Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Collin
Collin melirik ke arah Mahreen yang ternyata sudah terlelap padahal perjalanan masih sekitar setengah jam lagi. Pria itu mengambil tumblernya dan meminumnya. Dia memang beberapa kali ke Belgia tapi jarang ke Brussels. Pria itu melihat jalanan yang lengang dengan pemandangan hijau di sana.
Belgia dan Belanda memiliki kekerabatan yang sangat dekat. Raja Arsyanendra menikahi Princess Violet yang merupakan calon Ratu Belanda saat itu. Namun Violet melepaskan gelarnya karena dia memilih untuk bersama Arsyanendra. Sepupu Violet, Mahira lah yang naik tahta menjadi Ratu Belanda menggantikan ayahnya, Raja Ronald yang mundur karena kesehatan.
Gongnya, Ratu Mahira menikah dengan Aspen Al Jordan, sepupu Raja Arsyanendra yang merupakan keturunan Emir Dubai Al Jordan dan keluarga Pratomo. Mereka sudah dikaruniai seorang putri bernama Zenevieva atau Princess Vava. Vava dan Mahreen bisa dibilang sepupu dekat. Keduanya sama-sama masih ada darah Al Jordan karena keturunan Hiroshi Al Jordan dan Shanum Pratomo.
Telepon Collin berbunyi dan dia menerimanya via airpodsnya. "Ya?"
"Kamu tidak usah komentar apapun, cukup dengarkan," ucap Kenneth. "Aku tahu kalian ke Belgia. Musim panas, Mahreen akan balik ke dan Oom Malik pusing dengan kasus pembunuhan turis asing di sana. Polisi tidak menemukan bukti apapun. Mereka tetap menganggap itu kriminal biasa. Aku dan Vendra tidak menganggap demikian, begitu juga dengan Oom Malik, Shaqeer, Oom Scott dan Oom Rylee. Aku minta, selama kamu di Bahrain, sekalian selidiki."
"Cé mhéad íospartaigh ( berapa korban )?" tanya Collin dengan bahasa Irlandia.
"Sejauh ini sudah delapan orang. Memang tidak terus menerus, ada jedanya," jawab Kenneth.
"Cá fhad atá an t-achar ( berapa lama jaraknya )?" tanya Collin lagi.
"Ada yang sebulan, ada yang dua bulan tapi MO nya sama. Wanita dan berambut pirang."
Collin menoleh ke arah Mahreen yang masih terlelap. Mahreen berambut pirang.
"Beidh mé ag tabhairt aire i gcónaí i ndiaidh Mahreen, díreach mar sin a fhios agat ( aku akan selalu menjaga Mahreen, asal kamu tahu )," ucap Collin tegas.
"Aku tahu. Kamu tidak akan membiarkan adikku kenapa-kenapa. Tapi, kamu juga harus berhati-hati, C," balas Kenneth.
"Iya. Tabharfaidh mé tuairisc duit ( aku akan memberikan laporan padamu." Collin melirik lagi ke Mahreen yang terbangun.
"Untung aku lahir dan besar di Skotlandia dan wajib bisa bahas Celtics dan Irish. Bisa kacau kita tidak punya bahasa kode Morse sendiri," kekeh Kenneth. "Have fun di Brussels."
"Bye." Collin memencet tombol off.
"Siapa yang telepon?" tanya Mahreen.
"Boss aku. Bertanya bagaimana kinerja aku menjaga kamu," jawab Collin.
"Oh ... Pakai bahasa Irlandia?" tanya Mahreen lagi.
"Yup. Apa kamu paham?" balas Collin.
"Bahasa Irlandia dan Celtics, bukan kemampuan aku untuk paham. Aku saja sudah pusing dengan bahasa Arab, Indonesia, Jepang, Jerman, Belanda dan Perancis. Belum bahasa Jawa. Nope, thank you," senyum Mahreen.
"Anda bisa bahasa itu semua?" tanya Collin kagum.
"Yup. Wajib."
"Wow. Bagaimana jika ada yang tidak bisa? Kita tahu kan kualitas otak manusia tidak ada yang sama." Collin tahu Kenneth dan Shaqeer cerdas tapi adik-adiknya, saudara-saudaranya?
"Paling tidak harus bisa empat bahasa asing. Tidak ada kata tidak bisa. Yang ada tidak mau belajar ... Itu sih."
Collin merasa lega karena Mahreen tidak bisa dua bahasa itu. Bisa kacau kalau dia paham.
Tak lama mereka pun tiba di kota Brussels dan Mahreen sudah mendapatkan izin masuk ke istana milik keluarga Léopold. Collin mengarahkan mobilnya ke istana Belgia dan mereka menuju pintu belakang.
Mahreen menunjukkan izin yang diberikan Arsyanendra dan mereka pun masuk lewat pintu belakang. Mereka pun turun dan disambut Isaak, tangan kanan Arsyanendra.
"Princess Mahreen. Bagaimana masuk sel?" goda Isaak membuat Mahreen manyun.
"Seriously, Paman Isaak. Tega nian langsung menanyakan itu ke aku," jawab Mahreen dengan wajah sebal.
"Paman Anda sudah tidak tahu harus bagaimana dengan Anda. Katanya, Anda lebih parah daripada Madame Raihanun," kekeh Isaak.
Mahreen memeluk pria itu. "Tenang Paman Isaak, aku akan lebih parah dari Tante Nyun!"
Isaak mendelik. "Saya kasihan dengan Sheikh Malik."
Mahreen melepaskan pelukannya. "Membuat Abi pusing itu mood booster tersendiri."
"Ya Tuhan ...." Isaak melihat ke arah Collin. "Ini pengawal baru Anda?"
"Collin Lange." Collin mengulurkan tangannya dan Isaak menyalaminya.
"Kemana pengawal yang kemarin?" tanya Isaak bingung.
"Ditarik Daddy."
Isaak pun menatap Collin. Entah mengapa, perasaannya mengatakan pria dingin di depannya bukan pria sembarangan. Sepertinya dia dari kalangan militer tapi bukan dari Bahrain.
"Kamu orang mana?" tanya Isaak sambil mengajak Mahreen dan Collin untuk masuk ke dalam istana.
"British and Irish," jawab Collin.
"Pantas ... Aksen kamu agak ...."
"Aneh?" kerling Mahreen.
"Antik," jawab Isaak.
"Sama saja dengan aneh lah tuh," ejek Mahreen.
Collin hanya memasang wajah datar.
"Tabah ya Lange," ucap Isaak.
"Iya. Saya sudah cukup tabah," jawab Collin santai.
Mereka tiba di ruang tengah di mana tempat keluarga Leopold berkumpul dan tampak Amira sedang ribut dengan kedua anaknya, Arga dan Argina. Pangeran dan Princess kembar yang sudah masuk usia ABG sedang berdebat dengan ibunya menggunakan bahasa Belanda dan Jerman bergantian.
"Makanya, Mommy kan sudah bilang. Kalau tidak ada yang minta tolong, jangan ditolong!" omel Amira sambil berkacak pinggang.
"Tapi kan Mommy, kasihan kalau tidak ditolong!" eyel Arga.
"Benar itu Mommy!" timpal Argina.
"Terus? Itu kamar kucing kalian sudah ada sepuluh ekor! Kamar anjing kalian sudah ada empat! Jangan mentang-mentang kamu cucu Raja Arsyanendra terus seenaknya mungut anak kucing!" hardik Amira.
Argina lalu mengeluarkan seekor anak kucing belang tiga dengan wajah memelas. "Kasihan Mommy ... Tapi kan aku tetap membersihkan kandang sepulang sekolah."
"Iya, Mommy. Nanti kita kasih nama Macan Bogel ya?" rayu Arga.
Amira menghela napas panjang. "Astagaaaa kalian ituuuu!"
"Ada apa ini?" tanya Mahreen.
Ketiganya menoleh. "Tante Mahreeeennnn!" seru Argina dan Arga sambil menghambur ke arah wanita itu dan memeluknya dengan tetap menggendong anak kucing itu.
"Kalian mungut lagi?" tanya Mahreen. "Bisa disebut hoarder binatang lho."
"Kasihan Tante. Lihat ini ... Wajahnya sangat memelas," rayu Argina.
"Sayang, kucing dan anjing itu paling pintar manipulatif ... kucing sih terutama. Dia memasang wajah seperti itu agar dibawa pulang sama kalian. Gituuuu," senyum Mahreen.
"Bilang sama mereka, Marning. Aku sudah capek dengan banyaknya hewan yang dibawa pulang. Daddy sih tidak apa-apa tapi aku kan yang kasihan dengan para staff harus mengurus mereka kalau anak-anak sekolah," ucap Amira sambil memeluk Mahreen.
"Ingat Mbak, Oom Rauf lebih parah," kekeh Mahreen. "Daddy juga. Hoarder kuda dan burung eksotis. Memang sudah keturunan pecinta hewan. Jangan lupa, Queen Elizabeth Dua punya hampir seratus corgi."
"Hadeeeehhh ...." Amira menoleh ke Collin. "Siapa ini. Marning?"
"Ini pengawal aku yang ba ...."
"Haaatttsssyyyiiinnnggg!!!" Collin mengusap hidungnya. "Maaf, tapi saya alergi bulu kucing."
"Eeeeehhhhhh?"
***
Yuhuuuu up Sore Yaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
#eh