Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Truk sayuran itu terus melaju, membelah kabut pagi yang menyelimuti perbukitan menuju pinggiran kota. Adella meringkuk di pojok, memeluk lututnya yang berdenyut nyeri. Di tengah guncangan truk, ia menatap dua benda di tangannya: kartu emas yang dingin dan pulpen hitam yang terasa berat.
Ia tahu, begitu fajar menyingsing, wajahnya akan menghiasi layar berita sebagai "Pasien Gangguan Jiwa yang Berbahaya". Pak Adwan tidak akan membiarkannya lari begitu saja.
Udara dingin merembes masuk melalui celah terpal, membawa aroma tanah basah dan bensin. Adella menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan otaknya yang mulai menyusun strategi untuk puluhan bab ke depan. Ia tidak bisa kembali ke rumah, tidak bisa menghubungi teman, dan tidak bisa menggunakan kartu identitas apa pun. Di mata sistem, Adella telah "mati" sebagai warga negara dan lahir kembali sebagai buronan.
Ia mulai memeriksa pulpen hitam milik Pak Adwan. Dengan jemari yang gemetar karena kedinginan, ia memutar bagian tengah pulpen tersebut. Ternyata, itu bukan sekadar alat suntik. Di bagian pangkalnya, terdapat sebuah port kecil dan layar digital mikro yang tersembunyi di balik tutupnya.
Adella menekan tombol kecil di sisi pulpen. Sebuah rekaman suara mulai terputar secara otomatis. Suaranya jernih, tanpa gangguan.
"Pastikan Iptu Darma menerima kompensasinya pagi ini. Adella adalah aset yang terlalu berharga untuk dibiarkan di kantor polisi. Jika dia bicara sedikit saja tentang Nadia, kita harus memastikan dia terdengar gila di depan pers."
Itu suara Pak Adwan. Dingin, penuh perhitungan, dan tanpa penyesalan. Adella memejamkan mata. Mendengarnya secara langsung membuat ulu hatinya terasa mual, namun ini adalah bukti yang lebih kuat dari sekadar cerita. Ini adalah pengakuan tentang penyuapan dan konspirasi.
Truk melambat saat memasuki pasar induk di pinggiran kota. Sebelum sopir menyadari keberadaannya, Adella melompat turun dengan tangkas, mendarat di atas tumpukan karung goni berisi bawang. Ia segera menarik hoodie-nya lebih rendah, menutupi sebagian wajahnya.
Pasar induk adalah tempat terbaik untuk menghilang. Ribuan orang berlalu-lalang, bau keringat menyatu dengan aroma sayur busuk, dan tidak ada yang peduli pada seorang gadis remaja yang tampak berantakan.
Ia berjalan menuju deretan kios elektronik bekas di pojok pasar. Di sana, ia melihat sebuah laptop tua yang layarnya sudah sedikit menguning namun masih menyala. Penjaganya adalah seorang pria tua yang tampak mengantuk.
"Pak, saya mau beli ini. Tanpa tawar," Adella meletakkan beberapa lembar uang terakhirnya yang ia ambil dari laci Suster Kepala saat kekacauan tadi. "Tapi saya butuh akses kabel LAN di belakang kios Bapak sebentar."
Pria itu hanya mengangguk, lebih tertarik pada uangnya daripada alasan Adella.
Adella duduk di lantai yang kotor, tersembunyi oleh tumpukan kardus. Ia menghubungkan kartu emas dan pulpen itu ke laptop. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang menakjubkan. Sisi pandainya yang selama ini tersembunyi di balik buku sastra kini meledak dalam bentuk kode-kode digital.
Ia tidak langsung mengunggah bukti itu. Ia tahu Pak Adwan pasti sudah memasang "umpan" di internet. Jika ia mengunggahnya sekarang, tim IT keluarga Adwan akan melacak lokasinya dalam hitungan detik.
"Aku butuh perantara," bisik Adella.
Ia mencari celah di sistem jaringan kota. Ia masuk ke server iklan billboard digital yang tersebar di pusat kota. Jika ia tidak bisa membuat polisi percaya, ia akan membuat seluruh warga kota melihatnya. Ia mulai menjadwalkan sebuah kiriman data yang akan meledak di setiap layar digital kota tepat pada jam makan siang esok hari.
Namun, di tengah proses itu, sebuah pesan muncul di layar laptopnya. Pesan itu bukan dari sistem, melainkan sebuah jendela percakapan pop-up yang tiba-tiba muncul secara paksa.
USER_ADWAN: "Aku tahu kamu sedang di pasar, Adella. Kamu lupa kalau pulpen itu memiliki pemancar GPS mandiri? Tetaplah di sana. Aku ingin melihatmu berjuang sedikit lagi sebelum aku menjemputmu pulang."
Adella tertegun. Ia segera menatap pulpen di tangannya. Lampu kecil di ujung pulpen yang tadinya mati, kini berkedip merah dengan ritme yang lambat—seperti detak jantung predator yang sedang mendekat.
Ia telah membawa pelacak itu bersamanya sepanjang malam.
Adella segera mencabut pulpen itu, namun ia tidak membuangnya. Ia melihat seekor kucing liar yang sedang berlari menuju arah truk logistik yang hendak berangkat ke luar kota. Dengan cepat, Adella mengikatkan pulpen itu ke kalung kain kumal yang melingkar di leher kucing tersebut.
"Maaf ya, Pus. Kamu harus jadi umpan sebentar," bisik Adella sambil mengelus kepala kucing itu.
Kucing itu melompat ke atas truk dan pergi menjauh. Adella kembali ke laptopnya, menutup semua akses, dan segera bergegas pergi dari kios tersebut tepat saat sebuah mobil hitam memasuki area pasar.
Adella berdiri di balik kerumunan, melihat Pak Adwan keluar dari mobil. Pria itu tampak sangat rapi, kontras dengan lingkungan pasar yang kotor. Pak Adwan melihat ke arah detektor di tangannya, lalu menatap truk yang baru saja melaju pergi ke arah berlawanan.
Pak Adwan tersenyum tipis—senyum yang membuat Adella merinding. Pria itu tahu dia sedang dipermainkan, dan dia tampak... menikmatinya.
"Permainan yang bagus, Adella," gumam Pak Adwan, suaranya seolah terbawa angin sampai ke telinga Adella.
Adella berbalik dan menghilang di antara kerumunan. Ia menyadari bahwa melarikan diri saja tidak cukup. Untuk menghentikan Pak Adwan, ia harus memancing pria itu keluar dari zona nyamannya—keluar dari balik meja guru dan meja kekuasaan keluarganya.
Adella menundukkan kepala, membiarkan kerumunan kuli panggul dan pembeli grosir menjadi perisai hidupnya. Ia tidak boleh berlari; lari adalah sinyal kepanikan, dan Pak Adwan bisa mencium bau ketakutan dari jarak satu kilometer. Ia harus melebur, menjadi debu di tengah hiruk-pikuk pasar yang tidak tertata ini.
Di dalam benaknya, Adella mulai memetakan serangan balik. Jika Pak Adwan menganggap ini adalah permainan, maka Adella akan memastikan aturan mainnya berubah. Ia tidak akan lagi menjadi bidak yang hanya bisa menghindar. Ia akan menjadi pemain yang menarik napas tepat di leher lawannya