Takdir membuat wanita bernama Anna terlempar ke zaman sebelum abad pertengahan. Menuntut agar ia bisa mengubah sejarah dan takdir kelam seorang raja tirani.
Namun, alih-alih kekejaman seperti yang di katakan semua orang, yang ia temukan hanyalah sesosok jiwa rapuh yang selalu memperlakukan dirinya dengan penuh kepedulian. Dan perlahan, sebuah rasa mulai tumbuh bersama raga yang ia tempati, tapi, apakah itu pantas? Apakah takdir sudah mengizinkan?
Anna terus menahan perasaanya, sampai ketika ia melihat raja datang dengan darah yang menetes di tangannya, sebuah permintaan akhirnya tidak bisa lagi ia tahan. Jauh di dalam hatinya terucap sebuah permohonan.
"Tolong biarkan aku tetap di sisinya, biarkan aku tetap di tempat ini untuknya, biarkan aku mencintanya sampai
akhir."
Tepat setelah permohonan itu terucap, ia langsung berlari, melangkahkan kakinya menuju orang yang telah menjadi sebagian dari jiwanya.
Namun, mampukah ia bertaruh takdir tidak akan membuatnya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Borraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Bernhard
...Riuhnya suasana di barak militer sama sekali tidak bisa mengganggu Leopold yang sudah terlanjur tenggelam dalam kebahagiaan. Saat matanya terus tergerak untuk membaca setiap kata yang tertulis di atas kertas balasan dari istrinya. Bahkan senyumnya terus mengembang, membayangkan saat sang istri menggoreskan pena untuk menuliskan kalimat-kalimat yang kini tengah ia baca....
...𝓔𝓷𝓽𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓼𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓼𝓾𝓻𝓪𝓽 𝓴𝓮𝓫𝓮𝓻𝓪𝓹𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓽𝓮𝓵𝓪𝓱 𝓼𝓪𝓶𝓹𝓪𝓲 𝓹𝓪𝓭𝓪𝓶𝓾,...
...𝓭𝓪𝓷 𝓴𝓪𝓾 𝓶𝓪𝓼𝓲𝓱 𝓫𝓮𝓵𝓾𝓶 𝓴𝓾𝓷𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓭𝓪𝓽𝓪𝓷𝓰...
...𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓶𝓮𝓷𝓮𝓹𝓪𝓽𝓲 𝓴𝓪𝓽𝓪 "𝓼𝓮𝓫𝓮𝓷𝓽𝓪𝓻" 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓴𝓪𝓾 𝓾𝓬𝓪𝓹𝓴𝓪𝓷 𝓹𝓪𝓭𝓪𝓴𝓾...
...𝓽𝓮𝓹𝓪𝓽 𝓼𝓼𝓫𝓮𝓵𝓾𝓶 𝓹𝓮𝓻𝓰𝓲. ...
...𝓐𝓴𝓾 𝓼𝓪𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓲𝓷𝓰𝓲𝓷 𝓶𝓮𝓷𝓾𝓷𝓽𝓾𝓽 𝓪𝓽𝓪𝓼 𝓴𝓮𝓫𝓸𝓱𝓸𝓷𝓰𝓪𝓷𝓶𝓾, 𝓭𝓪𝓷...
...𝓶𝓮𝓷𝓾𝓷𝓽𝓾𝓽 𝓪𝓰𝓪𝓻 𝓴𝓪𝓾 𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓵𝓪𝓰𝓲 𝓹𝓮𝓻𝓰𝓲 𝓼𝓮𝓹𝓮𝓻𝓽𝓲 𝓲𝓷𝓲 𝓭𝓪𝓻𝓲𝓴𝓾. ...
...𝓑𝓪𝓰𝓪𝓲𝓶𝓪𝓷𝓪 𝓴𝓪𝓫𝓪𝓻 𝓼𝓮𝓶𝓾𝓪 𝓸𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓭𝓲 𝓼𝓪𝓷𝓪?...
...𝓐𝓴𝓾 𝓱𝓪𝓻𝓪𝓹 𝓼𝓮𝓶𝓾𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓫𝓪𝓲𝓴-𝓫𝓪𝓲𝓴 𝓼𝓪𝓳𝓪....
...𝓞𝓱 𝓲𝔂𝓪, 𝓪𝓴𝓾 𝓼𝓮𝓶𝓹𝓪𝓽 𝓶𝓮𝓷𝓮𝓶𝓾𝓴𝓪𝓷 𝓫𝓾𝓷𝓰𝓪 𝓲𝓻𝓲𝓼 𝓫𝓲𝓻𝓾 𝓭𝓲 𝓭𝓮𝓴𝓪𝓽 𝓪𝔂𝓾𝓷𝓪𝓷 𝓭𝓪𝓷𝓪𝓾 𝓼𝓪𝓶𝓹𝓲𝓷𝓰,...
...𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓽𝓪𝓱𝓾 𝓼𝓲𝓪𝓹𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓾𝓪𝓷𝓰𝓷𝔂𝓪,...
...𝓹𝓪𝓭𝓪𝓱𝓪𝓵 𝓫𝓾𝓷𝓰𝓪 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓲𝓪𝓼𝓪𝓷𝔂𝓪 𝓭𝓲 𝓫𝓾𝓪𝓽 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓪𝓳𝓾𝓴𝓪𝓷 𝓼𝓮𝓫𝓾𝓪𝓱 𝓱𝓪𝓻𝓪𝓹𝓪𝓷....
...𝓐𝓭𝓪 𝓭𝓾𝓪 𝓫𝓾𝓷𝓰𝓪, 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓪𝓽𝓾 𝓼𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓶𝓮𝓴𝓪𝓻, 𝓴𝓾 𝓫𝓾𝓪𝓽 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓱𝓪𝓻𝓪𝓹𝓪𝓷𝓴𝓾 𝓭𝓾𝓵𝓾,...
...𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓪𝓽𝓾𝓷𝔂𝓪 𝓵𝓪𝓰𝓲 𝓴𝓾𝓼𝓲𝓼𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴𝓶𝓾....
...𝓙𝓪𝓭𝓲, 𝓴𝓾𝓱𝓪𝓻𝓪𝓹 𝓴𝓪𝓾 𝓫𝓲𝓼𝓪 𝓼𝓮𝓰𝓮𝓻𝓪 𝓹𝓾𝓵𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓮𝓫𝓮𝓵𝓾𝓶 𝓫𝓾𝓷𝓰𝓪 𝓴𝓮𝓭𝓾𝓪 𝓵𝓪𝔂𝓾,...
...𝓪𝓰𝓪𝓻 𝓴𝓪𝓾 𝓳𝓾𝓰𝓪 𝓫𝓲𝓼𝓪 𝓶𝓮𝓷𝓰𝓾𝓬𝓪𝓹𝓴𝓪𝓷 𝓱𝓪𝓻𝓪𝓹𝓪𝓷𝓶𝓾 𝓹𝓪𝓭𝓪 𝓫𝓾𝓷𝓰𝓪 𝓲𝓷𝓲....
...𝓘𝓷𝓰𝓪𝓽, 𝓳𝓪𝓰𝓪 𝓭𝓲𝓻𝓲 𝓫𝓪𝓲𝓴-𝓫𝓪𝓲𝓴, 𝓴𝓪𝓾 𝓱𝓪𝓻𝓾𝓼 𝓹𝓾𝓵𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓮𝓹𝓮𝓻𝓽𝓲 𝓼𝓪𝓪𝓽 𝓴𝓪𝓾 𝓹𝓮𝓻𝓰𝓲, 𝓽𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓫𝓸𝓵𝓮𝓱 𝓪𝓭𝓪 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓫𝓮𝓻𝓾𝓫𝓪𝓱 𝓼𝓮𝓭𝓲𝓴𝓲𝓽𝓹𝓾𝓷....
...𝓒𝓮𝓹𝓪𝓽𝓵𝓪𝓱 𝓹𝓾𝓵𝓪𝓷𝓰, 𝓳𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓾𝓪𝓽𝓴𝓾 𝓱𝓪𝓻𝓾𝓼 𝓶𝓮𝓷𝓾𝓷𝓰𝓰𝓾 𝓵𝓮𝓫𝓲𝓱 𝓵𝓪𝓶𝓪 𝓵𝓪𝓰𝓲....
^^^𝓘𝓼𝓽𝓻𝓲𝓶𝓾, 𝓐𝓷𝓷𝓮𝓵𝓲𝓮𝓼𝓮^^^
...Sekilas pandangan Leopold tertuju ke keramaian, sambil berpikir, kapan kekacauan ini bisa berakhir? Benar, ia juga sudah sangat merindukan sang Ratu, tapi, kerusuhan di perbatasan ini juga tidak bisa ia abaikan begitu saja. Banyak nyawa rakyat yang harus ia jaga, dan memang sudah kewajibannya untuk membangun keamanan bagi semua rakyat yang sudah menjadi tanggungannya....
..." Raja....... raja.... ra- "...
..." Ck, kenapa kau selalu mengganggu kebahagiaanku! "...
...Leopold langsung melirik tajam pada seseorang yang sudah ada di belakangnya dari tadi. Hanya ada pandangan muak sekaligus kesal yang ia berikan pada orang ini, orang yang hampir selalu mengganggu waktu saat ia membaca surat dari sang istri. Mungkin memang sengaja, karena pria itu sendiri tidak pernah mendapat balasan dari orang yang ia harapkan....
..." Anu, itu- "...
..." Ada apa! Awas saja kalau sampai tidak penting! " ancamnya seraya berdiri untuk menyimpan surat yang baru saja selesai ia baca....
..." Eh itu, kita sepertinya kekurangan orang untuk memimpin pasukan berkuda "...
..." Kau sendiri? " Leopold sedikit heran dengan ucapan itu, karena jelas Bernhard sendiri yang memimpin semua sisa pasukan yang ada. Padahal itu sudah termasuk jumlah kecil daripada beberapa peperangan besar yang pernah mereka lakukan sebelumnya....
..." Mereka semua menolak di pimpin olehku "...
...Alasan ini semakin tidak mungkin lagi, bagaimana bisa seorang prajurit terlatih seperti mereka malah bersikap kekanak-kanakan, apalagi ini bukan hanya pelatihan biasa, ini adalah peperangan mempertahankan wilayah yang ada di depan mata. Tidak, Leopold benar-benar tidak bisa percaya pada apa yang di katakan Bernhard padanya....
...Kini, Leopold terus memandang sinis pada Jendralnya itu, mencari kebohongan di setiap gerak wajahnya. Sepertinya, memang tidak ada sedikitpun kejujuran dari kata itu, jadi Leopold hanya bisa menggunakan satu cara....
...Tanpa berkata apapun, sang Raja langsung melangkah keluar, membuat Bernhard seketika terkejut dengan tindakan yang sama sekali tidak ia prediksi sebelumnya....
...Bernhard ikut melangkah cepat, mengekor tepat di belakang Leopold yang masih tidak mengatakan apapun....
..." Tunggu, Raja mau kemana? Itu, jika ada perintah, katakan saja padaku, Raja tidak perlu bertindak sendiri. "...
...Masih tak ada jawaban, dan langkah itu malah semakin cepat....
..." Tunggu, apapun itu, perintahkan saja padaku, jangan seperti ini, apa aku telah melanggar sesuatu? Tolong, jangan hanya diam saja, jangan membuatku takut "...
...Leopold tetap diam dan sama sekali tidak ingin menanggapi Bernhard yang masih terus mengoceh di belakangnya. ...
..." Apapun itu, katakan saja padaku, jangan hanya di-... aduh! " keluhnya tertahan, saat tanpa sengaja menabrak punggung Raja yang tiba-tiba menghentikan langkahnya....
...Kemudian, pandangannya mengedar sekilas, mengamati tempat yang di kunjungi oleh sang Raja, yang ternyata telah membawanya menuju barak di mana pasukan berkuda berada. ...
...Setelah terdiam beberapa detik, akhirnya Bernhard mulai sadar apa sebenarnya yang salah. Tapi, belum sempat ada solusi yang terpikirkan di kepalanya, semuanya sudah berakhir begitu saja. ...
...Ya, Raja sudah mulai berteriak memanggil seluruh pasukan berkuda agar menghadap padanya. ...
..." Ah, sepertinya tidak perlu sampai seperti ini, tadi saya hanya asal bicara, saya bisa mengurus semua ini sendiri. " Bernhard hanya tidak ingin masalah itu benar-benar datang padanya, walaupun ia tahu semua ucapannya tidak mungkin berguna, tapi setidaknya ia sudah berusaha. ...
...Sama sekali tak ada tanggapan yang Bernhard terima, persis seperti yang telah ia perhitungkan. Sepertinya, masalah hari ini memang tidak bisa lagi ia hindari....
..." Siapa ketua kalian! " Leopold mulai memeriksa. ...
...Tak butuh waktu lama sampai seseorang langsung maju untuk menghadap. ...
..." Apa benar, pasukan berkuda menolak pimpinan dari Jendral Bernhard? " ...
...Pertanyaan yang tenang sekaligus tegas, membuat Bernhard yang berada di belakang Raja seketika memberi isyarat mata, dengan maksud agar para pasukan menjawab dengan kata 'iya'. Tapi, masih dengan kesialan yang sama, para prajurit itu justru tidak ada yang mengerti pada isyaratnya, yang tentunya langsung menarik perhatian Leopold untuk ikut melihat ke arahnya. ...
...Tak ada lagi yang bisa Bernhard lakukan selain tersenyum pasrah dengan apapun yang akan segera terjadi. ...
...Singkat cerita, masalah itu akhirnya datang, ketua pasukan berkuda jelas langsung menjawab 'tidak' dengan begitu lantang, membuat Bernhard tak bisa lagi berdalih ataupun membela dirinya sendiri. ...
..." 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘤𝘪𝘵𝘳𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘰𝘥𝘰𝘩, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘯𝘨𝘴𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘣𝘢𝘬 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘯𝘪. 𝘈𝘩 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯. 𝘋𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘬𝘶𝘮𝘬𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵? 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘙𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘣𝘶𝘵 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘳𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘳𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘢𝘯𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯? "...
..." Bernhard! " Entah sudah panggilan keberapa sampai akhirnya pria itu sadar dan keluar dari pikirannya yang berisik. ...
..." Ikut aku " lanjut Leopold memberi perintah. ...
...Bernhard langsung menuruti perintah itu, mengikuti setiap langkah sangat Raja yang entah akan membawanya kemana. ...
...Ternyata langkah itu membawa Bernhard kembali ke tempat awal, yaitu tenda milik sang Raja....
...Belum ada tindakan, Leopold hanya menyuruh bawahannya itu untuk duduk di depannya. Tak ada kata, sampai sebuah kertas mulai Leopold taruh perlahan di depan sang Jendral. Yang jelas membuat pria itu langsung memandang dengan penuh kebingungan. ...
..." Apa masih harus aku yang menuliskan surat untuk menyuruh Caroline datang? " ...
...Tunggu, Bernhard masih sedikit kebingungan. Apa maksud dari ucapan Raja barusan?...
..." Jangan terus memandangku seperti itu, sangat menggelikan " ...
..." Kenapa? Kau pikir aku tidak tahu isi pikiranmu, sudah, cepatlah menulis dan suruh kekasihmu itu datang " Leopold melanjutkan ucapannya dengan sedikit malas. ...
..." Kutulis perintah darimu, ya " Tak butuh waktu lama sampai Bernhard membalas penuh semangat, bahkan ia langsung menulis tanpa menunggu jawaban dari Rajanya. ...
...Melihat itu, Leopold hanya bisa tersenyum, ikut merasa senang saat sang sahabat bahagia. Karena, jauh dalam dirinya, ia juga peduli dan mengerti pada apa yang di inginkan oleh Bernhard yang telah hidup bersamanya sampai saat ini. ...