3 pagi, aku kebangun. Bukan karena mimpi buruk.
Karena ada suara.
Dari bawah kasur.
Suara gamelan. Pelan. Satu alat.
Tung... tung... tung...
Suara kenong. Penabuh pertama.
Keringatku dingin lagi. Tidak. Tidak mungkin. Gerbang udah tutup. Sumur udah hilang.
Aku beraniin diri ngintip ke bawah kasur.
Kosong. Cuma debu.
Tapi suaranya masih ada. Sekarang dari dalam lemari.
Tung... tung... tung...
Diikuti suara kedua.
Nang... nang...
Kempul. Penabuh kedua.
Mereka... ikut pulang.