NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:839
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SIMFONI CAHAYA DAN KABUT DI GARIS DEPAN

Gemuruh yang datang dari arah hutan maut bukan lagi sekadar getaran biasa, melainkan sebuah guncangan tektonik magis yang membuat tiang-tiang kayu rumah panggung di Desa Shrouded berderit parah. Lolongan ribuan makhluk The Stalker bersahutan, membelah keheningan malam yang pekat, bercampur dengan dentang zirah besi hitam pasukan Penguasa Gorgan yang bergerak merangsek turun dari puncak gunung. Kabut hitam yang mengurung desa mendadak bergolak liar, menjulang tinggi ke langit bagai ombak raksasa yang siap menelan seluruh peradaban manusia di bawahnya. Gorgan telah murka; putusnya segel tato ular di lengan Dion adalah alarm bahwa takdir dua ratus tahun yang mereka penjarakan kini telah bangkit.

Di dalam kamar yang masih dipenuhi sisa-asap magis ungu dan emas, Dion tidak membuang waktu lagi. Dengan tubuh kekarnya yang kini telah bugar sepenuhnya berkat keajaiban Aethelgard, pria itu bangkit dari ranjang. Sisa-sisa kain selimut ia sibakkan, memperlihatkan raga tegapnya yang kini dilingkupi aura kabut ungu tipis yang berputar protektif di sekeliling otot-otot lengannya.

Mayang pun berdiri di sampingnya. Gaun putih tipisnya yang melambai kini tidak lagi memancarkan pendaran liar yang menyakitkan, melainkan telah bertransformasi menjadi jubah cahaya emas murni yang membungkus lekuk tubuh sensualnya dengan anggun. Sepasang mata emasnya menatap lurus ke arah jendela, memancarkan keberanian yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Kesalahpahaman telah usai, dan kini yang tersisa hanyalah api cinta yang menuntut keadilan.

Dion meraih jubah hitamnya yang robek, memakainya kembali dengan satu sentakan cepat, lalu menyisipkan belati peraknya di pinggang. Ia berbalik, menatap Mayang lekat-lekat, lalu menggenggam jemari lentik gadis itu dengan tangan besarnya yang hangat. "Pasukan Gorgan datang untuk memusnahkan kita sebelum kekuatan ini menyatu sempurna, Cantik. Apakah kau takut?" bisik Dion, suara baritonnya terdengar begitu dalam dan menenangkan di tengah gemuruh luar rumah.

Mayang mengencangkan genggaman tangannya, menengadah menatap rahang kokoh pria yang telah menjerat gairahnya tersebut. Sebuah senyuman tipis yang sangat menawan terbit di bibir manisnya. "Selama aku berada di dalam pelukan kabutmu, Dion... tidak ada lagi ketakutan di dalam hatiku. Mari kita akhiri kutukan ini bersama-sama," jawab Mayang dengan nada yang mutlak.

Mereka berdua melangkah keluar dari rumah kayu, menembus aula kuil tempat warga desa tengah berkumpul dalam kepanikan massal. Melihat kedatangan sepasang kekasih takdir yang kini memancarkan aura magis yang begitu kontras namun harmonis—emas yang suci dan ungu yang mistis—ratusan penduduk desa mendadak terdiam. Rasa takut yang semula melumpuhkan jiwa mereka seketika menguap, digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa.

"Warga desa Shrouded!" Dion berseru, suaranya menggelegar memecah kepanikan di alun-alun. "Dua ratus tahun kita diadu domba oleh kebohongan Gidion dan Gorgan! Malam ini, jangan lagi bersembunyi seperti tikus di dalam lubang! Ambil senjata kalian, bentuk barisan pertahanan di gerbang barat! Aku dan Mayang yang akan menjadi ujung tombak untuk meruntuhkan barisan depan mereka!"

"Hidup Mayang! Hidup Dion! Hancurkan klan kabut hitam!" teriak kepala pengawal desa, mengangkat pedang besinya ke udara, memicu gemuruh teriakan perang dari seluruh pria dewasa di desa tersebut. Semangat mati suri desa itu kini telah bangkit sepenuhnya.

Barisan pertahanan darurat segera terbentuk di gerbang kayu utama desa. Udara di luar begitu pekat; kabut hitam milik Gorgan bertindak bagai dinding pembatas yang mematikan, menekan jarak pandang hingga tersisa hanya beberapa langkah saja. Namun, kegelapan itu tidak bertahan lama.

Saat Mayang melangkah melewati gerbang desa, ia merentangkan kedua tangannya ke samping. Jiwa Aethelgard di dalam dadanya beresonansi dengan detak jantung Dion yang berdiri tepat di belakangnya. Detik berikutnya, gelombang cahaya emas murni berbentuk lingkaran raksasa meledak dari tubuh Mayang, melesat ke depan dan memotong kepekatan kabut hitam milik musuh bagai pisau panas memotong mentega. Jarak pandang langsung terbuka lebar, memperlihatkan ratusan monster The Stalker bertubuh legam dengan mata merah darah yang tengah bersiap melompat menerkam.

"Serang!!!" teriak Dion.

Tubuh tinggi Dion melesat maju bagai anak panah yang lepas dari busurnya. Kecepatan dan kekuatannya kini berkali-kali lipat lebih mengerikan daripada saat ia bertarung di hutan kemarin. Setiap kali belati peraknya menebas udara, asap kabut ungu yang keluar dari tato naganya akan membentuk sabit-sabit angin yang sangat tajam, memotong leher dan tubuh monster-monster tersebut hingga hancur menjadi debu hitam sebelum sempat menyentuh barisan pengawal desa.

Mayang bertindak sebagai jangkar energi dari belakang. Dari jemari lentiknya, ia menembakkan paku-paku cahaya murni yang bertindak sebagai pemandu arah bagi serangan Dion. Ketika tiga monster berukuran raksasa mencoba mengepung Dion dari arah buta di atas pohon pinus, Mayang dengan cekatan mengarahkan telapak tangannya ke atas.

BLAAAMMM!

Petir cahaya emas menyambar jatuh dari langit malam, menghanguskan ketiga monster itu dalam sekejap mata. Dion menoleh sejenak ke arah Mayang, memberikan sebuah kerlingan mata yang penuh gairah dan apresiasi dewasa, membuat jantung Mayang berdesir hangat di tengah kecamuk perang. Hubungan batin mereka yang kini saling terhubung membuat mereka bisa membaca pergerakan satu sama lain tanpa perlu sepatah kata pun terucap. Di mana ada kabut ungu Dion yang membingungkan musuh, di situ ada cahaya emas Mayang yang mengeksekusi dengan mematikan.

Kombinasi luar biasa dari dua sisi koin yang hilang ini benar-benar membantai habis barisan depan pasukan Gorgan. Warga desa yang membantu dari belakang dengan tombak dan cangkul bersorak sorai melihat bagaimana mudahnya monster-monster yang selama ini mereka takuti dijatuhkan satu per satu oleh sepasang kekasih tersebut.

Namun, kemenangan awal itu mendadak terhenti ketika sebuah tawa berdentum berat, sarat akan getaran magis yang sangat pekat dan jahat, menggema dari arah kegelapan hutan terdalam.

"Hahaha! Sungguh sebuah tontonan reuni yang sangat mengharukan dari dua tikus kecil Lembah Shrouded!"

Udara di sekitar mereka mendadak membeku secara drastis hingga beberapa obor warga langsung padam. Dari balik sela-sela pohon pinus yang hangus, muncullah sebuah kereta perang besi hitam yang ditarik oleh empat ekor kuda monster tanpa kulit. Di atas kereta tersebut, berdiri tegak sosok raksasa Penguasa Gorgan, mengenakan zirah besi berduri yang dialiri darah segar, dengan sebuah kapak raksasa bermata dua yang tersampir di bahunya.

Yang membuat seluruh gerakan pasukan desa terhenti mati rasa adalah sosok yang berada di dalam cengkeraman tangan kiri Gorgan. Seorang gadis muda dengan rambut perak panjang yang berantakan, tubuhnya dipenuhi rantai besi berduri yang menembus kulitnya, tampak terkulai lemas tak berdaya dengan wajah yang pucat pasi.

"Rhea...!" desis Dion, sepasang mata abu-abu badainya seketika membelalak sempurna, dan kabut ungu di sekeliling tubuhnya bergolak tidak terkendali melihat adik perempuannya disiksa sedemikian rupa di depan matanya.

Gorgan menyeringai kejam, mempererat cengkeramannya pada leher Rhea hingga gadis muda itu melenguh kesakitan. "Kau berhasil bangkit dari jurangku, Dion... dan kau bahkan berhasil menyatukan ragamu dengan pelacur cahaya itu untuk mematahkan belengguku," ucap Gorgan dengan nada meremehkan. "Tapi ketahuilah, kontrak darah adikmu ini masih berada di tanganku! Satu langkah saja kau atau gadis emasmu itu maju mendekat... maka aku akan meremukkan leher jalang kecil ini dan meminum seluruh darah sucinya di depan wajah kalian!"

Mendengar ancaman kejam tersebut, langkah kaki Dion seketika terhenti di udara. Dilema emosional yang teramat sangat kembali menghantam dadanya; ia tidak bisa maju tanpa mengorbankan nyawa adiknya, namun ia juga tidak bisa mundur dan membiarkan desa ini dihancurkan. Mayang yang berada di belakangnya perlahan melangkah maju, meletakkan tangannya di atas punggung tegap Dion yang kini kembali bergetar menahan amarah dan ketakutan yang mendalam, sementara mata kejam Gorgan kini beralih menatap lekat-lekat ke arah inti cahaya di dalam dada Mayang dengan hasrat ketamakan yang mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!