NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Suasana di depan pagar rumah Arumi semakin memanas. Kerumunan warga yang memadati gang sempit itu mulai berbisik-bisik, melemparkan pandangan sinis ke arah Pras dan ibunya yang berdiri dengan wajah kaku. Di tengah kepungan tatapan menghakimi itu, langkah kaki yang tegap terdengar mendekat. Sosok pria paruh baya mengenakan kemeja batik rapi dengan peci hitam di kepalanya membelah kerumunan. Beliau adalah Pak RT, sosok yang dihormati di lingkungan hunian padat penduduk tersebut.

"Ada apa ini? Ribut-ribut di hari Minggu, sampai mengganggu ketenangan warga," suara Pak RT terdengar tegas, menatap bergantian ke arah Arumi, Pras, dan ibunya yang masih berkacak pinggang.

Melihat kedatangan seorang figur otoritas setempat, Ibu Pras seketika mengubah siasatnya. Dengan gerakan dramatis, ia melangkah maju mendekati Pak RT, memasang wajah yang dibuat sesedih mungkin seolah dialah korban yang paling teraniaya di tempat ini.

"Pak RT! Bagus bapak datang!" seru Ibu Pras dengan suara yang sengaja dinyaringkan agar kembali memancing simpati warga. "Bapak lihat sendiri kan kelakuan warga bapak yang satu ini? Si Arumi ini bener-bener sudah keterlaluan, Pak! Dia ini istri durhaka! Dia mengusir anak saya, Pras, dari rumah ini padahal Pras itu suami sahnya, kepala keluarga yang mencari nafkah! Baju-baju anak saya dilempar begitu saja ke tanah. Tidak hanya itu, Pak RT, dia ini juga sudah mencuci otak cucu-cucu saya supaya benci sama ayahnya sendiri! Perempuan ini sudah tidak waras, Pak, semenjak punya uang haram dari internet, dia jadi sombong dan kurang ajar!"

Fitnah yang meluncur deras dari mulut Ibu Pras membuat beberapa warga kembali menoleh ke arah Arumi. Namun, Arumi hanya berdiri tenang di balik pagarnya, melipat tangan di dada dengan senyuman dingin yang tak goyah sedikit pun.

Pak RT terdiam sejenak. Beliau menatap Ibu Pras dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu beralih menatap Pras yang menunduk menghindari tatapan matanya. Sebagai orang yang sudah memimpin lingkungan tersebut selama belasan tahun, Pak RT mengenal betul siapa Arumi. Beliau tahu bagaimana almarhum orang tua Arumi dulu mendidik putrinya dengan penuh kesopanan, dan beliau menjadi saksi bagaimana Arumi berjuang sendirian keluar-masuk gang menenteng kue dagangan atau mengambil cucian tetangga selama bertahun-tahun.

"Ibu, tolong jaga bicara Ibu," potong Pak RT dengan nada suara yang berat dan tidak bersahabat. Beliau menolak keras setiap kata fitnah yang diucapkan wanita paruh baya itu. "Saya mengenal Nak Arumi dan keluarganya sejak dia masih kecil. Almarhum bapaknya adalah sahabat saya. Saya tahu betul bagaimana tabiat Arumi di lingkungan ini. Dia wanita yang santun, pekerja keras, dan tidak pernah sekalipun membuat masalah dengan warga. Jadi, saya tidak bisa menerima begitu saja ucapan Ibu yang menuduh Arumi macam-macam tanpa bukti yang jelas."

Mendengar ucapan Pak RT yang justru membela Arumi, wajah Ibu Pras seketika berkedut menahan malu dan geram. "Tapi Pak RT, anak saya ini yang punya jabatan di kantor..."

"Sudah, cukup!" Pak RT mengangkat tangan kanannya ke udara, lalu berbalik menghadap ke arah kerumunan warga. "Bapak-bapak, Ibu-ibu sekalian, tolong semuanya bubar! Ini urusan rumah tangga orang lain, tidak baik ditonton dan menjadi konsumsi publik di tengah jalan seperti ini. Ayo, semuanya kembali ke rumah masing-masing!"

Meskipun dengan rasa penasaran yang masih menggantung, warga akhirnya perlahan-lahan membubarkan diri setelah mendapat teguran tegas dari Pak RT. Gang yang tadinya penuh sesak kini kembali lengang.

Pak RT kemudian menoleh kembali ke arah mereka bertiga. "Masalah rumah tangga itu tidak elok diselesaikan di depan pagar sampai memancing keributan. Nak Arumi, Pras, dan Ibu, mari kita selesaikan permasalahan ini di dalam rumah dengan kepala dingin. Saya yang akan menjadi penengahnya."

Arumi mengangguk hormat. "Silakan masuk, Pak RT."

Ia membuka pintu pagarnya, membiarkan Pak RT melangkah masuk terlebih dahulu. Dengan rasa enggan yang teramat sangat, Pras menuntun ibunya untuk ikut masuk ke dalam halaman rumah sederhana itu.

Begitu mereka semua duduk di ruang tamu Pak RT di kursi tunggal, Arumi di sofa panjang, sementara Pras dan ibunya duduk berdampingan di sofa seberang atmosfer tegang kembali menyelimuti ruangan. Ibu Pras yang sejak tadi menahan amarah, langsung mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut ruang tamu. Matanya menatap sinis ke arah cat dinding yang mulai memudar dan atap eternit yang tampak sedikit bernoda karena bekas rembesan air hujan.

"Hmph! Rumah sempit dan pengap begini saja lagaknya sudah seperti pemilik istana," cemooh Ibu Pras, sengaja memecah keheningan dengan hinaan baru yang menusuk. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya seolah ruangan itu tidak layak untuk ia tinggali. "Pantas saja anak-anak pembawaannya jadi kusut. Rumahnya saja mirip gudang tua begini. Kalau bukan karena Pras yang berbaik hati mau tinggal di sini dan menyisihkan uangnya untuk merawat tempat kumuh ini, rumah ini pasti sudah roboh dari dulu!"

Mendengar hinaan yang kembali merendahkan rumah peninggalan orang tuanya, darah Arumi seketika berdesir hebat. Amarahnya kembali menggebu-gebu, naik ke ubun-ubun. Kali ini, ia tidak akan membiarkan wanita bermulut tajam ini menginjak-injak harga diri keluarganya lagi di depan Pak RT.

Arumi memajukan tubuhnya, menatap langsung ke arah mata ibu mertuanya dengan sorot mata yang menyala tajam bak belati.

"Ibu bilang rumah ini kumuh dan mirip gudang tua?!" serang Arumi balik dengan suara yang bergetar penuh penekanan. "Biar Ibu tahu ya, rumah yang Ibu hina ini dibangun dari uang yang seratus persen halal oleh almarhum bapak saya! Di dalam rumah ini, tidak ada satu sen pun uang hasil keringat anak Ibu yang kikir itu! Ibu bilang Pras menyisihkan uang untuk merawat tempat ini? Bohong besar, Bu! Berikan saya satu saja bukti kapan anak Ibu pernah mengeluarkan uang untuk memperbaiki atap atau mengecat dinding rumah ini?! Tidak pernah, Pras!"

Pras langsung memalingkan wajahnya, mati kutu tak berani menjawab karena apa yang dikatakan Arumi adalah kebenaran yang mutlak.

"Selama sepuluh tahun, Pras hanya menumpang tidur di sini tanpa pernah memikirkan biaya perawatan rumah!" lanjut Arumi, suaranya menggelegar memburu, memenuhi ruang tamu yang sempit. "Semua biaya perbaikan, biaya listrik, sampai air, saya yang bayar dari hasil keringat saya sendiri! Jadi, jika Ibu merasa rumah ini terlalu kumuh untuk standar hidup Ibu yang mewah itu, pintu depan terbuka lebar! Tidak ada yang memaksa Ibu dan anak kikir Ibu itu untuk duduk di sini!"

"Arumi! Jaga bicaramu di depan Pak RT!" bentak Ibu Pras, wajahnya memerah padam karena kembali diserang dengan fakta yang menelanjangi kebohongan mereka. Wanita itu langsung meledak-ledak, berdiri dari sofanya sambil menunjuk-nunjuk Arumi dengan histeris. "Pak RT! Lihat sendiri kan bagaimana kasarnya menantu saya ini?! Dia tidak punya rasa hormat sama sekali kepada orang tua! Perempuan dekil ini harus diceraikan, Pras! Harus! Biar dia tahu rasa hidup melarat tanpa kamu!"

"Ibu, tolong duduk dan tenang!" tegur Pak RT dengan nada yang sangat keras, membuat Ibu Pras terkejut dan terpaksa kembali duduk dengan napas yang memburu serabutan.

Pak RT menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku ibu mertua Arumi yang terus-menerus menyulut api pertengkaran. Beliau kemudian menoleh ke arah Pras yang sejak tadi hanya diam, memijat pelipisnya yang terasa sangat pening. Kepala Pras rasanya mau pecah. Di satu sisi, egonya terluka karena perlawanan Arumi, namun di sisi lain, sikap ibunya yang terus meledak-ledak dan berteriak histeris di dalam rumah orang lain justru membuatnya merasa sangat malu dan terdesak di depan Pak RT.

"Pras," panggil Pak RT, suaranya terdengar sangat serius. "Sebagai kepala keluarga, saya mau tanya langsung kepada kamu. Masalah rumah tangga ini mau dibawa ke mana? Alangkah baiknya jika masalah ini diselesaikan secara baik-baik dulu, dibicarakan internal antar suami istri tanpa harus melibatkan emosi pihak luar."

Pras menarik napas pendek, mencoba mengumpulkan suaranya yang mendadak hilang. "Saya... sebenarnya saya cuma ingin Arumi sadar posisinya sebagai istri, Pak RT. Saya tidak berniat sampai sejauh ini kalau dia tidak mulai melawan dan mengusir saya tadi pagi..."

Belum sempat Pras menyelesaikan kalimatnya, Ibu Pras kembali memotong dengan suara melengking. "Nggak bisa secara baik-baik, Pras! Nggak ada kata maaf buat perempuan pembangkang seperti dia! Dia sudah menginjak harga diri keluarga kita di depan umum!"

Pras memejamkan matanya rapat-rapat, merasa frustrasi dengan sikap ibunya yang sama sekali tidak membantunya keluar dari situasi pelik ini.

Pak RT mengabaikan celotehan Ibu Pras, lalu mengalihkan pandangan matanya sepenuhnya ke arah Arumi. Sorot mata Pak RT tampak penuh dengan rasa prihatin sekaligus kebijaksanaan. "Bagaimana dengan kamu, Nak Arumi? Sebagai istri dan ibu dari anak-anak, mau dibawa ke mana hubungan pernikahan kalian ini? Apakah masih ada ruang untuk memperbaiki semuanya?"

Suasana ruang tamu seketika menjadi hening mencekam. Pras menahan napasnya, menatap Arumi dengan secercah harapan tersembunyi bahwa istrinya akan kembali melunak demi mempertahankan keutuhan keluarga demi anak-anak mereka.

Namun, harapan Pras pupus dalam detik itu juga.

Arumi menegakkan punggungnya. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, dan tidak ada setitik pun air mata di wajahnya yang kini tampak begitu bersinar dipenuhi keteguhan hati. Ia menatap lurus ke arah Pak RT, lalu beralih menatap Pras dengan pandangan yang benar-benar dingin dan mati rasa.

"Saya akan bercerai, Pak RT," jawab Arumi dengan suara yang sangat tegas, mantap, dan menggema yakin di seluruh ruangan. "Keputusan saya sudah bulat seratus persen. Hubungan ini tidak akan pernah bisa dibawa ke mana-mana lagi, karena bagi saya, pernikahan ini sudah mati semenjak sepuluh tahun lalu. Saya tidak akan pernah sudi lagi hidup berdampingan dengan laki-laki yang kikir kepada anak istrinya sendiri."

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arumi dengan begitu mutlak, Pras seketika membeku di kursinya, menyadari bahwa ia telah benar-benar kehilangan segalanya hari ini.

1
Suanti
manta mentua, dan mantan suami. arumi klu dengar arumi mau menbangun usaha catering bsr2an langsung jantungan / stroke 🤭🤣🤣
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!