Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan
"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBANGKITAN
Salju turun menyelimuti Kota Terlarang dengan kejam, seolah-olah langit ingin mengubur segala dosa yang terjadi di bawah atap-atap megahnya. Namun, bagi Li Jun, dinginnya kristal es yang menusuk kulit tak sebanding dengan kekosongan yang menganga di dadanya. Di kediaman Jenderal Agung, ia bukanlah manusia. Ia hanyalah seekor "semut" yang dipelihara di sudut kandang kuda, sebuah samsak bernapas yang disediakan hanya untuk memuaskan nafsu kekerasan para tuan muda saat berlatih pedang.
Tubuhnya adalah peta penderitaan; memar biru keunguan tumpang tindih dengan luka cambuk yang belum kering. Hatinya? Hatinya sudah lama menjadi lubang hitam yang menghisap segala harapan.
"Li Jun! Dasar sampah tidak berguna! Cepat pergi ke pasar dan belikan arak kualitas terbaik. Jika kau kembali tanpa membawa botol itu sebelum badai memuncak, aku akan memastikan kulitmu terkelupas dari tulangmu!"
Teriakan Tuan Muda Ketiga menggema, diikuti tawa angkuh yang memuakkan. Li Jun hanya menunduk, menyembunyikan mata yang redup. Ia melangkah keluar dengan jubah tipis yang sudah koyak di bagian bahu, satu-satunya penghalang antara nyawanya dan maut yang membeku.
Di sudut pasar yang membeku, saat angin menderu seperti serigala lapar, Li Jun terhenti. Di balik tumpukan jerami kering yang tertutup es, ia melihat seorang kakek tua dan cucunya meringkuk. Gadis kecil itu, mungkin baru berusia tujuh tahun, menggigil hebat di pelukan kakeknya. Bibirnya yang mungil telah berubah membiru, sebuah pertanda bahwa api kehidupannya hampir padam.
"Kakek... apakah surga itu hangat? Aku ingin pergi ke sana saja. Di sini sangat dingin, Kek... dadaku sakit," bisik gadis itu dengan suara parau yang nyaris hilang ditelan angin.
Sang kakek memeluknya lebih erat, berusaha memberikan sisa-sisa panas tubuhnya yang juga mulai mendingin. Air mata lelaki tua itu mengalir, namun segera membeku menjadi kristal bening di pipinya yang keriput.
"Surga itu jauh, Nak. Sangat jauh. Tapi kakek berjanji, jika fajar tiba, kita akan menemukan kayu bakar. Kita akan memasak sup... bertahanlah, sedikit lagi saja."
Li Jun terpaku. Ia teringat dirinya sendiri—anak yang diculik dari desa yang dibakar, anak yang dibuang dan tidak pernah merasakan kehangatan pelukan seorang ayah atau ibu. Dunia telah bersikap kejam padanya, namun melihat pemandangan itu, sesuatu yang tersisa di dalam hatinya mendadak berdenyut menyakitkan.
Tanpa suara, Li Jun melepas jubah tipisnya. Ia membiarkan tubuhnya yang penuh luka terpapar langsung pada badai salju yang ganas. Dengan tangan gemetar, ia menyelimutkan kain lusuh itu ke tubuh si gadis kecil. Tak cukup sampai di situ, ia mengeluarkan kantong kecil berisi koin—uang yang seharusnya ia gunakan untuk membeli arak tuannya. Ia tahu, kembali tanpa arak berarti hukuman mati. Tapi baginya, apa bedanya mati di tangan tuan yang kejam atau mati karena kedinginan?
"Pakailah ini untuk membeli sup hangat. Jangan menyerah pada dingin ini, Kek. Kegelapan paling pekat biasanya terjadi tepat sebelum fajar menyingsing," ucap Li Jun, suaranya bergetar hebat menahan beku yang mulai menggerogoti kesadarannya.
"Nak, apa yang kau lakukan? Kau sendiri akan mati jika begini!" seru sang kakek dengan mata terbelalak.
Li Jun tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip sebuah pamitan. "Seorang manusia tidak dinilai dari berapa banyak harta yang ia miliki, melainkan dari berapa banyak beban orang lain yang sanggup ia pikul saat punggungnya sendiri hampir patah."
Tiba-tiba, suara retakan yang mengerikan membelah udara. Di atas mereka, sebuah menara pengawas tua yang sudah rapuh akibat beban salju berton-ton mulai miring. Konstruksi kayu yang lapuk itu menjerit sebelum akhirnya runtuh tepat ke arah sang kakek dan cucunya.
Dalam hitungan detik, insting Li Jun mengambil alih. Ia tidak lagi memedulikan nyawanya yang sudah di ujung tanduk. Dengan sisa tenaga terakhir, ia melompat dan mendorong kakek serta cucu itu sekuat tenaga ke area terbuka.
"BRAKK!"
Bukan pukulan yang menghantamnya, melainkan balok kayu raksasa dan ribuan batu bata yang hancur. Tubuh ringkih Li Jun terkubur seketika di bawah reruntuhan dan puing-puing es. Rasa sakit yang luar biasa menghantam seluruh sarafnya, sebelum akhirnya mati rasa menyelimuti segalanya.
"Ayah, Ibu... apakah ini saatnya aku bertemu kalian? Setidaknya, aku mati dengan memberikan kehangatan yang tak pernah kudapatkan selama hidupku," batin Li Jun sebelum pandangannya memutih total.
"Fang Han! Bangun, anak malas! Berapa kali kukatakan jangan mencampur serbuk belerang dekat tungku panas jika kau belum bisa mengendalikan suhu api?!"
Suara ledakan tumpul dan kepulan asap hitam yang menyesakkan dada menyambut kesadaran Li Jun. Ia terbatuk-batuk hebat, paru-parunya terasa perih oleh asap herbal yang menyengat. Ia mengerjapkan mata, namun pemandangan di depannya sungguh tidak masuk akal.
Ia tidak berada di bawah reruntuhan salju. Tidak ada dingin yang mematikan. Sebaliknya, ia berada di sebuah ruangan penuh rak kayu yang berisi ribuan botol kecil, akar-akaran yang dikeringkan, dan aroma tajam tanaman obat. Seorang pria tua dengan jenggot putih panjang yang dikepang rapi sedang berdiri di depannya, mengibas-ngibaskan kipas bambu dengan wajah gusar.
"Di mana... luka-lukaku? Mengapa aku... masih bernapas?" gumam Li Jun, meraba dadanya yang terasa utuh, tanpa memar, tanpa bekas luka pedang.
"Luka apa? Kau baru saja meledakkan kuali obat karena tertidur saat menjaganya! Untung kepalamu hanya terbentur meja kayu, bukan kuali panas itu!" Tabib Lu menghela napas panjang, namun matanya yang tajam perlahan melunak melihat kebingungan asistennya itu.
"Ingatlah, Fang Han, seorang tabib adalah jembatan antara kehidupan dan kematian. Jika kau lalai dalam langkah kecil, kau bisa merobohkan jembatan itu bagi orang lain. Kegagalan hari ini adalah pelajaran, tapi keteledoran adalah dosa."
Li Jun tertegun. Ingatan asing mulai merembes masuk ke dalam jiwanya, menyatu dengan kesadarannya seperti tinta yang jatuh ke dalam air jernih. Ia kini berada di tubuh seorang pemuda bernama Fang Han, seorang asisten tabib di Paviliun Pengobatan "Tabib Lu".
"Paman Lu... apakah aku benar-benar Fang Han?"
Tabib Lu menjitak kepalanya pelan dengan gagang kipas. "Sepertinya asap belerang itu benar-benar merusak otakmu. Pergilah pulang dan bersihkan wajahmu. Jika Paman Fang Zhou melihat keponakan kesayangannya berwajah hitam seperti arang, dia akan mengomeliku selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti."
Li Jun, yang kini adalah Fang Han, melangkah keluar dari paviliun dengan kaki yang terasa ringan. Langit di dunia ini cerah, dengan matahari yang hangat memeluk bumi. Dalam perjalanan pulang, ia melewati sebuah jembatan kayu di atas sungai yang mengalir jernih. Ia berhenti sejenak, menatap pantulan dirinya di permukaan air.
Wajah itu... wajah yang asing namun tampan. Kulitnya bersih, matanya bersinar penuh energi kehidupan, dan rambutnya terikat rapi. Jauh dari wajah Li Jun yang kusam dan penuh debu penderitaan. Ia menyadari sesuatu yang mustahil: ia telah diberikan kesempatan kedua di dunia yang sangat berbeda. Sebuah dunia di mana kekuatan bela diri dan kemurnian pengobatan menjadi hukum tertinggi.
"Apakah di dunia ini aku memiliki tempat untuk kembali? Ataukah aku hanya tamu yang meminjam raga orang lain?" pikirnya dengan secercah harapan yang mulai tumbuh.
Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan energi murni mengalir di nadinya. Namun, lamunannya terhenti saat ia melihat sosok pria gagah dengan luka parut di wajahnya berdiri di ujung jalan. Pria itu mengenakan baju zirah ringan seorang pengawal desa, namun senyumnya saat melihat Fang Han begitu lebar dan tulus.
"Han-er! Kenapa kau melamun di sana seperti orang linglung? Ayo cepat pulang, Paman membawakan itik panggang terbaik dari kota untuk merayakan hari kerjamu!" teriak Fang Zhou sambil melambai penuh semangat.
Mendengar kata "pulang" dan melihat kasih sayang yang begitu murni terpancar dari mata pria itu, air mata Fang Han jatuh tanpa bisa dibendung. Selama hidupnya sebagai Li Jun, kata "pulang" hanyalah sebuah mimpi buruk menuju kandang kuda. Kini, kata itu terdengar seperti simfoni terindah.
"Paman! Aku datang!" teriak Fang Han, suaranya kini penuh dengan tekad.
Sambil berlari menuju pamannya, ia membatin dalam diam. Di kehidupan lalu, ia hanyalah pelayan yang dibuang dan dianggap sampah. Di sini, ia adalah alasan seseorang untuk tersenyum. Ia adalah hidup bagi seseorang.
"Takdir mungkin telah mengambil segalanya dariku di masa lalu, namun ia memberikan seluruh dunia padaku hari ini. Keberanian sejati bukan berarti tidak memiliki rasa takut, melainkan kemampuan untuk terus melangkah demi mereka yang kita cintai."
"Mulai detik ini, aku akan menjaga nama Fang Han. Aku akan menjadi tabib terhebat yang pernah ada di bawah langit ini, dan tidak akan membiarkan siapa pun yang berharga bagiku menderita kedinginan lagi."
Fang Han memeluk pamannya erat, sebuah pelukan yang tidak pernah didapatkan oleh Li Jun selama belasan tahun. Di bawah sinar matahari sore yang keemasan, sebuah legenda baru baru saja dimulai—legenda seorang pemuda yang mampu membengkokkan realitas penderitaan menjadi keajaiban.