NovelToon NovelToon
Jurig Jarian

Jurig Jarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Roh Supernatural / Horor
Popularitas:392
Nilai: 5
Nama Author: Pena Lullaby

Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Dari Desa

Adrian mempererat pelukannya, mengecup puncak kepala Dinda berkali-kali sembari membisikkan kata-kata penenang yang bahkan terdengar getir di telinganya sendiri. Sisa hari itu dilewati mereka dalam ketegangan yang mencekam. Kamar Arya tidak lagi ditinggalkan sedetik pun. Adrian dan Dinda bergantian berjaga, memastikan putra kecil mereka tetap berada dalam jangkauan pandangan, sementara bau tanah pekuburan samar-samar masih tertinggal di sudut-sudut dapur seolah menjadi peringatan bahwa mereka tidak lagi aman.

Keesokan paginya, suasana rumah terasa jauh lebih berat. Sinar matahari yang mulai merayap naik tidak lagi membawa kehangatan, melainkan kondisi yang mendesak. Adrian duduk di kursi kayu ruang kerjanya, menatap layar ponsel yang menyala. Guratan lelah dan kurang tidur tercetak jelas di bawah matanya.

Setelah menarik napas panjang untuk memantapkan hati, Adrian menekan tombol panggil pada kontak bernama Kang Kosim.

Telepon itu berdering lama. Setiap nada sambung yang terdengar seperti ketukan jam dinding yang menghitung mundur keselamatan keluarga mereka. Pada deringan kelima, suara klik terdengar, diikuti oleh suara berat khas pria paruh baya di ujung sana, bercampur dengan deru angin khas perdesaan.

"Halo? Assalamualaikum. Pintonan saha ini?" Suara Kang Kosim terdengar agak samar.

"Waalaikumussalam. Kang Kosim, ini saya. Adrian," jawab Adrian cepat, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak menggema keluar ruangan.

Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik. Tampaknya Kang Kosim sedang mencerna nama yang sudah bertahun-tahun tidak dia dengar, nama yang terikat erat dengan tragedi masa lalu di tanah Jarian.

"Astagfirullah... Nak Adrian? Bener ini Nak Adrian? Aya naon, Nak? Sudah lama sekali tidak ada kabar, sejak kejadian itu." Suara Kang Kosim mendadak berubah, ada nada keterkejutan sekaligus kecemasan yang tertahan di sana.

"Iya, Kang, ini saya. Maaf saya menghubungi akang mendadak seperti ini, saya langsung saja, Kang. Saya mau tanya bagaimana kondisi Desa Jarian sekarang? Apakah ada sesuatu yang aneh terjadi di sana baru-baru ini?" Adrian memajukan tubuhnya, bertumpu pada meja kerja.

Pertanyaan Adrian disambut oleh helaan napas yang sangat berat dari Kang Kosim. Di seberang sana, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, seolah Kang Kosim sedang bergeser ke tempat yang lebih sepi dan aman dari pendengaran orang lain.

"Kang? " desak Adrian saat keheningan kembali berlanjut.

"Nak Adrian. Kenapa Nak Adrian tiba-tiba bertanya soal itu? Apa ada sesuatu yang mendatangi ?" Kang Kosim berbisik, suaranya bergetar tipis.

"Dua malam berturut-turut, Kang. Anak saya, Arya, diganggu. Dan kemarin siang, Dinda melihat Sinta di rumah kami. Bau tanah pekuburan Jarian tercium sampai ke sini. Bagas yang ada di Jerman pun memimpikan hal yang sama di jam yang persis sama. Tolong jujur sama saya, Kang. Ada apa dengan Jarian?" Jantung Adrian berdegub hebat. Firasatnya benar.

Mendengar penuturan Adrian, Kang Kosim terdengar mengucapkan istigfar berkali-kali dengan suara gemetar.

"Sudah terlambat rupanya. Kegelapan itu sudah keluar dari batas desa. Nak Adrian, sebulan yang lalu, makam tua di puncak bukit Jarian makam yang dulu dibilang Aki Sukra sebagai titik pengikat kutukan amblas setelah hujan badai besar. Tanah di sana terbelah." ucap Kang Kosim lirih, penuh penyesalan.

"Terbelah?" Adrian mengepalkan tangannya.

"Muhun, Nak. Dan sejak malam itu, Desa Jarian tidak pernah tenang. Hewan ternak warga mati kehabisan darah setiap malam Jumat. Warga sering mendengar suara perempuan menangis dari arah hutan bambu, dan yang paling parah, beberapa anak kecil di desa mendadak sakit demam tinggi, mengigaukan nama yang sama. Mereka bilang. Ibu baju putih mau jemput. Tanah Jarian sedang menuntut balas, Nak. Ikatan yang dibuat Aki Sukra dulu rupanya melemah karena waktu, dan mereka mencari darah keturunan dari orang-orang yang pernah selamat untuk dijadikan inang baru." Kang Kosim menjeda kalimatnya, terengah-engah seolah menceritakan hal itu saja sudah menguras energinya.

Mendengar penjelasan itu, dingin yang menjalar di punggung Adrian berubah menjadi kemarahan yang membakar. Masa lalu yang dia kira sudah terkubur dalam-dalam kini bangkit, mengincar darah dagingnya sendiri.

"Kami tidak akan tinggal diam jadi mangsa di sini, Kang. Kutukan itu harus selesai sampai ke akarnya. Saya, Dinda, dan Arya kami akan kembali ke Jarian." kata Adrian, suaranya bergetar oleh tekad yang mutlak.

"Nak, jangan gegabah! Jarian yang sekarang jauh lebih berbahaya dari yang Nak Adrian ingat!" seru Kang Kosim memperingatkan.

"Kalau saya tetap di Jakarta, anak saya tetap tidak akan aman, Kang. Mereka sudah tahu jalan ke sini,". Kami berangkat besok pagi. Saya minta tolong, Kang Kosim siapkan tempat yang aman untuk kami singgah sementara sebelum kami naik ke bukit itu. Bisa, Kang?" potong Adrian tegas

"Baik kalau itu sudah jadi keputusan Nak Adrian. Datanglah langsung ke rumah panggung saya di ujung desa, jangan mampir ke mana-mana kalau sudah lewat gapura. Dan ingat, Nak bawa barang peninggalan Aki Sukra yang dulu pernah saya titipkan saat Nak Adrian meninggalkan desa ini. Kalian akan butuh itu." Kang Kosim terdiam cukup lama, sebelum akhirnya mengembuskan napas pasrah.

"Baik, Kang. Terima kasih banyak. Assalamualaikum."

"Waalaikumussalam. Hati-hati di jalan, Nak. Gusti melindungi kalian."

Adrian memutus sambungan telepon. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit ruang kerjanya yang mendadak terasa makin menyempit. Keputusan telah diambil. Tidak ada jalan mundur. Besok pagi, mereka akan kembali ke tempat di mana seluruh mimpi buruk ini bermula. Desa Jarian.

1
Heriyansah
Terimkasih kak
Khodijah
bagus ceritanya semangat ya' Thor 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!