Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...
----
~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Pintu terowongan masih tertutup rapat ketika Arka bangun. Di ruang kontrol, monitor menampilkan putih yang sunyi. Tidak ada gerakan. Tidak ada bayangan. Tapi di kepalanya, suara Badu masih terdengar. Tiga puluh orang. Markas di BNI. Komandan mantan tentara.
Pratama sudah berdiri di pintu dengan perlengkapan lengkap. Jaket tebal, sepatu bot, pistol di pinggang, tas kecil berisi perangkap cadangan.
“Kita berangkat?” tanyanya.
Arka mengangguk. Mereka sudah sepakat semalam. Jalur timur. Stasiun antara. Pasang perangkap sebelum fajar.
Umar menunggu di ruang utama. Wajahnya pucat, tangannya memegang obeng yang tidak pernah lepas sejak dua hari lalu.
“Kamu yakin tidak perlu aku ikut?” tanyanya.
“Kamu di sini lebih berguna,” kata Arka. “Jaga Dewi, Rina, Wawan. Kalau ada apa-apa, kamu yang tahu bunker paling baik setelah aku.”
Umar tidak menjawab. Matanya beralih ke pintu terowongan, lalu kembali ke Arka.
“Hati-hati, Mas.”
Arka tidak membalas. Dia membuka panel kayu. Udara dingin langsung menyusup. Di belakangnya, Pratama menyalakan senter dengan intensitas rendah.
Mereka masuk.
Terowongan terasa lebih sempit dari biasanya. Atau mungkin hanya perasaan. Setiap langkah di tanah beku bergema pelan, di antara dinding-dinding yang disangga kayu dan besi. Arka berjalan di depan, Pratama mengikuti. Senter hanya satu, cukup untuk melihat tanah di bawah kaki, tidak cukup untuk menerangi terlalu jauh.
Di tikungan pertama, bekas perangkap yang meledak kemarin masih terlihat. Dinding hitam, bau gas yang samar. Arka mempercepat langkah.
“Dua stasiun lagi,” bisik Pratama. “Setiabudi, lalu Dukuh Atas. Kita pasang di Dukuh Atas. Cukup satu titik.”
“Kenapa tidak di Setiabudi?”
“Terlalu dekat dengan bunker. Kalau meledak, mereka akan tahu dari mana kita datang. Lebih baik di stasiun yang lebih jauh.”
Arka tidak membantah. Mereka melewati pintu darurat yang menghubungkan ke stasiun Sudirman. Sunyi. Es masih menutupi lantai, tapi jejak sepatu baru terlihat. Beberapa arah. Orang yang lalu lalang. Bukan dari kemarin.
“Mereka semakin sering patroli,” kata Pratama.
Arka mengangguk. Dia tidak perlu berkata apa-apa.
Stasiun Setiabudi terasa lebih gelap dari stasiun lain. Lampu darurat sudah mati total. Satu-satunya cahaya dari senter mereka yang memantul di ubin dinding yang retak. Beberapa gerbong MRT terparkir di rel, pintu terbuka, interiornya kosong. Di salah satu gerbong, sesosok tubuh tergeletak di kursi. Tidak bergerak. Arka melewati tanpa menoleh karena tidak ada waktu untuk memikirkan siapa orang itu atau bagaimana dia mati.
Mereka menyusuri lorong menuju Dukuh Atas. Jaraknya tidak sampai satu kilometer, tapi setiap langkah terasa seperti melintasi lapangan ranjau. Suara sepatu di lantai es bergema terlalu keras. Arka berusaha melangkah lebih pelan, menekan tumit lebih dulu lalu jari, seperti yang diajarkan Pratama saat latihan.
Pratama tiba-tiba mengangkat tangan. Arka berhenti.
Suara dari depan. Langkah kaki. Bukan satu atau dua. Banyak. Arka bisa mendengar setidaknya empat orang berjalan bersama, mungkin lebih.
Dengan gerakan cepat, Arka mematikan senter. Gelap total. Mereka menempel di dinding, punggung menyentuh ubin dingin yang retak. Arka menahan napas.
Langkah itu semakin dekat. Disertai suara orang berbicara. Pelan, tapi jelas di keheningan yang pekat.
“Komandan marah. Badu tidak kembali. Dia suruh kita cari sampai nemu.”
“Cari di mana? Sudah kita cek semua lorong.”
“Cek lagi. Jangan sampai ada yang lolos.”
Suara itu melewati mereka tidak sampai sepuluh meter. Cahaya senter musuh menyapu dinding, bergerak perlahan dari kiri ke kanan. Arka merasakan jantungnya berdetak keras, terlalu keras, seperti akan pecah. Pratama di sampingnya tidak bergerak sama sekali.
Senter itu berhenti tepat di atas kepala mereka. Arka membeku. Dia tidak bernapas. Tidak berkedip.
Tapi tidak ada teriakan. Senter itu bergerak lagi. Langkah kaki menjauh. Suara-suara itu semakin pelan, lalu hilang di tikungan.
Pratama berbisik, suaranya nyaris tidak terdengar. “Empat orang. Mereka cari Badu. Mungkin mereka belum tahu kalau dia sudah kita lepaskan.”
“Atau mereka tahu dan tetap cari,” bisik Arka.
“Kita tunggu sebentar.”
Mereka menunggu. Satu menit. Dua. Lima. Arka menghitung detak jantungnya sendiri. Perlahan mulai turun. Tidak ada suara lagi. Hanya angin tipis yang membawa bau dingin dari ventilasi.
Arka menghela napas pelan. “Kita pasang di sini saja.”
“Di Setiabudi?”
“Iya. Tidak usah sampai Dukuh Atas. Terlalu berisiko.”
Pratama mengangguk. Mereka bergerak ke sudut stasiun, di tikungan yang tidak terlihat dari pintu masuk. Arka mengeluarkan tabung gas kecil, kabel, dan baterai bekas dari tas. Pratama merangkai dengan gerakan cepat dan teliti.
“Ini perangkap terakhir kita,” kata Pratama sambil menyambungkan kabel ke baterai. “Setelah ini, tidak ada bahan lagi.”
“Cukup satu. Asalkan meledak di waktu yang tepat.”
Pratama memasang pemicu dari tali pancing tipis yang hampir tidak terlihat di lorong gelap. Arka memeriksa ketegangan. Tidak terlalu kencang, tidak terlalu longgar. Tali itu membentang setinggi betis, di seberang lorong.
“Selesai.”
Mereka berdiri dan berbalik untuk pergi. Namun saat mata Arka menyapu ujung lorong, dia melihat sesuatu. Bukan bayangan dari dinding atau puing. Bayangan yang bergerak. Bayangan yang mendekat.
Dia tidak sempat berkata apa-apa. Pratama sudah menariknya ke belakang pilar beton. Peluru menyambar tempat mereka berdiri sedetik sebelumnya, memantul di dinding, pecahan keramik berhamburan seperti hujan es.
“Dua orang,” bisik Pratama sambil mengeluarkan pistol. “Di belakang kita. Mereka mengikuti.”
Arka mengeluarkan pistolnya juga. Jari-jarinya dingin, tapi tidak gemetar.
“Mereka tahu kita di sini.”
“Atau mereka patroli dan kita yang masuk ke wilayah mereka.”
Peluru lain. Kali ini lebih dekat. Menggerogot sudut pilar, meninggalkan lubang hitam di beton. Pratama membalas dengan dua tembakan. Dari kejauhan, terdengar pekik pendek. Seseorang terkena. Suara tubuh jatuh, bergeser di lantai es.
“Lari,” kata Pratama.
Mereka berlari. Lorong gelap, senter dimatikan. Arka hanya mengandalkan ingatan tentang jalur yang mereka lewati. Belok kiri di pilar ketiga. Lurus sampai ubin berganti warna. Belok kanan di papan reklame yang roboh.
Di belakang, langkah kaki mengejar. Satu orang, mungkin dua. Napas tersengal-sengal. Suara sepatu bot di lantai es. Sesekali peluru, tapi tidak terarah. Mereka menembak dalam gelap, putus asa.
Arka tersandung sesuatu di lantai, puing atau tubuh, lututnya terbentur, rasa sakit menjalar. Tapi dia tidak berhenti. Pratama di belakangnya menarik lengan jaketnya, memaksanya terus berlari.
Di tikungan, Arka berhenti. “Perangkap kita.”
Pratama mengerti. Mereka menempel di dinding, membelakangi rel, memberi ruang. Arka menahan napas. Pratama memegang pistol, siap.
Langkah kaki mendekat. Tiga meter. Dua. Satu.
Tali pancing itu putus. Tabung gas meledak. Nyala api menerangi lorong untuk sesaat, diikuti teriakan yang langsung teredam. Bukan teriakan kesakitan. Teriakan panik. Sesosok tubuh jatuh, berguling, mencoba memadamkan api di jaketnya.
Arka dan Pratama tidak menunggu. Mereka berlari menjauh. Tidak menoleh. Tidak berhenti. Hanya suara napas mereka sendiri dan derap kaki yang bergema di lorong gelap.
Mereka tiba di stasiun Sudirman dengan napas tersengal, jaket basah oleh keringat yang langsung membeku di permukaan. Di pintu darurat, Arka berhenti sejenak. Dia menempelkan telinga ke logam dingin.
Diam. Tidak ada suara. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada teriakan.
Pratama membuka pintu perlahan. Terowongan gelap. Mereka masuk, menutup pintu, menggeser baut pengaman. Suara besi bergesekan bergema, lalu sunyi kembali.
Di bunker, Umar menunggu dengan wajah pucat. Tangannya masih memegang obeng. Di belakangnya, Dewi berdiri di dekat pintu ruang medis, Rina di ambang ruang tanam, Wawan di dekat rak stok.
“Ada tembakan,” kata Umar.
“Kita ketahuan,” kata Arka. “Tapi mereka mundur.”
Dia berjalan ke ruang kontrol dan duduk di kursi. Tangannya masih gemetar, tapi bukan karena dingin. Di monitor, kamera pintu belakang hotel menampilkan putih yang sunyi. Tidak ada gerakan. Tidak ada bayangan. Hanya salju yang turun perlahan.
Pratama masuk dengan segelas air. “Dua orang yang kita hadapi. Satu luka. Yang lain kabur.”
“Mereka akan lapor.”
“Sudah kita perhitungkan.”
Arka menyesap air. Di kepalanya, hitungan berulang. Perangkap meledak. Satu musuh luka. Waktu yang mereka beli tidak banyak. Mungkin satu atau dua hari. Mungkin kurang.
Pintu ruang kontrol terbuka. Umar berdiri di ambang.
“Mas, radio,” katanya. “Suara dari Kebayoran. Mereka bilang... mereka bilang kelompok pemburu sudah sampai ke sana.”
Arka menatap Umar. Wajah pria itu pucat, matanya basah, bibirnya menggigit.
“Kita tidak bisa pergi sekarang,” kata Arka.
Umar menunduk. Tangannya menggenggam obeng itu erat. “Aku tahu.”
Dia pergi. Arka menatap pintu yang tertutup.
Pratama berkata, “Dia akan pergi suatu saat. Dengan atau tanpa kita.”
Arka tidak menjawab. Di monitor, salju masih turun. Sunyi. Putih. Tapi di balik semua itu, di antara gedung-gedung yang membeku, di lorong-lorong stasiun yang gelap, bayangan itu terus bergerak. Mendekat. Merencanakan.
Arka mematikan monitor. Di dalam gelap, dia mendengar suara mesin ventilasi. Suara angin di atas sana. Dan suara sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan. Tapi dia tahu itu ada.
Dan dia tahu, mereka akan datang. Cepat atau lambat.
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁