NovelToon NovelToon
PEMURNIAN MUTLAK

PEMURNIAN MUTLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Takindomaru

Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Jejak Darah dan Kota Hantu

Terowongan itu sempit, berbatu, dan licin. Lin Fan merangkak dengan susah payah, lututnya lecet dan napasnya memburu. Di belakangnya, teriakan marah Raksasa dan desisan angin dari kipas Pria Tua masih terdengar samar, namun semakin menjauh. Terowongan itu tampaknya memiliki mekanisme pengaman alami atau sihir kuno yang memperlambat pengejar, atau mungkin mereka takut masuk terlalu dalam ke dalam perut bumi yang tidak dikenal.

Setelah sepuluh menit merayap dalam kegelapan total, Lin Fan akhirnya melihat cahaya redup di ujung terowongan. Bukan cahaya matahari, melainkan cahaya bulan yang menerobos masuk melalui celah-celah batu.

Ia mendorong batu penutup longgar di ujung terowongan dan berguling keluar.

Udara malam yang dingin langsung menyergap wajahnya. Lin Fan terbatuk-batuk, menghirup udara segar setelah seharian terjebak di dalam gua yang pengap. Ia berada di lereng bukit curam, jauh di bagian belakang Hutan Terlarang. Di bawah sana, terlihat siluet Kota Qingyun yang samar-samar, dikelilingi oleh tembok tinggi seperti kotak mainan.

Lin Fan berdiri, tubuhnya gemetar karena kelelahan dan adrenalin yang mulai surut. Luka-lukanya kembali terasa nyeri. Efek Pedang Es Miniatur telah habis, dan kini ia hanya mengandalkan sisa Qi-nya yang tipis.

"Aku harus bergerak," gumamnya. "Zhao Feng mati. Clan Zhao akan menggila. Mereka akan menutup semua gerbang kota dan menggeledah setiap rumah. Jika aku kembali ke kota sekarang, aku akan tertangkap."

Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia butuh obat untuk lukanya, dan dia butuh informasi. Dia tidak bisa bertahan hidup di hutan liar selamanya tanpa persiapan yang memadai. Selain itu, Manik Giok membutuhkan waktu untuk mengisi ulang energinya setelah menggunakan Pedang Es itu.

Lin Fan memutuskan untuk tidak masuk melalui gerbang utama. Ia akan menyusup melalui saluran pembuangan limbah di sisi barat kota, jalur yang ia pelajari saat masih menjadi pelayan dan sering digunakan oleh pencuri kecil untuk menyelundupkan barang curian.

Perjalanan kembali ke kota adalah mimpi buruk. Setiap bayangan pohon tampak seperti musuh. Setiap suara daun kering yang remuk membuat jantungnya meloncat. Lin Fan bergerak seperti hantu, menghindari jalan setapak utama, merayap di parit kering, dan bersembunyi di balik semak belukar setiap kali mendengar suara beast atau langkah kaki.

Dua jam kemudian, ia mencapai tembok barat Kota Qingyun. Saluran pembuangan limbah itu terletak di dekat sungai kotor yang mengalir keluar dari kota. Baunya busuk, tapi bagi Lin Fan, itu adalah aroma kebebasan.

Ia menyelam ke dalam air kotor itu, menahan napas, dan berenang melawan arus menuju pintu besi berkarat di dasar tembok. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia mendongkrak pintu itu menggunakan tuang besi kecil dari tasnya. Pintu itu berderit, terbuka sedikit, cukup untuk tubuhnya yang kurus lolos.

Lin Fan muncul di dalam kota, di area kumuh dekat pasar ikan. Malam sudah larut. Jalanan sepi, kecuali beberapa penjaga malam yang patroli dengan lalai.

Ia tidak bisa kembali ke gubuknya. Itu tempat pertama yang akan diperiksa. Ia juga tidak bisa mencari Lin Yue; itu terlalu berbahaya bagi gadis itu.

Lin Fan membutuhkan tempat persembunyian sementara. Tempat yang tidak akan dicari oleh siapa pun. Tempat yang terlupakan.

Matanya tertuju pada sebuah bangunan tua di ujung gang buntu: Kuil Dewa Tanah yang Terlantar. Kuil ini sudah runtuh sebagian dan dianggap angker oleh warga lokal. Tidak ada orang yang berani mendekatinya setelah matahari terbenam.

Sempurna.

Lin Fan menyelinap masuk ke reruntuhan kuil itu. Di dalamnya, debu tebal menutupi lantai, dan patung dewa tanah sudah kehilangan kepalanya. Ia membersihkan sudut paling gelap, menyusun beberapa papan kayu bekas sebagai alas tidur, dan duduk bersila.

Pertama-tama, ia harus mengobati lukanya. Ia mengambil satu Pil Pemulih Luka Grade Rendah dari hasil curiannya (dia menyimpan beberapa grade rendah untuk penggunaan sehari-hari). Ia menelannya, lalu memulai meditasi menggunakan Sutra Nafas Embun Beku.

Teknik baru ini terasa berbeda dari Teknik Napas Besi. Jika Teknik Napas Besi terasa berat dan kokoh seperti batu, Sutra Embun Beku terasa dingin, tajam, dan cair seperti air. Qi-nya mengalir lebih cepat, mendinginkan darah yang panas akibat luka, dan mempercepat penyembuhan jaringan.

Perlahan, rasa sakit di tulang rusuknya berkurang. Napasnya menjadi stabil. Manik Giok di Dantian-nya berputar lambat, menyerap energi Yin dari malam hari untuk mengisi ulang cadangannya.

Saat ia sedang bermeditasi, telinganya yang tajam menangkap suara di luar kuil.

Langkah kaki. Berat. Banyak.

"Geledah area ini!" perintah suara kasar. "Tuan Muda Zhao memerintahkan pencarian total! Si pembunuh itu pasti masih di dalam kota! Dia terluka, dia tidak bisa pergi jauh!"

Suara itu berasal dari pasukan Clan Zhao. Mereka sudah mulai beroperasi.

Lin Fan membuka matanya. Dingin.

Dia mendengar suara pintu-pintu didobrak, teriakan warga yang ketakutan, dan suara barang-barang yang dihancurkan. Pencarian itu sistematis dan brutal. Clan Zhao tidak peduli dengan kerusakan properti warga biasa; mereka hanya ingin darah.

Lin Fan menyadari satu hal: Dia tidak bisa tinggal diam selamanya. Jika dia terus bersembunyi, dia akan kelaparan atau ditemukan. Dia perlu mengalihkan perhatian mereka. Dia perlu menciptakan kekacauan lain agar fokus Clan Zhao terpecah.

Tapi bagaimana? Dia sendirian, lemah, dan terpojok.

Tiba-tiba, ingatannya tertuju pada Buku Ledger yang ia robek dari gudang Lin Hu. Halaman yang menyebutkan inisial "M" dan pembayaran besar untuk "Informasi Khusus".

Siapa "M"?

Jika "M" adalah seseorang yang berpengaruh di Kota Qingyun, mungkin dia memiliki musuh. Atau mungkin, "M" adalah kunci untuk memecah belah aliansi antara Clan Zhao dan pihak lain.

Lin Fan merogoh sakunya, mengeluarkan sobekan kertas itu. Di bawah cahaya bulan yang masuk melalui atap runtuh, ia membaca kembali nama-nama dan tanggal transaksi.

Ada satu pola. Pembayaran dari "M" selalu terjadi sebelum ada skandal besar di kota. Skandal korupsi pejabat, kebakaran gudang saingan, atau kematian misterius pedagang kecil.

"M"...

Lin Fan memikirkan semua orang berkuasa di Kota Qingyun. Kepala Klan Lin? Elder Mo? Kepala Penjaga Kota? Atau... Kepala Guild Pedagang, Tuan Guo?

Tuan Guo adalah rival bisnis terbesar Clan Zhao. Jika Lin Fan bisa membuktikan—atau setidaknya membuat Clan Zhao percaya—bahwa Tuan Guo lah yang menyewa pembunuh untuk membunuh Zhao Feng (meskipun itu bohong), maka perang antar klan akan pecah. Dan di tengah kekacauan itu, Lin Fan bisa kabur.

Itu rencana yang gila. Memfitnah salah satu orang terkuat di kota kepada klan lainnya. Tapi Lin Fan tidak punya alat lain.

Ia perlu bukti palsu. Atau lebih tepatnya, ia perlu menanam bukti itu di tempat yang akan ditemukan oleh Clan Zhao.

Tempat terbaik? Rumah Teh Golden Leaf, milik Tuan Guo, yang terletak di distrik pusat.

Lin Fan tersenyum tipis, meski wajahnya pucat.

"Malam ini, Kota Qingyun akan terbakar. Bukan oleh api, tapi oleh kecurigaan."

Ia bangkit, menyembunyikan sobekan kertas itu kembali, dan menyiapkan diri untuk misi bunuh diri berikutnya: Menyusup ke rumah mewah Tuan Guo di tengah pengepungan Clan Zhao.

Di luar, hujan mulai turun lagi. Mencuci darah, tapi tidak akan pernah mencuci dosa.

Lin Fan melangkah keluar dari reruntuhan kuil, menyatu dengan bayangan hujan.

1
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
✅️
Daryus Effendi
masih lai bosan baca nya jarna mulai bab ini mulai bertele tele.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!