Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepikiran
Riri baru saja keluar dari ruang radiologi. Ia menoleh ke arah dokter yang sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Dari tadi ua tidah ngeh kalau orang yang telah membawanya ke rumah sakit adalah Ahmed alias Sultan.
"Bang Ahmed." Panggilnya.
Sultan langsung menghampirinya.
"Mbak Riri, kamu akan dibawa ke ruang rawat inap. Jangan berpikir terlalu keras dulu ya."
Riri mengangguk sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Saat ini mereka sudah berada di ruang rawat inap. Sultan mengambil kamar VIP nomer 2 untuk Riri. Ia tahu bahwa di perusahaannya sudah ada ada jaminan kesehatan untuk para karyawannya. Tentu saja biaya akan ditanggung perusahaan.
"Mbak, maaf jilbabnya kami buka tadi karena kotor." Ujar seorang perawat.
Riri baru menyadari hal itu. Ia meraba rambutnya lalu melirik ke arah Sultan. Sultan pura-pura tidak melihat karena khawatir Riri malu.
"Suster, bisa minta tolong?" Sahut Sultan.
"Iya Pak?"
"Kalau di sini ada koperasi yang menjual jilbab tolong belikan satu untuknya."
"Oh iya, ada."
Sultan memberikan selembar uang seratus ribu kepada perawat tersebut.
"Em, mbak Riri hasil rontgen-nya mungkin akan keluar 20 menit lagi. Semoga semuanya baik-baik saja." Ujar Sultan tanpa melihat ke arah Riri. Ia berdiri di baling ujung brangkar.
Tiba-tiba handphone Sultan berdering. Ia pamit kepada Riri untuk mengangkat telpon ke luar. Sultan tidak mungkin mengangkat telpon ke dalam. Bisa-bisa Riri curiga melihat i-phone yang dipakainya.
"Assalamu'alaikum, ummi."
"Wa'alaikum salam. Bang, ini sudah jam 8 lewat. Kamu di mana?"
"Maaf ummi, abang sedang di rumah sakit."
"Hah, siapa lagi yang sakit? Bukannya kata kamu anak itu sudah keluar?"
"Eh itu, teman abang kecelakaan."
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Bagaimana keadaannya? "
"Masih menunggu hasil rontgen-nya. Dia tidak ada keluarga di sini, ummi. Jadi mungkin abang pulang agak malam."
"Ya sudah nggak pa-pa. Kamu hati-hayi ya, bang."
"Iya, ummi. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah menutup telpon dari umminya. Ia menerima telpon dari handphone Riri. Fira sudah sampai di rumah sakit dan menanyakan keberadaan Riri. Sultan pun memberitahu kamar Riri
Tidak lama kemudian, Fira sampai di depan kamar Riri.
tok tok tok
"Masuk!" Sahut Sultan.
Fira datang bersama teman kost-nya karena ia takut jika keluar malam sendirian.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tadinya Fira mau langsung memarahi Sultan. Namun melihat paras tampan Sultan ia jadi gelagapan.
"Eh itu kamu ya, yang bikin Riri kecelakaan?"
"Fira... " Sahut Riri.
"Aduh Riri... kamu nggak pa-pa kan?"
Riri menggelengkan kepalanya.
"Ehem... mbak, tadi mbak Riri naik ojek mau menuju klinik untuk periksa. Ternyata ojek yang ditumpanginya diserempet mobil sehingga menyebabkan mereka kecelakaan. Tapi sopir ojeknya tidak apa-apa."
"Hah... terus di mana sopir ojeknya?"
"Dia tadi sedang ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian ini."
"Ya Allah, Riri. Udah aku bilang tunggu aku kalau msi periksa. Jadi kayak gini kan?"
"Fir, ini sudah jalanku. Lagi pula kamu pasti capek pulang kerja."
"Hem... kamu ini selalu nggak enakan."
Fira melirik Sultan lalu melirik Riri lagi. Ia memberi kode seakan bertanya siapa Sultan.
"Fira, kenalin itu bang Ahmed. Ojek langganan ku. Tadi bang Ahmed yang bawa aku ke sini."
"Ojek langganan, sejak kapan?"
"Ssstt... "
Tidak lama kemudian dokter datang ke kamar tersebut membawa hasil rontgen.
"Bagaimana hasilnya, dok?" Tanya Sultan.
"Syukur alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Hanya memar di tangannya cukup serius. Dan pasien juga mengalami shock berlebihan. Mungkin pasien ada trauma."
"Benar, dok. Dulu Riri pernah kecelakaan juga." Sahut Fira.
"Pantas saja. Saat ini pasien masih mengalami sesak akibat shock nya itu. Tapi tenang saja, kami akan menanganinya dengan baik."
"Terima kasih, dok."
Setelah dokter keluar, perawat yang tadi dimintai tolong Sultan datang membawa jilbab yang Sultan pesan.
"Pak, ini kembaliannya."
"Tidak perlu Sus, ambil suster saja."
"Terima kasih, pak."
Sultan mengangguk.
"Pakaikan jilbabnya." Ujar Sultan.
Fira membantu Riri memakai jilbab instan tersebut.
"Bang, kok kamu berani ambil keputusan bawa Riri ke rumah sakit ini dan ambil kamar VIP?" Tanya Fira.
"Mbak Riri bekerja di perusahaan yang cukup besar. Tidak mungkin perusahaannya tidak memberi jaminan kesehatan. Bukan begitu?"
"Ah iya juga sih. Abang ini ternyata bukan cuma tampan tapi cerdas juga." Ceplos Fira.
Karena sudah larut malam, Sultan pun pamit kepada mereka. Sultan tidak berjanji untuk kembali menjenguk Riri. Namun ia mendo'akan agar Riri cepat kembali pulih.
Setelah kepergian Sultan, Fira kembali membahas bang Ahmed. Namun Riri mengeluh sakit kepala sehingga Fira pun meminta Riri untuk istirahat saja. Sedangkan ia dan temannya yang bernama Siska saat ini sedang duduk di sofa.
"Sis, kamu kalau mau tidur di ranjang itu nggak pa-pa. Biar aku tidur di sofa."
"Nggak pa-pa, Fir?"
"Iya, besok pagi kita harus segera balik ke kost-an. Kita kan harus kerja. Jadi sekarang kita harus istirahat juga."
"Iya, Fir."
Mereka pun beristirahat.
Sultan baru saja sampai di rumah. Keadaan rumah sudah sangat sepi. Sepertinya orang-orang sudah tidur. Ia langsung masuk ke kamarnya. Hari ini cukup melelahkan baginya. Sultan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, ia shalat isya'. Setelah selesai shalat Sultan tak kuasa untuk makan malam. Akhirnya ia merebahkan diri di atas tempat tidurnya.
Sekitar jam 1 malam, Sultan terbangun karena perutnya keroncongan. Ia memutuskan untuk turun ke dapur mencari makanan. Beruntung ada sisa menu makan malam. Ayam goreng lengkuas dan sedikit nasi. Sultan menyendokkan nasi dan ayam ke piringnya.
Saat makan, tiba-tiba ia teringat kepada Riri.
"Kenapa aku malah memikirkannya? Dia kan, sudah ada yang jaga." Lirihnya.
Sementara itu, di rumah sakit Riri pun sedang terbangun. Ia merasa haus. Untungnya ia masih bisa duduk sendiri meski harus bangun dengan tertatih. Jadi ia bisa ambil air di samping brangkarnya. Ia tidak ingin mengganggu kedua temannya yang sedang tidur nyenyak.
Ia ingat mimpinya beberapa menit yang lalu.
"Bang Ahmed. Kenapa dia hadir di mimpiku? Ya Allah, ini pasti hanya kebetulan karena dia menolongku. Tapi kenapa harus dia?" Gumamnya.
Riri berpikir kembali. Ia baru ingat kalau tadi Ahmed mengantarnya dengan mobil.
"Mobil siapa yang dia bawa? Apa dia merangkap jadi go car juga? Hah... ya Allah, kenapa aku jadi mikirin laki orang. Tolong jaga hatiku ya Allah."
Pelan-pelan Riri kembali membaringkan diri. Ia mencoba untuk memejamkan matanya lagi.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar