Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Muak
Gadis kecil itu berdiri gemetar, namun kedua tangan kecilnya tetap terentang kokoh di depan Mila.
"Papa, jangan potong jali Bibi Mila... Dea mohon, kasih Bibi Mila kesempatan buat tobat. Bibi pasti ndak sengaja..."
Permintaan polos dari bibir mungil Deana membuat Lastri menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca, merasa terharu setengah mati.
Sementara Mila sendiri langsung mendongak dengan wajah syok. Ia tak menyangka, anak yang baru saja ia dorong, ia maki sebagai anak haram dan pembawa sial, justru menjadi satu-satunya orang yang pasang badan menyelamatkannya dari maut.
Kayden menatar putrinya datar, namun di dalam hati, pria itu sebenarnya merasa tak habis pikir.
Bagaimana bisa ada manusia sebodoh ini? Sudah dijahati tapi malah memaafkan? Terlalu naif!
Sementara itu, Davin diam-diam menyunggingkan senyum bangga di sudut bibirnya. Hari ini Deana berubah. Gadis kecil itu bicara sangat banyak dan berani membela diri, sangat berbeda dari biasanya yang hanya bisa diam, menunduk, dan bersembunyi ketakutan di pojokan kamar.
"Nona Muda Deana... ma... maafkan saya... maafkan saya..." ratap Mila sesenggukan. Kali ini air matanya benar-benar murni karena penyesalan. Ia merangkak dan menangis di kaki kecil Deana.
Namun, Kayden tetaplah Kayden. Sang 'Iblis Black Valley' itu hanya mendengus dingin tanpa belas kasihan. "Di kamus saya tidak ada kata kesempatan. Seret dia. Potong semua jari-jarinya."
Melihat algojo berbadan kekar mulai melangkah maju, Deana panik. Otak kecilnya berputar cepat. Ia langsung berbalik dan berlari ke arah Lastri yang sedang menggendong Elvano. Tangan kecilnya mengguncang pelan selimut sang adik.
"Baby El! Ayo bantu Kakak Dea! Lalang Papa bial ndak hukum Bibi Mila! Bibi Mila sudah lawat kamu, kamu halus balas budi," pinta Deana panik.
Tindakan spontan Deana itu sontak membuat Davin dan Lastri menahan gemas. Bagaimana bisa anak berumur empat tahun lebih meminta bantuan pada bayi yang bahkan belum bisa tengkurap?
Deana mendekatkan wajahnya ke telinga Baby Elvano, berbisik dengan nada serius ala agen rahasia yang sedang menjalankan misi top-secret.
"Baby El, dengelin Kakak Dea ya? Kita keljasama! Kalau Baby El ndak setuju jali Bi Mila dipotong, Baby El halus nangis yang kenceeeg! Tapi... kalau Baby El setuju jali Bibi Mila hilang, Baby El dieeem aja!"
Mendengar instruksi konyol itu, Mila menahan napas. Ia berdoa dalam hati, berharap ada mukjizat bayi itu akan menangis histeris.
Namun yang terjadi selanjutnya justru membuat bulu kuduk Mila berdiri ngeri. Tepat setelah Deana selesai berbisik, Baby Elvano yang tadinya menangis jerit-jerit, langsung DIAM seketika!
Bayi mungil itu mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Matanya yang bulat dan hitam legam mengerjap polos menatap langit-langit, seakan dia memang sangat setuju kalau jari Mila dipotong saja!
Mila langsung menangis bombay di atas lantai dingin. "Hwaaa! Baby El, jangan diam! Nangis, Baby El, nangis! Tolong saya!"
Deana ikut panik melihat adiknya mendadak mogok kerja sama. Ia menggoyang-goyang gemas lengan bayi itu.
"Ihhh… Baby El! Kok malah diam? Ayo nangis lagi! oweek-oweek gitu, loh! Jangan pelit suala, Baby El!"
Namun, Baby Elvano tetap mengatupkan mulutnya rapat-rapat dengan wajah tanpa dosa. Ia seolah paham betul apa yang diminta kakaknya, tapi sengaja tidak mau bekerja sama demi menghukum si pembantu jahat.
Davin sampai harus berdehem berkali-kali dan membuang muka demi menahan tawa melihat interaksi menggemaskan sekaligus absurd dari kedua anak majikannya itu. Darah dingin Kayden benar-benar mengalir kuat di tubuh si bayi.
Melihat situasi yang berubah menjadi konyol, Kayden akhirnya menghela napas pendek. "Davin, urus."
Mila akhirnya selamat dari hukuman potong jari, namun ia langsung dipecat hari itu juga, dan gajinya bulan ini hangus tidak dibayar. Bagi Mila, itu adalah keberuntungan luar biasa. Ia pasrah kehilangan uang daripada harus cacat seumur hidupnya. Tapi hukum Black Valley tetap berlaku. Mila harus dicambuk 100 kali sebelum didepak keluar dari kediaman.
Dengan air mata yang masih mengalir, Mila merangkak menuju Deana sebelum diseret keluar. "Terima kasih, Nona Muda Deana... terima kasih banyak..." ucapnya tulus sebelum para algojo membawanya pergi dari paviliun.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Begitu tubuh Mila menghilang di balik pintu ganda, Baby Elvano yang tadi diam seribu bahasa langsung saja menangis kembali, bahkan jauh lebih kencang dari sebelumnya!
"Oweeeekk! Oweeeekkk!"
"Aduh! Baby El nangis lagi!" Lastri langsung panik dan kembali menimang-nimang sang bayi dengan wajah pucat karena kebingungan mencari susu.
Deana sendiri melongo, lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menatap adiknya dengan tatapan tidak percaya.
Ini bayi atau bunglon? Kok pinter banget aktingnya.
Di tengah kepanikan suara tangisan bayi yang memekakkan telinga itu, tiba-tiba pintu paviliun didobrak kasar dari luar.
BRAK!
Kepala pelayan masuk dengan napas terengah-engah, wajahnya penuh keringat dingin karena ketakutan.
"Tuan Besar! Lapor, Tuan!" seru kepala pelayan panik, lalu menunjuk ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke halaman belakang paviliun. "Ada penyusup, Tuan! Di halaman belakang paviliun, seorang wanita berpakaian lusuh menerobos masuk dari semak-semak dan sekarang sedang dikepung oleh para penjaga!"
Kayden yang emosinya sudah di ambang batas karena kebisingan sejak tadi, menoleh ke arah jendela dengan sorot mata membunuh. Tuan kejam itu mendecak sinis, lalu menceletuk dengan nada dingin yang meremehkan, "Orang gila mana lagi ini yang berani mengantar nyawa ke wilayahku?"
Kayden tidak tahu, 'orang gila' berpakaian lusuh yang sedang dikejar-kejar di halaman belakang itu adalah Vivian. Sang pemilik takhta yang sesungguhnya, yang siap meratakan siapa saja yang sudah menyiksa putrinya!
Di luar, suasana mendadak ricuh.
"TANGKAP ORANG GILA INI!" teriak para penjaga lantang, berpencar demi menangkap Vivian yang begitu lincah.
"DASAR KUMPULAN MANUSIA BODOH! AKU BUKAN ORANG GILA, AKU ISTRI MAJIKAN KALIAN! AKU—"
Gubrak!
Tubuh Vivian disungkurkan ke atas tanah yang basah. Sementara di dalam ruangan, rahang Kayden langsung mengeras mendengar teriakan cempreng wanita asing yang berani mengaku-ngaku sebagai istrinya. Nama Vivian adalah tabu terbesar di mansion ini.
"Paman Davin, siapa pelempuan itu? Gundik balu Papa?" tanya Deana dengan wajah polos tanpa dosa.
Kayden tidak menggubris ucapan putrinya. Ia memberi isyarat pada Davin, lalu berjalan keluar untuk mengeksekusi sendiri penyusup itu.
"Wanita-wanita merepotkan ini sungguh membuatku muak! Siapa lagi yang mengirimnya? Ayah? Bunda? Atau bajingan Willson yang mau balas dendam?" desis Kayden tajam sembari melangkah lebar menuju halaman belakang.
.
.
.
To be continued....