Kirana, seorang maba cerewet dan nggak bisa diem, langsung membenci Bima—cowok teknik cuek dan dingin yang nggak mau minta maaf setelah menabraknya di pertemuan pertama mereka. Sejak itu, hidup Kirana dipenuhi omelan tentang si cowok teknik bau oli tersebut bersama gengnya yang hobi bergosip itu. Di tengah hari-hari kuliah yang penuh gebrakan, tingkah absurd teman-teman mereka, sampai pasangan bucin yang bikin geli satu kampus, hadir Danu—kakak tingkat sempurna yang mulai mendekati Kirana. Di sisi lain Bima justru diam-diam mulai jatuh hati dan terus mencuri pandang pada gadis cerewet itu. Lalu, akankah Kirana memilih Danu si pangeran kampus, atau Bima si cowok teknik acak-acakan yang selalu berhasil membuat harinya kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percikan Api di Lab
Minggu ini, Kirana mendapatkan tugas besar dari mata kuliah Jurnalistik Kebudayaan. Ia dan timnya harus melakukan observasi lapangan mengenai "Budaya Kerja dan Etos Mahasiswa Vokasi". Tidak ada tempat yang lebih representatif sekaligus lebih ingin ia hindari di seluruh penjuru Universitas Wikerta selain Laboratorium Manufaktur di Gedung Teknik Mesin.
"Kenapa harus lab itu sih? Kenapa nggak Lab Elektro atau Lab Sipil aja yang lebih 'adem'?" keluh Kirana kepada teen kelompoknya saat mereka berjalan menyusuri lorong beton Gedung Teknik yang terlihat gahar dan maskulin.
"Karena cuma mereka yang dapet hibah mesin turbin dan hidrolik terbaru tahun ini, Ra. Beritanya bakal punya nilai berita tinggi buat majalah kampus kita," jawab salah satu temen deket kirana yang ada di kelompok itu.
Kirana mendengus, membetulkan letak kacamata dan buku catatannya yang bersampul biru langit. Ia mencoba membangun tembok pertahanan di wajahnya, memasang ekspresi paling datar dan acuh yang ia miliki.
Begitu mereka melangkah masuk ke area lab, aroma oli mesin, bau logam yang terpapar panas, dan suara menderu dari mesin bubut langsung menyerbu indra penciumannya. Ruangan itu luas, tinggi, dan dipenuhi oleh kepulan uap tipis dari beberapa mesin yang sedang beroperasi.
Di ujung ruangan, di balik pagar pembatas kuning yang permanen, ia melihat sosok itu. Bima.
Bima sedang tidak sendiri. Ia dikelilingi oleh beberapa mahasiswa tingkat akhir dan seorang asisten lab. Mereka sedang melakukan uji coba pada sebuah mesin tekan hidrolik besar yang tampak sangat kompleks.
Wajah Bima terlihat sangat serius, bahkan lebih menyeramkan dari biasanya. Rambutnya sedikit acak-acakan, keningnya berkerut dalam, dan keringat membasahi kemeja PDL navy-nya hingga warnanya berubah menjadi biru gelap di bagian punggung dan dada.
Bima menyadari kehadiran tim Sastra itu. Ia sempat melirik sekilas ke arah pintu masuk, namun ia segera membuang muka dengan gerakan yang sangat dingin.
Sorot matanya kembali ke mode "robot"—datar, tanpa emosi, seolah-olah kejadian mengantar pulang tempo hari atau momen di depan rumah Kirana hanyalah sebuah anomali teknis yang sudah ia hapus dari sistem memorinya.
Sikap Bima yang kembali menjadi asing itu membuat hati Kirana mencelos sesaat, meski egonya segera membantah rasa sakit itu dengan cepat.
"Selamat siang, Kak. Kami dari Fakultas Sastra, mau melakukan observasi dan pengambilan foto untuk tugas jurnalistik kami," sapa salah satu teman kelopok Kirana dengan nada kalem dan sopan kepada asisten lab yang berjaga.
"Oh, silakan. Tapi tolong tetap di belakang garis kuning ya. Area ini lagi sensitif karena mesinnya lagi running di tekanan tinggi. Jangan terlalu berisik dan jangan lewat batas aman," jawab asisten tersebut dengan tegas.
Kirana mulai mencatat dengan tekun. Ia berusaha fokus pada detail mesin dan interaksi mahasiswa di sana, namun matanya sesekali mencuri pandang ke arah Bima yang sedang menyetel katup tekanan menggunakan kunci inggris besar.
Bima benar-benar tidak peduli. Ia tidak menyapa, tidak memberi anggukan formalitas, bahkan tidak menoleh lagi. Ia justru terlihat sangat asyik berdiskusi intens dengan seorang mahasiswi Teknik lainnya—yang tampak sangat cakap memegang obeng—tentang grafik yang naik-turun di layar monitor kontrol.
Baguslah, batin Kirana pedas sambil meremas pulpennya. Kemarin sama Sheila yang 'paling cantik se-kampus', sekarang sama mbak-mbak teknik yang 'paling ngerti mesin'. Emang dasar magnet masalah.
Ketegangan di dalam lab itu terasa semakin meningkat seiring dengan suara mesin yang mulai mengeluarkan bunyi menderu yang tidak wajar.
Suara berdecit logam bertemu logam terdengar menyakitkan di telinga. Bima tampak mulai panik, jemarinya bergerak cepat di atas panel kontrol digital, sementara tangan kirinya memegang tuas darurat.
"Tekanan di pipa empat naik melebihi batas toleransi! Katupnya macet!" teriak salah satu teman Bima, suaranya panik.
"Semua menjauh! Matikan aliran uap dari pusat!" perintah Asisten Lab dengan suara menggelegar yang memenuhi seisi ruangan.
Situasi mendadak menjadi kacau. Beberapa mahasiswa yang sedang melakukan praktikum lain segera berlari menjauh dari area mesin hidrolik tersebut.
Kirana, yang entah mengapa merasa tertantang dan terlalu asyik memotret dari sudut yang agak dekat demi mendapatkan angle dramatis—tanpa sadar ia melewati garis kuning pembatas—terpaku saat melihat sebuah pipa baja di dekatnya bergetar hebat seperti mau meledak.
"Ra! Awas! Mundur!" teriak teman kelompok Kirana dari kejauhan, tapi suaranya tertelan bunyi mesin.
Dalam hitungan detik, pipa uap di dekat posisi Kirana mengeluarkan suara letupan logam yang memekakkan telinga. Sebuah kabel di panel bawah mengeluarkan percikan api akibat hubungan pendek arus listrik, menyambar genangan oli tipis di lantai yang hanya berjarak beberapa senti dari kaki Kirana.
Kirana membeku. Tubuhnya mendadak kaku, otaknya tidak mampu memproses bahaya fisik secepat para mahasiswa teknik yang sudah terlatih. Namun, sebelum lidah api atau uap panas itu sempat menyambar ujung bajunya, sebuah bayangan besar menerjangnya dengan kekuatan penuh.
Bruk!
Bima melompat melewati barisan mesin, menangkap bahu Kirana dan memitingnya dengan tenaga yang sangat besar hingga mereka berdua jatuh tersungkur di lantai beton yang lebih aman, menjauh dari area pipa yang bocor. Bima tidak melepaskan dekapannya, ia justru berdiri di depan Kirana, menjadikan punggungnya sebagai perisai manusia antara Kirana dan mesin yang sedang "mengamuk" itu.
"Matikan aliran utamanya sekarang! Pukul tombol emergency!" teriak Asisten Lab pada para praktikan.
Begitu mesin mati dan suara desis uap panas perlahan mereda menjadi hening yang mencekam, suasana lab berubah menjadi sangat tegang. Bima melepaskan pegangannya pada bahu Kirana, lalu berbalik dengan napas yang memburu hebat. Wajahnya merah padam, bukan hanya karena hawa panas mesin, tapi karena emosi yang meluap.
"Lu punya otak nggak sih?". Ucap Bima.
Kirana yang baru saja ingin menarik napas lega dan mengucapkan terima kasih, langsung tersentak. Rasa syoknya berubah menjadi rasa tersinggung yang luar biasa. Wajahnya ikut memerah, matanya mulai panas karena bentakan barusan. "Gue cuma mau ambil foto buat tugas gue!"
"Garis kuning itu dibuat pake logika, Kirana! Bukan hiasan lantai!" Bima membentak lagi, kali ini lebih dekat ke wajah Kirana. "Ini bukan perpustakaan atau ruang kelas sastra tempat lu bisa melamun sambil nulis puisi! Sekali lagi lu ceroboh di sini, nyawa lu taruhannya! Lu mau mati konyol cuma gara-gara satu foto?"
"Gue nggak tahu kalau bakalan ada insiden kayak gitu! Lagian gue nggak apa-apa kan? Nggak usah sekasar itu juga bisa kali!" balas Kirana, suaranya bergetar menahan tangis dan amarah yang bercampur jadi satu. Ia segera bangkit berdiri, membersihkan celana jeans-nya yang terkena debu dengan gerakan kasar, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya.
"Gue nggak kasar, gue realistis. Ini area kerja, bukan taman bermain," ucap Bima dingin, suaranya kini mendatar namun jauh lebih menusuk.
Bima berbalik, mengabaikan Kirana yang berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca. Namun, saat Bima berjalan menuju wastafel lab untuk membersihkan sisa debu, Kirana melihat sesuatu yang membuat hatinya bergetar hebat.
Tangan kanan Bima—bagian pergelangan hingga telapak tangannya—terlihat memerah dan ada luka lecet yang cukup panjang. Sepertinya kulitnya terkelupas karena bergesekan dengan pinggiran mesin yang tajam saat dia menarik Kirana dengan paksa tadi. Bahkan, ada tetesan darah yang mulai mengucur kecil ke lantai.
"Bim... tangan lo berdarah," lirih Kirana, suaranya mengecil, rasa juteknya goyah sesaat melihat luka itu.
Bima berhenti sejenak, melirik lukanya sendiri dengan tatapan datar seolah itu hanyalah luka gores biasa yang tidak ada harganya. Ia kemudian kembali menatap Kirana dengan sorot mata paling tajam dan penuh kebencian yang pernah Kirana lihat selama hidupnya.
"Bukan urusan lu" ucap Bima pedas. "Pulang sana. Danu pasti udah nungguin lu di depan pake mobil putihnya yang bersih dan aman itu. Jangan kotori tangan lu atau baju lu di tempat kotor kayak gini."
Kalimat terakhir Bima benar-benar seperti tamparan keras di wajah Kirana. Rasa bersalah yang tadi sempat muncul karena melihat luka Bima, langsung terkubur dalam-dalam oleh rasa benci yang meluap. Bima benar-benar tidak tertolong. Dia bukan hanya kaku, tapi dia jahat.
"Oke! Makasih buat 'pelajaran' berharganya, Kak Bima yang paling hebat!" seru Kirana dengan nada sarkasme yang kental. Ia menyambar tas dan kameranya dari tangan temannya yang terpaku, lalu berlari keluar dari gedung Teknik tanpa menoleh lagi.
Sore itu, di depan gerbang kampus, Danu sudah menunggu di samping mobilnya dengan sebuah payung karena langit mulai berubah mendung dan gerimis tipis mulai jatuh. Danu tersenyum sangat manis begitu melihat Kirana, ia segera menghampiri dan membukakan pintu mobil dengan sopan.
"Gimana observasinya, Ra? Lancar? Kamu kelihatan capek banget," tanya Danu lembut sambil menyerahkan sebotol air mineral dingin.
"Buruk, Kak. Buruk banget. Aku benci banget sama orang-orang Teknik. Mereka semua nggak punya perasaan," jawab Kirana singkat, dia lupa bahwa Danu juga anak teknik, suaranya ketus dan nafasnya masih pendek-pendek karena menahan tangis.
Di kejauhan, di atas balkon lantai dua yang menghadap ke arah parkiran, Bima berdiri diam. Ia memegang pergelangan tangannya yang sudah ia balut asal-asalan dengan sapu tangan kumal yang kini memerah karena darah.
Ia melihat dari kejauhan bagaimana mobil putih Danu perlahan meninggalkan area kampus, membawa Kirana menjauh dari dunianya yang berisik dan berbahaya.
"Harusnya gue biarin aja dia tadi, biar dia tahu rasanya bahaya yang sebenernya," gumam Bima sinis pada dirinya sendiri, meski di dalam hatinya ada rasa hampa yang aneh.
Ia tahu dia keterlaluan membentak Kirana tadi, tapi ia tidak tahu cara lain untuk menyingkirkan rasa takut yang luar biasa yang sempat menyerangnya saat melihat Kirana hampir terkena percikan api. Bagi Bima, lebih baik Kirana membencinya daripada Kirana terluka karena kecerobohannya sendiri di wilayah Bima.
Distorsi di antara mereka kini bukan lagi sekadar salah paham soal Sheila atau kecemburuan yang tidak beralasan. Kini, ada luka fisik yang nyata dan ego yang tercoreng parah. Kirana semakin yakin bahwa Danu adalah satu-satunya tempat ia bisa merasa dihargai, sementara Bima hanyalah badai mesin yang hanya akan merusaknya.
Namun, di dalam mobil Danu yang harum dan tenang, Kirana justru tidak bisa fokus pada obrolan Danu. Pikirannya terus tertuju pada noda oli yang menempel di sepatunya dan luka di tangan Bima yang menyelamatkannya dengan cara yang paling ia benci.
"Sialan lo, Bima," bisik Kirana dalam hati, meremas buku catatannya yang kini tercoreng noda oli tipis. Noda yang entah kenapa, meskipun terasa kotor, enggan ia hapus dari ingatannya.