Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Harga Menelan Langit*
Mayat lima pembunuh Klan Luo masih hangat di lantai gua, darah mereka meresap perlahan ke tanah berbatu yang dingin. Ling Fan berdiri di mulut gua dengan napas berat yang tersengal. Rambut panjangnya yang terikat pita biru kini lepek oleh keringat dan darah musuh yang memercik saat pertarungan tadi.
Jubah biru gelapnya sobek di bagian dada, menampakkan kulit pucat yang kini dialiri urat hitam tipis akibat tekanan energi yang ia serap.
“Paman... kau baik-baik saja?” tanya suara kecil dari balik jubahnya dengan nada khawatir.
“Hanya sedikit panas. Tubuh Penelan Langit ini... terkadang rasanya seperti menelan bara api,” jawab Ling Fan sambil meringis kesakitan.
“Energi mereka kasar. Biar aku ambil sedikit agar bebanmu berkurang.”
“Ambil saja. Pajakmu memang tidak pernah murah, Raja Lapar.”
Telur Hitam berdenyut sekali, dan garis perak di cangkangnya memanjang satu senti. Ling Fan menatap ke arah barat, ke arah Kota Lembah Hijau tempat markas Klan Luo berada.
“Kalian yang mulai mengirim bajingan-bajingan ini ke guaku. Memburu sampah tanpa Dantian ini adalah kesalahan terbesar kalian,” desis Ling Fan dengan suara serak.
“Kita ke sana sekarang, Paman? Aku masih ingin makan yang lebih manis.”
“Ya. Utang darah harus dibayar darah. Kita akan membuat mereka menyesal telah menyentuh keluarga Ling.”
Ling Fan melangkah keluar gua. Kali ini gerakannya tidak secepat kilat karena tubuhnya terasa seperti menahan gunung akibat kapasitas energi yang hampir mencapai batas.
Kota Lembah Hijau terlihat sibuk, namun kedamaian itu hancur seketika saat pintu Aula Utama Klan Luo meledak menjadi serpihan. Debu mengepul menutupi sosok pemuda yang melangkah masuk dengan tatapan dingin. Lima orang di dalam aula langsung berdiri, termasuk Kepala Klan Luo Tian dan Tetua Luo Feng yang memancarkan tekanan Inti Emas.
“Ling Fan? Sampah Klan Ling masih hidup? Dan kau berani datang ke sini sendiri?” tanya Luo Feng sambil menyeringai hingga gigi kuningnya terlihat.
“Bagus. Aku tidak perlu repot mengirim pembunuh lagi ke hutan,” timpal Luo Tian dengan tawa meremehkan.
“Kalian berlima,” kata Ling Fan sambil menunjuk mereka satu per satu, “hari ini adalah hari terakhir klan ini berdiri.”
“Kurang ajar! Mati kau, sampah!” teriak Tetua ke-3 yang langsung melesat maju. “Jurus Cakar Harimau Penghancur Tulang!”
Cakar Qi emas menghantam dada Ling Fan dengan telak, melemparkannya hingga menghantam pilar aula sampai retak. Darah menyembur dari mulut Ling Fan, dan ia bisa merasakan dua tulang rusuknya patah seketika.
“Paman! Dia menyakitimu!” teriak telur hitam di dalam kepalanya.
“Biarkan saja... ini hanya umpan agar aku bisa menyentuh Dantiannya,” bisik Ling Fan dalam hati sambil berusaha berdiri.
“Kau... menelan jurusku?” tanya Tetua ke-3 dengan wajah tertegun saat melihat luka Ling Fan menutup perlahan.
“Giliranku,” sahut Ling Fan yang tiba-tiba menghilang dan muncul di depan pria itu.
Telapak tangan Ling Fan menempel di Dantian musuhnya. Teknik menelan bekerja seketika, menyedot seluruh kultivasi dan vitalitas sang tetua hingga tubuhnya mengeriput dan menjadi mayat kering dalam hitungan detik.
“Teknik iblis! Dia adalah kultivator iblis!” teriak Luo Tian dengan wajah pucat.
“Teknik iblis pun ada batasnya, bajingan kecil. Kau pikir bisa menelan Inti Emasku?” tantang Luo Feng sambil maju ke depan. “Tombak Petir Klan Luo!”
Tombak petir ungu melesat ke arah jantung Ling Fan dengan kecepatan yang mustahil dihindari. Ling Fan membuka kedua telapak tangannya, menciptakan pusaran hitam-perak untuk menyambut serangan tersebut.
“Telan!” teriak Ling Fan.
Ledakan dahsyat terjadi saat tombak petir itu dilahap habis, namun harga yang harus dibayar sangat mahal. Suara tulang patah terdengar dari bahu dan lutut Ling Fan, dan darah menyembur dari tujuh lubang di wajahnya.
“Satu... aku hanya mampu menelan satu Inti Emas saat ini,” desis Ling Fan sambil tersenyum gila di tengah rasa sakit yang luar biasa.
“Kalau begitu mati!” teriak Luo Tian dan Luo Feng yang kini menyerang bersamaan bersama dua tetua lainnya.
Empat lawan satu. Ling Fan yang sekarat menyadari bahwa ia tidak bisa menang jika terus bertahan di aula ini. Dengan sisa tenaganya, ia menghantam lantai hingga jebol dan melesat melarikan diri ke arah Hutan Kabut Hitam.
Hutan Kabut Hitam menyambut Ling Fan dengan keheningan yang mencekam. Ia tersandung akar pohon dan jatuh tersungkur sambil memuntahkan gumpalan darah hitam.
“Paman, kau harus bangun! Seseorang mendekat!” peringat telur hitam dengan nada panik.
“Aku tahu... tubuh ini... benar-benar hampir hancur,” keluh Ling Fan sambil mencoba merangkak.
“Ketemu kau, sampah!” teriak Tetua ke-4 yang berhasil menemukannya duluan. “Kepala Klan bilang kau sekarat, dan ternyata kau memang sudah tidak bisa apa-apa.”
Tetua itu mengangkat pedangnya dengan perlahan, menikmati momen kemenangan yang sudah di depan mata. Ling Fan mendongak, matanya yang penuh darah menatap tajam ke arah musuhnya.
“Kau... salah orang jika mengira aku sudah habis,” bisik Ling Fan pelan.
“Apa kau bilang?” tanya tetua itu sambil mendekat.
“Menelan!”
Ling Fan menabrakkan diri dan menempelkan tangannya di leher tetua itu. Jeritan melengking memecah kesunyian hutan saat seluruh darah dan sumsum tulang pria itu disedot habis tanpa ampun. Luka Ling Fan menutup sepuluh persen, cukup untuk membuatnya berdiri kembali meskipun bahunya masih patah.
“Tiga lagi... termasuk Luo Feng,” gumam Ling Fan sambil mengatur napas.
Namun, sebelum ia sempat memulihkan diri lebih jauh, Luo Feng dan Luo Tian muncul bersamaan dari balik pepohonan. Mereka menatap mayat kering rekan mereka dengan kemarahan yang meluap.
“Jadi ini caramu memisahkan kami? Licik seperti iblis,” kata Luo Tian dingin.
“Tidak akan ada lagi kesempatan bagimu. Mati di sini, sampah Klan Ling!” seru Luo Feng sambil menghunus pedangnya.
Dua serangan Inti Emas menghantam Ling Fan secara bersamaan dari arah depan dan belakang. Tubuhnya terbang menembus tiga pohon besar sebelum akhirnya jatuh ke dalam kegelapan yang sangat dalam.
“Jururangan Ratapan Jiwa... tempat yang cocok untuk mayatmu!” teriak Luo Feng dari atas tebing.
Ling Fan jatuh dan menghantam tumpukan tulang belulang di dasar jurang yang dipenuhi Yin Qi tebal. Kesadarannya hampir hilang sepenuhnya, dan darah mulai menggenang di sekeliling tubuhnya yang remuk.
“Paman... Paman jangan tidur!” teriak telur hitam di dalam kepalanya berkali-kali.
“Sangat... dingin... Keponakan,” gumam Ling Fan dengan suara yang hampir menghilang.
“Aku akan memberimu kehangatan! Jangan pergi!”
Di atas jurang, suara Luo Feng masih menggema penuh kebencian. “Dengar, bajingan! Jika kau belum mati, aku akan turun untuk membakar mayatmu menjadi abu!”
Di dasar jurang yang sunyi, jari Ling Fan bergerak sedikit sebagai respons. Telur Hitam di dadanya berdenyut sangat kuat hingga muncul retakan baru di permukaan cangkangnya. Cahaya perak bocor dari celah itu, menerangi tumpukan tulang di sekeliling mereka dengan pendaran yang mistis.
“Paman... aku akan membuka segelku sedikit lagi... kau harus bertahan,” bisik suara itu kini terdengar lebih dewasa dan berwibawa.
“Lakukan saja... apa pun... untuk membuat bajingan itu menyesal,” jawab Ling Fan dalam hati sebelum ia kehilangan kesadarannya sepenuhnya.