NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 12

“Mobil siapa itu? Tidak biasanya ada mobil semewah itu terparkir di sekolah kita.”

“Bukankah itu mobil keluaran terbaru? Gue dengar-dengar harganya fantastis.”

“Kira-kira siapa ya yang mau dijemput?”

Berbagai macam bisikan riuh memenuhi area parkiran sekolah. Kedatangan sebuah mobil keluaran terbaru sukses mencuri perhatian hampir seluruh murid di sana.

Bisikan-bisikan penuh rasa penasaran membuat suasana semakin ricuh. Widya, Ayi, dan Alya pun ikut dibuat penasaran dengan sosok yang berhasil menghebohkan satu sekolah hanya karena kemunculannya.

Sepasang sepatu pantofel hitam mengilap lebih dulu menyembul keluar, membuat semua orang menahan napas penasaran. Seorang pria kemudian turun dari mobil dengan balutan jas mahal yang tampak elegan di tubuhnya. Ia berdiri di balik pintu mobil dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya.

Beberapa siswi memekik tertahan, terpukau oleh ketampanan pria itu. Sementara sebagian siswa laki-laki hanya bisa mencibir kecil karena merasa kalah telak.

Topik pembicaraan yang awalnya hanya soal mobil mewah kini berubah menjadi kekaguman pada sosok pria tersebut. Bak melihat dewa Yunani muncul di tengah siang bolong.

Kaki jenjangnya melangkah memasuki area sekolah, membuat beberapa siswi hampir pingsan dibuatnya. Mereka mengenal pria itu. Mereka tahu betul siapa dirinya.

Pria pengusaha terbesar di negara mereka. Max Alexander Wijaya. Entah keberuntungan apa yang membuat mereka bisa melihatnya secara langsung. Ternyata, pesona seorang Max jauh lebih mematikan saat dilihat secara nyata dibanding hanya lewat layar televisi.

“Pulang bersama saya.” Suara berat Max terdengar rendah namun tegas.

Alya terkejut hingga refleks menunjuk dirinya sendiri. “A-aku?” tanyanya terbata.

“Hm.” Max menjawab singkat dan datar.

Pria itu sengaja menjemput Alya sendiri tanpa menyuruh Jayden ataupun sopir lainnya. Semua ini adalah permintaan langsung dari ibunda tercintanya. Jika ia menolak, bisa dipastikan sang mama akan melakukan hal-hal konyol seperti biasanya.

Widya dan Ayi saling menyikut pelan, memberi ruang agar sahabat mereka menerima ajakan tersebut.

“Ta-tapi kenapa? Aku bisa pulang sendiri seperti biasa,” tolak Alya halus, meski suaranya terdengar gugup.

Max membuka kacamatanya perlahan, menatap sekitar sebelum kembali mengarahkan pandangannya pada Alya. “Ada hal yang ingin saya bahas. Tidak ada penolakan, karena kamu tidak diizinkan menolak.”

Setelah mengatakan itu, Max langsung berbalik dan berjalan lebih dulu menuju mobilnya.

Alya tercengang melihat sikap pria tersebut. Mentang-mentang tampan, seenaknya sendiri, gerutunya dalam hati.

“Pergilah,” ujar Widya sambil mendorong pelan bahu Alya.

“Tapi—”

“Pergilah, Al. Hitung-hitung perkenalan sama calon suami.” Ayi berbisik jahil hingga membuat Alya menarik napas panjang.

“Yaudah, gue balik dulu. Bye, guys!” ucap Alya sebelum berlari kecil menuju mobil Max.

Semua yang dilakukannya tak luput dari tatapan para murid. Tatapan penuh rasa penasaran dan berbagai asumsi liar langsung bermunculan di kepala mereka masing-masing.

**

Alya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah pengemudi. Ia sudah duduk dengan rapi, tetapi Max tak kunjung menjalankan mobilnya.

Alya mulai bingung. Sudah hampir tiga menit mereka berada di dalam mobil, namun pria itu masih diam seribu bahasa. Dengan jantung yang berdegup kencang, Alya akhirnya memberanikan diri membuka suara.

“Kenap—”

Kalimatnya terpotong ketika Max tiba-tiba mengikis jarak di antara mereka.

Napas Alya tertahan. Jantungnya berdetak semakin cepat, dipenuhi rasa gugup dan harap-harap cemas terhadap tingkah pria dewasa di hadapannya.

Alya bisa merasakan aroma mint dari napas Max yang begitu dekat. Tanpa sadar, matanya mulai menelusuri setiap inci wajah pria itu. Tampan. Bukan, lebih tepatnya sangat tampan.

Rahangnya tegas, hidungnya mancung, alisnya tebal, dan bulu matanya lentik. Belum lagi bola mata cokelat keemasan itu yang membuat Alya nyaris lupa cara bernapas.

Namun perlahan, pandangan gadis itu berhenti di bibir Max. Bibir yang bentuknya begitu pas—tidak terlalu tipis, juga tidak terlalu tebal.

Wajah Alya memerah seketika. Ia menelan ludah kasar, bahkan tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum kecil membayangkan hal-hal liar yang mulai memenuhi kepalanya.

Tangannya perlahan terangkat, nyaris menyentuh jakun pria itu. Namun gerakannya langsung terhenti saat terdengar suara—

Klik!

Alya tersadar.

Max ternyata hanya memasangkan seatbelt untuknya.

“Terima kasih,” ucap Alya malu, sementara Max hanya membalas dengan deheman singkat.

Mobil kembali melaju meninggalkan area parkir sekolah. Selama perjalanan, tak satu pun dari mereka membuka suara. Hanya suara mesin mobil dan hiruk-pikuk jalanan kota yang terdengar samar memenuhi keheningan.

Berbanding terbalik dengan Max yang terlihat tenang, Alya justru sibuk merutuki dirinya sendiri. Wajahnya yang semerah kepiting rebus bahkan belum kembali normal sepenuhnya.

Ia kesal pada dirinya sendiri karena sudah berpikir sejauh itu. Ketampanan pria tersebut benar-benar hampir membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Max tetap diam dengan pembawaan dirinya yang tenang dan sulit ditebak. Padahal pria itu sadar sepenuhnya kalau Alya sejak tadi terus melirik dirinya. Hanya saja, ia memilih diam dan membiarkannya berlalu begitu saja. Ia sudah terlalu terbiasa mendapat tatapan seperti itu. Jadi, untuk apa dipermasalahkan?

“Kenapa berhenti di sini?” tanya Alya penasaran.

Mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah butik terkenal. Alya menatap bangunan megah itu dengan bingung.

“Sebelum pulang, saya ingin kamu memeriksa satu hal,” ujar Max datar.

Alis Alya langsung berkerut bingung. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Max sudah lebih dulu keluar dari mobil membuatnya menghela napas panjang.

“Huh! Sabar, Alya. Belum jadi istri, jadi jangan berharap dibukakan pintu,” gumamnya sambil mengelus dada.

Ting!

Suara lonceng pintu berbunyi saat mereka memasuki butik mewah tersebut. Butik itu terkenal sebagai toko dengan koleksi pakaian paling mahal di negara mereka. Banyak orang mengatakan hanya kalangan tertentu yang bisa masuk ke tempat itu.

Dan ternyata rumor tersebut memang benar adanya.

Begitu masuk, Alya langsung dibuat terpukau oleh interior butik yang begitu megah dan elegan. Semua terlihat mahal dan berkelas.

Udara sejuk dari pendingin ruangan menyambutnya, membuat Alya merasa sedikit lebih rileks. Ia memang berasal dari keluarga kaya, tetapi kemewahan seperti ini baru pertama kali ia rasakan secara langsung. Bahkan dirinya sendiri sampai merasa norak karena terus-menerus terpukau melihat setiap sudut butik tersebut.

Lamunannya buyar saat seorang pelayan membungkukkan badan sopan di hadapannya.

“Silakan ikut saya, Nona,” ujar pelayan itu ramah.

“Eh? Ke mana?” tanya Alya bingung.

“Tubuhmu akan diukur untuk baju pernikahan yang nanti akan kamu gunakan,” jawab Max dari ujung ruangan.

Pria itu berkata tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari majalah di tangan.

“Oh… begitu. Baiklah,” balas Alya kaku sebelum mengikuti pelayan tersebut.

Pelayan itu membawanya menuju ruang ganti. Beberapa pelayan lain langsung mulai mengukur tubuh Alya dengan profesional.

Alya sempat bingung. Di sana sudah tersedia banyak gaun pengantin indah yang bisa dicoba satu per satu. Jadi kenapa ia masih harus diukur seperti ini?

“Maaf, Kak… kenapa harus diukur? Bukankah aku bisa mencoba gaun yang sudah jadi?” tanya Alya, tak mampu lagi menahan rasa penasarannya.

“Tuan Max meminta kami mengukur langsung ukuran tubuh Anda, Nona. Karena gaun pernikahan ini dibuat khusus hanya untuk Anda seorang.”

Alya terdiam seketika.

Khusus untukku?

Bukankah itu berarti gaun yang akan ia gunakan nanti benar-benar dibuat khusus untuk pernikahannya sendiri… dan tidak diperjualbelikan kepada siapa pun?

Entah kenapa, dada Alya tiba-tiba terasa hangat memikirkan hal itu. Ia bahkan tidak tahu harus mengekspresikan perasaannya seperti apa sekarang.

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!