NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jam Lima Subuh

​Alarm di ponsel Ziva menjerit tepat pukul 04.30. Dengan mata yang masih berat, ia mengerang, menarik selimutnya lebih tinggi. Namun, ketukan pelan namun berirama di pintunya tidak berhenti.

​"Ziva, bangun. Lima menit lagi kita berangkat," suara Arkan terdengar datar dari balik pintu, tapi ada ketegasan yang tak bisa dibantah.

​Ziva bangkit dengan langkah gontai. Ia membuka pintu kamarnya, masih mengenakan piyama flanel bergambar awan dan rambut yang mencuat ke segala arah. Di depannya, Arkan sudah berdiri rapi.

Wangi sabun bayi dan kopi hitam menguar dari tubuhnya. Ia sudah mengenakan kemeja seragam yang disetrika licin, tanpa cacat.

​"Lo... lo beneran manusia atau android sih?" gumam Ziva sambil mengucek matanya. "Siapa juga yang mau sekolah jam segini? Satpam sekolah aja mungkin masih mimpi."

​"Keamanan rahasia kita lebih penting daripada jam tidurmu," balas Arkan, sambil menyodorkan sebuah kotak bekal berisi roti bakar cokelat. "Makan di mobil. Cepat mandi."

​Sunyi di Kursi Penumpang

​Mobil melaju membelah jalanan kota yang masih remang. Lampu-lampu jalanan kuning keemasan memantul di kaca mobil. Ziva mengunyah roti bakarnya dalam diam, sesekali melirik Arkan yang fokus pada kemudi.

​"Ar," panggil Ziva pelan.

​"Hm?"

​"Kenapa lo nggak pernah protes sama bokap lo? Maksud gue, lo kan pinter, lo punya masa depan. Kenapa lo mau aja dijodohin sama... orang kayak gue?"

​Arkan terdiam sejenak. Ia menepi di sebuah sudut jalan yang sepi, beberapa ratus meter sebelum area sekolah. Ia mematikan mesin mobil. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur.

​"Karena aku tahu aku tidak bisa melawan dunia sendirian, Ziva," ucap Arkan pelan, matanya menatap lurus ke depan.

"Ayahku memegang kendali atas segalanya. Tapi... setelah menjalaninya bersamamu beberapa minggu ini, aku sadar..."

​"Sadar apa?"

​Arkan menoleh. Tatapannya tidak lagi dingin seperti di ruang OSIS. Ada kelembutan yang menyakitkan di sana. "Aku sadar bahwa bagian tersulit dari rahasia ini bukan

menyembunyikannya dari orang lain, tapi menyembunyikan kenyataan bahwa aku mulai peduli padamu."

​Jantung Ziva mencelos. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum ia sempat bereaksi, Arkan menyandarkan kepalanya di setir mobil. Bahunya sedikit bergetar.

​"Aku lelah, Ziva. Lelah jadi sempurna, lelah jadi pelindung aturan, lelah pura-pura nggak kenal kamu di koridor saat aku tahu kamu habis dipalak Clarissa. Aku benci diriku sendiri karena nggak bisa belain kamu."

​Melihat sisi rapuh Arkan yang selama ini selalu ia anggap robot, dinding pertahanan Ziva runtuh. Rasa marahnya selama ini menguap begitu saja. Tanpa pikir panjang, Ziva melepas sabuk pengamannya dan bergeser mendekat.

​Resonansi di Balik Kaca Gelap

​Ziva mengulurkan tangannya, ragu sejenak, sebelum akhirnya melingkarkan lengannya di bahu Arkan. Ia menarik kepala laki-laki itu ke ceruk lehernya. Arkan membeku. Tubuhnya menegang sesaat, sebelum akhirnya ia luluh.

​Arkan membalas pelukan itu. Ia menyembunyikan wajahnya di bahu Ziva, melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dengan erat—seolah-olah jika ia melepasnya, dunianya yang teratur akan hancur berkeping-keping.

​"Jangan minta maaf lagi," bisik Ziva, tangannya mengusap tengkuk Arkan dengan lembut. "Gue tahu lo juga kejepit. Gue cuma butuh tahu kalau gue nggak sendirian di sini. Bahwa lo... ada di pihak gue."

​Arkan menghirup aroma rambut Ziva yang wangi stroberi. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa tidak perlu menjadi "Ketua OSIS". Di dalam mobil yang gelap ini, ia hanya seorang remaja laki-laki yang menemukan rumah pada perempuan yang seharusnya ia benci.

​"Aku selalu di pihakmu, Ziva. Selalu," gumam Arkan pelan.

​Pelukan itu bertahan lama. Tidak ada nafsu, hanya ada rasa saling menguatkan antara dua jiwa yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Di luar, langit mulai membiru, menandakan drama sekolah akan segera dimulai kembali.

​Bahaya di Lobi Apartemen

​Setelah momen di mobil, Arkan menurunkan Ziva seperti biasa di titik aman. Ziva berjalan masuk ke sekolah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Namun, ia tidak tahu bahwa bahaya sebenarnya bukan berada di sekolah.

​Sore harinya, saat Ziva pulang lebih dulu karena tidak ada jadwal ekskul, ia terkejut melihat sosok yang berdiri di lobi apartemennya. Seseorang yang mengenakan jaket kulit hitam dan memegang helm.

​"Ziva?"

​Ziva mematung. Itu Revan.

​"Kak... Kak Revan? Ngapain di sini?" tanya Ziva gugup, tangannya gemetar mencoba menyembunyikan kunci apartemen di dalam tas.

​Revan berjalan mendekat, matanya menatap Ziva dengan intens. "Gue cuma mau mastiin satu hal. Gue dapet info lo tinggal di sini. Sama siapa, Ziv? Lo nggak mungkin mampu sewa apartemen semewah ini sendirian."

​Ziva menelan ludah. "Gue... gue tinggal sama saudara, Kak. Sepupu gue."

​Revan tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata.

"Sepupu? Terus kenapa tadi pagi gue liat lo turun dari mobil Arkan di tikungan bawah? Sejak kapan sepupu lo punya mobil yang sama persis kayak punya Ketos kita?"

​Ziva mundur selangkah. "Kak, itu—"

​"Jangan bohong lagi, Ziva. Gue suka sama lo, tapi gue nggak suka dibegoin," suara Revan meninggi.

"Lo ada hubungan apa sama Arkan? Apa dia yang biayain hidup lo di sini? Apa lo... simpanannya?"

​Plak!

​Ziva tidak tahan lagi. Ia menampar Revan. "Jaga mulut lo, Kak! Gue bukan orang kayak gitu!"

​Saat itulah, pintu lobi terbuka. Arkan melangkah masuk dengan wajah yang sangat gelap. Ia melihat Ziva yang gemetar dan Revan yang memegang pipinya.

​Arkan berjalan cepat, langsung berdiri di depan Ziva, memunggungi gadis itu untuk melindunginya—posisi yang sama dengan pelukan mereka pagi tadi.

​"Ada urusan apa kamu dengan istriku?" tanya Arkan dengan nada yang sangat rendah, dingin, dan mematikan.

​Ziva membelalak.

Arkan baru saja mengucapkan kata "istriku". Rahasia mereka meledak di lobi apartemen, tepat di depan orang yang paling berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!