NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Dunia yang Asing

Kesadaran datang seperti cahaya yang menembus kabut tebal. Perlahan, Evelyn Edison membuka matanya, namun yang ia lihat bukan langit Riston, bukan aula sihir, bukan cahaya mantra yang berpendar.

Langit-langit putih.

Dingin.

Asing.

Bau tajam memenuhi inderanya, menusuk seperti sesuatu yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Tubuhnya terasa berat, lemah, seolah bukan miliknya sendiri. Tangannya mencoba bergerak, dan ia merasakan sesuatu menusuk kulitnya.

Ia menoleh.

Selang.

Infus.

Detak jantungnya meningkat.

“Apa ini…” bisiknya pelan.

Ia mencoba bangun, namun tubuhnya menolak. Otot-ototnya tidak merespons seperti yang ia harapkan. Tidak ada sihir. Tidak ada energi yang mengalir di dalam dirinya.

Kosong.

Benar-benar kosong.

Saat itulah—

Ia menyadari.

Ini bukan lagi dunia sihir.

Ini… bumi.

Namun sebelum pikirannya sempat menyusun semuanya, suara lain memotong kesadarannya.

“Sudah bangun?”

Suara itu dingin.

Tenang.

Namun tidak ramah.

Evelyn menoleh.

Di hadapannya, seorang pria duduk di kursi roda. Wajahnya tajam, rahangnya tegas, dan matanya… dingin seperti es yang tidak pernah mencair. Ada aura yang tidak biasa darinya, bukan sihir, tetapi sesuatu yang membuat udara terasa berat.

Martin Gilbert.

Evelyn mengerutkan kening. “Aku… di mana?”

Pria itu tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatapnya dengan ekspresi datar.

“Berhenti pura-pura, Laura Roberts,” katanya dingin. “Kamu membuat semua orang khawatir.”

Nama itu—

Terasa asing.

Namun anehnya… juga tidak.

Evelyn terdiam.

Laura… Roberts.

Sebuah sensasi aneh menjalar di kepalanya. Potongan-potongan memori yang bukan miliknya mulai muncul, samar namun cukup untuk membuatnya mengerti satu hal—

Ia tidak hanya berpindah dunia.

Ia… menjadi seseorang.

Tubuh ini.

Nama ini.

Bukan miliknya.

Namun sekarang—

Adalah dirinya.

Evelyn menarik napas pelan, mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kacau.

“Aku…” ia berhenti sejenak, mencoba memilih kata, “tidak ingat.”

Tatapan pria itu berubah sedikit.

Bukan terkejut.

Melainkan… curiga.

“Tidak ingat?” ulangnya.

Evelyn menatapnya. “Siapa kamu?”

Sunyi.

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

Lalu pria itu tertawa kecil.

Namun tawa itu tidak hangat.

Lebih seperti… sinis.

“Kamu serius?”

Evelyn tidak menjawab.

Ia benar-benar tidak tahu.

Dan itu bukan pura-pura.

Pria itu menyandarkan tubuhnya sedikit ke kursi roda, matanya masih menatap tajam.

“Kamu bahkan tidak mengenal suamimu sendiri?”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Namun bagi Evelyn— Itu seperti petir.

“Suami?” ulangnya pelan.

“Ya,” jawab pria itu dingin. “Aku.”

Evelyn membeku.

Sihir tidak ada.

Dunia berbeda.

Dan sekarang—

Statusnya pun… berubah.

“Namaku Martin Gilbert,” lanjut pria itu tanpa emosi.

Nama itu terasa asing.

Namun entah kenapa… ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar kecil.

Bukan karena kenal.

Tapi karena… keterikatan.Memori lain muncul.

Fragmen.

Cepat.

Tak utuh.

Namun cukup untuk membuat kepalanya terasa berat.Evelyn memegang pelipisnya.

“Apa…” ia meringis sedikit, “yang terjadi padaku?”

Martin tidak langsung menjawab.

Ia mengamati setiap gerakan kecil Evelyn, seolah mencoba membaca sesuatu.

“Kamu pingsan,” katanya akhirnya. “Di rumah.”

Evelyn menatapnya.

“Kenapa?”

Martin mengangkat bahu sedikit. “Kalau kamu ingin pura-pura lupa, setidaknya lakukan dengan lebih meyakinkan.”

“Aku tidak pura-pura.”

“Kamu selalu seperti itu.”

Evelyn mengernyit. “Seperti apa?”

“Berbohong dengan wajah tenang.”

Evelyn terdiam.

Ia tidak punya jawaban.

Karena kali ini—

Ia memang tidak tahu.

“Dengarkan aku,” katanya pelan, mencoba menahan ketegangan dalam suaranya. “Aku benar-benar tidak ingat apa pun.”

Martin menatapnya lama.

Tidak berbicara.

Tidak bergerak.

Hanya… menilai.

Seolah sedang memutuskan apakah ia percaya… atau tidak.

“Kamu tidak ingat siapa aku?” tanyanya lagi.

Evelyn menggeleng pelan.

“Tidak.”

Sunyi.

Ruangan terasa semakin dingin.

Martin menghela napas pelan, lalu memalingkan wajahnya sedikit.

“Hebat,” gumamnya. “Sekarang kamu bahkan melupakan semuanya.”

“Aku tidak bermaksud—”

“Tidak usah menjelaskan.”

Evelyn terdiam.

Ada sesuatu dalam suaranya.

Bukan hanya dingin.

Tapi… lelah.

Martin kembali menatapnya.

“Kalau ini benar,” katanya pelan, “maka kamu benar-benar dalam masalah.”

Evelyn menelan ludah.

Masalah.

Kata itu terasa lebih berat di dunia ini dibanding dunia sihir.

“Masalah seperti apa?”

Martin tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak menyenangkan.

“Kamu akan tahu.”

Evelyn merasakan sesuatu yang tidak ia rasakan sebelumnya.

Bukan ancaman sihir.

Bukan bahaya yang terlihat.

Tapi sesuatu yang… lebih rumit.

Lebih manusia.

Ia menunduk sedikit, menatap tangannya yang terpasang infus.

Tubuh ini lemah.

Tidak ada sihir.

Tidak ada kekuatan.

Hanya… kehidupan biasa.

Namun justru itu yang membuatnya terasa asing.

Ia mengangkat pandangannya lagi.

Menatap Martin.

“Kalau aku benar-benar tidak ingat…” katanya pelan, “apa yang harus aku lakukan?”

Martin tidak langsung menjawab.

Ia menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata singkat—

“Mulai dari awal.”

Jawaban itu sederhana.

Namun bagi Evelyn—

Itu terasa seperti ironi.

Karena tanpa ia sadari…

Itulah yang memang ia pilih sejak awal.

Menjadi manusia.

Memulai dari awal.

Dan sekarang—

Ia benar-benar berada di titik itu.

Tanpa sihir.

Tanpa masa lalu yang utuh.

Tanpa kepastian.

Namun satu hal yang tidak berubah—

Tatapannya.

Evelyn mengepalkan tangannya pelan.

Meski dunia ini asing.

Meski hidup ini bukan miliknya sejak awal.

Ia tidak akan mundur.

Karena ia sudah memilih. Dan sekarang—Ia harus menjalaninya.Sebagai Evelyn.Sebagai Laura.Atau mungkin…

Sebagai seseorang yang baru sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!