NovelToon NovelToon
Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Menunggumu Berdamai Dengan Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."

Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.

Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.

Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.

Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Langkahku gontai, separuh berlari menembus trotoar yang mulai padat oleh orang-orang pulang kantor. Napasku tersengal, bukan karena lelah, tapi karena ulu hatiku terasa seperti dihantam batu besar. Bayangan Ayah yang tersenyum lebar dan merangkul laki-laki itu—saudara tiriku—terus berputar di kepala seperti kaset rusak yang menyakitkan.

Aku terus berjalan tanpa arah, hingga kakiku membawaku ke sebuah taman kecil yang terletak beberapa blok dari gedung kantor. Taman itu cukup sepi, tersembunyi di balik gedung-gedung pencakar langit yang angkuh.

Aku menjatuhkan diriku di salah satu bangku taman yang dingin. Seketika, pertahanan yang kubangun selama lima tahun runtuh total. Aku menunduk dalam, menutup wajahku rapat-rapat dengan kedua telapak tangan. Isakan yang sejak tadi kutahan akhirnya pecah.

"Kenapa..." bisikku di sela tangis yang menyesakkan. "Kenapa kalian harus muncul sekarang?"

Aku menangis sejadi-jadinya. Bahuku terguncang hebat. Di balik telapak tanganku yang basah oleh air mata, aku merutuki diriku sendiri. Aku membenci kenyataan bahwa aku masih selemah ini. Aku membenci kenyataan bahwa hanya dengan melihat senyum Ayah untuk orang lain, hidupku kembali berantakan.

Di tengah isak tangisku yang belum mereda, aku merasakan embusan angin dingin di sampingku, diikuti oleh suara gesekan kain yang halus. Seseorang baru saja duduk di bangku yang sama.

Aku tidak mendongak. Aku terlalu malu, terlalu hancur untuk menunjukkan wajah sembabku pada siapa pun. Aku bersiap untuk berdiri dan pergi, mengira itu mungkin orang asing yang tidak sengaja lewat. Namun, sebuah aroma familiar tiba-tiba menyapa indra penciumanku.

Aroma kayu cendana dan citrus.

Aku membeku. Tangisku tertahan di tenggorokan. Aku tahu siapa pemilik aroma ini. Aku tahu siapa yang kini duduk tepat di sampingku tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Farez.

Aku tetap menutup wajahku, tidak sanggup melihatnya. Aku menunggu dia melontarkan pertanyaan, menunggu dia bertanya kenapa aku menangis, atau setidaknya bertanya apa yang terjadi. Tapi, tidak ada kata-kata yang keluar.

Farez hanya diam. Dia tidak menyentuhku, tidak mencoba memelukku, juga tidak memintaku berhenti menangis. Dia hanya ada di sana, duduk dengan tenang, memberiku ruang untuk menghabiskan seluruh rasa sakit yang tumpah malam ini.

Kehadirannya terasa seperti peredam suara di tengah bisingnya kepalaku. Seolah-olah dia sedang berkata, "Menangislah, aku di sini menjaga lukamu."

Perlahan, isak tangisku mulai mereda. Rasa mual dan lemas yang tadi menyerangku perlahan tergantikan oleh rasa hangat yang aneh. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, aku menurunkan tanganku dari wajah. Mataku perih, pandanganku kabur oleh sisa air mata.

Aku melirik ke samping melalui sudut mata. Farez sedang menatap lurus ke depan, ke arah lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Wajahnya tampak tenang, seolah dia sudah terbiasa melihatku hancur seperti ini.

Saat dia merasa aku sudah lebih tenang, Farez bergerak pelan. Dia bangkit dari bangku, masih tanpa menatapku langsung.

"Pulanglah, Rana. Ibumu pasti menunggumu," ucapnya dengan suara soft-spoken yang sangat lirih, hampir menyatu dengan angin malam.

Tanpa menunggu jawabanku, dia melangkah pergi. Dia tidak memintaku ikut dengannya, tidak menawarkan tumpangan, dia benar-benar pergi setelah memastikan aku sudah bisa bernapas kembali. Dia membiarkanku menyimpan rahasia tangisku, seolah dia paham bahwa saat ini, aku hanya butuh seseorang yang tahu aku terluka tanpa perlu bertanya kenapa.

Aku menatap punggungnya yang menjauh di bawah keremangan lampu taman. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku merasa bahwa tidak semua laki-laki adalah pengkhianat. Ada yang memilih untuk diam, hanya untuk memastikan kita tidak merasa sendirian di tengah badai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!