Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. waktu Arka makin berkurang
Arka mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, rahangnya mengeras menahan emosi. Ucapan Adimas tadi masih terngiang jelas di telinganya. 'Sampai jumpa di Mahkamah Agung...' Dasar pengacara sombong. Tantangannya diterima. Tapi ada satu hal lain yang lebih mengganggu pikirannya...
'Dia cerita kalau anda mantan kekasihnya...'
Arka menggeram pelan. Maya... wanita itu bagian masa lalunya yang sudah dia kubur dalam-dalam. Dan Adimas. Dia bukan cuma cerdas, dia licik. Arka tahu, kalau dia lengah sedikit saja, Adimas bakal cari celah kelemahan. Dan celah kelemahan terbesar Arka saat ini cuma satu orang... Nayyara.
Mobil Porsche putih itu membelok masuk ke jalan yang sudah sangat akrab baginya. Rumah sederhana dengan taman kecil itu sudah terlihat. Di sana, di balik jendela kaca, Arka bisa melihat siluet wanita itu seperti sedang melukis. Jantungnya yang tadi berdebar marah perlahan melambat tenang lagi, lalu berubah jadi debaran rasa rindu yang membuncah.
"Hanya Nayyara... hanya dia yang bisa bikin aku tenang," Gumam Arka pelan. Dia mematikan mesin mobil, merapikan jasnya, dan menghapus semua ekspresi marah di wajahnya. Sekarang dia bukan Jaksa Arkanendra yang dingin, tapi Arka yang selalu lembut di depan Nayyara.
Namun Arka tak tahu, di kejauhan, sebuah mobil Mercedes merah ternyata tengah membuntuti dia sejak tadi, mobil itu terparkir diam di seberang jalan. Adimas Anggara duduk di balik kemudi, matanya menatap tajam ke arah rumah itu, tersenyum miring penuh arti.
"Jadi di sini tempat yang dia bilang penting, eum aku jadi penasaran sepenting apa penghuni nya..," Bisik Adimas pelan dengan menyeringai.
"Mari kita lihat apa yang membuatmu begitu kuat, Pak Jaksa." Geram pengacara muda itu sambil meremas setir mobilnya.
Langkah kaki Arka terasa berat saat dia melangkah masuk ke rumah sederhana itu dengan senyum yang dia paksakan terlihat tenang. Di dalam kepalanya, hitungan waktu terus berputar berjalan makin cepat, menggerogoti kewarasannya.
Tiga puluh hari lagi.
Hanya tinggal satu bulan lagi, umurnya akan habis, napasnya akan berhenti, dan dia akan hilang dari dunia ini selamanya, jika dia tidak segera menyatukan diri, tidur bersama Nayyara, wanita yang menjadi energinya. Rasanya seperti ada duri besar yang menusuk di dada setiap kali dia mengingat peringatan misterius itu.
Dia harus melakukannya, dia harus membuat Nayyara bersedia, tapi bagaimana caranya tanpa terlihat seperti lelaki bejat yang cuma mau satu hal saja.
"Mas Arka? Kok kamu melamun di situ saja? Ayo duduk," Suara lembut itu langsung menyadarkannya.
Nayyara tersenyum sambil membawa cangkir minuman kopi panas dia meletakkannya di meja depan Arka. Di ruang tamu sederhana itu, aroma cat minyak dan bunga mawar yang baru dia petik tadi pagi memenuhi udara, aroma yang selalu membuat Arka tenang, tapi hari ini justru membuatnya makin gelisah.
Arka duduk di sofa, matanya tak lepas menatap wajah cantik gadis itu. Dia ingin sekali bicara terus terang, tapi lidahnya terasa kelu. Bagaimana mungkin dia bilang: 'Nay, aku cuma punya waktu sebulan lagi, aku harus tidur sama kamu biar aku hidup' Itu terdengar gila, dan Nayyara pasti akan marah, menyumpahi dia dan lari ketakutan.
Mereka mengobrol cukup lama. Arka berusaha sebaik mungkin menjadi teman yang asik, dia dengan tekun mendengar cerita Nayyara soal lukisannya, bertanya hal-hal kecil, berusaha membangun kedekatan. Tapi di balik tawa itu, jantungnya berpacu kencang karena cemas. Pikiran jahat itu terus berbisik. Waktu makin sedikit, Arka. Kalau kamu terlambat, kamu akan mati.
Dia menatap tangan Nayyara yang bergerak merapikan buku sketsa di meja. Keinginan untuk memiliki wanita ini bukan cuma karena syarat hidupnya, tapi dia benar-benar mencintainya. Dia tak mau memaksa, tapi dia juga tak mau mati dan meninggalkannya selamanya. Hingga tanpa sadar, mulutnya bergerak sendiri, lebih cepat dari pikirannya.
"Nayyara..."
Gadis itu menoleh, menatap manik mata Arka yang tiba-tiba berubah serius.
"Iya mas Arka? Ada apa?" Arka menelan ludah, tangannya mengepal cemas, lalu dia menatap lurus ke mata indah itu. Dia tak bisa menahan diri lagi.
"Aku suka sama kamu, Nay. Aku sangat suka sama kamu."
Hening. Suasana di ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Wajah Nayyara yang tadinya ceria seketika merah merona, matanya membulat kaget namun terlihat berbinar, dia terkejut bukan main mendengar pengakuan mendadak itu. Dia menundukkan wajah, memainkan jari-jarinya yang mungil, tersipu malu namun tak bisa menghindar.
Arka menahan napas, menunggu reaksi itu dengan dada yang sesak. Dia berharap, dia berdoa semoga wanita itu merasakan hal yang sama. Perlahan, Nayyara mengangkat wajahnya kembali. Dia tersenyum lembut, senyum yang meneduhkan tapi juga membuat Arka makin bertambah gelisah. Wanita itu mengulurkan tangannya, lalu menggenggam tangan besar milik Jaksa itu dengan lembut dan hangat.
"Mas..." suaranya terdengar lirih namun tegas. "Jujur... aku juga suka sama kamu. Aku senang banget bisa kenal sama kamu. Tapi... boleh nggak kita berteman dulu aja? Aku pikir rasanya terlalu terburu-buru buat aku. Aku mau kita kenalan lebih dalam, bangun rasa pelan-pelan aja ya?"
Deg.....
Kalimat itu seperti tamparan halus namun mematikan bagi Arka. Dia mengangguk pasrah, membalas genggaman tangan itu meski hatinya berteriak panik.
"Ya Allah Berteman dulu? Tapi aku cuma punya 30 hari, Nay... Kalau kita berteman dulu berbulan-bulan, aku sudah mati duluan"
Arka tersenyum getir, berusaha menyembunyikan kepanikan yang meledak di dalam dadanya.
"Iya... tentu saja, Nay. Kita bisa berteman dulu," Jawabnya pelan, meskipun dalam hati dia berputar-putar mencari cara agar waktu tidak habis percuma.
Seperti kesepakatan mereka, Arka kini datang setiap hari. Tak ada lagi rasa cemas yang ada lagi, karena setiap detik yang dihabiskan di samping Nayyara terasa seperti energi yang bertambah. Sudah seminggu lebih Arka rutin datang, kadang membawa makanan, kadang sekadar duduk, sambil menemani gadis itu melukis, atau sekadar berbincang sampai larut malam.
Wajah Arka yang tadinya tampak makin pucat karena sisa waktu yang menipis, kini perlahan kembali bersinar dan cerah. Kehadiran Nayyara, sentuhan tangan mereka yang tak sengaja bersentuhan, dan duduk berdekatan di sisi gadis itu ternyata sangat ampuh untuk menambah kekuatan hidupnya.
Malam itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit gelap pekat tanpa bintang, seolah langit pun ikut menahan napas. Arka duduk di teras rumah kecil itu, matanya tak lepas menatap punggung Nayyara yang sedang berdiri di taman kecil, menatap bulan yang tertutup awan.
"Nay, masuklah. Angin malam makin kencang, nanti kamu masuk angin," Panggil Arka lembut, berjalan mendekat lalu dengan berani meletakkan jaketnya ke bahu mungil itu.
Nayyara menoleh, tersenyum manis. Senyum yang selalu membuat jantung Arka berdebar. "Terima kasih, Mas. Kamu kok tiap hari ada aja ya alasan buat ke sini? Padahal kan kita cuma 'berteman' saja," Goda Nayyara sambil tertawa kecil.
Arka tersenyum tipis, menatap dalam ke manik mata itu. "Iya, aku sedang berjuang, Nay. Berjuang biar bisa terus ada di sini, nemenin kamu, sampai kapan pun." Nayyara terdiam, pipinya merona merah. Dia baru mau membuka mulut untuk menjawab, tiba-tiba suasana di sekeliling mereka berubah drastis, hawa makin dingin, dan suasana berubah terasa mencekam.
Angin berputar kencang, berdesis menakutkan, membawa bau anyir darah dan bau belerang yang tajam. Lampu di halaman dan teras kecil ini berkedip-kedip lalu mati total, meninggalkan mereka hanya dalam cahaya remang dari jendela ruang tamu.
Arka langsung menarik tubuh Nayyara ke belakang punggungnya, tangannya mencengkeram kuat lengan gadis itu. Naluri bahayanya langsung menyala. Matanya menajam waspada pada kegelapan sekitar mereka.
"Siapa kamu sana?! Keluar cepat !!!!" Bentak Arka keras dengan suara arogan dan mengancam, nada suara yang dingin dan berwibawa ala Arka kembali keluar.
Dari balik rimbunan pohon bunga, sesosok hitam tinggi besar melangkah keluar dengan gerakan sangat cepat dan luwes, seolah dia tak memiliki berat badan. Pria itu memiliki putih pucat dan sangat dingin, kulitnya pucat seperti mayat, dan senyum di bibirnya terasa sangat berbahaya. Gigi nya bertaring dan Matanya Hitamnya menatap tajam tepat ke arah Nayyara. "Akhirnya... aku menemukanmu, Dewi Athena ku..." Suaranya berat, bergetar, dan penuh tekanan.
Siapakah sosok itu??"