NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

garam dan gengsi

Satu jam setelah Eric pergi, Vivian baru berani keluar dari kamar.

Langkahnya pelan. Kaki masih lemas, bekas semalam. Tangan kanannya pegangan pagar tangga, tangan kiri ngelus perut yang kadang _nyut-nyutan_.

Turun ke lantai satu, aroma kopi dan roti bakar kecium. Nampak 3 sosok manusia ada di ruang tengah.

Alea, duduk sopan di sofa _single_. Chindy, sudah membaik walaupun wajahnya masih sedikit pucat, bibirnya gak segincu biasanya. Dan... Andre. Duduk di seberang Chindy, jas masih rapi, tapi rautnya kaku.

Entah sedang membicarakan apa. Mungkin minta maaf karena makan malam yang gagal tadi malam.

Vivian tak tertarik. Gak ada tenaga buat drama pagi. Gadis itu langsung mengarah ke dapur, ke para pelayan yang sedang membereskan sisa sarapan di meja marmer.

Namun mata Andre tak bisa bohong. Ekor matanya mengikuti langkah Vivian. Dari tangga, ke dapur. Punggung itu. Gaun rumah _sage green_. Rambut diikat setengah. Lehernya... ada bekas kebiruan samar yang gak ketutup kerah.

Andre genggam gelasnya kenceng.

"Ibu mana?" Tanya Vivian saat sampai di dapur. Suaranya ke Bi Ijah yang kebetulan lagi lap meja.

"Ibu pergi bersama Tuan Eric, Nyonya," sahut Bi Ijah, nunduk. "Katanya ada rapat dadakan di kantor pusat. Penting."

Vivian hanya mengangguk kecil. _Pantes sepi._

Kemudian duduk di kursi bar. Mengambil selembar roti bakar di piring. Memakan-nya satu kali santap. _Kriuk_. Hambar.

Namun sepotong roti saja tak cukup. Perutnya demo. Bayinya minta gizi. Vivian bangkit, jalan ke arah dapur kotor.

Dekat ke kompor yang sedang dibersihkan pelayan. Bau _sunlight_ masih kecium.

"Nyonya mau makan apa? Biar saya masakin," tanya pelayan itu, Mbak Sri, buru-buru lepas lap.

"Tidak, kalian selesaikan saja pekerjaan kalian," ucap Vivian sambil nyomot celemek warna _dusty pink_ yang digantung tak jauh dari kulkas. "Aku akan masak. Pengen nasi goreng."

Gadis itu siap tempur. Rambut diikat kenceng, lengan baju dilipat.

Vivian mulai menyalakan kompor. _Ceklek_. Api biru nyala. Menuangkan sedikit minyak di wajan besi. _Sss..._ Bawang putih cincang masuk. Harum. Hari ini masak nasi goreng, resep andalan Vivian Lin di dunia nyata. Obat _stress_.

Masakannya sudah hampir selesai. Nasi udah _ngepul_, kecap udah rata, telur orak-arik udah nyampur. Tinggal diberi sedikit garam. Biar gak hambar.

Gadis itu meraih wadah garam keramik, matanya masih tertuju pada nasi di wajan, diaduk pelan.

"Aku ikuti katamu."

Terdengar suara lemah tapi tegas dari belakang. Chindy.

Dengan sigap Chindy udah berdiri di sebelah Vivian, tangannya mengambil wadah kecil berisi garam duluan. Wajahnya masih pucat, tapi matanya... nyala. Ada api.

Mendengar itu Vivian sampai terlonjak. Spatula hampir jatuh. "Kau sudah memikirkannya?" Tanya Vivian, meyakinkan. Bibirnya tersenyum, tapi matanya masih menatap wajan. Jaga gengsi.

"Iya," Chindy napas. Panjang. "Kali ini aku tak akan kalah. Aku udah mikir semalaman. Kalau Andre suka padamu..." dia jeda, genggam wadah garam kenceng, "...akan aku rebut dia darimu."

Ucapnya penuh ambisi. khas CEO yang tak menyerah walau pernah bangkrut dua kali pas awal buka butik.

Vivian tersenyum. Lebar. Akhirnya. _Checkpoint_ 1 selesai.

"Menarik laki-laki itu sama seperti memasak, Chindy," ucapnya penuh filosofi, tangannya pelan mengambil garam dari tangan Chindy. Jari mereka sentuhan sedetik. "Perhatianmu tidak boleh kurang, agar tak hambar. Tidak pula berlebihan, nanti rasanya tak enak."

_Srett..._

Dia menaburkan garam sedikit ke nasi goreng yang sebentar lagi matang. Pas. _Perfect_.

Chindy diem. Nyerap. Otaknya yang biasa ngitung _ledger_ sekarang ngitung strategi cinta.

Chindy mulai punya semangat mengejar cintanya. Memilih bersekutu dengan Vivian, kakak ipar yang dulu dia benci. Ending hidup Chindy di novel asli, yang meninggal kelaparan di apartemen karena depresi dan tak menikah sampai tua, berhasil diubah.

Sekarang pikirannya bukan cuman tentang kerja, tentang benci Vivian, tentang dendam Doni. Tapi ada cinta. Ada Andre. Ada hidup.

"Ajari aku," bisik Chindy. Pelan. Harga dirinya turun setengah.

Vivian matiin kompor. _Klek_. Noleh. Senyum. "Makan dulu. Perut kenyang, otak jalan."

...

Sementara itu di luar rumah, di _carport_, Andre mau masuk ke dalam mobilnya. _BMW_ hitam. Pintu udah kebuka.

Alea jalan ke arah mobilnya sendiri, _Mini Cooper_ putih. Tumitnya _ketak-ketok_ di lantai.

"Kebetulan arah rumah sakit dan sekolah sama, Dok," Tanya Andre tiba-tiba, nahan pintu mobilnya. Suaranya basa-basi, tapi matanya gak bohong. "Mau kuantar sekalian? Daripada bawa dua mobil."

Alea berhenti. Nengok. Ngeliat Andre. Ngeliat rumah Wijaya. Nginget _hickey_ di leher Vivian tadi pagi. Nginget Eric diem aja.

"Baik," jawab gadis itu. Singkat. Senyum profesionalnya retak dikit. Dia banting stir. Masuk ke mobil Andre.

Beberapa saat di mobil hanya ada keheningan. AC nyala. Bau parfum Andre, _woody_. Di luar, Jakarta macet. _Playlist_ Andre muter lagu _jazz_ pelan.

Alea ngeliat ke jendela. Tangannya ngeremas tas dokter di pangkuan.

"Apa kamu suka Vivian?" Tanya Alea tiba-tiba. Gak ada _intro_. Nembak.

Andre kaget. Tangannya di stir goyang dikit. "Hm?"

"Dari tatapanmu di pesta ulang tahun Cika," lanjut Alea, nengok. Matanya dokter, jeli. "Lirikanmu tadi saat melihatnya turun dari tangga. Cara kamu diem pas Chindy cerita soal dia. Apa kamu suka dia?" Tanyanya lagi. Nadanya datar. Tapi ujungnya bergetar.

Andre diem. Lama. Lampu merah.

Terus senyum. Pahit. Senyum yang udah kalah sebelum perang. "Bodoh laki-laki kalau tak suka dia," jawabnya jujur. Jujur banget. "Cantik. Mempesona. Pintar. Auranya... beda. Dia kayak matahari. Namun sayang..." Ucapannya terpotong. Lampu ijo.

"Sayang Vivian sudah menikah? Sebentar lagi punya anak?" Potong Alea. Dingin. _Checkmate_.

Andre gak jawab. Cuma gumaman. _Hhh_. Ngaku.

Beberapa saat kemudian hanya ada suara klakson dari luar. _Tin! Tin!_ Bajaj nyelip.

Andre ngetuk stir. Sekali. Dua kali.

"Apa kau sangat suka dia? Ingin sekali memilikinya?" Tanya Alea lagi. Kali ini kepalanya nengok full ke Andre. Matanya nyelidik. Matanya... basah. Tapi ditahan.

Andre gak nengok. Matanya lurus ke jalan. Tapi rahangnya keras.

"Kalau ada kesempatan..." sahut Andre. Suaranya pelan. Tapi berat. Kayak batu. "...aku sangat ingin memilikinya. Gak peduli dia milik siapa. Gak peduli dia..."

_...hamil_. Kata itu gak keluar. Karena Andre gak tau.

Alea diem. Nafasnya berat. Tangannya ngeremas tas makin kenceng sampai buku jarinya putih.

Di otaknya muter: _hickey_ Vivian. Eric diem. Eric nikahin Vivian tapi gak cinta. Vivian pamer. Eric nafsu. Kabar cerai bohong.

Kalau Eric cuma nafsu... kalau Eric gak cinta... berarti Vivian gak bahagia? Berarti Vivian bisa direbut?

Mobil berenti di lampu merah lagi. Pas depan RS Harapan Bunda. Tempat Alea kerja.

Alea nengok ke Andre. Senyum. Senyum pertamanya hari ini yang tulus. Tapi dingin.

"Kamu bisa," sahut Alea. Bibirnya geter. "Asal... ikuti perkataanku."

_TING_.

Lampu ijo.

Andre injek gas. "Maksudmu?"

Alea natap lurus ke depan. Ke gedung rumah sakit. Ke IGD. Ke tempat di mana semua _ending_ diubah.

"Antar aku masuk dulu," bisik Alea. "Nanti malam, aku ke apartemen kamu. Kujelasin semua rencananya."

_Deg_.

Chindy ngejar Andre, Andre ngejar Vivian siapa yang menang?.

Reting dong 1-10 seberapa seru novel ini... tulis di komen😘

1
Uthie
Semoga sihhh pngaruh lain di otaknya lebih dominan 😁👍
lebih baik milih yg bernapas, sefrekuensi, dan bisa langsung di ajak ngobrol and melukis bareng-bareng 😁👍
daripada terus memandangi lukisan wanita benda mati aja, yg juga udah punya laki and lagi hamil anak orang pula 😜
Uthie
mantappp dehhh menghalau pengaruh buruk nya Vivian 👍😁
Uthie
Pokoknya bikin Vivian tetep jadi strong Women 💪💪🤨
buat bisa menghempas kan para hama wereng yg menggatal 😡😡💪
Uthie
Intinya sihh mereka sudah saling bisa menerima satu sama lain👍🤗
semoga gak goyah jika ada godaan yg bakal ganggu hubungan mereka lagi 👍👍
Uthie
Saya mahhh sukkkka selalu ceritanya 👍😘🤗
Anne
hanya sedang meraba hati.. n smg hati kecilny bs menuntun dia kelangkah yg baik. yg g merugikan diriny ataupun org lain.
Dinda Putri
mudah2 han baik
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!