NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Keesokan paginya.

Aurora Quinn baru saja melangkah turun dari bus ketika ponsel di dalam sakunya bergetar lembut. Satu notifikasi pesan masuk. Aurora mengernyitkan kening saat melihat layar ponselnya menampilkan deretan nomor yang tidak dikenal.

Ia pun membuka pesan tersebut.

Unknown Number:

"Selamat pagi, Coffee Girl."

Aurora langsung menghentikan langkah kakinya di trotoar. "Astaga..." bisik Aurora tertahan.

Tak perlu berpikir lama, ia sudah tahu persis siapa orang di balik nomor asing tersebut. Aurora segera mengetikkan balasan dengan cepat.

Aurora:

"Kamu dapat nomor ini kurang dari 12 jam yang lalu."

Hanya dalam hitungan beberapa detik, balasan dari seberang sana kembali masuk.

Alexander:

"Dan aku sudah menghafalnya."

Aurora memutar bola matanya malas, namun jemarinya tetap membalas.

Aurora:

"Menyeramkan."

Alexander:

"Romantis."

Aurora:

"Menyeramkan."

Alexander:

"Oke, sedikit."

Tanpa sadar, Aurora tertawa kecil membaca balasan terakhir itu. Beberapa mahasiswa yang berjalan melewatinya sampai menoleh heran karena melihat Aurora tersenyum sendiri menatap layar ponsel.

---

Sesampainya di area kampus.

Aurora berjalan menuju ruang kelasnya seperti biasa. Namun, baru beberapa langkah menyusuri koridor, ia mulai merasakan suasana di sekitarnya terasa sedikit aneh. Beberapa mahasiswi tampak curi-curi pandang ke arahnya sambil berbisik-bisik tetangga.

"Apa itu dia orangnya?" bisik salah satu mahasiswi berpakaian modis.

"Iya, kayaknya benar dia," sahut temannya pelan.

"Cantik sih... tapi penampilannya biasa aja," komentar yang lain dengan nada meremehkan.

Aurora mengernyitkan dahi kebingungan. "Ada apa sih sebenarnya?" gumam Aurora dalam hati. Karena tidak ingin ambil pusing, ia mengabaikan pandangan-pandangan tersebut dan langsung masuk ke dalam kelas.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat bel jam istirahat berbunyi, Lily Parker, sahabat dekat Aurora, langsung berlari kencang dan menyerbu meja tempat Aurora duduk.

"WANITA!" teriak Lily heboh.

Aurora yang sedang merapikan alat tulis hampir saja menjatuhkan buku tebalnya karena terkejut. "Ya Tuhan, Lily! Bisakah kamu tidak berteriak?" tegur Aurora.

Lily mengabaikan teguran itu dan langsung menarik kursi untuk duduk di depan Aurora. "Kamu belum cerita ya sama aku," tagih Lily dengan mata menyipit.

"Cerita apa?" tanya Aurora bingung.

"Tentang hubunganmu dengan Alexander Kingsley!" seru Lily tanpa basa-basi.

Aurora langsung tersedak ludahnya sendiri mendengar nama itu disebut. "Hah?! Apa maksudmu?"

"Jangan pura-pura nggak tahu, Aurora," desak Lily penuh selidik.

"Aku benar-benar nggak pura-pura, Lily," balas Aurora membela diri.

Lily menyipitkan matanya semakin dalam. "Kemarin sore banyak anak kampus yang lihat kalian berdua sedang asyik mengobrol di dekat halte bus."

Aurora menghela napas panjang lalu berkata, "Itu cuma kebetulan, Lily."

Lily tertawa sinis mendengar alasan klasik sahabatnya. "Kebetulan? Kebetulan macam apa yang sampai membuat kalian tukeran nomor telepon?" tanya Lily menggoda.

Seketika itu juga Aurora langsung membeku di tempat. "KAMU TAHU DARI MANA?!" tanya Aurora dengan suara tertahan karena panik.

Sebagai jawaban, Lily langsung menyodorkan layar ponselnya yang menampilkan laman grup gosip internal kampus. Aurora melihat layar itu dengan saksama, dan sedetik kemudian rasanya ia ingin pingsan.

Foto dirinya yang sedang menyodorkan secarik kertas kecil kepada Alexander tadi malam telah tersebar luas di forum kampus. Foto itu bahkan dilengkapi dengan judul besar yang mencolok: "Gadis Misterius Berhasil Mendapatkan Perhatian Alexander Kingsley."

Aurora memejamkan matanya pasrah. "Aku mau pindah planet saja sekarang," ratap Aurora frustrasi.

Melihat penderitaan sahabatnya, Lily justru tertawa terbahak-bahak tanpa perasaan.

---

Sementara itu, di gedung fakultas bisnis yang terletak di seberang area kampus.

Alexander sedang duduk mengikuti rapat organisasi tahunan. Meskipun rapat sedang berjalan formal, fokusnya tidak seratus persen berada di sana; ponselnya terus-menerus digenggam di tangannya.

Ryan Walker, sahabat sekaligus rekan organisasi yang duduk tepat di sebelahnya, mulai menyadari keanehan itu lalu mengangkat sebelah alisnya. "Kamu kenapa, Alex?" tanya Ryan berbisik.

Alexander tidak menjawab dan tetap fokus pada layar ponselnya. Karena penasaran, Ryan diam-diam melirik ke arah layar gawai milik Alexander, dan seketika matanya membelalak sempurna karena terkejut. "Tunggu dulu," gumam Ryan tertahan.

Alexander masih tetap diam, mengabaikan reaksi sahabatnya. Ryan menyenggol lengan Alexander lalu berbisik lagi, "Itu kamu lagi *chatting*?"

"Hm," jawab Alexander singkat tanpa menoleh.

"Dengan seorang cewek?" tanya Ryan memastikan dengan nada tidak percaya.

"Hm," sahut Alexander lagi dengan gumaman yang sama.

Saking terkejutnya, Ryan refleks langsung berdiri tegak dari kursinya. Akibat gerakan tiba-tiba itu, kursi Ryan berdecit nyaring dan membuat seluruh peserta di dalam ruangan rapat menoleh ke arah mereka.

"SEMUA ORANG! KALIAN HARUS TAHU—" seru Ryan heboh.

Sebelum Ryan sempat menyelesaikan kalimatnya, Alexander dengan cepat menarik kerah belakang baju Ryan hingga sahabatnya itu terduduk kembali. "Duduk dan diam," perintah Alexander dengan suara rendah yang penuh penekanan.

Ryan menatap Alexander dengan pandangan tidak percaya. "Kamu benar-benar sedang chatting dengan cewek, Alex!" bisik Ryan heboh.

Alexander mendengus kesal melihat tingkah berlebihan sahabatnya. "Pelankan suaramu, Ryan."

"Tapi berita ini jauh lebih mengejutkan daripada berita krisis ekonomi dunia!" kelakar Ryan yang masih syok.

Mendengar hiperbola dari Ryan, Alexander akhirnya tertawa kecil. Ryan langsung menyipitkan matanya, mencoba menganalisis ekspresi wajah sang pewaris Kingsley Corporation tersebut. "Oke, biar kutanya satu hal," ucap Ryan serius.

"Apa?" tanya Alexander santai.

"Kamu menyukai gadis ini, ya?" tanya Ryan menyelidiki.

Alexander terdiam sesaat mendengar pertanyaan langsung tersebut. Ia kemudian menoleh ke arah jendela besar di ruang rapat, memandang lapangan kampus yang luas. Di dalam benaknya, bayangan senyuman Aurora kembali melintas—cara gadis itu tertawa lepas, cara gadis itu selalu berbicara jujur apa adanya, dan fakta bahwa gadis itu tidak pernah memperlakukannya dengan penuh kepalsuan hanya karena nama besar Kingsley.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alexander menjawab pertanyaan tentang perasaannya dengan jujur. "Mungkin," jawab Alexander pelan.

Ryan langsung membeku di tempatnya mendengar konfirmasi tersebut. "OH ASTAGA, Alexander Kingsley jatuh cinta!" batin Ryan menjerit heboh.

---

Di sisi lain kampus, di sebuah area taman yang lebih sepi.

Seseorang juga sedang menatap foto yang sama di layar ponselnya, namun dengan ekspresi wajah yang jauh dari kata senang.

Dia adalah Sophia Laurent. Mahasiswi paling populer di kampus, putri tunggal dari keluarga konglomerat, dan wanita yang telah mengejar serta menyukai Alexander selama hampir dua tahun terakhir.

Tangan Sophia mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Tatapan matanya yang indah berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. "Siapa perempuan ini?" tanya Sophia dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.

Temannya yang duduk di sebelah Sophia tampak mengangkat bahu ragu. "Dari informasi yang beredar di forum, namanya Aurora. Dia mahasiswa jalur beasiswa penuh," jawab temannya pelan.

Sophia tertawa sinis, sebuah tawa meremehkan yang terdengar garing. "Mahasiswa beasiswa?" gumam Sophia dengan nada mengejek. Tatapannya kembali terkunci pada foto wajah Aurora yang ada di layar ponsel. "Menarik sekali."

Melihat perubahan aura Sophia yang mendadak menyeramkan, temannya mulai terlihat gugup. "Kamu... mau melakukan apa, Sophia?" tanya temannya khawatir.

Sophia mengulas sebuah senyuman tipis. Namun, senyuman itu sama sekali tidak memancarkan kehangatan, melainkan penuh dengan kelicikan. "Aku? Aku cuma ingin mengenalnya lebih dekat saja," jawab Sophia santai.

Dan biasanya, di lingkungan sosial kampus mereka, setiap kali seorang Sophia Laurent mengatakan kalimat "ingin mengenal seseorang", akan selalu ada air mata dan penderitaan yang mengikuti korbannya setelah itu.

---

Sore harinya.

Aurora baru saja melangkah keluar dari ruang kelas terakhirnya untuk hari ini. Saat ia berjalan menyusuri koridor, ponselnya kembali bergetar di dalam saku.

Alexander:

"Kamu di mana?"

Aurora:

"Kenapa bertanya?"

Alexander:

"Aku lapar."

Aurora:

"Terus hubungannya denganku apa?"

Alexander:

"Temani aku makan sore ini."

Aurora tidak bisa menahan senyumnya lalu mengetik balasan sambil berjalan.

Aurora:

"Kamu masih belum menyerah juga ya?"

Alexander:

"Aku akan terus mencoba setiap hari."

Aurora menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum geli melihat tingkat kekerasan kepala pria itu. Namun, tepat saat jemarinya hendak mengetik kalimat balasan, tiba-tiba sebuah bayangan menghadang jalannya. Seseorang berdiri tepat di depannya, menghalangi langkah Aurora.

Aurora perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang menghalangnya, dan seketika itu juga tubuhnya membeku.

Seorang wanita cantik berambut pirang sempurna, dengan pakaian dan tas bermerek mewah, sedang berdiri menatapnya. Wanita itu memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat sulit diartikan, namun matanya memancarkan aura permusuhan yang dingin.

"Kamu yang bernama Aurora Quinn?" tanya wanita pirang itu dengan nada suara yang diatur selembut mungkin.

Aurora mengangguk pelan dengan ragu. "Iya, benar. Maaf, ada apa ya?" tanya Aurora sopan.

Wanita itu mengulurkan tangannya yang dihiasi manikur sempurna ke depan dada Aurora. "Perkenalkan, aku Sophia Laurent," ucap wanita itu memperkenalkan diri.

Aurora menjabat tangan itu dengan canggung. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa jabat tangan dan pertemuan sore ini akan menjadi awal dari badai masalah besar yang siap menjungkirbalikkan kehidupannya yang tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!