NovelToon NovelToon
SCHATTEN UND DUFT

SCHATTEN UND DUFT

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:515
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.

Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.

Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Pertama di Atas Karpet Merah

"Dan inilah perwakilan terakhir dari kelas dua belas unggulan! Kita sambut, Sagara Arya dan Kyla Rebecca Lynette M.!"

Suara pembawa acara menggema membelah langit lapangan utama, memantul di antara dinding-dinding gedung sekolah yang tinggi. Detik itu juga, musik gamelan modern yang mengalun dari pengeras suara berganti tempo menjadi ketukan yang lebih lambat, agung, dan berwibawa sebuah lagu penyambutan yang biasa digunakan untuk mengiringi langkah para bangsawan keraton.

Dari balik bayangan koridor laboratorium biologi, dua sosok itu melangkah maju berdampingan. Sagara berjalan di sisi kanan dengan postur tubuhnya yang jangkung dan tegap. Wajah tampannya yang terbingkai blangkon Yogyakarta seketika kembali terkunci dalam ekspresi dingin dan angkuh khasnya begitu memasuki area publik, memancarkan pesona seorang ksatria Jawa yang kaku namun gagah.

Namun, seluruh perhatian ribuan pasang mata di lapangan luas itu dalam sekejap tersedot sepenuhnya pada sosok gadis di sebelah kiri Sagara.

Rebecca melangkah dengan ritme yang sangat teratur. Karena lilitan kain jarik parang rusak cokelat sogannya yang memeluk ketat dari pinggang hingga mata kaki, setiap langkah yang diambilnya menciptakan ayunan pinggul yang lambat namun luar biasa anggun. Desain kebaya kutubaru beludru merah marun pekatnya seolah menjadi magnet visual mutlak di tengah teriknya matahari pagi. Bahan beludru premium itu menangkap cahaya matahari, memantulkan kilau kemewahan yang gelap dan berkelas, sekaligus membungkus dada jumbonya yang padat dan montok dengan sangat kencang dan rapi.

Dari atas karpet merah, siluet tubuh jam pasir sempurna milik Rebecca terlihat begitu dramatis. Pinggangnya yang sekecil lingkaran pelukan tampak kontras dengan pinggul dan pantatnya yang sangat semok, bahenol, dan berisi, menciptakan ilusi visual gitar spanyol yang nyata dan tanpa cela.

"Astaga... itu Rebecca?" bisik seorang siswa kelas sebelas di barisan depan pagar betis, matanya melotot hingga lupa berkedip. "Aku tahu dia cantik, tapi hari ini dia beneran seperti boneka keraton hidup yang keluar dari lukisan kuno."

"Lihat mukanya! Itu riasan apa, sih? Halus sekali, tidak retak sama sekali padahal di lapangan agak panas," sahut seorang siswi di sebelahnya dengan nada frustrasi bercampur kagum.

Rambut hitam pekat bergelombang milik Rebecca yang terurai panjang melampaui pinggang melambai lembut setiap kali angin lapangan berembus, menyebarkan aroma wangi melati bercampur mawar hitam murni yang sangat harum ke arah penonton yang berada di barisan terdepan. Poni see-through-nya membingkai dahi dengan sempurna, sementara tatapan mata abu-abu langkanya tetap tenang, datar, dan meneduhkan, seolah ia tidak sadar bahwa kehadirannya baru saja menciptakan gelombang kekaguman yang masif di seluruh lapangan sekolah.

Di ujung utara lapangan, di atas panggung kehormatan, suasana tidak kalah tegang. Kepala sekolah dan para juri tampak mengangguk-angguk kagum, mencatat poin tinggi pada lembar penilaian mereka. Namun, reaksi yang paling mengejutkan justru datang dari pria yang duduk di kursi utama pembaca kehormatan.

Gus Adrian, yang sejak awal acara duduk dengan punggung tegak, kaku, dan mempertahankan ekspresi sedingin es kutubnya, mendadak memajukan tubuhnya beberapa sentimeter. Sepasang mata hitam pekat sang Gus terkunci mutlak pada sosok Rebecca yang sedang berjalan di atas karpet merah. Jemari tangannya yang memegang pulpen di atas meja juri mendadak berhenti bergerak.

Sebagai seorang pria yang dibesarkan di lingkungan pesantren yang ketat, ia terbiasa melihat wanita mengenakan pakaian longgar dan tertutup. Namun, melihat Rebecca dalam balutan kebaya kutubaru yang begitu anggun, yang mempertegas lekuk tubuh matangnya dengan sangat presisi tanpa kehilangan kehormatan budayanya, membuat dada sang Gus bergemuruh aneh. Ditambah lagi, penciumannya yang tajam seolah bisa merasakan kembali wewangian mistis dari kantung rami cokelat yang semalam ia buka di rumahnya aroma yang kini terbukti bersumber dari keanggunan gadis berwajah porselen di bawah sana.

Sagara melirik sedikit ke arah Rebecca dari sudut matanya, lalu berbisik sangat pelan tanpa mengubah wajah dingin kampusnya, "Re, ku bilang juga apa. Lihat ke depan sana. Dosen tampannya Mas Naufal sampai tidak berkedip melihatmu. Sepertinya nilai fisika kuantummu besok aman."

Rebecca tidak menoleh, namun belahan bibir ombre alaminya yang merah cerah bergerak membentuk lengkungan sangat tipis, sebuah senyuman misterius yang tertangkap langsung oleh pandangan tajam Gus Adrian dari atas panggung.

...----------------...

Mendengar bisikan kocak Sagara yang sama sekali tidak sinkron dengan wajah dinginnya, Rebecca tidak membalas dengan kata-kata. Sebaliknya, gadis berwajah boneka itu membuat sebuah gerakan spontan yang seketika mengirimkan gelombang kejutan baru ke seluruh penjuru lapangan utama.

Dengan gerakan yang sangat halus dan anggun, Rebecca mengangkat tangan kecilnya yang berkulit putih pualam, lalu melingkarkan jemari lentiknya dengan mapan ke sekeliling lengan tangan kanan Sagara yang kokoh terbalut surjan lurik.

Deg...

Sagara sempat tertegun selama satu fraksi detik. Otot lengannya menegang secara refleks di balik kain surjan, namun sebagai pemuda yang terlatih mengendalikan ekspresi, ia dengan cepat menyesuaikan ritme langkahnya. Ia sedikit merapatkan lengannya ke arah tubuh, memberikan tumpuan yang kokoh dan nyaman bagi sang gadis.

Tindakan Rebecca yang menyandarkan tangan kecilnya pada lengan Sagara menciptakan visualisasi pasangan Kartini dan ksatria Jawa yang begitu sempurna. Mereka berjalan berdampingan dengan sinkronisasi yang luar biasa. Postur Sagara yang jangkung dan berwajah tampan kaku bersanding dengan tubuh curvy nan sintal milik Rebecca. Setiap kali mereka melangkah maju di atas karpet merah, kebaya beludru merah marun pekat Rebecca bergoyang ritmis, mempertegas lekukan dada jumbonya yang padat serta pinggulnya yang bahenol, berpadu kontras dengan kegagahan busana surjan Sagara.

"Wah, gila! Mereka serasi sekali!" seru seorang siswi dari barisan penonton, tak mampu lagi menahan rasa kagumnya.

"Itu baru namanya pasangan Kartinian yang berkelas! Tidak berlebihan tapi auranya keluar semua," timpal guru pamong di sebelah juri sembari bertepuk tangan ritmis.

Namun, efek dari lingkaran tangan Rebecca di lengan Sagara tidak hanya berdampak pada penonton di tepi lapangan. Di atas panggung kehormatan, pemandangan itu seperti sebuah hantaman visual yang tak terduga bagi Gus Adrian.

Sepasang mata hitam pekat milik sang dosen sekaligus Gus muda itu menajam. Pandangannya terkunci lurus pada titik di mana tangan kecil Rebecca melingkar erat di lengan pemuda jangkung tersebut. Ada sedikit perubahan mikro pada rahang tegas Gus Adrian otot rahangnya tampak mengatup lebih rapat, menciptakan garis yang semakin keras di wajah tampannya yang sedingin es. Pulpen yang sejak tadi dipegangnya kini diletakkan kembali ke atas meja dengan ketukan yang sedikit lebih tegas dari sebelumnya.

Sebagai seorang pria yang memahami batasan-batasan, ada rasa tidak nyaman yang asing dan aneh yang tiba-tiba berdesir di dalam dada Gus Adrian melihat kedekatan alami kedua remaja di bawah sana. Ia tahu ini hanya sebuah acara peragaan busana sekolah, namun melihat bagaimana Rebecca gadis misterius yang meracik wewangian mawar hitam di dalam kantung rami miliknya berjalan dengan begitu intim bersama pemuda lain, membuat fokus dingin sang Gus terusik sepenuhnya.

Rebecca, yang tetap mempertahankan tatapan mata abu-abu langkanya yang tenang dan teduh, melirik sekilas ke arah panggung utama saat mereka berputar di titik tengah karpet merah. Dari jarak beberapa meter, ia bisa merasakan intensitas tatapan kaku dan tajam dari Gus Adrian yang tertuju langsung padanya. Bukannya merasa takut, belahan bibir ombre alami Rebecca justru kembali melengkung sangat tipis, membiarkan aroma wangi melati dari rambut panjangnya tertinggal di udara lapangan seiring langkah anggun mereka yang kian mendekati ujung panggung juri.

1
Manman
love🫧🪻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!