Sebuah kisah 2 orang anak SMA, dibalik seragam yang sama ternyata kehidupan mereka sangat bertolak belakang
dengan kisah anak gadis bernama Naira dengan kehidupan nya yang sunyi dan dingin
dan kisah anak lelaki yang berkerja keras sambil bersekolah tapi dikelilingi keluarga yang hangat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tazaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran di Bawah Lampu Neon
Setelah menebus obat di apotek klinik di mana Naira lagi-lagi membayar dengan nominal yang membuat kasir melongo mereka kembali ke atas motor bebek tua itu. Kali ini, posisi duduk Naira terasa lebih canggung. Kejadian "pacar" di ruang dokter tadi masih berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, membuat jantungnya berdegup tak beraturan.
Motor melaju kembali ke arah bengkel tambal ban tempat mobil Naira terparkir. Udara malam yang dingin terasa menusuk, namun Naira tidak lagi merasa kedinginan. Perhatiannya hanya tertuju pada tangan kanan Rama yang kini terbungkus perban putih, kontras dengan jaket parasutnya yang lusuh.
Sesampainya di bengkel, mobil Naira sudah selesai ditambal. Rama mematikan mesin motor, lalu turun. Dia menoleh ke arah Naira, wajahnya tampak lebih tenang setelah diobati.
"Makasih ya, Ra. Buat obatnya, buat... semuanya," ucap Rama tulus, suaranya terdengar lembut di bawah lampu bengkel yang temaram.
Naira yang baru saja turun dari motor mendadak berhenti bergerak. Dia menatap Rama, namun bukannya membalas dengan senyuman atau sikap angkuhnya yang biasa, air mata Naira justru jatuh lagi. Bukan karena takut seperti tadi, tapi karena gelombang rasa bersalah yang akhirnya meledak.
"Ram..." panggilnya lirih. Suaranya pecah.
"Aku minta maaf ya... gara-gara aku, kamu malah jadi begini."
Rama membeku. Dia melihat tetesan air mata itu jatuh ke pipi Naira, membasahi *make-up* tipis yang masih tersisa. Rama panik. Dia bisa menghadapi begal dengan celurit, tapi dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa kalau harus menghadapi air mata seorang gadis.
"Ya ampun, Ra..." Rama mendekat selangkah, tangannya yang sehat terangkat ragu-ragu, seolah ingin menghapus air mata itu tapi takut dianggap lancang. Dia akhirnya
menurunkan tangannya lagi. "Ini cuma luka kecil aja kok. Serius, besok juga udah mendingan. Kamu nggak usah khawatir, ya?"
"Kecil gimana?!" seru Naira, bahunya terguncang karena isak tangis yang mulai tak tertahan. "Kamu luka gara-gara aku lewat jalan sepi itu! Kamu seharusnya bisa pulang dengan aman kalau nggak ketemu aku! Kalau tadi itu bukan kamu, gimana? Kalau... kalau kamu kenapa-kenapa..."
Naira tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Bayangan Rama yang terkapar di aspal tadi terus menghantuinya. Dia merasa menjadi orang paling egois di dunia. karena keinginannya untuk cepat sampai di rumah, orang lain yang harus menanggung risikonya.
Rama mendesah pelan. Dia tahu, kalau dia hanya diam, Naira akan terus menyalahkan dirinya sendiri sampai pagi. Rama pun melangkah maju, berdiri tepat di depan Naira.
Kali ini, tanpa ragu, dia menyentuh bahu Naira memberikan tekanan lembut untuk menyadarkan gadis itu dari rasa bersalahnya.
"Naira, dengerin aku," ucap Rama tegas, namun tetap lembut. "Tadi itu bukan salah kamu. Begal itu ada di mana-mana, dan kebetulan saja aku lewat di sana. Kalaupun bukan aku yang lewat, aku yakin kamu pasti bakal baik-baik saja."
Naira mendongak, matanya yang basah menatap Rama dengan pandangan ragu.
"Dan lagi," Rama tersenyum tipis, senyum yang kali ini terlihat sangat tulus hingga mencapai matanya, "kalau pun aku harus luka demi memastikan kamu aman, menurutku itu harga yang sangat murah. Jadi, tolong berhenti nangis, ya? Kamu jadi makin kelihatan kayak anak kecil kalau nangis terus di bengkel begini."
Naira tertegun. Kata-kata itu begitu sederhana, namun menghantam hatinya lebih keras daripada kepalan tangan begal tadi. Dia mendengus sebal di sela isakannya, mencoba mengusap wajahnya dengan punggung tangan.
"Kamu... kamu tuh ya, aneh banget," gumam Naira, meski ada segaris senyum yang muncul di balik air matanya.
"Iya, aku emang aneh," balas Rama sambil terkekeh pelan. "Sekarang, mending kamu masuk ke mobil, terus pulang. Kamu harus istirahat. Besok sekolah, kan?"
Naira mengangguk, lalu berbalik menuju pintu mobilnya. Namun, sebelum dia masuk, dia menoleh sekali lagi ke arah Rama yang berdiri di samping motor bebek tuanya.
"Besok... jangan lupa minum obatnya," pesan Naira dengan nada yang kini terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.
Rama mengangguk. "Siap, Bos."
Naira menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemetar di suaranya. Dia mengusap wajahnya, lalu menatap Rama dengan ekspresi yang kembali mencoba tegar meski matanya masih berkaca-kaca.
"Ram, sebelum aku pulang... boleh mampir ke Indomaret sebentar nggak?" tanya Naira tiba-tiba.
Rama mengerutkan dahi, bingung dengan perubahan topik yang mendadak. "Indomaret? Sekarang? Kamu mau beli apa?"
"Ada deh. Ayo, mampir ke yang di depan sana aja, yang dekat lampu merah," pinta Naira sambil menunjuk sebuah minimarket yang lampunya masih terang benderang.
Rama mengangguk pasrah. "Ya sudah, ayo."
Mereka sampai di sana. Naira turun dari mobil dan melangkah masuk ke minimarket, meninggalkan Rama yang menunggu di parkiran sambil memegangi tangannya yang diperban. Beberapa menit kemudian, Naira keluar sambil menenteng sebuah kantong plastik putih berukuran sedang.
Naira berjalan mendekati Rama, lalu menyodorkan kantong plastik itu ke arah cowok itu.
"Ini," kata Naira singkat.
"Buat kamu," lanjut Naira dengan nada yang agak malu-malu, menundukkan kepalanya. "Itu plesternya... kalau perban dari dokternya kotor atau basah, ganti pakai itu. Biar lukanya nggak kena debu. Sama... itu buat bekal kamu besok pagi, biar nggak usah repot cari sarapan lagi."
Rama terdiam, menatap isi kantong plastik itu lalu menatap Naira yang wajahnya bersemu merah karena malu. Senyum tipis yang tulus akhirnya muncul di wajah Rama.
"Makasih, Ra. Kamu perhatian banget ternyata," goda Rama pelan.
"Ih, apaan sih! Kan aku udah bilang, aku nggak mau kamu sakit gara-gara ngerawat luka kamu pakai alat seadanya di ruko!" sahut Naira ketus, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya.
Rama tertawa kecil. "Iya, iya, aku simpen baik-baik. Makasih ya, Naira."
Naira mengangguk cepat. "Ya udah, aku pulang ya. Kamu juga langsung pulang, jangan mampir-mampir lagi. Jangan lupa minum obatnya!"
"Siap, Bos," jawab Rama sambil memberi hormat main-main dengan tangan kirinya yang sehat.
Rama menerima kantong plastik dari Indomaret itu dengan tangan kirinya. Dia menatap isi di dalamnya plester karakter, roti, dan minuman lalu beralih menatap Naira yang masih sesekali menyedot hidungnya karena sisa tangis tadi.
Sebelum Naira benar-benar membuka pintu mobil mininya, Rama berdeham kecil. Dia memandangi jalanan sepi yang baru saja mereka lewati, lalu kembali menatap gadis di depannya dengan dahi agak berkerut serius.
"Ra," panggil Rama.
"Apa?" Naira menoleh, tangannya masih menggenggam gagang pintu mobil.
"Kayaknya... kamu harus ikut les bela diri deh, Ra," ucap Rama lempeng, seolah baru saja menyarankan menu makanan untuk makan siang.
Naira mengerjapkan matanya beberapa kali. Kepalanya yang masih agak pusing karena syok mendadak tambah bingung. "Hah? Les bela diri?" Naira melepas pegangannya dari pintu mobil, lalu bersedekap. "Ngapain?
Lagipula jadwal aku padat banget, Rama. Memangnya ada tempat les yang buka waktu hari libur aja?"
Naira mulai menghitung di dalam kepala. Senin sampai Jumat dia harus sekolah dan bimbingan, Sabtu kadang ada acara keluarga. Satu-satunya waktu luangnya hanyalah hari Minggu. Mana ada dojo atau tempat latihan yang mau buka khusus untuk melayani anak manja sepertinya di hari libur?
Rama tampak berpikir sejenak. Dia menggaruk alisnya yang tidak gatal dengan jari yang sehat. "Iya sih, rata-rata dojo latihannya sore atau malam di hari kerja. Tapi kejadian tadi itu bahaya banget, Ra. Minimal kamu harus tahu dasar-dasar cara meloloskan diri kalau tangan kamu dikunci orang."
Naira menatap Rama dalam-dalam. Detik berikutnya, sebuah lampu imajiner mendadak menyala di atas kepala cerdasnya. Mata sembapnya melebar, dan sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman penuh arti.
"Eh... kan kamu bisaaa!" seru Naira setengah tertawa, nadanya mendadak berubah bersemangat.
Rama melongo. "Hah? Aku?"
"Iya, kamu! Kamu kan tadi bilang sendiri kalau kamu itu atlet karate waktu SMP, ramm!"
Naira maju selangkah, menunjuk dada Rama dengan telunjuknya. "Kamu kan jago banget tadi. Tiga orang langsung tumbang. Kenapa gak kamu aja yang ngajarin aku?"
Rama paku di tempat. Lidahnya mendadak kelu. "A-aku?" Rama menunjuk dirinya sendiri dengan wajah super heran. "Ra, aku ini sibuk kerja paruh waktu di ruko. Lagian, aku bukan pelatih resmi—"
"Gak ada alasan!" potong Naira cepat, kembali ke mode bos kecilnya yang mutlak. Rasa salah tingkahnya yang tadi malam kini menguap, digantikan oleh antusiasme yang bikin jantungnya berdebar sehat. "Kita latihan hari Minggu. Di halaman rumahku kan luas, atau nanti kita cari tempat yang sepi atau dirumah mu ram gimana bisaa yaa??. Soal bayaran... kamu tenang aja, aku bakal bayar kamu dengan tarif pelatih profesional."
"Bukan soal uangnya, Naira, tapi—"
"Pokoknya kesepakatan selesai!" Naira langsung membalikkan badan dengan cepat, membuka pintu mobilnya dan masuk ke balik kemudi sebelum Rama sempat memprotes lebih jauh.
Dari balik kaca jendela mobil yang diturunkan setengah, Naira menjulurkan kepalanya sambil tersenyum kemenangan senyuman lebar pertama yang Rama lihat malam ini.
"Minum obatnya, Rama! Sampai ketemu hari Minggu di sesi latihan pertama kita!"
Vruuummm!
Mobil mini itu langsung melesat pergi meninggalkan pelataran Indomaret, menyisakan asap tipis dan aroma vanila yang samar di udara.
Rama berdiri mematung di samping motor bebek tuanya, memegang kantong plastik Indomaret di satu tangan, sementara tangan lainnya yang diperban dia gunakan untuk mengusap tengkuknya. Cowok lempeng itu hanya bisa mengembus napas panjang, namun kali ini, sebuah senyuman geli yang tak bisa ditahan akhirnya lolos di wajahnya.
"Ngajarin si anak orang kaya main karate? Yang bener aja," batin Rama menggeleng-gelengkan kepala. Dia pun naik ke atas motornya, bersiap pulang dengan perasaan yang mendadak terasa jauh lebih hangat daripada angin malam kota.
Naira melangkah masuk ke rumah megahnya dengan lunglai. Pintu kayu jati itu baru saja terkatup rapat saat sebuah suara menggelegar dari arah ruang tamu menghentikan langkahnya.
"Dari mana saja kamu, Naira?!"
Papa Naira berdiri di sana, diikuti Mama yang menatapnya dengan pandangan dingin yang menghunus. Jam di dinding ruang tamu menunjukkan pukul dua belas malam lewat.
"Sudah berapa kali Papa bilang, kalau malam itu tidak usah keluyuran! Kamu kira rumah ini hotel? Kamu bisa datang dan pergi sesuka hatimu?" Papa melangkah mendekat, wajahnya merah padam.
Mama menyambung dengan nada sinis yang tak kalah tajam, "Dandan menor, pakai parfum menyengat, pulang tengah malam. Apa yang kamu kerjakan di luar sana? Pacaran? Atau malah melakukan hal-hal yang mempermalukan nama keluarga kita?"
Caci maki itu mengalir deras, menghantam telinga Naira seperti cambuk. Kata-kata kasar tentang ketidakbecusannya, tentang betapa kecewanya mereka punya anak seperti dia, terus dilontarkan tanpa memberi Naira celah untuk bicara. Selama ini, Naira selalu diam.
Dia menelan semuanya bulat-bulat, membangun tembok pertahanan di balik sikap dingin dan angkuhnya di sekolah.
Tapi malam ini, tembok itu runtuh.
Tubuh Naira masih gemetar sisa syok dari kejadian begal. Perban di tangan Rama, bayangan celurit yang mengkilat, dan ketakutan akan kehilangan seseorang yang baru saja dia kenal semuanya memuncak jadi satu.
"Aku dibegal, Pah! Mah!" teriak Naira. Suaranya pecah, menggema di ruang tamu yang luas itu.
Papa dan Mama terdiam seketika, namun wajah mereka bukannya berubah khawatir, justru berubah menjadi skeptis. "Alasan! Jangan mengada-ada untuk menutupi kenakalanmu!" hardik Papa.
Naira tertawa getir, air matanya jatuh deras. Dia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh luka yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya.
"Kalian tanya aku dari mana? Aku dari bengkel tambal ban dan klinik! Aku hampir mati malam ini karena mobilku dibegal di jalan sepi!" Naira merosot duduk di lantai, tidak peduli dengan gaun atau harga dirinya.
"Kalian tanya apa yang aku kerjakan di luar sana? Aku belajar, aku membimbing kelompok yang bodoh, dan aku hampir kehilangan nyawa karena kalian nggak pernah peduli aku pergi ke mana atau sama siapa!"
Mama hendak memotong, tapi Naira berseru lebih lantang, "Kalian tahu apa tentang aku?! Kalian tahu apa tentang siapa yang benar-benar peduli padaku?!"
Naira menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang kosong. "Kalian cuma peduli dengan nama keluarga, dengan bisnis, dan dengan jam berapa aku pulang. Kalian bahkan nggak sadar kalau tangan anak kalian ini lecet atau kalau baju aku kotor karena debu aspal tadi!"
Suasana ruang tamu mendadak hening mencekam. Papa Naira tampak tertegun, seolah baru menyadari sesuatu, tapi ego-nya masih terlalu besar untuk meminta maaf. Sementara Mama hanya terdiam, mematung melihat putrinya yang selama ini selalu patuh (meski dingin), kini meledak dengan amarah yang begitu jujur.
Naira berdiri perlahan, kakinya terasa berat. Dia menatap Papa dan Mama untuk terakhir kalinya malam itu.
"Mulai hari ini, jangan tanya lagi aku ke mana. Karena toh, bagi kalian, jawaban aku cuma jadi bahan cacian kalian saja."
Naira berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya. Dia tidak menoleh lagi saat mendengar Papa memanggil namanya dengan suara yang kini terdengar lebih rendah. Sesampainya di kamar, dia membanting pintu dan menguncinya.
Naira jatuh terduduk di balik pintu kamarnya. Di tengah sunyinya malam, dia meraih ponselnya. Tidak ada pesan dari Papa atau Mama, tapi ada satu notifikasi pesan singkat yang masuk sepuluh menit lalu.
Rama: "Sudah sampai rumah, Ra?. Istirahat yang cukup ya, good night."
Naira mendekap ponsel itu ke dadanya, menangis sejadi-jadinya di balik pintu yang terkunci, merasa bahwa di dunia yang begitu besar dan mewah ini, satu-satunya orang yang peduli apakah dia sudah sampai rumah dengan selamat hanyalah seorang cowok berjaket parasut kusam yang tadi malam menyelamatkan nyawanya.