NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12 : Mencari Alexander

Beberapa saat kemudian, di dalam ruangan Aldi.

Bruk.

Sabrina langsung menjatuhkan tas mahalnya ke sofa. Wajahnya masih dipenuhi kemarahan.

"Mana Alex?"

Aldi bahkan belum sempat duduk. "Itu kalimat pertama yang keluar dari mulut lo?"

"Iya."

Aldi menghela napas panjang lalu duduk di kursi kerjanya. "Belum datang."

Sabrina langsung berdiri lagi. "Gue tunggu."

"Duduk dulu."

"Aldi..."

"Duduk." Nada suara Aldi kali ini berbeda, tidak bercanda.

Membuat Sabrina akhirnya kembali duduk. Ruangan mendadak sunyi beberapa detik. Aldi menatap wanita di depannya. Sudah bertahun-tahun mereka saling mengenal. Bahkan sebelum Sabrina menikah dengan Alexander.

Namun baru kali ini Aldi benar-benar merasa kecewa. "Lo tahu nggak kenapa gue manggil lo ke sini?"

Sabrina melipat tangannya di dada. "Karena lo mau ngebela sahabat lo."

Aldi menggeleng. "Salah."

"Terus?"

"Gue mau nyadarin lo."

Sabrina tertawa sinis. "Nyadarin apa?"

Aldi menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau semua ini bukan salah Alex."

Wajah Sabrina langsung berubah. "Aldi."

"Nggak usah marah dulu. Gue juga punya alasan!" Aldi mengangguk. "Mungkin."

"Tapi lo nggak tahu semuanya," Sabrina berusaha menjelaskan.

"Mungkin ia, tapi...." Aldi melanjutkan. "Gue kenal Alex cukup lama."

"Terus?"

"Gue tahu dia orang seperti apa."Ruangan kembali sunyi. "Lo tahu nggak?" Aldi menatap Sabrina lurus. "Selama pernikahan kalian, dia selalu berusaha mempertahankan rumah tangga itu."

Sabrina tidak menjawab.

"Dia selalu nutupin masalah kalian."

"Karena dia gengsi," bantah Sabrina.

"Bukan." Aldi menggeleng. "Karena dia masih menghargai lo, sebagai istrinya."

Kalimat itu membuat Sabrina membeku.

Aldi melanjutkan. "Kalau dia mau, berita perselingkuhan lo bisa masuk semua media dalam sehari."

Sabrina langsung menggigit bibir.

"Tapi dia nggak pernah melakukan itu. Bahkan sampai sekarang."

Keheningan memenuhi ruangan. Aldi jarang berbicara serius seperti ini. Justru karena itu setiap kata-katanya terasa jauh lebih berat.

"Lo tahu apa yang paling bikin gue heran?"

Sabrina mengangkat kepala. "Apa?"

"Lo masih marah karena digugat." Tatapan Aldi berubah tajam. "Tapi lo nggak pernah marah sama diri sendiri karena jadi alasan gugatan itu ada."

Deg.

Sabrina langsung terdiam, kini ia tidak bisa membalas.

Aldi menghela napas. "Gue nggak bilang Alex sempurna. Dia memang keras kepala, nyebelin. Kerja terus kayak robot."

Sabrina tanpa sadar hampir tertawa kecil.

Aldi melanjutkan. "Tapi satu hal yang nggak pernah dia lakukan adalah mengkhianati orang yang dia pilih."

Ruangan kembali sunyi.

Kata-kata itu menghantam jauh lebih keras daripada kemarahan. Karena Sabrina tahu, Aldi tidak sedang berbohong.

Beberapa detik berlalu. Suara Sabrina akhirnya terdengar pelan. "Dia benar-benar nggak mau kasih gue kesempatan lagi?"

Aldi menatapnya cukup lama. Lalu menjawab jujur. "Gue rasa nggak."

Wajah Sabrina langsung memucat. "Apa separah itu?"

Aldi mengangguk kecil. "Kalau Alex sampai mengajukan gugatan..." Ia berhenti sejenak. "Itu artinya dia udah nggak mau berurusan sama lo lagi."

Kalimat itu membuat Sabrina menunduk. Kali ini air matanya mulai memenuhi pelupuk mata. Namun Aldi tidak merasa senang melihatnya. Karena sebenarnya ia berharap semua ini tidak pernah terjadi.

"Aldi..."

"Hm?"

"Dia benar-benar udah nggak peduli lagi sama gue?"

Aldi terdiam beberapa saat, lalu menjawab perlahan. "Bukan nggak peduli."

Sabrina mengangkat kepala. "Kalau begitu?"

Aldi tersenyum tipis. "Dia sudah terlalu lelah untuk peduli."

Keheningan langsung memenuhi ruangan.

***

Sementara itu, di luar ruangan. Lift terbuka... Alexander akhirnya tiba di kantor.

Dara yang sedang menyusun dokumen langsung berdiri. "Selamat pagi, Tuan."

Alexander mengangguk singkat. "Dokumen untuk ke Surabaya, bagaimana?"

"Sudah siap, Tuan."

"Bagus."

Namun sebelum ia melangkah menuju ruangannya, Dara terlihat ragu-ragu.

Alexander mengangkat alis. "Ada apa?"

Dara menelan ludah. "Pak Aldi sedang menerima tamu."

"Hm?"

Dara menunjuk ke arah ruangan Aldi. "Dan tamunya adalah Nyonya Sabrina."

Langkah Alexander langsung terhenti. Suasana lantai direksi mendadak terasa jauh lebih sunyi. Alexander terdiam beberapa detik. Tatapannya tertuju ke arah pintu ruangan Aldi yang masih tertutup rapat.

Sabrina... nama itu tidak lagi membuat dadanya bergejolak seperti dulu. Yang ada hanya rasa lelah yang begitu dalam.

Dara yang berdiri di depannya langsung gugup. "Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha mencegah, tapi..."

"Tidak apa-apa." Jawaban singkat itu membuat Dara berkedip . Alexander justru terlihat sangat tenang.

Setelah itu Alexander menyerahkan tas kerjanya kepada Dara. "Tolong bawa ke ruangan saya."

"Baik, Tuan."

Alexander berjalan menuju ruangannya tanpa sedikit pun melihat ke arah pintu ruangan Aldi.bNamun tepat ketika ia melewatinya...

Klik.

Pintu ruangan Aldi terbuka.

Sabrina keluar, wanita itu langsung membeku. Alexander berdiri hanya beberapa meter di depannya. Untuk sesaat suasana lantai direksi menjadi sangat sunyi.

Semua staf pura-pura bekerja. Padahal telinga mereka jelas memperhatikan. Aldi yang berdiri di belakang Sabrina langsung mengusap wajahnya pelan.

"Waduh..."

Sabrina menatap Alexander. Pria itu terlihat sama seperti biasanya. Rapi, tampan, dan dingin. Namun entah kenapa terasa sangat jauh.

"Alex..."

Alexander menatapnya datar.

"Ada yang perlu kita dibicarakan?" Sabrina menggenggam tasnya erat. "Aku cuma ingin bicara."

"Kita sudah bicara tadi malam."

"Itu lewat telepon."

"Intinya kita tetap sudah bicara." Jawaban singkat itu membuat Sabrina kehilangan kata-kata.

Aldi hanya bisa menghela napas. Dulu Alexander bukan orang seperti ini. Kalau sudah menyangkut Sabrina, pria itu selalu sabar. Terlalu sabar bahkan, tapi sekarang semua kesabaran itu sudah habis.

"Alex..." suara Sabrina mulai bergetar. "Aku tahu aku salah."

Alexander diam.

"Aku tahu aku menyakiti kamu. Aku cuma..." Sabrina menunduk. "Aku nggak pernah berpikir semuanya akan sejauh ini."

Alexander akhirnya berbicara. "Karena kau berpikir aku akan memaafkanmu lagi."

Deg.

Sabrina langsung membeku.

Alexander menatapnya tanpa emosi. "Bukankah begitu?"

Sabrina tidak bisa menjawab. Karena memang itu kenyataannya. Selama ini Alexander selalu memberi kesempatan. Selalu mengalah, selalu mencoba memperbaiki. Dan tanpa sadar Sabrina menganggap itu akan berlangsung selamanya.

"Aku..."

"Sudahlah." Alexander memotongnya pelan.

Tidak ada kemarahan dalam suaranya. Justru ketenangan itu terasa jauh lebih menyakitkan. "Aku tidak ingin bertengkar di kantor."

Sabrina menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Jadi ini semua benar-benar selesai?"

Alexander tidak langsung menjawab. Tatapannya lurus menembus mata wanita yang pernah menjadi orang paling penting dalam hidupnya. Lalu perlahan ia mengangguk.

"Iya."

Satu kata, namun cukup untuk menghancurkan sisa harapan Sabrina. Air mata akhirnya jatuh, kini wanita itu tidak lagi terlihat marah. Alexander sendiri tidak menunjukkan reaksi apa pun. Karena keputusan itu sudah dibuat dengan penuh kesadaran.

Hari ini hanya pengakuan terakhir. Sabrina menunduk. Kemudian berbalik perlahan. "Aku mengerti." Suaranya hampir tidak terdengar.

Aldi memperhatikannya dengan rasa tidak nyaman. Meski kesal, tetap saja melihat seseorang hancur bukan hal yang menyenangkan. Sabrina berjalan menuju lift, tak seorang pun berani berbicara.

Ding.

Pintu lift terbuka.

Sebelum masuk, wanita itu sempat menoleh sekali lagi ke arah Alexander. Namun pria itu sudah berbalik menuju ruangannya.

Pintu lift tertutup.

Kali ini Sabrina benar-benar menyadari bahwa ia telah kehilangan Alexander.

Di sisi lain...

Dara yang sedari tadi menyaksikan semuanya diam-diam merasa dadanya sesak. Ia tidak mengenal Sabrina, ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangga mereka.

Namun melihat ekspresi Alexander barusan, entah kenapa membuatnya sedih. Karena di balik wajah dingin pria itu, Dara bisa melihat sesuatu. Luka yang sudah terlalu lama disimpan sendirian.

Sementara itu Alexander masuk ke ruangannya.

Bruk.

Pintu tertutup.

Pria itu berdiri di depan jendela besar yang menghadap kota. Tangannya masuk ke saku celana, matanya menatap langit Jakarta yang cerah.

Beberapa detik kemudian terdengar ketukan di pintu.

Tok... tok...

"Masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Dara masuk sambil membawa tas dan map yang tadi sudah disiapkan.

"Tuan..."

Alexander menoleh. "Iya?"

Dara sebenarnya hanya ingin menyerahkan dokumen. Namun melihat wajah pria itu dari dekat, entah kenapa ia jadi ragu.

"Ada apa?" tanya Alexander.

Dara menggenggam mapnya sedikit lebih erat. Lalu tanpa sadar berkata pelan. "Tuan sudah sarapan?"

Alexander berkedip, ekspresinya berubah sedikit.

Dan di luar ruangan, Aldi yang kebetulan lewat serta mendengar pertanyaan itu dari pintu yang belum tertutup sempurna...

Langsung menutup mulutnya agar tidak tertawa. "Astaga..." bisiknya. "Yang satu baru patah hati, yang satu malah nanya sarapan."

Dan tanpa ia sadari, senyum tipis mulai muncul lagi di wajah Alexander.

1
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍
It's me Sky: siap ka
total 1 replies
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!