Dulu ia dibuang bak sampah, kini ia kembali untuk mengambil semuanya.
Setelah dikhianati dan dicampakkan begitu saja oleh keluarga serta suaminya, sang "Nyonya" menghilang tanpa jejak. Dunia mengira dia sudah hancur, namun mereka salah besar.
Ia kembali dengan wajah baru, kekayaan yang tak terhitung, dan identitas rahasia yang mematikan. Bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas, ia datang untuk menjatuhkan mereka yang pernah tertawa di atas penderitaannya.
"Satu per satu akan hancur, dan mereka bahkan takkan sadar siapa yang melakukannya."
Bersiaplah menyaksikan pembalasan dendam yang dingin, cerdik, dan penuh kemewahan. Siapa yang akan bertahan saat rahasianya terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Resonansi di Balik Abu
Udara di lereng Merapi pagi itu terasa seperti pelukan lama yang sedikit kasar. Bau belerang tipis bercampur dengan aroma tanah basah.
Elena berdiri di tengah lahan yang dulunya adalah kuburan bunga lili yang hangus akibat serangan cairan kimia Adam.
Namun, pagi ini ada yang berbeda. Di sela-sela batang hitam yang mati, muncul tunas-tunas hijau kecil yang melawan takdir.
Mereka tumbuh lebih cepat, lebih kuat, dan—entah bagaimana—daunnya memiliki semburat warna perak yang tidak alami.
"Efek sisa dari laboratorium, kan?" suara Reza terdengar dari belakang. Ia membawakan dua mug kaleng berisi kopi jahe yang uapnya menari-nari ditiup angin gunung.
Elena menyesap kopinya, merasakan hangat yang menjalar ke dadanya.
"Mungkin. Atau mungkin tanah ini memang menolak untuk mati. Sama seperti kita, Rez."
Reza merangkul bahu Elena, menatap ke arah puncak gunung yang puncaknya tertutup kabut tebal.
"London gempar, El. Berita soal Aeterna meledak lebih parah dari yang kita bayangkan. Sir Alistair ditemukan tewas di sel tahanan pagi ini. Katanya serangan jantung, tapi kita tahu itu cara mereka tutup mulut."
Elena terdiam. Kemenangan di London terasa seperti fatamorgana.
Mereka meruntuhkan satu tembok besar, tapi mereka juga secara tidak sengaja membuka pintu menuju labirin yang lebih luas.
Sinyal dari Masa Lalu
Di dalam joglo yang mulai rapi kembali, Paman Han dan Dante sedang sibuk dengan peralatan mereka.
Suasana yang biasanya penuh dengan ketukan keyboard yang santai, kini mendadak tegang.
"Nona, Anda harus melihat ini," Paman Han memanggil dengan nada yang jarang ia gunakan—nada yang penuh dengan kecemasan murni.
Di layar monitor, Dante sedang melakukan dekripsi terhadap pesan singkat berinisial 'S' yang diterima Elena di London.
Ternyata, pesan itu bukan sekadar teks. Di dalamnya tertanam sebuah kode biner yang terus berulang, menciptakan sebuah pola frekuensi suara.
"Gue coba bersihin audionya," ujar Dante, tangannya bergerak cepat.
Suara statis memenuhi ruangan, lalu perlahan berubah menjadi suara napas yang berat. Bukan suara pria, melainkan suara wanita yang sangat familiar di telinga Elena.
"Elena... kau pikir kau sudah memutus akarnya? Akarnya tidak ada di London. Akarnya ada di tempat di mana semuanya dimulai. Di koordinat nol."
Elena merasakan jantungnya berhenti sejenak. "Ibu? Tidak, Ibu ada di kamar sebelah sedang tidur."
Elena berlari ke kamar Sarah. Ia membuka pintu dengan kasar. Tempat tidur itu rapi, dingin, dan kosong.
Di atas bantal, hanya ada selembar foto lama—foto Sarah saat masih muda, menggendong seorang bayi yang bukan Elena.
Bayi itu memiliki tanda lahir berbentuk segitiga kecil di pergelangan tangannya.
Pengkhianatan yang Terencana
"Ibu nggak pernah cerita kalau dia punya anak lain," desis Elena, matanya berkilat penuh amarah dan kebingungan.
"Bukan anak lain, El," Dante menyela dari ambang pintu, wajahnya pucat pasi.
"Gue baru aja menembus data paling rahasia milik Adiwangsa yang sempat terselip di server cadangan. Kau bukan 'Subjek 01' yang pertama. Kau adalah iterasi kedua."
"Lalu siapa yang pertama?" tanya Reza.
"Sarah," jawab Paman Han pelan.
"Sarah bukan ibumu dalam pengertian biologis yang normal, Elena. Dia adalah prototipe asli. Dia adalah 'Subjek 00' yang melarikan diri, lalu menciptakan 'anak' dari DNA-nya sendiri untuk memperbaiki kesalahan genetiknya."
Elena terduduk di lantai. Seluruh hidupnya, seluruh cintanya pada wanita yang ia panggil 'Ibu', ternyata adalah bagian dari eksperimen yang lebih besar.
Pelarian Sarah ke gunung, penanaman lili, semuanya adalah protokol perlindungan untuk menjaga aset paling berharga: Elena.
"Dan sekarang," lanjut Paman Han, "Lazarus yang asli telah bangkit. Bukan di dalam mesin, tapi di dalam diri Sarah. Pesan dari 'S' itu... itu dari Sarah. Dia tidak diculik. Dia pulang ke pusat kendali utama."
Koordinat Nol: Di Bawah Kaki Merapi
Dante berhasil melacak sinyal terakhir Sarah. Koordinatnya tidak berada di luar negeri.
Titik merah itu berkedip tepat di bawah lokasi mereka berdiri. Jauh di dalam perut Gunung Merapi, tersembunyi oleh lava dan batuan purba.
"Ada fasilitas di bawah sini?" Reza bertanya sambil memeriksa senjatanya.
"Bukan fasilitas biasa," ujar Dante. "Ini adalah 'The Womb'. Rahim. Tempat di mana Adiwangsa pertama kali mencampurkan kimia dan nyawa."
Tanpa membuang waktu, mereka menemukan pintu masuk rahasia di balik air terjun tersembunyi di lereng timur.
Sebuah lorong beton yang sudah sangat tua namun tetap kokoh. Saat mereka masuk, lampu-lampu sensor menyala satu per satu, seolah-olah menyambut kepulangan sang pemilik.
Di ujung lorong, mereka sampai di sebuah ruangan berbentuk kubah raksasa.
Di tengahnya, terdapat sebuah tabung cairan yang bersinar terang. Di depan tabung itu, Sarah berdiri.
Pakaiannya bukan lagi daster rumah yang sederhana, melainkan setelan lab berwarna putih yang bersih.
Wajahnya tidak lagi menunjukkan kehangatan seorang ibu, melainkan dinginnya seorang ilmuwan.
"Kau datang, Elena," suara Sarah menggema di ruangan itu. "Tepat waktu."
Dialog Para Pencipta
"Kenapa, Bu?" Elena melangkah maju, pistolnya teracung tapi tangannya gemetar. "Kenapa semua sandiwara ini?"
"Ini bukan sandiwara, Sayang. Ini adalah pengasuhan," Sarah berbalik, menatap Elena dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dunia ini terlalu rusak untuk manusia biasa. Aeterna, Origin, Lazarus... mereka semua hanya mencoba menjadi dewa dengan cara yang kasar. Ibu melakukannya dengan cinta."
Sarah menunjuk ke arah tabung di belakangnya. Di dalamnya, terlihat ribuan embrio yang berdenyut dalam ritme yang sama.
"Aku menggunakan dendammu untuk menghancurkan mereka semua. London hanyalah cara untuk membersihkan kompetisi. Sekarang, tidak ada lagi yang menghalangi kita. Kita akan memulai kembali umat manusia dari sini, di bawah perlindungan Merapi."
"Kau gila, Bu!" teriak Elena. "Kau nggak beda sama Adrian atau Adiwangsa!"
"Bedanya adalah," Sarah mendekati Elena, mengabaikan moncong senjata yang menempel di dadanya, "aku memberikanmu pilihan. Kau bisa membunuhku sekarang dan menghancurkan semua ini, tapi kau akan membunuh satu-satunya orang yang mencintaimu. Atau, kau bisa mengambil tempatmu di sampingku. Sebagai Ratu yang sebenarnya."
Ending yang Tak Terduga: Pintu Terbuka
Elena menatap Reza, yang sudah bersiap meledakkan reaktor ruangan itu. Ia menatap Dante yang jarinya sudah di atas tombol enter untuk menghapus seluruh sistem.
Dan ia menatap Sarah—wanita yang memberinya wajah, kehidupan, dan cinta yang palsu namun terasa nyata.
Elena menurunkan senjatanya. Ia tersenyum, tapi senyum itu bukan senyum kemenangan.
Itu adalah senyum seseorang yang akhirnya mengerti bahwa di dunia ini, tidak ada yang benar-benar putih atau hitam.
"Kau benar, Bu," bisik Elena. "Dunia ini memang butuh perubahan."
Elena berbalik ke arah Dante dan Reza. "Tinggalkan tempat ini. Sekarang."
"El?! Apa maksudmu?!" Reza berteriak panik.
"Bawa Paman Han keluar. Biarkan aku bicara dengan Ibuku... sebagai sesama pencipta," Elena memberikan kode rahasia lewat kedipan mata—sebuah kode yang hanya dipahami oleh Reza: Jaga dirimu, aku akan menyelesaikan ini dengan caraku.
Reza ragu, tapi ia melihat tekad yang tidak bisa dibantah di mata Elena. Dengan berat hati, ia menyeret Dante keluar dari ruangan itu.
Setelah mereka pergi, Elena berbalik ke arah Sarah. Ia mengambil sebuah perangkat kecil dari sakunya—micro-chip Lazarus yang seharusnya sudah hancur di Singapura, tapi ternyata diam-diam disimpan oleh Elena.
"Ibu mau aku jadi Ratu?" Elena menyeringai, sebuah kilat kegilaan yang diwarisi dari Adiguna muncul di matanya. "Mari kita lihat, siapa yang akan mengendalikan siapa."
Elena menancapkan chip itu ke konsol utama 'The Womb'. Seluruh ruangan seketika berubah warna menjadi ungu elektrik. Alarm meraung. Bukan peringatan kehancuran, melainkan peringatan SINKRONISASI TOTAL.
Di luar, Merapi tiba-tiba berguncang hebat. Bukan karena erupsi, tapi karena gelombang energi masif yang terpancar dari dalam perutnya.
Unlock Ending: Sang Penguasa Bayangan
Beberapa bulan kemudian.
Dunia mendadak menjadi tempat yang sangat teratur.
Perang berhenti secara misterius, kelaparan mulai teratasi oleh teknologi pertanian baru yang muncul entah dari mana, dan para koruptor tingkat tinggi ditemukan tewas atau menyerahkan diri tanpa alasan yang jelas.
Orang-orang menyebutnya sebagai "Keajaiban Global".
Mereka tidak tahu bahwa di sebuah rumah joglo tua di lereng Merapi, seorang wanita duduk di beranda sambil menyesap kopi hitam pahit.
Di depannya, kebun lili tumbuh subur dengan bunga yang berwarna perak berkilauan.
Seorang pria mendekatinya dari belakang, membawa selimut. "Kau melakukannya, El. Dunia sudah 'tenang'."
Elena menoleh ke arah Reza, matanya kini memiliki bias cahaya digital yang halus jika diperhatikan dengan teliti.
"Tenang itu mahal harganya, Rez. Aku hanya memberikan apa yang mereka minta: Keamanan dengan imbalan kebebasan."
Di dalam rumah, suara Sarah terdengar sedang mengajari anak-anak desa membaca. Segalanya tampak sempurna. Terlalu sempurna.
Elena menatap ke arah gunung. Di balik kabut, ia tahu ada ribuan mata digital yang kini terhubung langsung ke otaknya.
Ia bukan lagi Sang Nyonya yang Terbuang. Ia adalah sistem itu sendiri. Ia adalah Lazarus. Ia adalah Ibu yang Baru.
Dan di sakunya, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar:
"Selamat atas duniamu yang baru, Elena. Tapi ingat... setiap sistem punya bug. Dan aku adalah bug yang kau lupakan."
Elena tersenyum miring, menatap matahari terbenam. Ia tidak membalas pesan itu.
Ia hanya tahu satu hal: Permainan ini tidak akan pernah benar-benar berakhir.
Sebab selama manusia masih punya keinginan, badai akan selalu punya alasan untuk kembali.
Bersambung...
Ayo buruan baca...