Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Pada Akhirnya Berbaikan
Hujan masih turun saat mereka keluar dari tangga darurat.
Lorong kampus terlihat jauh lebih sepi dibanding biasanya. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan bayangan samar di lantai yang sedikit basah karena tempias hujan dari jendela terbuka.
Rachael berjalan lebih dulu sambil memasukkan kedua tangan ke saku hoodie-nya.
Sementara Leon berjalan beberapa langkah di belakangnya.
Tidak ada yang bicara.
Namun anehnya, suasana di antara mereka tidak lagi setegang beberapa hari terakhir.
Setidaknya... tidak sepenuhnya.
Leon diam-diam memperhatikan punggung Rachael.
Gadis itu masih terlihat tenang seperti biasa. Langkahnya santai. Lolipop stroberi tadi bahkan masih berada di mulutnya.
Tetapi sekarang Leon mulai sadar sesuatu.
Rachael bukan benar-benar tenang. Ia hanya terlalu terbiasa menyembunyikan semuanya. Dan pemikiran itu membuat dada Leon terasa berat lagi.
“Aku serius soal tanganmu.”
Rachael melirik kecil tanpa berhenti berjalan. “Kamu cerewet banget.”
“Kulitnya lecet, itu terluka.”
“Nanti juga sembuh sendiri.”
Leon menghela napas pelan. “Minimal dibersihin.”
Rachael tidak menjawab. Namun beberapa detik kemudian, ia berkata pelan, “…Aku nggak suka obat merah.”
Leon mengernyit kecil. “Kenapa?”
“Baunya menyengat.”
Jawaban itu terlalu polos sampai Leon sedikit terdiam. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya naik tipis.
Rachael langsung melirik curiga. “Kenapa senyum?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu ngeledek ya?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Leon terkekeh pelan untuk pertama kalinya hari itu.
Suara tawa kecil itu membuat langkah Rachael melambat sepersekian detik.
Karena sudah lama sekali ia tidak melihat Leon setenang ini di dekatnya. Biasanya pria itu selalu terlihat dingin, tajam, atau sulit didekati.
Namun sekarang... Leon justru terlihat hangat.
Itu berbahaya bagi pertahanan Rachael.
Mereka berhenti di depan ruang UKS yang hampir kosong.
Leon membuka pintunya pelan lalu menoleh ke belakang. “Masuk.”
Rachael langsung menghela napas panjang dramatis. “Kayak anak kecil aja.”
“Tadi siapa yang mukul dinding?”
“...” Rachael diam sedikit kesal.
“Masuk.”
Rachael akhirnya menurut sambil berjalan malas ke dalam ruangan.
UKS terasa sunyi. Hanya ada suara kipas angin kecil dan hujan dari luar jendela.
Leon mengambil kotak P3K dari lemari sementara Rachael duduk di ranjang UKS sambil mengayun kaki pelan. Lolipop nya kini tinggal batang putih kecil.
Leon berdiri di depannya sambil membawa kapas dan antiseptik.
Rachael langsung mengernyit tidak suka. “Baunya udah mulai kecium.”
Leon hampir tertawa lagi. “Kamu takut obat?”
“Nggak takut.”
“Terus?”
“Nggak suka aja.”
Leon duduk di kursi depan ranjang lalu mengulurkan tangan. “Sini.”
Rachael menatap tangannya beberapa detik sebelum akhirnya menyerahkan tangan kanannya pelan.
Leon memegangnya hati-hati. Lagi-lagi Rachael sadar tangan pria itu jauh lebih hangat dibanding miliknya.
Leon mulai membersihkan luka kecil di buku jarinya perlahan. Rachael refleks sedikit meringis.
Leon langsung mendongak. “Sakit?”
“Kag—” Rachael berhenti sendiri lalu berdecak pelan, “…sedikit.”
Leon menatapnya cukup lama, lalu tanpa sadar berkata sangat pelan, “Nah. Berarti kamu masih bisa ngerasain sakit.”
Kalimat sederhana itu membuat Rachael diam.
Leon sendiri baru sadar apa yang ia katakan beberapa detik kemudian. Namun sudah terlambat untuk menariknya kembali.
Karena mata Rachael berubah sedikit berbeda sekarang, lebih lembut.
Leon buru-buru kembali fokus ke tangannya.
Sementara Rachael diam-diam memperhatikan wajah Leon dari dekat.
Rambut hitam kecokelatannya sedikit berantakan karena main basket sebelumnya. Ekspresinya serius saat membersihkan lukanya. Alisnya sesekali berkerut kecil kalau melihat lecet di kulit Rachael.
Seolah luka kecil itu benar-benar mengganggunya.
“Kamu terlalu banyak mikir.” Suara Leon tiba-tiba membuat Rachael tersentak kecil. “Hah?”
“Kamu kalau lagi mikir berat tatapannya kosong.”
Rachael langsung memalingkan wajah. “Kamu sok tahu.”
Leon menempelkan plester kecil di jemarinya,“Aku mulai belajar.”
Jantung Rachael langsung berdetak sedikit lebih cepat. Untung Leon sedang fokus membereskan kotak P3K sehingga tidak melihat ekspresinya.
Beberapa detik kemudian, Leon berdiri. “Selesai.”
Rachael melihat plester kecil bergambar karakter kartun di tangannya.
Leon ikut melihat. Dan baru sadar apa yang ia ambil barusan. “…Aku salah ambil.”
Rachael menatap plester warna pink bergambar kelinci kecil itu cukup lama. Tiba-tiba bahunya bergetar kecil.
Leon membeku.
Karena beberapa detik kemudian, suara tawa pelan keluar dari Rachael.
Leon menatapnya tidak percaya.
Rachael buru-buru menutup mulut sambil masih menahan tawanya. “Kenapa plester nya begini…”
Leon mengusap tengkuknya pelan, sedikit malu untuk pertama kalinya. “Tadi nggak lihat.”
Rachael masih tertawa kecil samar sambil melihat plester pink di tangannya.
Entah kenapa… Pemandangan itu membuat Leon merasa lega luar biasa.
Karena akhirnya— Rachael terlihat seperti gadis seusianya. Bukan seseorang yang terus memikul dunia sendirian.
Pintu UKS tiba-tiba terbuka cukup keras.
Axel muncul sambil membawa dua minuman kaleng. Namun langkahnya langsung berhenti saat melihat suasana di dalam.
Leon berdiri dekat Rachael. Rachael duduk di ranjang UKS sambil tersenyum kecil. Dan ada plester pink karakter kelinci di tangannya.
Axel berkedip pelan, lalu menatap Leon. Lalu Rachael. Lalu Leon lagi. “…Gua pergi bentar doang kenapa vibes kalian berubah?”
Hening beberapa detik setelah ucapan Axel.
Rachael langsung berhenti tertawa kecil dan buru-buru memalingkan wajah, seolah ketahuan melakukan sesuatu yang memalukan.
Sementara Leon menghela napas pendek sambil mengambil minuman kaleng dari tangan Axel.
“Mulut lu nggak bisa direm ya?”
Axel masuk ke UKS sambil menyipitkan mata curiga. “Bukan salah gua kalau atmosfer di sini tiba-tiba kayak drama healing.”
“Keluar.”
“Galak amat.”
Rachael diam-diam menunduk, tetapi sudut bibirnya masih sedikit terangkat.
Dan itu tidak lolos dari pandangan Axel. Pria itu langsung menunjuk Rachael dramatis. “Nah, tuh kan. Dia senyum lagi.”
Rachael langsung memasang wajah datar secepat kilat. “Nggak.”
“Barusan jelas-jelas—”
“Nggak.”
Leon akhirnya terkekeh kecil sambil membuka kaleng minumannya.
Axel menatap Leon beberapa detik dengan ekspresi tidak percaya. “…Anjir.”
“Apa lagi?”
“Lu ketawa.”
Leon langsung kembali datar. “Terus?”
“Gua takut kiamat.”
Rachael reflek menahan tawa lagi. Dan kali ini Leon melihatnya jelas. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.
Tidak canggung seperti sebelumnya.
...----------------...
Malam semakin larut.
Hujan di luar akhirnya mulai mengecil menjadi rintik-rintik pelan.
Axel lebih dulu pulang setelah terus mengeluh dirinya menjadi “obat nyamuk” di antara mereka berdua.
Sekarang tinggal Leon dan Rachael berjalan keluar gedung sekolah bersama.
Langkah mereka pelan melewati halaman parkiran yang basah oleh hujan.
Lampu jalan memantulkan cahaya kuning samar di genangan air.
Rachael memegang hoodie-nya rapat sambil melihat langit. “Akhirnya reda.”
Leon berjalan di sampingnya sambil sesekali melirik tangan Rachael yang sudah diplester. “Masih sakit?”
Rachael melihat tangannya sebentar. “…Sedikit.”
Leon justru terlihat lega mendengarnya.
Rachael melirik aneh. “Kamu malah seneng?”
“Aku lebih khawatir kalau kamu bilang nggak sakit sama sekali.”
Rachael terdiam kecil. Lalu tanpa sadar… ia tersenyum tipis lagi.
Leon melihat itu dari samping dan kali ini ia tidak mengatakan apa-apa. Namun sudut bibirnya ikut naik samar.
Mereka berjalan cukup lama tanpa percakapan berarti. Anehnya, keheningan itu terasa nyaman.
Tidak ada tekanan untuk terus bicara. Tidak ada rasa canggung.
Hanya langkah kaki pelan dan suara air hujan yang menetes dari atap gedung.
Sampai akhirnya Rachael bicara pelan, “…Maaf.”
Leon langsung menoleh. “Buat?”
“Beberapa hari ini.”
Leon tahu maksudnya.
Tentang bagaimana Rachael terus menghindarinya. Tentang tatapan dingin itu. Tentang jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Rachael menunduk kecil. “Aku kira kalau kamu lihat sisi buruk aku… kamu bakal mulai Ilfil.”
Leon langsung berhenti berjalan.
Rachael ikut berhenti beberapa langkah di depannya.
Leon menatap gadis itu lama sekali sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau aku mau pergi, aku udah pergi dari dulu.”
Angin malam bertiup pelan menerbangkan sedikit rambut Rachael.
Tatapannya perlahan goyah. Leon melanjutkan, “Aku nggak peduli kamu punya sisi berantakan, keras kepala, atau kebiasaan nyakitin diri sendiri kalau stres.” Suaranya rendah dan tenang. “Aku cuma nggak suka kalau kamu nanggung semuanya sendirian.”
Deg.
Jantung Rachael berdetak kencang, perasaan yang sama seperti di tangga darurat tadi.
Dan kali ini… Ia tidak ingin lari dari perasaan itu.
Rachael tertawa kecil samar. “Kamu ternyata lebih cerewet dari yang aku kira.”
Leon mengangkat alis tipis. “Baru sadar?”
“Iya.”
“Kamu juga lebih susah diatur dari yang aku kira.”
“Karena aku nggak suka diatur.”
“Aku tahu.”
Mereka kembali berjalan berdampingan.
Namun sekarang jarak di antara mereka jauh lebih dekat dibanding beberapa hari terakhir.
Rachael bahkan tidak sadar ketika langkahnya perlahan menyesuaikan ritme Leon seperti dulu lagi.
Sementara Leon diam-diam merasa lega luar biasa.
Karena akhirnya… Rachael kembali berjalan di sampingnya. Bukan menjauh darinya.
Saat sampai di depan gerbang sekolah, Leon tiba-tiba berhenti lagi.
Rachael menoleh bingung. “Kenapa?”
Leon mengulurkan tangan pelan.
Rachael berkedip kecil. “…Apa?”
“Tangannya.”
“Buat apa?”
Leon menatap plester pink karakter kelinci di buku jarinya. “Mau lihat masih berdarah atau nggak.”
Rachael langsung menyembunyikan tangannya ke belakang badan. “Nggak mau.”
“Kenapa?”
“Plesternya malu-maluin.”
Leon menahan senyum. “Lucu kok.”
“Lucu apanya…”
Namun Leon tiba-tiba melangkah mendekat satu langkah. Cukup dekat sampai Rachael otomatis menegang kecil.
Leon menatapnya beberapa detik lalu berkata pelan, “Lebih lucu kamu yang ketawa tadi.”
Jantung Rachael langsung berhenti sepersekian detik. Wajahnya perlahan memanas.
Leon yang sadar berhasil membuat Rachael salah tingkah akhirnya tersenyum kecil puas untuk pertama kalinya setelah berhari-hari.
Rachael langsung memalingkan wajah cepat. “Kamu nyebelin.”
“Tapi kamu nggak bisa menghindari aku lagi sekarang.”
“…” Rachael tidak bisa membalas.
Karena Leon benar. Diam-diam… itu membuatnya senang.
Rachael buru-buru pergi ke halte bus, Leon kembali mengikutinya seperti sebelumnya. Memastikan Rachael aman.
Setelah Rachael pergi naik bus, Leon melambaikan tangannya. Lalu ia pergi pulang naik mobil jemputan nya.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe