Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Lorong Gravitasi yang Merobek Jiwa
Langkah pertama tim menuruni tangga dari lantai empat terasa normal. Namun, begitu kaki mereka menapak pada lantai kelima, udara seketika berubah. Bukan lagi udara pengap makam, melainkan aura tekanan yang aneh dan mencekik.
Lorong Lantai Kelima tampak seperti lorong biasa dinding batu gelap, lantai datar, dan langit-langit yang rendah. Tetapi semua itu adalah ilusi.
Detik pertama mereka melangkah keluar dari bayangan tangga, medan aneh itu langsung menghantam.
“Ada apa ini?!” seru salah satu tentara, suaranya terputus-putus.
Tiba-tiba, beban yang sangat kuat menekan mereka dari atas dan bawah. Dalam satu momen, mereka tertekan ke lantai dengan beban yang diperkirakan tiga kali lipat gravitasi normal. Setiap gerakan terasa seperti mengangkat sebongkah batu besar. Otot-otot berteriak, lutut gemetar, dan napas terasa seperti dicuri paksa.
Tentara 2: “Aku... aku tidak bisa bergerak!” Suara itu nyaris berbisik, tertekan oleh beban tak terlihat.
Dan dalam detik berikutnya, tanpa peringatan, gravitasi beralih 90 derajat, menarik mereka brutal ke salah satu dinding lorong. Mereka yang tadinya berjuang di lantai kini menempel vertikal, harus segera mengubah kaki mereka menjadi tangan yang mencengkeram batu dingin agar tidak jatuh.
Perubahan itu terjadi secara acak dan cepat, memaksa tim untuk terus-menerus menyesuaikan orientasi tubuh mereka. Satu saat mereka merangkak di lantai, saat berikutnya mereka menggantung di langit-langit.
Ketakutan memuncak ketika anomali gravitasi terjadi. Di tengah lorong, terjadi perselisihan kekuatan. Lantai di bawah menarik mereka ke bawah dengan kuat, sementara bagian langit-langit yang hanya berjarak beberapa meter di depan menciptakan gaya tarik ke atas yang sama brutalnya.
Tentara 3: (Teriakan kesakitan yang singkat.) “Tarikanku berbeda! Bagian depanku ditarik ke atas!”
Tubuh mereka terasa seolah dirobek di antara dua kekuatan yang berlawanan. Jika mereka bergerak lebih jauh ke depan, tubuh mereka akan terdistorsi dan terkoyak.
Semua orang, kecuali satu, menebak dengan hati-hati: ruangan lantai kelima yang mereka lewati adalah Medan Gravitasi yang dapat diatur secara independen oleh lempengan di dinding, lantai, dan langit-langit.
Semua orang berjuang. Kieran dan Falix mengerahkan seluruh kekuatan fisik dan spiritual mereka, tetapi setiap langkah maju terasa seperti melawan gelombang tsunami. Beberapa tentara terjatuh, tidak mampu melangkah lebih jauh. Ada pula yang memilih mundur, merangkak kembali ke titik awal dekat tangga, wajah mereka pucat karena ketidakberdayaan.
Di tengah kekacauan, hanya ada satu orang yang bergerak normal: Aura.
Dia berjalan santai ke depan, seolah lorong itu adalah taman yang datar. Kaki-kakinya ringan, tubuhnya tidak terpengaruh oleh tekanan tiga kali lipat atau tarikan ke dinding. Dia bergerak melintasi titik-titik anomali dengan elegan, seolah medan gravitasi itu tunduk padanya.
Kieran dan Falix, yang berjuang keras menahan beban, akhirnya bertemu di tengah lorong yang sedang mengalami gravitasi normal sesaat.
Kieran: (Napasnya tersengal.) “Medan ini... terlalu berat. Falix, apa perlu kita lanjutkan?”
Falix: (Mengangguk, wajahnya basah oleh keringat.) “Jika ini terus begini, kita akan hancur sebelum menemukan jalan keluar. Kita harus membuat rencana.”
Aura, yang sudah berada beberapa meter di depan, menoleh ke belakang. Dia melihat Kieran dan Falix berjuang, serta tim yang lumpuh di belakang mereka.
Aura: (Wajahnya tampak santai, seolah baru saja berjalan-jalan.) “Bagaimana kalau aku melihat situasi di depan dulu? Aku bisa membuat rencana selanjutnya.”
Semua memandang ke arah Aura. Ketenangan dan kebebasannya dari tekanan itu sungguh tidak masuk akal dan semakin menguatkan kecurigaan Falix. Namun, mereka tidak punya pilihan.
Kieran: (Setelah mengatur napas, ia mengangguk penuh tekad.) “Baik. Aku akan ikut. Kita berdua saja, lebih lincah daripada tim. Falix, kau amankan yang lain dan mundurlah ke titik awal.”
Sementara Falix memimpin tim yang terluka untuk mundur kembali ke tangga, Kieran dan Aura maju. Mereka berhasil melewati lorong gravitasi dengan cepat tentu saja, berkat Aura.
Setelah melintasi beberapa meter lagi, mereka memasuki area baru: Lorong Medan Magnet Berputar.
Dinding lorong kini tampak terbuat dari obsidian gelap yang halus dan mengkilap. Di balik dinding itu, Kieran tahu, pasti ada kumparan superkonduktor raksasa yang menghasilkan energi penghancur.
• Efek Polaritas Acak: Medan magnet segera diaktifkan. Polaritasnya berbalik tanpa henti, menciptakan pusaran kuat yang brutal. Kieran, yang mengenakan pelindung dan membawa beberapa peralatan logam, merasakan dampaknya secara instan. Pusaran magnet itu mencengkeramnya, lalu mendorongnya menjauh dengan kekerasan tak terduga, merobek jaket kulitnya saat dia dipaksa menjauh dari dinding.
Kieran: (Menggerutu kesal.) “Sial! Peralatan logam kita menjadi kelemahan!”
• Ancaman Resonansi Jiwa: Namun, ancaman terbesar bukanlah logam. Medan magnet ini dirancang khusus untuk beresonansi dengan energi jiwa. Saat pulsa mencapai puncaknya, energi jiwa Kieran terasa seperti ditarik keluar dari tubuh atau ditekan hingga hampir lumpuh. Konsentrasinya buyar, padahal ia sangat membutuhkannya untuk menanggulangi gravitasi yang kadang muncul.
Kieran: (Ia memejamkan mata sesaat, menahan rasa sakit di inti jiwanya.) “Ini... menyerang energi vital!”
• Kesulitan Navigasi yang Ekstrem: Lorong ini menggabungkan kedua ancaman: Medan gravitasi dan magnet. Saat Kieran berhasil mengamankan pijakan di dinding karena adanya gaya gravitasi horizontal, medan magnet dapat tiba-tiba mendorongnya menjauh dari dinding. Ia terlempar ke tengah ruangan, tepat di titik gravitasi yang sedang nol, menyebabkan ia melayang tak terkendali.
Aura, yang sama sekali tidak membawa logam dan entah bagaimana kebal terhadap serangan resonansi jiwa, harus berulang kali menggunakan tangannya untuk mencengkeram Kieran dan mengembalikannya ke pijakan.
Kieran: (Melayang tak berdaya, terlempar oleh kombinasi gravitasi nol dan tolakan magnet.) “Aura, bagaimana... bagaimana kau bisa tetap stabil?!”
Aura: (Mencengkeram pergelangan tangan Kieran dengan kuat, menariknya kembali ke dinding.) “Fokus pada titik netral. Gerakanku tidak melibatkan tarik-menarik magnet, dan jiwaku... berbeda.” (Senyumnya singkat dan penuh rahasia.)
Setelah melewati beberapa meter di lorong neraka ini dengan Kieran yang nyaris pingsan karena guncangan gravitasi dan serangan jiwa, sementara Aura tetap tenang dan lincah mereka berhasil mencapai akhir lorong. Mereka kini tahu persis apa yang menunggu tim mereka.
Kondisi di depan mustahil ditembus oleh tim yang membawa banyak senjata dan perlengkapan logam.
Aura: (Menatap lorong di depan, yang kini tampak lebih stabil.) “Sudah cukup. Kita sudah tahu kondisinya. Kita harus kembali dan menyusun rencana baru.”
Kieran: (Menghela napas, bersandar ke dinding, kelelahan fisik dan spiritual.) “Kau benar. Jika kita memaksa, kita akan kehilangan semua orang.”
Setelah mengetahui kondisi di depannya, Aura dan Kieran kembali ke titik kumpul di belakang mereka. Mereka bergerak cepat, memanfaatkan pengetahuan Aura tentang titik-titik netral di medan gravitasi.
Mereka kembali, bergabung dengan Falix dan tim yang menunggu dalam ketegangan. Kedatangan mereka membawa berita buruk tentang ancaman ganda yang harus mereka hadapi. Medan gravitasi dan magnet ini bukan jebakan, melainkan filter pemusnah yang dirancang untuk merobek tubuh dan jiwa penyusup.