NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

[Monster (Crackers) Rank F / Lv. 15]

Sebesar rumah, dengan pupil mata hitam gelap yang berongga dan tulang hitam pucat yang terus meneteskan cairan hitam. Ratusan tangan terus terpelintir di setiap sela-sela dari tulang tengkoraknya, bergerak lambat dan tidak beraturan seperti sesuatu yang hidup tapi tidak seharusnya.

Monster humanoid itu menatap Nate dengan dingin, menunjukkan permusuhan yang tajam dan amarah yang terpendam dalam di balik mata berongganya.

Nate menatap makhluk itu sejenak, lalu mengambil satu langkah masuk, menghunus sabitnya.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Lalu, dengan bunyi retakan tulang yang riuh, Crackers itu menjatuhkan tulang lengannya sendiri ke lantai.

Bukan jatuh karena rusak. Dia mematahkannya sendiri.

"....?"

Nate tahu dia harus menghentikan monster itu dari melakukan sesuatu, tapi bahaya yang mungkin ditimbulkan tidak bisa dia tebak. Satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah tetap diam, menunggu, dan memaksimalkan kewaspadaannya.

Klek!! Klak!! Klek!! Klak!!

Bunyi kerangka itu menguasai keheningan untuk sesaat. Kemudian, tulang lengan yang jatuh itu perlahan-lahan meleleh menjadi cairan hitam dan meresap ke dalam tanah.

Tanah mulai bergetar.

Nate mengerutkan keningnya. Getaran itu terasa merata, tidak ada satu titik pun yang terasa lebih stabil dari yang lain, seolah seluruh lantai ruangan itu berada di bawah kendali Crackers.

Grrumm!!

Tanah di bawah kaki Nate bergolak. Dia merespons dengan cepat, melompat ke samping. Sebuah tangan tulang pucat menerobos bebatuan dari bawah, menjulur ke atas tepat di tempat dia berdiri sedetik lalu.

Nate tidak diberi waktu untuk memandanginya sebelum tanah kembali bergetar di bawah kakinya. Dia mendecakkan lidah dan melompat ke tempat lain, tapi tempat itu pun segera disusul oleh tangan tulang yang lain.

Lalu tempat berikutnya. Dan berikutnya lagi.

Begitu Nate menyadarinya, hampir seluruh lantai sudah penuh dengan tangan-tangan yang menjulur naik, berdesakan satu sama lain tanpa celah yang cukup untuk berpijak dengan aman.

Jika tidak ada tempat untuk berpijak, maka dia hanya perlu menciptakannya.

Nate menghunus sabitnya. Tatapannya yang dingin melirik Crackers yang masih berdiri tak bergerak di tempatnya, hanya mengikuti setiap manuver Nate dengan mata berongganya tanpa melakukan apapun.

Mungkin itu tindakan yang meremehkan.

Nate mendengus, lalu menatap tepat ke bawah kakinya. Dengan satu tebasan bersih yang rendah, dia memotong tulang-tulang yang menjulur itu.

Krek!! Krek!! Krek!!

Suara tulang retak beruntun bergema di ruangan itu, renyah dan panjang. Nate menikmatinya sesaat sebelum terhenti begitu melihat salah satu tangan tiba-tiba tumbuh lebih besar dan lebih panjang, menjulur langsung ke arah pergelangan kakinya.

Tangan itu berhasil mencengkram pergelangan kakinya.

Sebelum sempat menarik, Nate sudah menghunus sabitnya dan memotong bersih tulang itu. Dia mendapatkan beberapa detik pijakan sebelum lantai di bawahnya kembali bergetar.

'Sial, ini tidak ada habisnya.'

Dari yang dia pelajari, dungeon ini memang berfokus pada monster dengan daya tahan dan regenerasi yang luar biasa. Untuk sesuatu seperti ini, Nate tahu dia harus membunuh Crackers itu agar tangan-tangan ini berhenti beregenerasi.

Tapi bagaimana caranya?

Dia bahkan tidak mendapatkan waktu untuk berpijak dengan benar sebelum harus melompat lagi. Bagaimana caranya dia bisa mendekat? Monster ini jelas berniat membuat Nate kelelahan lalu membunuhnya.

Nate mendecakkan lidahnya sekali lagi.

Dia melirik ke arah Crackers, lalu dengan pemikiran yang terasa sedikit gila, dia mulai bergerak. Pertama, menciptakan pijakan dengan menghancurkan tangan-tangan di bawah kakinya. Lalu, menebas hampir semua tangan tulang dalam lingkup serangannya sekaligus.

Begitu ada jeda singkat yang dia ciptakan sendiri itu, Nate meneguk ramuan peningkatan keseluruhan stat, menumpuknya dengan ramuan peningkatan kecepatan dan kekuatan, lalu meneguk masing-masing satu ramuan pemulihan stamina dan mana sekaligus.

Begitu lantai di bawahnya bergetar kembali, Nate melompat. Dan kali ini, dengan tatapan yang terkunci pada Crackers, dia melemparkan sabitnya.

Wuusshh!!

Sabit itu melesat dengan kecepatan yang cukup untuk membuat Crackers tidak sempat bereaksi sebelum bilahnya menghantam tepat di tulang perutnya.

Baam!!

Sabit itu menembus dengan mudah. Crackers menjerit, suaranya seperti derit tulang yang panjang dan mengerikan.

Nate melihat tangan-tangan di bawahnya tersentak sejenak. Itu cukup.

Dengan satu pikiran, asap ungu dari bekas serangan itu meledak keluar.

Baam!! Buum!!

Sabit terpental balik. Jeda singkat dari tangan-tangan yang tersentak itu cukup untuk Nate memanfaatkannya sebagai tumpuan, melompat ke atas dan menangkap sabitnya di udara.

Crackers sudah pulih saat Nate mendarat, tulang-tulang perutnya retak dan beberapa bagian bahkan sudah terjatuh ke lantai. Tapi mata berongganya masih memancarkan amarah yang sama dinginnya, dan Nate mulai berkeringat dingin saat merasakan beratnya.

Tangan-tangan di bawah lantai tiba-tiba tumbuh lebih besar. Jauh lebih besar dari sebelumnya, cukup besar untuk melingkari pinggang Nate dan meremukkannya.

Dan bukan hanya satu. Hampir seluruh tangan di lantai itu tumbuh dengan cara yang sama sekaligus.

Nate meringis, menghunus sabitnya.

Kreetak!! Kreetak!!

Suara tulang yang dipotong rapi bergema tanpa henti. Nate tidak berhenti bergerak, mengambil satu pijakan, memotong, mengambil pijakan berikutnya, memotong lagi, membuka jalan ke depan satu tebasan demi satu tebasan.

Dia berniat menerobos maju dan menciptakan jalan langsung ke arah Crackers itu. Tapi jumlah tangan yang kembali tumbuh setelah dihancurkan ternyata jauh melampaui momentum yang bisa dia ciptakan.

Nate melompat untuk menghindari satu tangan yang menjulur, tapi begitu berada di udara, beberapa tangan tulang sudah menunggu di sana.

"Sial!"

Dia menghunus sabitnya dan memotong mereka, tapi sebuah tangan dari bawah berhasil naik dan mencengkram tubuhnya.

Tangan tulang itu memeluk tubuh Nate dengan kuat dan meremasnya. Nate melebarkan matanya karena kesakitan yang sangat nyata, darah menetes dari bibirnya saat dia berjuang melawan tekanan yang terus bertambah, tekanan yang jelas berniat membuatnya remuk.

Lalu sebuah kepalan tangan tiba-tiba meluncur ke arah wajahnya.

Baam!!

"Kgah!!"

Nate memuntahkan seteguk darah. Wajahnya memar seketika, darah mengalir dari kepalanya, dan kulitnya membiru dengan kecepatan yang menakutkan.

Jika terus seperti ini, dia benar-benar akan mati.

Nate mengembalikan sabitnya ke inventori lalu memanggilnya kembali seketika. Sabit itu melayang sebentar di udara, jatuh, dan menyayat tangan tengkorak yang mencengkramnya. Tidak ada daya hantam yang besar, tapi cukup untuk menciptakan goresan karena betapa tajamnya bilah itu.

Nate langsung mengaktifkan [Void Detonate].

Buum!!

Ledakan asap ungu gelap meledak dari dalam cengkraman itu. Dampaknya terasa juga di tubuh Nate, tapi itu jauh lebih baik dari alternatifnya.

Begitu cengkraman itu terlepas, Nate mencengkram sabitnya erat dan melesat ke depan tanpa memperhatikan luka-lukanya yang sudah menumpahkan terlalu banyak darah. Jarak antara dia dan Crackers sudah jauh lebih dekat dari sebelumnya berkat manuver tadi, dan bahkan jika tangan-tangan itu berhasil mengejar, Nate yakin dia akan mencapai Crackers lebih dulu.

Dia menggigit bibirnya. Adrenalin mengalir tajam di tengah situasi yang putus asa itu.

Sraaang!! Sraaang!! Sraaang!!

Setiap tangan yang muncul di hadapannya terpotong rapi dan terjatuh dengan bunyi retakan yang renyah. Nate tidak memperlambat langkahnya sedikit pun.

Begitu dia mencapai Crackers, senyuman tipis muncul di wajahnya.

"Kamu tidak bisa bergerak karena harus mengendalikan tangan-tangan sialan itu kan? Sungguh kekuatan yang merepotkan datang dengan kelemahan yang sama merepotkannya."

Nate menghantam langsung ke dalam kerangka Crackers, jauh ke dalam strukturnya. Tangan-tangan di belakangnya tersentak seketika, dan kemudian ledakan luar biasa meledak dari dalam tubuh monster itu.

Buum!! Buum!!

Karena Crackers tidak mampu bergerak, dia juga tidak punya cara untuk meminimalisir dampak serangan itu. Hasilnya jelas, tulang-tulangnya retak dari dalam ke luar, beberapa serpihan besar terlempar ke dinding ruangan.

Begitu asap ungu mengepul dan perlahan menghilang, Nate sudah berdiri tepat di sisi Crackers, menghunus sabitnya untuk serangan terakhir.

Saat itulah dia tersentak.

Mata abu-abunya bertemu langsung dengan pupil hitam berongga itu, dan dia menyadarinya satu detik terlambat.

Monster itu menemukan keberadaannya.

Baam!!

Serangan itu datang dari arah yang tidak dia sadari sama sekali, menghantam tubuhnya sebelum dia sempat bergerak.

"Wah?"

Tubuhnya terlempar, menghantam tembok ruangan dengan kecepatan yang menciptakan retakan besar di seluruh permukaannya. Debu dan serpihan batu berjatuhan.

Nate merosot ke lantai, napasnya berat.

Crackers itu, bagaimanapun, kini tampak berbeda dari sebelumnya.

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
bysatrio
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!