Apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan?
Bukan saat musuh menusukmu dari belakang, tapi saat orang yang kau anggap saudara justru merebut duniamu.
Kinanti harus menelan kenyataan pahit bahwa suaminya, Arkan, telah menikahi sahabatnya sendiri yang bernama Alana, di belakang punggungnya. Kini, dengan kehadiran anak di rahim Alana, Kinanti dipaksa untuk berbagi segalanya.
Tapi, Kinanti bukan wanita yang akan diam saja. Jika mereka ingin berbagi, Kinanti akan memastikan mereka menyesali keputusan itu.
Kita simak kisah selanjutnya di Cerita Novel => Duri Dalam Pernikahan.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Malam itu, gerbang rumahku terasa lebih berat dari biasanya. Saat aku melangkah masuk, aroma masakan yang tercium dari dapur adalah masakan favorit Arkan, resep yang dulu sering kupelajari demi memanjakan lidahnya.
Namun kini, masakan itu bukan untukku. Ia disiapkan untuk menyambut wanita yang telah merampas segalanya.
Suara tawa renyah Alana menyambutku di ruang makan. Dia duduk di kursi yang biasanya menjadi tempatku, dengan tangan yang masih mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Arkan duduk di sampingnya, menuangkan air putih dengan perhatian yang dulu hanya tertuju padaku.
"Akhirnya kamu pulang, Kin," sapa Arkan.
Wajahnya tampak sedikit tegang, matanya menatapku dengan sorot yang sulit kuartikan, ada sisa rasa bersalah yang tertutup oleh obsesi barunya.
Aku berjalan masuk, meletakkan tasku di meja dengan dentuman pelan namun tegas. "Maaf terlambat. Jalanan macet, dan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum masa depan yang kalian agung-agungkan itu dibahas."
Alana tersenyum, sebuah senyuman manis yang terasa seperti sengatan lebah. "Kami hanya ingin memastikan segalanya nyaman untuk bayi ini, Kin. Lagipula, ini rumah kita bersama, bukan?"
Rumah kita bersama ?
Kata-kata itu membuat darahku mendidih, tapi aku tetap tenang. Aku menarik kursi di ujung meja, duduk dengan punggung tegak.
"Tentu saja, Alana. Rumah ini luas, cukup untuk menampung pengkhianatan kalian. Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan? Rencana masa depan?"
Arkan berdehem. "Kami berpikir... setelah anak ini lahir, mungkin lebih baik kita pindah ke rumah yang lebih besar. Atau setidaknya, melakukan renovasi agar ada kamar bayi yang layak. Alana merasa paviliun belakang terlalu sempit dan tidak sehat untuk bayi."
Aku menatap Arkan lekat-lekat. "Renovasi? Dengan uang siapa, Arkan? Apakah kamu lupa bahwa setelah kejadian ini, aku telah membekukan akses keuangan yang selama ini kita gunakan bersama? Arsitek hebat sepertimu harusnya tahu bahwa renovasi membutuhkan dana yang tidak sedikit."
Wajah Arkan memerah. "Aku bisa mencari proyek lain, Kin. Aku tidak akan membiarkan anakku tinggal di lingkungan yang tidak layak."
"Anakmu," tekanku, mengulangi kata-katanya. "Ya, memang anakmu. Tapi rumah ini atas namaku. Renovasi adalah keputusan pemilik rumah, bukan tamu."
Alana meletakkan sendoknya dengan kasar, suaranya beradu dengan piring porselen. "Kinanti, jangan terlalu sombong! Kamu pikir kamu siapa sampai berani mengatur kami seperti pesuruh? Arkan adalah suamimu, dan aku adalah ibu dari anaknya. Kami memiliki hak di sini!"
Aku bangkit berdiri. Tidak ada kemarahan dalam suaraku, hanya ketenangan yang dingin. Aku berjalan perlahan mengelilingi meja, berhenti tepat di belakang kursi Alana. Aku meletakkan tanganku di pundaknya, membuat Alana menegang.
"Alana, sayangku," bisikku tepat di telinganya. "Hak? Hak itu sesuatu yang kamu dapatkan jika kamu memiliki harga diri. Kamu masuk ke rumah ini sebagai orang ketiga, merusak janji suci yang Arkan ucapkan enam tahun lalu. Dan sekarang, kamu berani bicara tentang hak? Kamu tidak memiliki hak apa pun selain hak untuk tinggal di paviliun yang sudah kusediakan."
Alana menepis tanganku dengan kasar. "Aku akan buktikan bahwa Arkan lebih memilihku daripada kamu!"
"Silakan," jawabku santai. "Tunjukkan padanya. Buat dia mencintaimu lebih dari dia mencintai reputasinya, lebih dari dia mencintai kenyamanan hidup yang kuberi. Tapi ingat, Alana, pria yang berselingkuh untuk mendapatkanmu, suatu saat akan berselingkuh untuk meninggalkanmu."
Arkan bangkit, wajahnya penuh frustrasi. "Cukup! Kinanti, jangan buat suasana jadi semakin panas. Aku hanya ingin kita hidup normal. Bisakah kita tidak saling serang?"
Aku menatap Arkan dengan tatapan kasihan. Pria ini, yang dulu kupuja sebagai pelindung, kini hanyalah pria lemah yang terjepit di antara keinginannya sendiri.
"Normal, Arkan? Apa yang kamu sebut normal? Membagi ranjang dengan dua wanita? Mengharapkan istri sahmu memasakkan makanan untuk wanita yang telah menghancurkan pernikahanku?" aku tertawa kecil. "Aku tidak sedang menyerang. Aku hanya sedang membedah realitas yang kalian coba tutup-tutupi dengan drama rumah tangga."
Malam itu berakhir tanpa keputusan. Arkan pergi ke ruang kerja dengan wajah muram, meninggalkan Alana yang menangis tersedu-sedu di ruang tamu.
Dan Aku... Aku tetap tinggal di meja makan, menghabiskan makan malamku sendirian dengan tenang.
Hari-hari berikutnya menjadi sebuah permainan psikologis. Aku sengaja mengatur jadwal rumah tangga agar mereka tidak bisa bersenang-senang.
Aku menarik semua fasilitas kemewahan, menggantinya dengan gaya hidup sederhana yang memaksa mereka untuk keluar dari zona nyaman.
Aku melihat bagaimana Alana, sang putri konglomerat yang tidak pernah mencuci piring seumur hidupnya, kini harus berurusan dengan dapur paviliun yang sederhana.
Aku melihat bagaimana Arkan yang biasanya selalu tampil rapi dengan baju bermerek, kini harus berhemat karena aku tidak lagi memberikan akses ke kartu kredit rumah.
Setiap kali mereka memohon, aku selalu memberikan jawaban yang sama. "Tanggung jawab atas pilihan kalian."
Suatu sore, aku menemukan Alana sedang duduk di taman belakang, menatap ke arah rumah utama dengan tatapan kosong. Dia tampak lelah. Kehamilannya mungkin memang membuatnya rapuh, tapi keinginannya untuk tetap menjadi ratu jauh lebih kuat.
Aku mendekatinya, membawa dua gelas teh. Aku duduk di bangku taman, tepat di sampingnya.
"Kamu tahu, Lan?" ucapku memecah kesunyian. "Dulu, aku selalu iri padamu. Kamu punya segalanya. Papa yang kaya, rumah yang megah, dan kebebasan untuk mendapatkan apa pun yang kamu mau. Aku hanyalah bayangan yang selalu mengikuti di belakangmu."
Alana menoleh, menatapku dengan mata yang sembap. "Dan sekarang? Kamu merasa menang?"
"Menang?" aku menggeleng. "Tidak ada yang menang di sini. Kamu merusak hidupku, dan aku... aku sedang menghancurkan sisa-sisa impianmu. Kita berdua sedang menuju kehancuran yang sama."
Alana terdiam. Mungkin ini pertama kalinya aku melihat sisi manusiawi darinya.
"Kenapa kamu tidak pergi saja, Kin?" tanyanya lirih. "Jika kamu tahu Arkan tidak lagi mencintaimu, kenapa kamu tidak bercerai dan membiarkan kami bahagia?"
Aku menatap langit sore yang mulai memerah. "Karena jika aku pergi, kamu akan menang. Dan aku tidak akan pernah membiarkan orang yang telah mengkhianatiku merasa menang. Aku akan bertahan di sini, bukan untuk Arkan, tapi untuk memastikan bahwa pengkhianatan ini memiliki harga yang harus dibayar mahal."
Alana menunduk, air mata jatuh ke pangkuannya. "Arkan tidak sebahagia yang kamu pikirkan. Dia merasa tertekan setiap hari. Dia selalu menanyakan kabarmu, menanyakan apakah kamu sudah makan, apakah kamu marah."
Aku tersenyum tipis. "Tentu saja dia bertanya. Karena dia pria yang pengecut. Dia menginginkan kenyamananmu, tapi dia merindukan kepastian yang dulu aku berikan."
Aku berdiri, meninggalkan Alana dengan pikirannya sendiri. Saat aku berjalan kembali ke rumah utama, aku melihat Arkan berdiri di balik pintu kaca. Dia menatapku, tatapannya penuh dengan kerinduan yang sangat jelas.
Dia menginginkan segalanya. Dia menginginkan Alana dan bayinya, tapi dia juga menginginkan istri yang setia dan pengertian seperti aku.
Tapi aku bukan lagi istri yang dulu. Aku adalah wanita yang telah belajar bahwa cinta tanpa rasa hormat hanyalah belenggu. Dan aku sudah memutuskan untuk melepaskan diriku dari belenggu itu, meski dengan cara yang paling menyakitkan bagi mereka.
Malam itu, aku masuk ke kamar, mengunci pintu, dan menatap ke arah cermin. Aku mengambil foto pernikahan kami yang lama, merobeknya menjadi dua bagian, memisahkan wajahku dan wajah Arkan.
Aku membuang bagian wajah Arkan ke tempat sampah, dan menempelkan bagian wajahku di dinding kamar.
Mulai sekarang, ini adalah tentang Kinanti. Hanya Kinanti. Dan mereka hanyalah tamu yang tidak diundang dalam hidupku, yang akan segera aku usir dengan cara yang paling elegan.
Drama ini memang sudah dimulai, dan aku adalah sutradara yang akan memastikan bahwa akhir cerita ini bukanlah kebahagiaan bagi mereka, melainkan penyesalan yang akan mereka bawa hingga ke akhir hayat.
Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti rumah ini. Di bawah sana, aku bisa mendengar suara perdebatan antara Arkan dan Alana. Suara itu terdengar seperti musik di telingaku.
Perpecahan telah terjadi. Dan aku hanya perlu menunggu waktu sampai bangunan rumah tangga palsu mereka benar-benar runtuh berkeping-keping. Aku memejamkan mata, membiarkan rasa lelah merayap.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bisa tidur nyenyak. Karena aku tahu, besok pagi, aku akan bangun sebagai wanita yang memegang kendali.
...----------------...
To Be Continue ....
jng sampai pezina Dan pelakor menang. mereka hrs ttp di injak kinanti.
berarti yudha mendukung per selingkuh an dong, wah semoga ikut dpt karma km yudha.
nnti kl Arjuna sdh besar Dan tau semua bilang saja ibu kandung mu Alana wanita murahan, ngangkang ma laki orang jd pelakor yakin lah Arjuna akn malu krn anak hasil zina 🤣 alias anak haram 🤣
jelas kinanti dadi moster Wong koe selingkuh kr konco ne. Wong ra sadar diri.
mkne kondosikan burung mu itu arkan jng masuk Goa pelakor.
pingin Kaya Raya Dua istri.
Wes selingkuh tp gk ngroso Salah.
Arkan itu ingine hidup mewah dng Istri sah Dan pelakor e iuhhh mnjijikkan.
Dan Satu lagi pelakor Alana juga gk tobat mlh ingin balas dendam. aneh pelakor kalah kok sakit hati.
Arkan Dan Alana itu ciri ciri manusia gk punya hati, dah selengki tp merasa korban waktu di balas kinanti. tp pas bhgia gk ingat nyakiti hati kinanti.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.
mnding hancurkan arkan Dan Alana sekarang drpd nnti membalas.