NovelToon NovelToon
THE BRITISH ROYAL FAMILY

THE BRITISH ROYAL FAMILY

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Moms Celina

Deskripsi

The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedok yang Terbuka

Suasana di dalam ruang pertemuan terasa hening sepenuhnya, begitu hening hingga suara detak jam di dinding terdengar keras dan jelas di telinga setiap orang yang hadir. Semua mata tertuju pada Taylor, menunggu dengan napas tertahan untuk melihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Di sisi lain ruangan, Guetta, Berlin, dan Valeria duduk dengan wajah yang tetap tenang dan penuh percaya diri. Mereka merasa aman, merasa bahwa semua jejak telah mereka sembunyikan dengan sempurna, dan yakin bahwa tak ada bukti apa pun yang bisa digunakan untuk menjatuhkan mereka.

Taylor melangkah maju, matanya menatap satu per satu wajah orang yang hadir, lalu berhenti dan menatap langsung ke arah ketiga orang itu dengan pandangan yang tajam dan tak tergoyahkan.

“Selama ini kalian bermain dengan kebohongan,” ucap Taylor dengan suara yang tenang namun bergema di seluruh ruangan. “Kalian berpura-pura menjadi teman, berpura-pura menjadi orang yang peduli, berpura-pura menjadi orang yang jujur dan mulia, padahal di dalam hati kalian terbakar api ambisi dan kebencian yang tak pernah padam. Kalian telah menyebarkan tuduhan, menanamkan keraguan, memecah belah keluarga, dan akhirnya melakukan kejahatan untuk menjatuhkan orang yang tak bersalah. Kalian pikir kalian pintar, kalian pikir kalian licik, dan kalian pikir kalian takkan pernah ketahuan. Tapi malam ini, semua kedok yang kalian pakai selama ini akan terlepas, dan semua orang akan melihat wajah asli kalian yang berhati busuk.”

Guetta tertawa kecil, suaranya terdengar sopan namun menyimpan sindiran yang tajam. “Yang Mulia, kami tak tahu apa yang Anda bicarakan. Kami hanya orang yang setia pada keluarga kerajaan dan pada negeri ini. Kami hanya prihatin melihat keadaan, dan kami hanya ingin memastikan bahwa semuanya berjalan dengan benar dan adil. Jika Anda memiliki bukti bahwa kami bersalah, tunjukkanlah. Jika tidak, maka kata-kata Anda hanyalah tuduhan kosong yang tak berarti apa-apa.”

Semua orang di dalam ruangan menoleh menatap Taylor, menunggu jawabannya. Wajah Ratu terlihat bimbang, di dalam hatinya masih tersisa keraguan yang mendalam. Dia ingin sekali mempercayai anaknya, tapi dia juga tak ingin terbuai oleh kata-kata belaka jika tak ada bukti yang nyata.

Taylor mengangguk perlahan, lalu memberi isyarat pada David yang berdiri di sudut ruangan. David segera berjalan maju membawa dua benda yang dibungkus dengan kain putih, lalu meletakkannya di atas meja di tengah ruangan.

“Kalian meminta bukti, dan bukti itulah yang akan aku tunjukkan malam ini,” ucap Taylor. “Beberapa hari yang lalu, terjadi kejahatan di dalam istana kita. Batu berlian dari kalung pusaka keluarga kerajaan telah ditukar dengan batu kaca, dan tuduhan palsu telah dilemparkan pada istriku. Kalian semua menyaksikan kejadian itu, dan banyak di antara kalian yang langsung percaya bahwa Elizabeth bersalah, karena kalian telah terbuai oleh kebohongan yang telah disebarkan selama berminggu-minggu. Tapi kenyataannya, orang yang melakukan kejahatan itu bukanlah dia, melainkan orang yang duduk di antara kalian malam ini.”

Dengan gerakan yang perlahan dan penuh perhatian, David membuka kain pembungkus itu. Di dalamnya tergeletak sehelai kain kecil berwarna merah tua dengan sulaman benang emas yang halus, dan di sebelahnya tergeletak sepotong gaun malam yang bagian lengannya tercabik persis sama dengan bentuk kain kecil itu.

“Ini ditemukan di dalam ruang penyimpanan perhiasan, terselip di celah laci tempat kalung itu disimpan,” jelas Taylor sambil menunjuk kain kecil itu. “Dan ini adalah gaun yang dikenakan oleh orang yang masuk ke dalam ruangan itu pada malam kejadian. Perhatikan dengan baik, warna dan sulamannya persis sama, dan bentuk kain yang tercabik pun cocok satu sama lain. Tak ada keraguan sedikitpun bahwa kain kecil itu berasal dari gaun ini.”

Mata semua orang tertuju pada gaun itu, lalu menoleh menatap Valeria yang duduk diam di tempatnya. Wajah wanita itu mulai berubah pucat, namun dia masih berusaha mempertahankan sikap tenangnya.

“Ini hanyalah kebetulan belaka!” seru Valeria dengan suara yang sedikit bergetar. “Banyak orang yang memiliki gaun dengan warna dan sulaman yang sama. Ini tak membuktikan apa-apa, dan ini hanyalah bukti palsu yang disusun untuk menjatuhkanku!”

“Kalian memang pandai membuat rencana,” jawab Taylor dengan nada yang tenang namun tajam. “Kalian bahkan sudah menyuruh tukang emas yang membuat batu tiruan untuk bersembunyi di tempat yang aman, sehingga kita tak bisa menemukannya dan memintanya untuk bersaksi. Tapi kalian lupa satu hal: setiap tindakan pasti meninggalkan jejak, dan orang yang bersalah selalu membuat kesalahan. Kalian berpikir dengan menyembunyikan satu orang, maka kalian akan aman selamanya, tapi kalian tak sadar bahwa jejak lain yang kalian tinggalkan jauh lebih kuat dan tak bisa disangkal lagi.”

Lalu Taylor memberi isyarat lagi, dan kali ini Fransiskus berjalan masuk membawa sejumlah dokumen dan surat yang terikat rapi.

“Selama berminggu-minggu, kalian telah berusaha menanamkan keraguan di hati orang-orang terdekat kami,” ucap Taylor. “Kalian berbicara dengan para bangsawan, berbicara dengan anggota parlemen, berbicara dengan rakyat, dan bahkan berbicara dengan ibuku sendiri. Kalian berkata bahwa aku telah berubah, bahwa aku tak lagi memikirkan tanggung jawabku, bahwa aku dipengaruhi oleh perasaan, dan bahwa kehadiran istri dan anakku adalah ancaman bagi masa depan kerajaan. Kalian menyebarkan kata-kata itu dengan halus, menyembunyikan niat jahat di balik kata-kata keprihatinan, sehingga orang-orang tak sadar bahwa mereka sedang dimanipulasi oleh kalian.”

Taylor meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja, lalu melanjutkan, “Ini adalah catatan dan keterangan dari orang-orang yang telah diajak berbicara oleh kalian. Mereka bersedia bersaksi dan mengakui segala hal yang telah kalian katakan. Kalian telah berbohong, kalian telah memutarbalikkan kenyataan, dan kalian telah berusaha memecah belah keluarga dan kerajaan hanya demi memenuhi ambisi pribadi kalian.”

Wajah Guetta dan Berlin kini mulai berubah pucat, mereka saling berpandangan satu sama lain, menyadari bahwa jaring yang mereka tenun selama ini mulai robek sedikit demi sedikit. Namun mereka masih berusaha membela diri.

“Ini semua adalah rekayasa!” seru Berlin dengan suara yang meninggi. “Kami tak pernah melakukan hal-hal yang Anda tuduhkan. Ini hanyalah cara Anda untuk membalas dendam karena kami berani mengungkapkan kebenaran tentang diri Anda dan wanita itu!”

“Benarkah begitu?” tanya Taylor dengan senyum dingin yang terukir di wajahnya. “Jika memang kalian tak bersalah, lalu kenapa kalian bertemu secara rahasia dengan tokoh-tokoh oposisi? Kenapa kalian membuat pertemuan tertutup untuk merencanakan cara menjatuhkan posisiku? Kenapa kalian berusaha mempengaruhi pendapat orang lain dengan kata-kata yang penuh kebohongan? Dan kenapa tepat setelah tuduhan palsu ini muncul, kalian terlihat begitu senang dan yakin bahwa kalian telah menang?”

Satu per satu bukti disajikan di hadapan mereka. Catatan pembicaraan, keterangan saksi, laporan pengawasan, dan segala hal yang telah mereka lakukan selama berbulan-bulan kini terungkap satu per satu di hadapan mata semua orang. Semua orang yang hadir mulai menyadari kenyataan yang sebenarnya. Mereka mulai mengerti bahwa selama ini mereka telah dimanipulasi, bahwa mereka telah terbuai oleh kebohongan, dan bahwa orang yang selama ini mereka curigai dan hina ternyata adalah orang yang tak bersalah, sedangkan orang yang selama ini mereka anggap sebagai teman dan orang yang terpercaya ternyata adalah orang yang berhati jahat dan berniat menghancurkan mereka semua.

Namun yang paling terpukul adalah Ratu. Wanita itu duduk diam di tempatnya, wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak memandang bukti-bukti yang tergeletak di atas meja. Selama berminggu-minggu dia telah dimanipulasi, selama berminggu-minggu dia telah dipenuhi dengan keraguan dan kecurigaan, selama berminggu-minggu dia telah memalingkan wajah dari orang yang tak bersalah, dan semua itu terjadi hanya karena kata-kata orang yang dia anggap sebagai teman dan orang yang peduli. Dia menoleh menatap Valeria, menatap wajah wanita yang selama ini dia percayai, dan kini dia melihat wajah asli yang tersembunyi di balik senyum dan kata-kata manis. Di dalam hati wanita itu, rasa malu, rasa bersalah, dan rasa sakit bercampur menjadi satu, membuatnya terasa seolah seluruh tubuhnya melemah dan tak bisa bergerak.

“Tidak... ini tak mungkin...” bisik Ratu dengan suara yang lemah dan bergetar. “Bagaimana mungkin... bagaimana mungkin aku bisa tertipu begitu dalam? Bagaimana mungkin aku bisa mempercayai kebohongan dan memalingkan wajah dari kebenaran?”

Melihat perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekelilingnya, melihat bagaimana kepercayaan yang selama ini mereka bangun kini hancur berkeping-keping, dan melihat bagaimana semua orang kini memandang mereka dengan pandangan penuh kekecewaan dan kemarahan, ketiga orang itu akhirnya sadar bahwa mereka telah kalah sepenuhnya. Tak ada lagi alasan yang bisa mereka ucapkan, tak ada lagi kebohongan yang bisa mereka gunakan untuk menutupi kejahatan mereka, dan tak ada lagi cara untuk melarikan diri dari tanggung jawab atas segala perbuatan yang telah mereka lakukan.

Valeria adalah orang pertama yang akhirnya kehilangan kendali atas dirinya. Topeng kelembutan dan kesopanannya akhirnya terlepas sepenuhnya, dan wajah aslinya yang penuh dengan kebencian dan amarah akhirnya terlihat jelas oleh semua orang. Dia berdiri dari tempat duduknya, matanya menyala dengan api kemarahan yang tak bisa lagi ditahan, dan suaranya terdengar melengking di dalam ruangan yang hening.

“Baiklah! Kalian menang! Kalian telah menemukan bukti, dan kalian telah mengungkap segalanya! Tapi jangan berpikir bahwa aku menyesal atas apa yang telah aku lakukan! Aku tak pernah menyesal sedikitpun! Semua yang aku lakukan adalah benar, karena akulah yang pantas berdiri di sisi Pangeran! Akulah yang pantas menjadi Ratu! Bukan wanita asing yang datang entah dari mana dan mencuri apa yang seharusnya menjadi milikku! Aku telah menghabiskan bertahun-tahun untuk mempersiapkan diriku, aku telah mempelajari segala aturan dan adat, aku telah melakukan segala hal yang diharapkan dari seorang calon Ratu, dan semua itu hancur hanya karena kedatangan wanita itu! Kalian semua buta! Kalian semua tertipu oleh wajah manis dan kata-kata halusnya! Tapi aku tahu yang sebenarnya! Aku tahu bahwa dia hanyalah wanita yang pandai berpura-pura, dan aku takkan pernah menyesal berusaha menghancurkannya!”

Kata-kata itu terucap dengan penuh kebencian dan amarah, dan untuk pertama kalinya semua orang melihat dengan jelas apa yang sebenarnya ada di dalam hati wanita itu. Ambisi yang tak terukur, kecemburuan yang membara, dan kejahatan yang tak punya batas akhirnya terungkap sepenuhnya di hadapan mata mereka semua.

Guetta dan Berlin pun akhirnya tak lagi bisa mempertahankan diri. Mereka sadar bahwa tak ada gunanya lagi berbohong, dan akhirnya mereka juga mengakui segala kesalahan dan segala rencana jahat yang telah mereka susun selama ini. Mereka mengakui bahwa mereka merasa posisi mereka terancam dengan kedatangan Elizabeth dan anaknya, mereka mengakui bahwa mereka tak ingin melihat tradisi dan kekuasaan mereka berubah, dan mereka mengakui bahwa mereka telah melakukan segala cara untuk menjatuhkan mereka, bahkan sampai melakukan kejahatan dan berbohong secara terang-terangan.

“Kalian telah berbuat salah besar,” ucap Raja yang sejak tadi duduk diam dan mengamati segala hal yang terjadi, akhirnya berbicara dengan suara yang tegas dan penuh wibawa. “Kalian yang telah kami percayai, kalian yang telah kami beri kedudukan dan kehormatan, kalian yang telah kami anggap sebagai bagian dari keluarga besar kerajaan... kalian telah mengkhianati kami semua. Kalian telah berusaha memecah belah keluarga, kalian telah berusaha menghancurkan nama baik orang yang tak bersalah, kalian telah berusaha memutarbalikkan kebenaran, dan kalian telah berusaha membawa kerusakan dan pertikaian di dalam negeri ini. Kesalahan kalian takkan bisa dimaafkan, dan kalian harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan kalian sesuai dengan hukum yang berlaku.”

Saat para pengawal datang membawa pergi ketiga orang itu keluar dari ruangan, suasana di dalam ruangan terasa hening dan penuh dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa lega karena kebenaran akhirnya terungkap, ada rasa marah karena mereka telah tertipu selama ini, ada rasa malu karena mereka telah menghakimi orang yang tak bersalah, dan ada rasa sedih karena mereka telah kehilangan orang yang mereka anggap sebagai teman.

Ratu berjalan mendekati Elizabeth, wajahnya dipenuhi dengan air mata dan rasa bersalah yang mendalam. Wanita tua itu berlutut di hadapan wanita muda itu, membuat semua orang yang hadir terkejut dan terharu.

“Maafkan aku,” ucap Ratu dengan suara yang bergetar dan penuh penyesalan. “Maafkan aku karena telah tertipu oleh kebohongan, maafkan aku karena telah memalingkan wajah darimu, maafkan aku karena telah menghakimimu tanpa mengetahui kebenaran. Aku telah berbuat salah besar, aku telah mempercayai orang yang berniat jahat, dan aku telah menyakiti orang yang seharusnya aku lindungi. Aku tak pantas meminta maaf, tapi aku berharap suatu saat nanti hatimu bisa memaafkan kesalahanku yang besar ini.”

Elizabeth segera membungkuk dan memegang tangan ibu mertuanya, menolong wanita tua itu untuk berdiri, lalu memeluknya erat-erat dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.

“Tidak perlu meminta maaf, Ibu,” bisik Elizabeth dengan suara yang lembut dan tulus. “Aku mengerti, aku memahami, dan aku tak pernah menyimpan rasa dendam atau kebencian di dalam hatiku. Kita semua hanyalah manusia yang can membuat kesalahan, dan kita semua bisa tertipu oleh kedok yang indah. Yang terpenting sekarang adalah kebenaran akhirnya terungkap, dan kita semua bisa bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh.”

Malam itu juga, semua kesalahpahaman akhirnya terselesaikan. Keraguan yang telah tertanam begitu dalam akhirnya lenyap digantikan oleh kepercayaan yang baru dan lebih kuat lagi. Semua orang akhirnya melihat dengan jelas siapa yang jujur dan siapa yang berbohong, siapa yang mulia dan siapa yang berhati busuk, dan siapa yang pantas dipercaya dan siapa yang pantas dihukum.

Keesokan harinya, saat tamu kenegaraan akhirnya tiba di istana, mereka disambut oleh keluarga kerajaan yang bersatu, kuat, dan penuh dengan kasih sayang. Semua mata dunia memandang mereka, dan semua orang melihat betapa kokohnya ikatan yang mempersatukan mereka, betapa kuatnya kepercayaan yang mereka miliki, dan betapa mulianya hati mereka yang telah mampu memaafkan kesalahan dan berbuat baik meski telah disakiti berkali-kali.

Mereka telah melewati ujian terberat dalam hidup mereka, mereka telah berjuang melawan kebohongan dan kejahatan, mereka telah menang melawan ambisi dan kebencian, dan mereka akhirnya membuktikan pada dunia bahwa kebenaran memang mungkin terpendam dan tersembunyi untuk sementara waktu, tapi ia takkan pernah bisa dibunuh selamanya. Dan pada akhirnya, seperti matahari yang selalu terbit kembali setelah malam yang gelap, kebenaran selalu akan menang, dan cahaya selalu akan mengalahkan kegelapan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!