Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23 Panggil Aku, Mas
Nandini berjalan menunduk menuju garasi. Ahsan langsung menoleh, menyadari keberadaan gadis yang telah ia tunggu sedari tadi.
"Montir solihah kita datang." Ahsan berusaha menyejajari langkah mereka.
Nandini melirik datar ke arah gus nakal itu. "Kenapa, Gus Ahsan? Pagi-pagi sudah aktif banget, kebanyakan makan gula?"
Ahsan tertawa kecil. "Sudah solihah, lucu lagi." Nandini memutar mata mendengar ucapan Ahsan.
"Din, ayah ibu aku datang besok. Kamu kenalan ya nanti sama mereka. Mereka datang kok waktu nikahan kamu, cuma kan belum ngobrol."
Nandini membuka pintu mobil Santaka dan mulai memanaskan mesinnya. Ia tak menanggapi Ahsan. Gadis itu paham ada gelagat tak benar. Bukan bermaksud GR alias gede rasa. Waspada saja.
Nandini semakin paham batasan yang kaku dan tinggi di Ndalem mengenai interaksi antara lelaki dan perempuan bukan mahrom. Ahsan pasti lebih paham.
Bisa-bisanya gus muda itu membuntuti Nandini, yang bukan mahromnya dari luar hingga ke dalam garasi. Ini ke mana para polisi Ndalem? Coba semprot gus ini. Jangan hanya Nandini dan Santaka saja yang jadi bulan-bulanan mereka.
"Dini, kok diem saja sih?" Ahsan berdiri di samping mobil dan memegang pintu mobil yang terbuka.
"Ya harus gimana? Aku kan sekarang ndak boleh banyak tingkah. Lagian apa yang harus aku omongin, Gus?
Tenang, nanti aku ikut nyambut orang tua Gus Ahsan. Sama seperti Ning Sarah dan Ning Husna." Nandini berkata sambil memindai lampu indikator di dasbor.
"Seandainya kamu kenal mereka sebelum kamu nikah, Din." Ahsan memiringkan bibirnya.
"Emang boleh ngomong kayak gitu, Gus?" Nandini mengerutkan alisnya. Ahsan terkesiap.
"Ya... ndak boleh, hehehe... Terima kasih sudah ngingetin aku. Gus juga manusia, Din." Ahsan tertawa kecil. Nandini menggelengkan kepala.
Santaka menghentikan langkah kakinya di muka garasi. Matanya menatap tajam ke arah sepupunya. Piring di genggamannya hampir saja ia banting.
"Apa yang Gus Ahsan lakuin di sini? Kenapa saya perhatiin, Gus Ahsan sering mampir kalau istri saya lagi manasin mobil?"
Ahsan menoleh cepat. Dahinya berkerut dalam. Nandini terkejut melihat suaminya yang langsung tancap gas begitu melihat Ahsan. Ini adalah Santaka versi tergarang yang pernah Nandini lihat.
Rasain kamu, Gus Ahsan! Lagian ganggu banget. Kalau diliat Ning Sarah, habis aku dirujak. Hhhm, Gus Taka, kalau marah tambah ganteng....
Nandini melirik sinis ke arah Ahsan. Santaka mendekati mobilnya.
"Gus Taka, berlebihan banget. Kayak bukan anak gaul saja. Kan pernah hidup di luar pondok. Berteman seperti ini kan wajar.
Saya tertarik sama mesin. Mbak Dini juga. Gus Taka kan ndak suka mesin. Siapa tau Mbak Dini lagi suntuk, butuh temen ngobrol. Sebatas itu saja."
"Gus Ahsan... Sampeyan lupa sekarang lagi nginjek tanah apa? Tanah pondok. Saya walaupun bukan pengurus pondok, tapi jiwa saya anak pondok.
Aturan pondok saya jalankan dalam keseharian di luar pondok. Pemikiran Gus Ahsan ternyata sebebas ini? Bagaimana kalau Gus Yasa tau, salah satu gurunya, seliberal ini?" Santaka berdiri di depan Ahsan.
Ahsan membuang wajahnya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana kain. Rahangnya mengetat.
Batin Ahsan mengutuk Santaka sebagai perebut. Ahsan merasa lebih berhak terhadap Nandini, karena mengenal dekat Nandini lebih dahulu daripada Santaka.
Memang berita yang beredar, Santaka dan Nandini dekat hanya dalam waktu satu bulan. Kenal dekat setelah Nandini berlangganan kue SS. Itu yang diceritakan jika ada yang mempertanyakan kisah mereka.
Ahsan yang merasa akrab dengan Nandini sejak awal menyervis motornya di bengkel Surbakti, merasa menyesal tak berani memperjuangkan Nandini. Santaka adalah perebut gadis impiannya.
"Dini, aku pamit ya, mau ngajar. Terima kasih buat ngobrol serunya." Ahsan melangkah cepat. Bahunya nyaris bertubrukan dengan pundak Santaka. Mata mereka saling menatap tajam.
Nandini keluar dari mobil dengan wajah tak enak. "Gus, saya ndak ngobrol sama dia. Gus Ahsan bohong, dia ngoceh sendiri dari tadi."
Santaka meletakkan piring di atas kap mobil. Ia tarik Nandini ke dalam pelukannya. "Kenapa dia bisa panggil nama kamu, sementara aku manggil kamu, Mbak?"
Nandini terkejut mendengar penuturan sang suami. Senyum terkembang di wajahnya. "Gus ndak pernah minta. Saya sebenernya... ndak suka dipanggil Mbak."
Santaka melepas pelukannya. "Kamu udah bisa terima kalau aku suamimu kan?" Nandini mengangguk perlahan.
"Jangan lagi ada kata saya atau panggilan formal lagi kalau kita lagi berdua. Selayaknya pasangan saja. Kamu setuju kan?" Santaka mengelus pipi istrinya.
Nandini tersenyum, kembali mengangguk. "Panggil aku, Mas." Santaka menatap dalam pada Nandini.
Nandini balas menatap suaminya. "Mas Taka, gitu? Terus aku apa?"
"Adek. Sama Sayang. Boleh?" Santaka melipat bibirnya.
Nandini terkikik. "Hhmm... Boleh... Mas tuh apa-apa izin terus. Lucu."
Santaka tersenyum simpul. "Aku takut kamu ndak nyaman. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin supaya kamu nyaman saja, kamu masih perlu waktu.
Apalagi kalau kamu ndak nyaman. Aku takut walaupun sudah ganti kalender, tetep ndak diaku sama kamu."
Nandini kembali tertawa. "Terima kasih ya. Iya sih, kalau Mas tipenya kayak Gus Yasa, kayaknya aku terima nasibnya kapan-kapan." Santaka ikut tertawa.
"Jadi perlu Gus Ahsan ikut campur ya, supaya kita lebih cair?" Nandini mengerlingkan mata.
Wajah Santaka mengeras mendengar nama sepupunya disebut sang istri. "Kamu akrab ya sama dia, Dek?"
Nandini tersenyum mendengar panggilan baru dari sang suami. "Siapa tadi, coba ulang?"
"Apaan?" Santaka menyentil hidung istrinya.
"Ih, mainin idung terus." Nandini mengelus hidungnya. Santaka terkekeh.
"Eh, jawab dong, Dek. Kamu akrab sama Gus Ahsan?" Santaka meraih tangan Nandini dan meremasnya.
"Dia langganan servis motor, dan pasti aku yang megang. Kalau Mas kan selalu Bapak yang megang. Pernah aku sekali, karena Bapak lagi keluar ya? Kalau ndak salah." Nandini nampak berpikir.
"Iya, karna aku mikirnya ya sama laki-laki lebih enak, ndak kagok. Tau gitu dari dulu aku minta diservis sama kamu. Udah punya anak kali ya kita sekarang, kalau gitu," seloroh Santaka.
Nandini terkekeh. Ia pukul pelan lengan suaminya. "Emang kalau ndak gara-gara digerebek, Mas mau nikah sama aku?"
"Pertanyaan yang sama, dari aku buat kamu." Santaka mengulum senyum. Mereka berdua tergelak.
"Terus, lanjutin cerita tentang Ahsan." Santaka mengelus punggung tangan istrinya.
"Ih, kepo banget Mas. Dia ndak penting buat aku. Males ceritanya." Nandini merengut.
"Aku pengen denger, Sayang." Santaka dan Nandini kembali terkekeh mendengar panggilan lain dari sang suami.
"Jadi akrabnya ya karna kalau servis, dia suka nongkrong di bengkel. Ngajak ngobrol. Ndak tau aku kalau dia juga gus. Dia ndak pernah bilang." Nandini memiringkan bibirnya.
"Sudah lama dia servis di bengkel Bapak?" cecar Santaka.
"Hhmm, ampir setaun kayaknya, pokoknya lebih dari setengah taun...." Mata Nandini mengernyit.
Santaka merapatkan bibirnya. Akhirnya dia bisa menduga jika Ahsan sudah lama tertarik pada istrinya. Ia harus waspada. Ia tahu karakter Ahsan sejak kecil.
"Dek, jangan tanggepin Ahsan ya...." Wajah Santaka terlihat serius.
"Iya... Tadi juga memang ndak aku tanggepin. Dia saja ngeyel." Nandini menghela napas.
"Dia ngomong apa?" kejar Santaka lagi.
"Katanya orang tuanya mau datang, besok. Aku mau dikenalin ke mereka. Apa coba maksudnya kayak gitu?" Nandini mencibir.
Santaka mengeratkan genggamannya bersama Nandini. Rahangnya mengetat. Mata teduh itu menatap jauh ke arah lantai.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj