Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. WATACI
Beberapa menit sebelumnya, Nika melangkah masuk ke dalam ruang ganti tanpa kecurigaan sedikit pun. Suasana nampak sepi; hanya satu-dua orang yang berpapasan dengannya di lorong depan. Ia memilih bilik paling ujung demi privasi.
Satu per satu pakaiannya ditanggalkan. Namun, tepat saat ia hendak melepas pakaian dalam, sebuah tangan kekar berurat tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang. Tubuh Nika menegang hebat.
"Siapa kamu?!" pekik Nika tertahan di balik telapak tangan pria itu.
Suara berat dan menjijikkan berbisik tepat di telinganya. "Tenanglah, aku akan membuatmu puas. Cuma lima menit saja."
Nika menjerit sekuat tenaga, tubuhnya meronta liar. Namun, perbedaan tenaga mereka terlalu jauh. Dengan kasar, pria itu menghempaskan tubuh Nika ke dinding beton.
Bruak!
Kepala Nika terbentur keras. Pandangannya mengabur seketika, dan telinganya mulai berdenging panjang. Dalam kondisi setengah sadar, ia melihat bayangan pria itu kembali mendekat. Pakaian Nika ditarik paksa hingga koyak, mengekspos bagian tubuhnya yang sangat pribadi.
Dengan sisa kekuatan dan insting bertahan hidup, Nika menyambar lengan pria itu dan menggigitnya sekuat mungkin.
"Toloooong!" teriaknya memecah kesunyian.
Plak! Plak!
Dua tamparan keras mendarat di pipinya. Dunia Nika berputar. Kegelapan merayap naik, dan ia pun jatuh tak sadarkan diri tepat saat pintu didobrak.
Flashback Off
"Kak Adnan! Kak Nika!" Teriakan Elano menyentak kesadaran Adnan.
Adnan menghentikan tinjunya yang sudah berlumuran darah. Ia berbalik dan jantungnya seakan merosot ke lambung melihat Nika tergeletak tak berdaya dengan pakaian yang berantakan.
Dengan gerakan cepat, Adnan menyambar handuk bersih di wastafel terdekat untuk menutupi tubuh istrinya. Ia mengangkat Nika ke dalam gendongannya dengan napas memburu.
"Ingat, aku tidak akan membiarkan kalian lolos!" ancam Adnan dengan suara rendah yang mematikan kepada pengelola tempat itu, lalu bergegas membawa Nika ke rumah sakit.
Suasana di dalam mobil begitu mencekam. Adnan mengemudi dengan kecepatan tinggi sementara Elano menjaga Nika di kursi belakang. Sesampainya di Unit Gawat Darurat, Adnan kembali menggendong Nika, menerobos masuk ke dalam.
"Suster, tolong istri saya!" teriaknya panik.
Tim medis segera mengambil alih dan membawa Nika ke ruang tindakan. Adnan dan Elano hanya bisa mondar-mandir di koridor, dihantui rasa bersalah yang mencekik.
Tak lama kemudian, dokter keluar. Wajahnya nampak tenang, sedikit mengurangi ketegangan di dada Adnan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Adnan cepat.
"Iya, Dok. Kakak saya baik-baik saja, kan?" Elano menimpali.
Dokter itu mengangguk kecil. "Ibu Nika baik-baik saja. Beliau mengalami syok berat yang memicu hilangnya kesadaran. Saat ini beliau sudah siuman, meski masih ada luka memar di wajah yang harus diobati."
Keduanya menghela napas lega. Elano segera merangsek masuk ke dalam ruangan untuk menemui kakaknya. Namun, Adnan menahan dokter sebentar, mengajak bicara sedikit menjauh.
"Dok, apakah ada dampak traumatis? Dia... dia nyaris diperkosa," tanya Adnan dengan nada tegas namun penuh kecemasan.
Dokter terdiam sejenak, melirik ke arah kamar Nika. "Sudah pasti. Sebagai suami, Anda harus menjaganya lebih ketat sekarang. Jangan biarkan dia berduaan dengan orang asing untuk sementara waktu. Sepertinya, Ibu Nika juga memiliki luka psikologis dari masa lalunya yang cukup mendalam."
"Maksud Dokter?"
"Beliau sangat rentan. Jangan biarkan dia merasa sendirian atau tidak aman, karena itu akan memperburuk kondisi mentalnya," jelas sang dokter sebelum berpamitan.
Adnan tertegun. Ia teringat perubahan sikap Nika yang seringkali drastis, dari tegas menjadi sangat rapuh. Ia meyakinkan dirinya bahwa rasa sesak di dadanya saat ini hanyalah rasa simpati, bukan hal lain.
Adnan melangkah menuju pintu kamar Nika. Namun, getaran ponsel di saku celananya menghentikan langkahnya. Nama di layar membuat napasnya tertahan.
"Halo," jawabnya singkat.
"Adnan ... uhuk! Uhuk!" Suara di seberang sana terdengar parau dan lemah.
"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja, Vivian?" tanya Adnan, seketika rasa khawatir menyergapnya.
"Bisakah... bisakah kau ke sini? Aku sakit, dan tidak ada siapa pun di apartemen yang bisa membantuku," rintih Vivian.
Adnan terpaku di ambang pintu. Di dalam sana, ia bisa melihat Nika duduk dengan tatapan kosong, mengabaikan ocehan Elano. Namun, di ujung telepon, wanita yang ia cintai juga sedang memelas minta tolong.
"Baiklah, tunggu aku."
Adnan mematikan ponselnya. Ia berdiri mematung dalam keraguan yang menyiksa.