NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12: Kami Kembali ke Sekolah

^^^Rabu, 22 Agustus^^^

Pagi itu Azril terbangun lebih awal dari biasanya.

Bukan karena alarm. Bukan karena suara ibu di dapur. Tapi karena sesuatu yang berbeda—cahaya matahari yang menyelinap lewat celah gorden, mengenai wajahnya tepat di bagian pelipis yang masih sedikit perih. Ia meraba kepalanya. Bengkaknya sudah mulai mengempis, tapi bekasnya masih terasa.

Kacamatanya tergeletak di meja belajar. Retak di sudut kiri.

Azril duduk di tepi kasur. Matanya menatap meja belajar—teks pidato, inhaler biru, pion catur. Tiga benda yang dua minggu lalu tidak pernah ia bayangkan akan berdampingan. Sekarang mereka tergeletak bersama, seperti teman lama yang akhirnya saling mengenal.

Ia meraih inhaler. Menggenggamnya. Dulu, benda ini ia sembunyikan di balik tumpukan buku. Sekarang ia meletakkannya di tempat terbuka.

"Zril! Ayo sarapan!"

Suara ibu dari dapur. Azril berdiri, memakai kacamatanya yang retak, dan berjalan keluar kamar.

Di meja makan, Dinda sudah duduk dengan mulut penuh nasi goreng. Matanya langsung tertuju pada kacamata kakaknya. "Kak, kacamata kakak kenapa?"

Azril duduk di seberangnya. "Jatuh."

"Jatuh di mana?"

"Rahasia."

Dinda mengernyit, tidak mengerti. Tapi ibunya mengerti. Ia meletakkan piring nasi goreng di depan Azril, lalu duduk di sampingnya. "Azril... ibu boleh tau gak, kenapa kacamata kamu retak? Dan pelipis kamu biru?"

Azril menatap nasinya. Ia bisa berbohong. Ia bisa bilang jatuh dari sepeda, atau kecelakaan kecil di sekolah. Tapi ia ingat apa yang terjadi kemarin—bagaimana ia akhirnya jujur pada teman-temannya, dan bagaimana mereka menerimanya.

Ia menarik napas. "Ada masalah di sekolah sama anak yang suka gangguin aku. Tapi..." ia mendongak, menatap ibunya. "Temen-temen aku bantuin. Semuanya baik-baik aja sekarang."

Ibunya terdiam. Lalu, perlahan, ia mengelus rambut Azril. "Kamu punya teman yang baik."

Azril tersenyum. "Iya, Ma. Aku punya teman yang baik."

...~•~•~•~...

Bima menyalakan motornya dengan tangan kiri. Tangan kanannya yang diperban diletakkan di atas paha—tidak disembunyikan, tidak juga dipamerkan. Hanya... ada di sana.

Rumahnya masih sama. Cat mengelupas. Genting retak. Pagar berkarat. Tapi sesuatu terasa berbeda pagi ini. Mungkin bukan rumahnya yang berubah. Mungkin dirinya.

Ia menoleh ke arah pintu. Mamahnya berdiri di sana, bersandar di kusen dengan cangkir kopi di tangan. Rokok tidak menyala di jarinya—untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu. Matanya masih sembab, tapi ada sesuatu di tatapannya yang berbeda.

"Pulang sekolah langsung balik," katanya. Suaranya datar, seperti biasa. Tapi tidak ada ketus di sana.

Bima mengangguk. "Iya, Mah."

Ia memacu motornya pelan. Angin pagi menerpa wajahnya. Bibirnya masih perih, tapi ia tetap menyenandungkan lagu yang tidak jelas liriknya. Di perempatan, ia berhenti sebentar, melihat ke arah jalan menuju rumah Azril, lalu ke arah jalan menuju sekolah. Dua arah yang berbeda. Tapi sama-sama ia tuju nanti.

Hari ini gue balik ke sekolah, pikirnya. Bareng mereka. Kayak biasa. Tapi gue tau sekarang... gue gak sendiri.

...~•~•~•~...

Faris duduk di meja makan dengan buku gambarnya terbuka di samping piring. Ibunya sibuk menuangkan susu ke gelas, gerakannya cekatan seperti biasa.

"Nak, lutut kamu masih sakit?"

Faris menggeleng.

"Kok diplester gitu? Kata Bu Guru kemarin kamu jatuh pas lomba balap karung?" Ibunya duduk di seberangnya, menatapnya dengan tatapan yang selalu membuat Faris merasa aman.

Faris membuka mulutnya. Ia ingin bilang tidak, itu bukan karena lomba. Itu karena... karena...

Tapi kata-kata itu tersangkut lagi.

Ia meraih notebook-nya. Menulis: [Aku jatuh. Tapi temen-temenku bantuin.]

Ibunya membaca. Lalu tersenyum—senyum yang sama seperti dulu, sebelum semuanya berubah. "Kamu punya teman sekarang?"

Faris menatap tulisan di notebook-nya. Lalu menatap ibunya. Ia teringat kemarin—bagaimana suaranya keluar untuk pertama kalinya. Berempat. Suara itu serak dan pelan dan hampir tidak terdengar. Tapi suara itu keluar.

Ia menarik napas.

"Iya."

Ibunya membeku. Matanya membesar. "Faris... kamu..."

"Aku... punya teman." Suaranya serak lagi. Tenggorokannya sakit. Tapi ia tersenyum. "Mereka... baik."

Air mata jatuh dari mata ibunya. Bukan air mata sedih. Air mata yang sudah lama ia tahan, yang akhirnya tumpah di pagi hari yang biasa. Ia memeluk Faris erat-erat, dan Faris, untuk pertama kalinya, memeluk balik tanpa gemetar.

...~•~•~•~...

Motor butut Elang berhenti di depan rumah Aini. Gadis itu sudah menunggu di teras dengan map OSIS di tangan—tapi kali ini map itu tidak penuh dengan kertas. Hanya beberapa lembar yang tersisa, sisa rapat yang belum selesai kemarin.

"Pagi, Kak." Aini naik ke boncengan, memakai helm yang penuh goresan.

"Pagi."

Motor melaju pelan. Jalanan masih sama—pertigaan, warung-warung yang mulai buka, anak-anak SD yang berjalan kaki dengan tas ransel kebesaran. Tapi ada yang berbeda di antara mereka.

"Kak, tadi malem aku mimpi."

"Mimpi apa?"

"Mimpi kita semua di kantin. Makan bareng. Terus Bima ngomong sesuatu yang lucu sampe Faris ketawa. Kakak juga ketawa."

Elang tidak menjawab.

"Itu cuma mimpi ya, Kak? Atau..." Aini ragu.

"Atau apa?"

"Atau nanti beneran terjadi?"

Elang menghela napas. Angin pagi bertiup, membuat rambut Aini yang terselip di balik helm sedikit berantakan. "Kita liat aja."

Tapi sudut bibirnya terangkat. Dan Aini, yang duduk di belakangnya, melihat itu.

...~•~•~•~...

Mereka tiba di gerbang sekolah hampir bersamaan.

Azril dengan sepeda tuanya. Bima dengan motornya. Elang dan Aini dengan motor bututnya. Faris diantar ibunya, yang melambai kecil sebelum pergi.

Pak Dani—satpam yang dulu selalu memarahi Bima dan Azril karena terlambat—berdiri di depan gerbang. Wajahnya berubah saat melihat mereka satu per satu. Kacamata Azril yang retak. Tangan Bima yang diperban. Pipi Elang yang membiru. Lutut Faris yang diplester.

"Kalian... Ya Allah, kenapa?" Pak Dani mendekat, suaranya campur aduk antara khawatir dan marah. "Kalian berantem lagi? Sama siapa? Siapa yang berani—"

"Gapapa, Pak." Bima mengangkat tangan kirinya—satu-satunya yang tidak diperban. "Kita cuma jatuh dari motor."

"Bareng-bareng?"

"Ya... motornya gede."

Pak Dani menatap mereka tidak percaya. Tapi ia melihat sesuatu di wajah mereka—bukan ketakutan, bukan kemarahan. Hanya ketenangan aneh yang tidak bisa ia jelaskan.

"Kalian ini..." Ia menghela napas panjang. "Yaudah, cepet masuk. Jangan sampe telat upacara."

"Upacara?" Azril mengernyit. "Bukannya Rabu gak ada upacara?"

"Ada upacara khusus. Kalian masuk aja dulu."

Mereka berlima berjalan memasuki gerbang. Dan saat itulah mereka menyadarinya—siswa-siswa lain menoleh.

Bukan menoleh seperti dulu, ketika Elang berjalan sendirian dan semua orang menyingkir. Bukan menoleh seperti ketika Azril pertama kali datang dan tidak ada yang peduli. Tapi menoleh dengan ekspresi yang berbeda. Ada yang berbisik. Ada yang melirik ke arah mereka lalu cepat-cepat memalingkan muka. Ada yang menatap dengan... kagum?

"Kenapa semua orang liatin kita?" Bima berbisik.

"Mungkin karena tampang kita kayak abis perang," Azril menjawab.

"Emang abis perang."

"Tapi mereka gak ketawa," Aini menambahkan pelan. "Mereka... beda."

Mereka berjalan menyusuri koridor menuju lapangan upacara. Di depan mereka, beberapa siswa kelas bawah menyingkir—bukan karena takut, tapi seperti memberi jalan. Di samping mereka, sekelompok siswi melirik dan berbisik-bisik.

Dan kemudian mereka melihat Dika. Ketua kelas XII IPS 2 itu berdiri di depan barisan, memegang selembar kertas. Begitu melihat mereka, ia langsung mendekat.

"Lo semua... gue denger dari anak OSIS." Suaranya pelan, hanya untuk mereka berlima. "Kemarin sore. Di lapangan belakang."

Mereka saling pandang.

"Gue gak tau detailnya. Dan gue gak mau tau." Dika menatap mereka bergantian. "Tapi gue cuma mau bilang... respect. Beneran."

Dika berbalik dan kembali ke barisannya.

Bima menatap yang lain. "Dika bilang respect. Gue mimpi apa?"

"Bukan mimpi," Elang berkata pelan.

Upacara khusus itu ternyata adalah pengumuman dari Kepala Sekolah. Pria berwibawa dengan kacamata tebal—ayah Marcel—berdiri di podium. Suaranya berat dan berwibawa.

"Siswa-siswi yang saya banggakan. Hari ini saya ingin menyampaikan satu hal penting. Kemarin sore, telah terjadi insiden di lingkungan sekolah kita. Sebuah perkelahian melibatkan beberapa siswa."

Azril menegang. Bima mencengkeram tangan kirinya.

"Saya tidak akan menyebutkan nama. Tapi saya ingin menegaskan: sekolah ini tidak mentolerir kekerasan dalam bentuk apa pun. Pihak yang terlibat akan ditindak sesuai aturan yang berlaku."

Jeda panjang. Kepala Sekolah mengedarkan pandangannya ke seluruh lapangan.

"Namun... saya juga mendengar bahwa ada siswa-siswa yang memilih untuk membela temannya. Yang memilih untuk tidak lari meskipun mereka bisa. Itu adalah tindakan yang patut dihormati."

Mata Azril membesar. Ia menoleh ke Bima, yang juga menatapnya dengan ekspresi yang sama.

"Saya tidak menganjurkan kekerasan. Tapi keberanian untuk membela yang benar—itu adalah nilai yang kita junjung di sekolah ini. Untuk itu, saya ucapkan terima kasih kepada siswa-siswa tersebut."

Kepala Sekolah turun dari podium. Upacara selesai.

Dan saat barisan mulai membubarkan diri, sesuatu terjadi yang tidak pernah mereka duga.

Seorang siswa kelas X—anak baru yang bahkan tidak mereka kenal—mendekati Elang dengan langkah ragu. "Kak... Kakak keren." Lalu ia berlari pergi sebelum Elang sempat menjawab.

Elang berdiri terpaku. "Apa... apa yang barusan terjadi?"

"Lo baru aja dipuji anak baru," Bima tertawa. "Respect, Lang. Respect."

...~•~•~•~...

Bel istirahat berbunyi. Mereka berlima berjalan menuju kantin dengan langkah yang lebih ringan dari kemarin.

Kantin siang itu ramai seperti biasa. Tapi saat mereka masuk, sesuatu berubah. Bisik-bisik yang biasanya mengikuti langkah mereka kini lebih pelan. Beberapa siswa bahkan tersenyum—bukan mengejek, tapi ramah.

Mereka menuju bangku pojok yang sama. Bangku bersejarah itu.

Tapi kali ini posisi duduk mereka berbeda.

Di satu sisi, Azril duduk di ujung dekat dinding, dan di sampingnya Aini duduk dengan map OSIS di pangkuan. Di seberang mereka, Bima duduk di tengah—tempat yang paling lebar, karena ia butuh ruang untuk menggerakkan tangan kirinya saat bercerita. Faris duduk di samping kanan Bima, dekat jalan keluar—tapi kali ini bukan untuk kabur, hanya karena ia lebih suka di pinggir. Elang duduk di samping kiri Bima, di ujung satunya lagi, di mana punggungnya bisa bersandar ke dinding dan matanya bisa mengawasi seluruh kantin.

Formasi baru. Berlima.

"Oke," Bima membuka percakapan, meletakkan nasi campurnya di atas meja. "Gue mau ngomong sesuatu."

"Tumben lo serius," Azril berkomentar.

"Ini serius." Bima menatap mereka satu per satu. "Gue... gue mau bilang makasih. Buat kemarin. Buat kalian semua."

"Bim—"

"Gue belom selesai." Bima menghela napas. "Kemarin... gue cerita soal bokap gue. Itu pertama kalinya gue cerita ke siapa-siapa. Gue selalu mikir, kalo orang tau, mereka bakal ngeliatin gue dengan kasihan. Atau lebih parah, mereka bakal ngejauhin gue karena mikir gue aneh."

Ia menatap tangannya yang diperban. "Tapi kalian... kalian gak ngelakuin itu. Kalian dengerin. Kalian terima. Kalian bahkan gak nanya macem-macem."

"Lo cerita kalo lo mau cerita." Azril berkata pelan. "Kita gak maksa."

"Justru itu." Bima mendongak, matanya sedikit berkaca-kaca. "Kalian gak maksa. Itu yang bikin gue berani cerita."

Aini meletakkan map OSIS-nya di samping. "Bim... aku gak tau soal bokap kamu. Tapi yang aku tau, kamu adalah orang paling kuat yang pernah aku temuin."

"Gue kuat?" Bima tertawa kecil. "Gue dipukulin sama bokap sendiri, Ai. Itu bukan kuat."

"Itu kuat. Kamu bertahan. Kamu malah masih bisa bikin kita semua ketawa." Aini menatapnya dengan mata yang tulus. "Itu lebih dari kuat."

Faris membuka notebook-nya. Menulis sesuatu, lalu mendorongnya ke tengah meja:

[Bima, kamu yang pertama kali bikin aku ngerasa punya teman. Kamu gak cuma kuat. Kamu baik.]

Bima membaca. Lalu ia menyeka matanya dengan punggung tangan kirinya. "Ini... ini debu. Bukan nangis."

"Debu di kantin?" Elang akhirnya bersuara. "Kantin ini udah dibersihin tadi pagi."

"MENDING LO DIEM LANG!"

Semuanya tertawa. Bahkan Elang.

Setelah tawa mereda, giliran Azril yang berbicara.

"Gue juga mau ngomong sesuatu." Ia meletakkan inhaler birunya di atas meja. Benda kecil itu tergeletak di antara nasi campur Bima dan bekal Faris. Semua mata tertuju padanya.

"Ini... inhaler gue. Buat asma." Suaranya pelan, tapi tidak gemetar. "Gue sembunyiin ini dari kalian. Dari semua orang. Gue takut dikira lemah. Gue takut kalian ngejauhin gue kalo tau gue sakit."

Ia menatap inhaler itu. "Tapi kemarin... semuanya ngeliat. Pas gue jatuh di lapangan. Pas gue gak bisa napas. Pas Faris ngambilin ini buat gue."

Faris menunduk, tapi sudut bibirnya terangkat.

"Dan kalian... kalian gak ngejauhin gue. Kalian gak ngetawain gue. Kalian malah..." Ia berhenti, menelan ludah. "Aini bilang, gue pake ini bukan berarti gue lemah. Gue pake ini berarti gue berjuang."

Aini tersenyum kecil. "Itu beneran kata-kataku?"

"Iya. Lo mungkin gak sadar, tapi kata-kata lo... ngena banget."

Aini merunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Jadi... sekarang semua orang tau," Azril melanjutkan. "Gue punya asma. Gue kadang susah napas. Gue harus bawa ini ke mana-mana. Tapi..." ia menggenggam inhaler itu. "Gue bukan cuma itu. Gue juga bisa main catur. Gue bisa bikin pidato. Gue bisa ngajarin kalian Bahasa Inggris. Gue... gue lebih dari penyakit gue."

"Zril." Bima menatapnya. "Lo baru sadar sekarang?"

Azril mengernyit. "Sadar apa?"

"Lo tuh dari dulu lebih dari penyakit lo. Cuma lo aja yang gak liat."

Elang mengangguk. "Bener. Lo menang catur sambil nyimpen ini sendirian. Itu bukan orang lemah."

"Lo bikin kita semua ngerti Passive Voice." Bima mengacungkan jempol kirinya. "Itu prestasi yang lebih gede dari menang catur."

"Bim, Passive Voice tuh gampang."

"BUAT GUE ENGGAK!"

Faris tertawa kecil. Beneran tertawa. Suaranya pelan, tapi semua orang mendengarnya.

"Ris... lo ketawa." Azril menatapnya.

Faris berhenti. Matanya membesar. Ia baru sadar apa yang baru saja ia lakukan. Tangannya langsung menutup mulutnya.

"Gak usah ditutup." Bima menarik tangan Faris pelan. "Lo ketawa. Itu bagus. Suara lo... suara lo enak didenger."

Faris menatap Bima. Lalu menatap yang lain. Perlahan, ia menurunkan tangannya.

"Gue... gue hari ini ngomong sama nyokap gue." Suaranya serak. "Dikit. Cuma bilang 'Aku punya teman.' Tapi nyokap gue nangis. Bukan nangis sedih. Nangis... seneng."

Aini tersenyum. "Itu langkah besar, Ris."

"Gue masih susah ngomong. Tapi... sekarang gue tau. Gue bisa. Pelan-pelan."

"Pelan-pelan gapapa." Azril menatapnya. "Kita semua pelan-pelan."

Elang yang dari tadi diam, tiba-tiba bersuara. "Gue juga pengen ngomong."

Semua mata tertuju padanya.

"Gue... gue gak pinter ngomong kayak kalian." Ia menatap meja. "Tapi gue mau bilang... kemarin, pas kalian semua ikut gue ke lapangan, gue mikir: ini pertama kalinya gue gak sendirian."

Ia menghela napas. "Dulu, pas gue di geng, gue dikelilingi banyak orang. Tapi gue tetep sendirian. Mereka bukan temen. Mereka cuma... pengikut. Tapi kalian..."

Ia mendongak, menatap satu per satu.

"Kalian milih ada di sini. Kalian milih ikut gue. Kalian milih berantem bareng, kalah bareng, ketawa bareng di gudang."

"Kalah mulu," Bima menyela.

"Lo yang mulai."

"Gak. Lo yang—"

"Marcel duluan—"

"Udah, udah." Aini mengangkat tangan. "Kakak mau ngomong sesuatu yang penting, malah jadi debat."

Elang menghela napas lagi. "Intinya... makasih."

"Udah?" Bima bertanya.

"Udah."

"Singkat banget."

"Lo mau gue kayak lo? Ceramah sejam?"

"WOY ITU BUKAN CERAMAH! ITU PIDATO!"

Azril memotong. "Bim, suara lo."

Bima langsung mengecilkan volumenya. "Eh iya, sorry."

Semuanya tertawa lagi. Kali ini lebih keras.

Di tengah tawa itu, Aini tiba-tiba terdiam.

"Ai?" Azril menoleh. "Kenapa?"

Aini menatap meja. Lalu menggeleng. "Gapapa. Aku cuma..."

Mereka menunggu.

"Aku mikirin sesuatu." Ia mendongak, menatap mereka semua. "Kemarin... aku di ruang OSIS sendirian. Aku nungguin kalian. Aku chat kalian semua. Gak ada yang bales. Aku takut. Aku pikir... aku pikir kalian kenapa-kenapa. Aku pikir Kakak balik ke geng. Aku pikir Azril kenapa-kenapa. Aku pikir..."

Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini ia tidak menyembunyikannya.

"Tapi sekarang kita di sini. Bareng. Dan aku... aku cuma mau bilang... aku seneng. Aku seneng punya kalian."

Bima mengangkat gelas es tehnya—dengan tangan kiri. "Kita minum buat Aini. Biar dia tau, dia bagian dari kita sekarang."

"Udah dari kemarin," Azril menambahkan.

"Udah dari sebelum kemarin," Faris berkata—suaranya masih serak, tapi lebih keras dari tadi.

Elang mengangkat gelasnya. "Buat Aini... buat kita semua. Biar kita gak sendiri lagi."

Lima gelas es teh bertemu di tengah meja. Dentingnya pelan, tapi terdengar jelas di seluruh kantin.

...~•~•~•~...

Sore itu, mereka pulang bersama.

Bima mengendarai motornya pelan-pelan ke arah rumah. Faris jalan kaki sendirian seperti biasa. Aini duduk di belakang kakaknya, memeluk pinggangnya lebih erat dari biasanya. Azril mengayuh sepeda tuanya di samping motor Elang.

Di pertigaan, mereka berhenti.

"Besok latihan pidato lagi?" Bima bertanya, tangan kirinya memegang stang, tangan kanannya—yang diperban—diletakkan di atas paha.

"Iya. Lomba tinggal dua minggu." Azril mengangguk. "Lo semua dateng?"

"Pasti. Gue kan manager lo." Bima menyeringai. "Nanti pas gue jadi pemain bola terkenal, lo jadi orator terkenal, Faris jadi pelukis terkenal, Elang jadi... apa ya?"

"Jadi apa aja selain anggota geng," Elang memotong datar.

"Nah, itu. Dan Aini..."

"Presiden," Aini menyahut dengan percaya diri.

"PRESIDEN! Keren! Aini jadi Presiden, kita semua jadi menterinya!"

"Menteri Pemuda dan Olahraga," Azril menambahkan.

"Menteri Pendidikan," Faris berkata pelan.

"Menteri... gak tau. Yang penting gak Menteri Pertahanan." Elang mengangkat bahu.

"KENAPA?! LO KAN JAGO BERANTEM?!"

"Itu justru, Bim. Menteri Pertahanan tuh harus jaga perdamaian, bukan malah berantem."

"Ah, lo mah banyak alasan."

Mereka semua tertawa. Dan tawa itu menggema di pertigaan yang mulai diterangi lampu jalan.

Mereka berpisah di sana. Bima ke barat. Elang, Aini, dan Faris ke timur. Azril ke selatan.

Tapi sebelum benar-benar pergi, Azril berhenti. Ia menoleh ke belakang, melihat punggung teman-temannya yang semakin menjauh. Bima dengan tangan diperbannya. Elang dengan pipi membirunya. Faris dengan lutut diplesternya. Aini dengan map OSIS di tangannya.

Dua minggu lalu, ia datang ke sekolah ini sendirian. Anak pindahan yang tidak kenal siapa-siapa. Anak culun yang duduk di pojok belakang. Anak yang menyembunyikan inhaler dan berharap tidak ada yang memperhatikan.

Sekarang...

"ZRIL! JANGAN NGELAMUN! BESOK JANGAN TELAT!"

Suara Bima dari kejauhan.

Azril tersenyum. "LO SENDIRI YANG JANGAN TELAT!"

"Huh, sombong lo sekarang!"

Azril tertawa. Ia mengayuh sepedanya, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Kacamatanya masih retak. Pelipisnya masih sakit. Tapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang terasa sangat, sangat ringan.

Malamnya, di kamarnya yang sempit, Azril duduk di depan meja belajar. Teks pidatonya tergeletak di samping inhaler. Inhaler di samping pion catur. Pion catur di samping kacamata retak.

Ia membuka buku catatannya. Halaman kosong. Ia mengambil pulpen, memutarnya di antara jari-jarinya.

Lalu ia menulis.

I want to speak.

Dua kata. Tapi beratnya seperti seluruh hidupnya.

Ia menatap tulisannya. Lalu menutup buku itu.

Besok lusa akan ada latihan lagi. Besok lusa akan ada hari baru. Besok lusa mungkin Marcel akan muncul lagi, atau mungkin tidak. Tapi untuk sekarang, Azril hanya ingin duduk di sini, di kamarnya yang sempit, dengan tiga benda di atas meja dan satu kalimat di buku catatannya.

Ia menggenggam pion catur itu. Pion putih kecil yang dulu ia ambil dari papan catur ayahnya.

"Ayah," bisiknya. "Aku udah nemu. Kata-kataku. I want to speak."

Di luar jendela, bintang-bintang bersinar.

Dan di dalam kamar itu, Azril tersenyum.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!