Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Di sepanjang perjalanan menuju kontrakan barunya, Clara terus memandangi jalanan dari balik kaca mobil dengan wajah kesal. Tangannya terlipat di dada sementara bibirnya terus mengomel pelan. Semakin dipikirkan, semakin ia merasa ayahnya benar-benar keterlaluan.
Bagaimana mungkin ayahnya lebih membela Doni dibanding dirinya?
Doni hanyalah seorang direktur di perusahaan keluarga mereka. Sedangkan Clara adalah putrinya sendiri. Anak kandung yang selama ini dibesarkan dengan penuh kemewahan. Namun sekarang, ayahnya justru menyuruhnya tinggal di kontrakan kecil demi belajar hidup mandiri. Baginya itu bukan pelajaran, melainkan hukuman.
Clara mengalihkan pandangannya ke luar jendela dengan mata berkaca-kaca karena marah.
“Ayah benar-benar sudah keterlaluan...” gumamnya lirih.
Supir yang duduk di depan hanya diam. Ia tahu suasana hati nona mudanya sedang buruk. Salah bicara sedikit saja bisa membuat Clara meledak.
Clara kembali mengingat pertengkarannya dengan ayahnya pagi tadi. Bagaimana ayahnya dengan dingin mengatakan bahwa ia harus belajar hidup sendiri tanpa bergantung pada keluarga. Bahkan ibunya hanya diam dan tidak membela dirinya sedikit pun.
Itu yang paling membuat Clara sakit hati.
“Ibu juga sama saja...” ucap Clara pelan dengan nada kecewa. “Kalian semua membiarkan aku pergi begitu saja.”
Mobil akhirnya memasuki sebuah gang perumahan sederhana yang cukup padat. Clara langsung mengernyitkan dahinya melihat rumah-rumah kecil yang berdempetan.
“Ini tempatnya?” tanyanya tidak percaya.
“Iya, Nona,” jawab supir hati-hati.
Clara menarik napas panjang sambil memijat pelipisnya. Ia benar-benar tidak menyangka ayahnya tega menempatkannya di lingkungan seperti ini.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah kontrakan bercat krem yang terlihat cukup bersih meski ukurannya kecil. Seorang wanita paruh baya segera keluar sambil tersenyum ramah.
“Itu pasti Bu Susi,” kata supir.
Clara turun dari mobil dengan wajah datar. Tatapannya langsung menyapu bangunan kecil di depannya. Rumah itu bahkan terasa lebih kecil dibanding kamar pribadinya di rumah utama.
“Selamat siang, Mbak Clara?” sapa wanita itu ramah.
Clara hanya mengangguk kecil.
“Saya Susi, pemilik kontrakan ini. Mari masuk dulu.”
Supir segera menurunkan koper-koper Clara dari bagasi mobil. Jumlahnya cukup banyak hingga Bu Susi tampak sedikit terkejut.
“Wah... barangnya banyak juga ya, Mbak,” ucap Bu Susi sambil tertawa kecil.
Clara tidak menanggapi. Ia berjalan masuk sambil melihat isi kontrakan itu dengan tatapan tidak puas.
Ruang tamunya kecil. Hanya ada sofa sederhana, meja mungil, dan kipas angin di sudut ruangan. Dapurnya pun sempit dengan rak-rak sederhana yang jauh dari kata mewah.
Clara semakin kesal.
Bu Susi mencoba tetap ramah. “Semua furnitur di sini baru, Mbak. Kasurnya juga baru diganti. Jadi tidak perlu khawatir kalau ada yang rusak.”
Clara tetap diam.
Ia membuka pintu kamar dan kembali merasa frustrasi. Kamarnya sempit dengan lemari kecil dan tempat tidur sederhana.
Ini bahkan tidak sebanding dengan walk in closet miliknya di rumah.
Kemudian Clara berjalan menuju kamar mandi. Baru melihat isinya saja ia langsung memejamkan mata sambil menghela napas berat.
Kamar mandinya kecil.
Tidak ada bathtub.
Tidak ada shower modern.
Bahkan tidak ada pemanas air.
Hanya bak mandi dan gayung plastik biru yang terlihat sangat biasa.
“Astaga...” Clara memegang dahinya. “Ayah serius menyuruh aku tinggal di sini?”
Bu Susi yang mendengar itu tersenyum canggung. “Kalau air panas biasanya anak-anak di sini pakai pemanas listrik sendiri, Mbak.”
Clara menatap kamar mandi itu dengan jijik tertahan.
Ia yang terbiasa mandi air hangat di bathtub luas sekarang harus menggunakan kamar mandi sempit seperti itu. Rasanya seperti mimpi buruk.
Supir selesai memasukkan koper terakhir lalu mendekati Clara.
“Nona, saya pamit dulu.”
Clara menoleh sekilas lalu mengangguk dingin.
“Iya.”
Supir sebenarnya merasa kasihan, tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Itu perintah langsung dari tuan besarnya.
Setelah pintu ditutup dan mobil pergi meninggalkan lokasi, Clara akhirnya benar-benar sendirian.
Sunyi.
Tidak ada pelayan.
Tidak ada suara langkah asisten rumah tangga.
Tidak ada aroma makanan mahal dari dapur utama.
Yang ada hanya suara kipas angin dan kendaraan lewat dari luar gang.
Clara perlahan duduk di tepi kasur sambil memandangi ruangan sempit itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar dibuang.
“Ayah jahat...” gumamnya lirih.
Namun beberapa detik kemudian rasa sedih itu berubah menjadi marah.
“Semua gara-gara Doni.”
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Kalau saja ayahnya tidak terlalu membela Doni, semua ini tidak akan terjadi. Clara masih tidak mengerti mengapa ayahnya begitu mempercayai pria itu dibanding dirinya sendiri.
Perut Clara tiba-tiba terasa lapar. Ia kemudian mengambil ponselnya dan memesan taksi online.
Ia harus pergi ke ATM.
Beberapa menit kemudian Clara sudah duduk di kursi belakang mobil sambil memainkan kukunya dengan gelisah.
Sesampainya di ATM center, Clara segera turun dan masuk dengan cepat. Ia memasukkan kartu ATM miliknya sambil berharap ayahnya masih memberinya uang cukup.
Namun saat angka saldo muncul, wajah Clara langsung berubah.
Sepuluh juta rupiah.
Clara sampai melotot tidak percaya.
“Hanya sepuluh juta?”
Ia menekan layar sekali lagi untuk memastikan dirinya tidak salah lihat.
Tetap sama.
Sepuluh juta.
Clara tertawa kecil saking kesalnya.
“Ayah benar-benar sudah gila.”
Uang sebanyak itu bahkan bisa habis dalam sehari untuk dirinya. Belanja tas, makan di restoran mahal, atau perawatan salon saja sudah cukup menguras semuanya.
Dengan kesal Clara menarik seluruh uangnya.
Ia keluar dari ATM sambil menggenggam uang itu erat-erat. Dadanya terasa panas oleh amarah.
“Aku disuruh hidup bagaimana dengan uang segini?”
Setelah itu Clara pergi ke sebuah restoran yang cukup bagus meski tidak semewah tempat biasa yang ia datangi. Ia duduk di dekat jendela sambil memesan makanan dengan wajah murung.
Pelayan yang datang bahkan sempat gugup karena ekspresi Clara terlihat seperti ingin memarahi semua orang.
Setelah makanannya datang, Clara mulai berpikir keras.
Ia tidak mungkin kembali meminta uang pada ayahnya.
Harga dirinya terlalu tinggi untuk itu.
Namun ia juga tidak mungkin hidup hanya dengan sepuluh juta.
Tiba-tiba Clara teringat kedua kakaknya.
Rendra dan Viko.
Kedua kakaknya selalu menyayanginya sejak kecil. Terutama Rendra yang hampir tidak pernah menolak permintaannya.
Wajah Clara sedikit berbinar.
“Benar juga... aku masih punya kakak.”
Ia segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Rendra.
Panggilan tersambung beberapa detik kemudian.
“Clara?” suara Rendra terdengar tenang dari seberang sana. “Ada apa?”
“Kak...” Clara langsung memasang nada manja. “Aku butuh bantuan.”
Rendra tampak langsung mengerti. “Soal uang?”
“Iya. Ayah cuma kasih aku sepuluh juta. Mana cukup?”
Terdengar helaan napas dari seberang telepon.
“Clara, Ayah melakukan ini supaya kamu belajar mandiri.”
Clara langsung kesal mendengarnya.
“Kakak juga mau ceramah?”
“Kakak serius. Kamu harus belajar mengatur hidupmu sendiri.”
“Aku ini anak ayah! Kenapa semua orang memperlakukanku seperti orang asing?”
“Karena selama ini kamu terlalu bergantung pada keluarga.”
Kalimat itu membuat Clara naik pitam.
“Kak Rendra, bahkan Kakak sekarang membelanya?”
“Bukan membela siapa-siapa. Ayah hanya ingin kamu berubah jadi lebih dewasa.”
“Aku tidak butuh nasihat!”
Suara Clara mulai meninggi hingga beberapa pengunjung restoran melirik ke arahnya.
Namun Clara tidak peduli.
“Kalian semua sama saja!” lanjutnya marah. “Sekarang Kakak juga tidak sayang sama aku!”
“Clara...”
Tetapi Clara sudah lebih dulu mematikan sambungan teleponnya dengan kasar.
Dadanya naik turun menahan emosi.
Ia benar-benar tidak menyangka Rendra akan menolaknya.
Padahal biasanya kakaknya itu selalu memenuhi semua permintaannya tanpa banyak bicara.
Clara menggigit bibirnya kesal lalu segera menghubungi kakaknya yang lain.
Viko.
Panggilan tersambung cukup cepat.
“Halo, Clara.”
“Kak, aku butuh uang.”
Viko terdiam sesaat sebelum akhirnya bertanya, “Kamu sudah pindah ke kontrakan?”
“Iya. Dan tempatnya kecil sekali.”
“Kamu harus mulai terbiasa.”
Clara langsung memejamkan mata kesal.
“Kakak jangan mulai juga.”
“Ayah benar. Kamu memang perlu belajar hidup mandiri.”
“Aku tidak menyangka Kakak bicara begitu.”
“Clara, dengarkan dulu.”
“Tidak! Aku capek dengar semuanya!”
Viko tetap berbicara tenang. “Kami semua sayang sama kamu. Justru karena itu Ayah melakukan ini.”
“Kalau sayang, harusnya kalian bantu aku!”
“Kami tidak bisa terus memanjakanmu.”
Kalimat itu seperti tamparan keras bagi Clara.
Ia merasa benar-benar sendirian sekarang.
“Kalian tega...” ucap Clara lirih dengan suara bergetar. “Kalian semua tega buang aku.”
“Tidak ada yang membuangmu.”
Namun Clara sudah tidak ingin mendengar apa pun lagi.
Ia langsung mematikan teleponnya lalu melempar ponselnya ke meja.
Air matanya akhirnya jatuh juga.
Bukan karena sedih semata.
Tetapi karena marah.
Marah karena semuanya berubah begitu cepat.
Keluarga yang dulu selalu memanjakannya sekarang justru kompak menyuruhnya mandiri. Bahkan tidak ada satu pun yang mau membantunya.
Clara menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangan.
“Aku benci kalian...”
Beberapa saat kemudian ia menghapus air matanya kasar-kasar.
Tatapannya perlahan berubah dingin.
Kalau keluarganya berpikir ia akan menyerah dan kembali memohon, mereka salah besar.
Clara bukan wanita lemah.
Ia berdiri perlahan sambil menatap jalanan di luar restoran melalui kaca jendela.
“Oke...” gumamnya pelan. “Kalau memang kalian mau seperti ini... aku juga tidak akan kembali.”
Ia menarik napas panjang.
“Aku akan hidup sendiri.”
Suara Clara mulai dipenuhi tekad.
“Dan suatu hari nanti kalian semua pasti menyesal sudah memperlakukanku seperti ini.”