Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengejar Dosen di pagi hari
“Ya Allah, telat lagi!”
Shintia Almahira nyaris menabrak pot bunga di teras rumah saat berlari tergesa memakai flat shoes putihnya. Rambut panjang yang biasanya rapi kini hanya diikat asal, sementara map skripsi tebal berwarna biru dipeluk erat di dada.
Dari dapur, suara Andreas terdengar datar.
“Sarapan dulu.”
“Aku udah telat, Kak!”
“Minimal minum.”
“Aku minum air mata aja nanti di kampus!”
Andreas yang sedang duduk membaca koran hanya menghela napas kecil melihat tingkah adiknya. Meski wajah pria itu masih setenang es batu seperti biasanya, sudut bibirnya tampak bergerak tipis menahan senyum.
Sejak ditinggal wafat tunangannya setahun lalu, Andreas memang berubah jauh lebih pendiam. Tapi satu hal yang tak berubah, ia tetap sangat memperhatikan Shintia.
“Motor kamu bensinnya hampir habis,” ucap Andreas tanpa mengalihkan pandangan dari koran.
Langkah Shintia mendadak berhenti.
“Hah?!”
“Jarumnya udah kedip-kedip semalam.”
“Kak Andreas kenapa baru bilang sekarang?!”
“Kamu juga baru panik sekarang.”
Shintia memekik frustrasi sebelum buru-buru mencium pipi kakaknya sekilas.
“Doain dosennya belum masuk!”
“Doa saya mahal.”
“Peliiiit!”
Brak!
Pintu rumah tertutup keras bersamaan dengan suara motor matic yang melaju terburu-buru keluar halaman.
...
Sepanjang jalan, Shintia terus melirik jam tangan. Wajah cantiknya penuh kepanikan.
Hari ini adalah batas terakhir pengumpulan revisi skripsi. Kalau gagal bertemu dosen pembimbing, ia harus menunggu minggu depan. Dan itu artinya… wisudanya bisa terancam mundur.
“Pak, minggir dikit pak… masa jalannya kayak lagi healing…” gerutunya pelan di balik helm.
Sesampainya di kampus, Shintia langsung memarkir motor sembarangan lalu berlari menuju gedung dosen.
Napasnya ngos-ngosan.
“Kak Rani!” serunya pada senior yang baru keluar ruangan.
“Nyari Pak Damar?”
“Iya! Masih ada?!”
Rani menggeleng.
“Baru aja turun ke parkiran.”
“Mati aku…”
Tanpa pikir panjang, Shintia langsung berbalik dan kembali berlari. Flat shoes-nya bahkan nyaris copot di tangga.
“Pak Damaaaarrr!”
Beberapa mahasiswa menoleh.
Di parkiran dosen, seorang pria berkemeja abu-abu menutup pintu mobil sambil mengangkat alis melihat Shintia berlari seperti dikejar debt collector.
“Pak… tunggu… skripsi saya…” ucapnya terbata sambil menyerahkan map.
Pak Damar menatap gadis itu cukup lama sebelum akhirnya terkekeh kecil.
“Kamu habis lomba lari?”
“Saya habis lomba mempertahankan masa depan, Pak…”
Pak Damar tertawa pelan lalu menerima map tersebut.
“Baiklah. Saya cek nanti.”
Mata Shintia langsung berbinar.
“Serius, Pak?”
“Iya.”
“Pak Damar memang penyelamat mahasiswa tingkat akhir!”
“Lebay.”
Shintia tertawa lega sambil membungkuk berkali-kali.
Namun saat ia hendak pergi, suara klakson mobil mewah tiba-tiba terdengar dari belakang.
Tin! Tin!
Shintia menoleh kesal.
“Parkiran kampus, bukan konser!”
Sebuah mobil hitam mengilap berhenti tepat di sampingnya. Kaca mobil perlahan turun, memperlihatkan seorang pria muda tampan memakai kacamata hitam.
“Maaf,” katanya santai. “Saya cuma mau bilang…”
Pria itu menurunkan kacamatanya perlahan, menatap Shintia dari atas sampai bawah, lalu tersenyum jahil.
“Kamu cantik banget kalau lagi panik.”
Shintia terdiam.
“…Hah?”
Shintia yang masih bengong langsung mengerjap cepat. Entah kenapa ucapan laki-laki asing itu terasa begitu random di pagi yang sudah cukup membuatnya stres.
Alih-alih menjawab, ia malah memutar tubuh cepat lalu berjalan pergi.
“Orang aneh…” gumamnya pelan.
Di belakang sana, pria dalam mobil hitam itu justru terkekeh kecil sambil memperhatikan punggung Shintia yang menjauh terburu-buru.
Sementara Shintia melangkah cepat melewati parkiran kampus sambil terus mengomel sendiri.
“Gak tahu apa ada orang capek. Pagi-pagi udah ketemu manusia aneh, tiba-tiba bilang cantik segala. Emang aku lagi ikut lomba dipuji apa…”
Ia mengembuskan napas panjang.
“Heran deh.”
“SHINTIAAAA!”
Suara teriakan nyaring membuat Shintia menoleh refleks.
Di sudut parkiran, seorang gadis berambut pendek melambaikan tangan heboh sambil berlari kecil ke arahnya.
“Tari?” Shintia mengernyit.
Tari Safitri sahabatnya sejak semester satu langsung berhenti di depan Shintia dengan napas memburu.
“Ya ampun, gue cariin dari tadi!”
“Kenapa?”
Tari menatap Shintia penuh drama.
“Lo barusan ngobrol sama siapa?”
“Hah?”
“Itu!” Tari menunjuk heboh ke arah mobil hitam tadi yang masih belum pergi. “Cowok ganteng level nasional itu!”
Shintia melirik sekilas lalu kembali memasang wajah biasa.
“Gak tahu. Orang gak jelas.”
“GAK JELAS KATANYA?!”
Tari nyaris terlonjak.
“Itu mobil limited edition! Harganya bisa buat beli rumah tiga!”
“Terus gue harus tepuk tangan? Girang-girang gitu?”
“Bukan tepuk tangan! Minimal pingsan dikit kek!”
Shintia berdecak malas.
“Dia aneh.”
“Cowok ganteng biasanya emang aneh.”
“Makin gak jelas.”
Tari langsung merangkul bahu sahabatnya sambil menurunkan suara seperti agen rahasia.
“Jujur deh… dia tadi ngomong apa?”
Shintia menghela napas kasar.
“ngomong apa, cowok gombal udah biasa. Bilang cantik.”
Dua detik hening.
Lalu... “AAAAAAAAAAAA!”
“TARIII! BRISIK! aku sumpal juga mulutmu tu.”
Beberapa mahasiswa langsung menoleh karena teriakan heboh gadis itu.
Tari memegangi lengan Shintia gemetar.
“ITU BUKAN GOMBAL BIASA!”
“Terus?”
“Itu opening drama CEO jatuh cinta!”
“Kurang kerjaan.”
Tari menyipit curiga.
“Tapi serius, dia ganteng banget…”
“Yaudah sana pacarin.”
“Kalau dia maunya gue, dari tadi juga gue udah masuk mobil.”
Shintia memutar mata malas lalu mulai berjalan menuju gedung kampus.
Namun tanpa mereka sadari, dari kejauhan pria di dalam mobil hitam itu masih memperhatikan Shintia sambil tersenyum tipis.
“Shintia Almahira…” gumamnya pelan.
Jari pria itu mengetuk setir perlahan.
“Menarik.”
….
Waktu berlalu cukup cepat setelah kejadian aneh di parkiran tadi pagi.
Kini suasana kampus jauh lebih ramai dari biasanya. Di depan papan pengumuman fakultas, puluhan mahasiswa berkerumun sambil sibuk membaca selebaran baru yang ditempel rapi.
Shintia yang baru keluar dari perpustakaan mengernyit heran melihat keramaian itu.
“Ada apaan sih?” tanyanya malas.
Tari yang sejak tadi heboh langsung menarik tangan sahabatnya.
“MAGANG! MAGANG DI HOTEL PERMATA!”
“Terus?”
“TERUS KATANYA!” Tari membelalakkan mata dramatis. “Itu hotel bintang lima paling terkenal sekota!”
Shintia hanya melirik sekilas papan pengumuman itu.
Dibutuhkan mahasiswa magang jurusan perhotelan, pariwisata, administrasi, dan manajemen dengan syarat tertentu.
Di bagian bawah terpampang logo emas bertuliskan:
HOTEL PERMATA GROUP
Beberapa mahasiswa mulai berbisik antusias.
“Katanya gaji magangnya gede.”
“Kalau keterima bisa langsung direkrut kerja.”
“Pemilik hotelnya masih muda lagi…”
“Iya, direktur utamanya ganteng banget katanya.”
“Serius?”
“Serius lah!”
Namun obrolan itu sama sekali tak menarik perhatian Shintia.
Ia malah menguap kecil.
“Yang kaya gituan paling nyari budak corporate,” gumamnya santai.
Tari langsung memegang dada pura-pura sakit.
“Ya Tuhan… dosa apa aku punya sahabat gak bisa diajak halu.”
Shintia terkekeh kecil lalu hendak pergi, tapi langkahnya terhenti saat ...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄