NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Abu Bangsawan

Lorong Kematian. Begitulah penduduk Kota Perdagangan menyebut gang sempit tak berujung yang membelah kawasan kumuh di pinggiran kota. Tempat ini tidak memiliki lampion Qi, tidak ada penjaga, dan bau busuk dari selokan menutupi segala jenis aroma darah yang sering tertumpah di sana.

Chu Chen berjalan dengan langkah tenang, jubah abu-abunya berkibar pelan tertiup angin malam. Di belakangnya, Meng Fan terus menoleh ke belakang dengan wajah pucat pasi dan pedang yang bergetar di tangannya.

"Chu Chen, kita sudah masuk terlalu dalam," bisik Meng Fan dengan suara gemetar. "Ini adalah jalan buntu. Jika mereka menyergap kita sekarang—"

"Mereka sudah menyergap kita sejak kita keluar dari Paviliun Bulan Sabit," potong Chu Chen datar. Ia menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah lorong yang paling gelap. "Keluarlah. Udara di sini sudah cukup kotor, jangan ditambah dengan bau ketakutan kalian."

Prok. Prok. Prok.

Suara tepuk tangan pelan bergema dari ujung lorong di depan mereka. Dari balik bayangan, Lu Jian melangkah keluar. Pakaian sutra putihnya tampak mencolok di tengah kegelapan. Senyum angkuh dan merendahkan terukir jelas di wajahnya yang tampan.

Di saat yang bersamaan, dua sosok kekar melompat turun dari atap bangunan di sisi kiri dan kanan, mendarat tepat di belakang Meng Fan, menutup jalan keluar. Keduanya memancarkan aura Alam Penempaan Raga Lapis Kesembilan. Mereka adalah pengawal pilihan dari Klan Lu.

"Ketajaman indramu lumayan juga untuk seekor anjing Puncak Luar," Lu Jian tertawa pelan, memainkan kipas giok di tangannya. "Aku hampir merasa kasihan padamu. Kau memiliki lima ratus Batu Roh, sebuah kekayaan yang bisa mengubah hidup fana rendahan sepertimu. Tapi kau memilih untuk menggunakannya demi menampar wajahku di depan umum."

Lu Jian menghela napas dramatis. "Klan Lu kami tidak pernah membiarkan hinaan berlalu begitu saja. Serahkan Fosil Tulang Naga Hitam itu, serahkan Cincin Penyimpananmu, lalu berlutut dan potong lidahmu sendiri. Jika kau melakukannya, aku mungkin akan membiarkan teman pemabukmu itu hidup."

Meng Fan menelan ludah. Dua ahli Lapis Kesembilan dan satu pendekar berbakat istimewa Lapis Kedelapan. Bagi Meng Fan, ini adalah kepungan maut yang tak bisa dihindari.

Namun, sasaran dari ancaman mematikan itu, Chu Chen, bahkan tidak repot-repot menghunus pedang. Ia hanya berdiri diam, menatap Lu Jian seolah sedang menatap sepotong kayu busuk.

"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang umurnya tinggal setengah dupa," ucap Chu Chen pelan.

Senyum Lu Jian membeku. Wajahnya seketika merah padam oleh amarah. "Keparat sombong! Bunuh dia! Cincang dagingnya menjadi potongan kecil!"

Kedua pengawal Lapis Kesembilan di belakang Chu Chen melesat maju bagaikan hantu. Pedang besar di tangan mereka membelah udara dengan suara siulan tajam, mengarah langsung ke leher dan pinggang Chu Chen, bermaksud membelahnya menjadi tiga bagian.

"Mati!"

Di saat ujung pedang itu berjarak kurang dari satu cun, mata Chu Chen yang hitam pekat berubah seketika. Pupilnya menyempit menjadi celah emas vertikal, dan dari dalam Dantiannya, Lautan Qi yang tenang mendadak meledak.

BUMMM!

Aura berwarna merah darah yang dipenuhi hawa panas yang terlampau tinggi meledak dari tubuh Chu Chen.

Bukan menangkis, Chu Chen hanya membalikkan badannya dengan kecepatan yang melampaui nalar manusia fana, mengulurkan kedua telapak tangannya, dan langsung mencengkeram bilah pedang raksasa milik kedua pengawal Lapis Kesembilan tersebut!

TRANG! SSSSH!

Bilah pedang spiritual itu tidak memotong telapak tangannya. Sebaliknya, begitu bersentuhan dengan kulit Chu Chen, pedang baja dingin itu langsung meleleh menjadi cairan besi merah menyala!

"A-Apa?!" Kedua pengawal itu membelalakkan mata dengan ngeri. Suhu yang membakar merambat melalui gagang pedang, melepuhkan kulit tangan mereka.

"Lautan Qi..." bisik salah satu pengawal dengan suara bergetar. "Dia... dia berada di Alam Lautan Qi!"

Namun, kesadaran itu datang terlambat. Di ujung jari Chu Chen, percikan kecil Api Teratai Merah muncul. Ia menjentikkan jarinya ke arah kedua pengawal tersebut.

Api sebesar kuku itu melesat dan menghantam dada mereka. Dalam sepersekian tarikan napas, api itu menelan tubuh mereka bulat-bulat. Tidak ada jeritan. Tidak ada perlawanan. Hawa panas dari Api Surgawi itu secara mutlak memanggang ahli Lapis Kesembilan menjadi abu putih sebelum rasa sakit sempat mencapai otak mereka.

Dua tumpukan abu jatuh ke tanah berdebu.

Di ujung lorong, Lu Jian jatuh terduduk. Kipas gioknya terlepas dari genggamannya dan pecah di lantai. Mulutnya terbuka lebar, matanya memancarkan kengerian yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata fana. Dua pengawal terkuat klannya menguap begitu saja? Dan pemuda berjubah lusuh ini... memiliki gejolak Alam Lautan Qi?!

"T-Tidak mungkin..." Lu Jian merangkak mundur, kakinya lemas tak bertenaga. "Kau... kau menyembunyikan kultivasimu di Pilar Takdir! Siapa kau sebenarnya?!"

Chu Chen melangkah maju perlahan, melewati Meng Fan yang sudah membeku menjadi patung. Langkah kakinya menggema di lorong yang sunyi, terdengar seperti hitungan mundur menuju neraka di telinga Lu Jian.

"Jangan mendekat!" Lu Jian menjerit panik. Ia merogoh dadanya dengan tergesa-gesa dan mengeluarkan sebuah jimat giok yang memancarkan cahaya biru. "Aku adalah pewaris Klan Lu! Jika kau membunuhku, Plakat Nyawaku di aula leluhur akan pecah! Penatua Istana Jiwa dari klanku akan segera mengetahui kematianku dan melacak pelakunya ke tempat ini! Sekte Awan Suci akan memburumu sampai ke ujung dunia!"

Langkah Chu Chen terhenti sejenak.

Lu Jian, mengira ancamannya berhasil, memaksakan tawa sumbang yang bergetar. "Benar! Kau takut, kan? Kau mungkin ahli Lautan Qi, tapi kau tidak bisa melawan seluruh klan—"

Wush.

Dalam satu kedipan mata, Chu Chen telah berdiri tepat di depan Lu Jian. Tangannya melesat mencengkeram leher bangsawan muda itu, mengangkatnya ke udara hingga kakinya meronta-ronta di udara kosong.

"Plakat Nyawa melacak sisa Niat Spiritual dan riak Qi yang tertinggal di udara saat kau mati," bisik Chu Chen, menatap mata Lu Jian yang dipenuhi keputusasaan. "Tapi bagaimana jika... tidak ada satu pun riak energi yang tersisa?"

Lu Jian mencoba meronta, namun cengkeraman Chu Chen seperti jepitan naga.

Pusaran Ketiadaan.

Daya hisap mutlak meledak. Chu Chen tidak hanya menyedot saripati kehidupan Lu Jian. Didukung oleh Lautan Qi-nya, teknik pelahap Chu Chen kini mencapai tingkat yang baru. Ia menyedot daging, darah, tulang, dan bahkan jimat giok pelindung di tangan Lu Jian!

Hanya dalam tiga tarikan napas, Lu Jian mengering menjadi sekam, lalu menjadi debu, dan debu itu pun dihisap masuk ke dalam telapak tangan Chu Chen, dimurnikan oleh Api Teratai Merah menjadi ketiadaan mutlak.

Tidak berhenti sampai di situ, Chu Chen merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Seni Kaisar Naga: Penghapusan Jejak!

Pusaran hitam raksasa tak kasat mata terbentuk di lorong itu. Chu Chen menghisap abu dari dua pengawal sebelumnya, darah yang sempat menetes, bekas lelehan pedang, dan yang paling mengerikan... ia menghisap sisa-sisa gejolak Qi dan Niat Spiritual Lu Jian yang bertebaran di udara akibat ketakutan.

Ia menelan seluruh kejadian di lorong itu bersih-bersih.

Angin malam kembali berhembus. Lorong Kematian itu kini benar-benar kosong dan damai. Tidak ada mayat. Tidak ada abu. Tidak ada bau hangus maupun bau darah. Bahkan jika seorang ahli Alam Istana Jiwa datang dengan Cermin Pencari Jiwa saat ini juga, mereka hanya akan menemukan udara malam yang biasa.

Plakat Nyawa Lu Jian di klannya mungkin akan pecah, tetapi pecahan itu tidak akan menunjukkan arah, lokasi, maupun bayangan pembunuhnya. Lu Jian seolah-olah dihapus secara paksa dari alam semesta.

Chu Chen menepuk kedua tangannya pelan, menstabilkan energi yang baru saja ia serap ke dalam Lautan Qi-nya. Ia menoleh ke belakang, menatap Meng Fan yang rahangnya masih terbuka lebar menatap kehampaan di depannya.

"Masalah selesai," ucap Chu Chen dengan nada datar, seolah ia baru saja menyapu debu dari bajunya. "Ayo kembali ke sekte. Kita memiliki Fosil Naga untuk diserap malam ini."

1
Gege
kenapa engga di kontrak budak saja Thor..kan jiwa naga purba harusnya bisalah itu ikat jiwanya..jadi mudah buat menghapusnya..🤭
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!