NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Penjaga gerbang

Papan namanya hanya bertuliskan simbol naga yang sudah memudar, simbol lama klan Shan yang sudah ditinggalkan.

​Di dalam toko, seorang tua dengan punggung bungkuk sedang membersihkan botol-botol ramuan yang berdebu. Matanya yang buta sebelah melirik ke arah Shan Luo saat pintu berderit terbuka.

​"Kami tidak menerima pengemis di sini," ucap si tua dengan suara serak.

​Shan Luo tidak bicara. Ia hanya mengeluarkan Kunci Giok Naga Hitam dan meletakkannya di atas meja kayu yang rapuh.

Seketika, ruangan itu dipenuhi oleh pendar hijau yang pekat. Si tua itu terkesiap, kacamata kecilnya hampir jatuh dari hidungnya yang bengkok.

​"I-itu ... Kunci Naga?!" jemari si tua gemetar ingin menyentuhnya, namun Shan Luo segera menariknya kembali. "Anak muda, kau tahu benda apa yang kau bawa? Itu adalah kutukan sekaligus berkah bagi siapa pun yang memilikinya."

​"Katakan padaku di mana letak Makam Leluhur," tuntut Shan Luo dingin.

​Si tua itu menelan ludah, wajahnya memucat. "Makam itu tidak terletak di dunia permukaan. Kau harus menemukan Celah Api Es di bawah Gunung Merapi Abadi. Tapi hati-hati ... klan Shan telah menempatkan Tiga Penjaga Gerbang di sana. Mereka bukan manusia, melainkan boneka perang yang ditenagai oleh jiwa-jiwa prajurit yang jatuh."

​Satu jam kemudian, mereka berkumpul kembali di sebuah sudut sepi. Han Xiao datang dengan wajah serius, hal yang sangat jarang terjadi.

​"Shan'er, situasinya lebih sulit dari yang kita duga," bisik Han Xiao. "Prajurit yang kau suruh bawa 'hadiah' itu sudah sampai di ibu kota kemarin. Kabarnya, Selir Agung, ibu tiri kesayanganmu mengamuk hebat. Dia memerintahkan seluruh divisi Kavaleri Api untuk mengepung wilayah perbatasan ini. Mereka tahu kau mengincar makam itu."

​"Mereka pikir mereka bisa menghentikanku dengan jumlah?" Shan Luo mendengus meremehkan.

​"Bukan cuma itu," lanjut Han Xiao. "Mereka telah menyebarkan hadiah besar bagi siapa pun yang bisa memberikan kepalamu. Sekarang, setiap tentara bayaran di kota ini sedang memperhatikan setiap orang berambut dua warna yang lewat."

​Mo Huang tertawa kecil, aura ungunya mulai merembes keluar. "Biarkan mereka datang. Aku butuh lebih banyak energi untuk mencerna sisa-sisa jiwa bocah api kemarin. Semakin banyak mereka, semakin meriah pestanya."

​Malam itu, di bawah perlindungan badai salju yang mulai turun, mereka meninggalkan kota perbatasan dan bergerak menuju kaki Gunung Merapi Abadi.

Medan di sini sangat menyiksa; mereka harus melompati sungai lava kecil sambil menahan hantaman angin es yang bisa membekukan darah seketika.

​"Di sana!" Shan Luo menunjuk ke arah sebuah lubang raksasa yang mengeluarkan uap biru dan merah secara bergantian.

​Itulah Celah Api Es. Dari kejauhan, mereka bisa melihat barisan obor yang menyala.

Ratusan prajurit klan Shan sudah membentuk barisan pertahanan di depan pintu masuk celah tersebut.

Di depan mereka, berdiri tiga sosok raksasa setinggi tiga meter dengan zirah besi hitam yang tidak bergerak sama sekali, Tiga Penjaga Gerbang.

​Shan Luo menarik Sabit Jiwa Kegelapan-nya. Bilah hitam itu berkilat di bawah cahaya bulan yang pucat.

​"Han Xiao, kau urus kavaleri di sisi kanan. Mo Huang, ambil bagian kiri. Biarkan aku yang membereskan tiga boneka itu," perintah Shan Luo.

​"Haha! Akhirnya adegan yang kutunggu-tunggu!" Han Xiao mencabut dua belati pendeknya, tubuhnya mulai memancarkan cahaya emas yang terang.

​Shan Luo melangkah maju perlahan. Setiap pijakannya meninggalkan jejak es hitam di tanah yang panas.

Para prajurit klan Shan menyadari kehadirannya. Terompet perang ditiup, memecah kesunyian malam di perbatasan.

​"SHAN LUO! BERANI-BERANINYA KAU MENAMPAKKAN DIRI!" teriak seorang komandan kavaleri dari kejauhan.

​Shan Luo tidak menjawab. Ia hanya mengangkat sabitnya, matanya yang dua warna berkilat dengan tekad yang tak tergoyahkan. Perjalanan balas dendamnya kini telah sampai di gerbang terakhir klan Shan.

Di balik celah itu, rahasia kekuatan leluhur menunggunya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun, hidup atau mati, menghalangi jalannya.

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!