NovelToon NovelToon
Nayara'S Story

Nayara'S Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aini Nuraini

JUDUL: NAYARA'S STORY: TAWANAN DUA MORETTI

Hanya karena salah melihat eksekusi berdarah, hidup Nayara berubah menjadi neraka.

Dia diseret ke Mansion Moretti untuk dilenyapkan. Namun, saat pistol sang penguasa mafia, Lorenzo Moretti, menempel di dahinya, eksekusi itu batal. Wajah Nayara sangat mirip dengan wanita dari masa lalu Lorenzo.

Alih-alih bebas, Nayara justru terjebak menjadi tawanan sekaligus pemuas obsesi gila sang ayah, dan pelampiasan dendam sang anak—Dante Moretti—yang posesif. Diapit dua iblis mafia, Nayara dihancurkan hingga tak tersisa.

Namun mereka lupa, singa yang terluka akan menggigit lebih mematikan.

"Bagi mereka, tubuhku adalah candu yang memabukkan. Namun mereka lupa, candu ini pulalah yang akan menjadi racun paling mematikan bagi akhir hidup mereka."


Genre: Dark Romance, Mafia, Revenge, Toxic Triangle
⚠️ Peringatan: Mengandung konten dewasa dan konflik emosional yang intens.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aini Nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Singa yang nggan tumbang

"Kau sedang melihat apa?" tanya Dante dengan suara rendah yang memikat.

" Tergoda dengan tubuhku huh? "

"S-Siapa juga yang melihat tubuhmu?! Jangan terlalu percaya diri, ya!" sanggah Nayara cepat. Wajahnya mendadak terasa panas, dan dia buru-buru membuang muka ke arah jendela kamar rawat VVIP itu.

Dante terkekeh sinis, sebuah suara parau yang terdengar begitu menyebalkan sekaligus seksi di telinga Nayara. Pria itu sudah berdiri di samping ranjang sakitnya, bertelanjang dada, mencoba memakai kemeja hitam bersih yang baru saja dibawakan oleh anak buahnya.

Meskipun perban putih masih membalut tebal belikat kanan hingga sebagian punggungnya, tubuh kekar Dante tetap terlihat begitu mengintimidasi. Otot perutnya yang tercetak sempurna, berpadu dengan bahu lebar yang kokoh dan beberapa bekas luka lama, membuat Nayara tanpa sadar sempat terpaku selama beberapa detik sebelum ketahuan.

"Mulutmu bisa saja berkelit, tapi mata bodohmu itu tidak bisa bohong," cibir Dante. Dia meringis sedikit saat mencoba memasukkan lengan kanannya ke lengan kemeja. Luka jahitannya jelas belum kering, tetapi ekspresi wajahnya seolah tidak merasakan sakit yang berarti. "Kenapa? Apa tubuh tuan Mafia-mu ini terlalu mengalihkan duniamu?"

"Dante Moretti, demi Tuhan, tingkat kepercayaan dirimu itu benar-benar di luar nalar!" ketus Nayara, kini kembali menatap Dante dengan tatapan galak untuk menutupi rasa salah tingkahnya. "Aku hanya sedang memastikan apakah kau akan pingsan lagi atau tidak saat memakai baju. Kau itu belum sembuh!"

"Ini hanya luka goresan kecil, tidak akan membuatku mati," sahut Dante datar, mulai mengancingkan kemejanya satu per satu dari bawah dengan tangan kirinya yang lebih leluasa.

"Luka kecil kepalamu botak!" semprot Nayara, tidak peduli lagi pada tata krama. "Dua peluru menembus punggungmu, kau sempat koma, dan dokter bilang masa kritis-mu baru lewat kemarin! Sekarang kau bersikeras minta pulang ke Jakarta? Kau ini keras kepala sekali, sih!"

"Sebaiknya jaga bicaramu, Nayara. Kau sedang berbicara dengan siapa sekarang, hm?" Dante menyipitkan mata elangnya, menatap Nayara yang berdiri beberapa langkah di depannya dengan berani. " lagipula Aku tidak betah berlama-lama di tempat bau obat ini. Pekerjaanku di Jakarta menumpuk, dan aku tidak punya waktu untuk berbaring seperti orang cacat di atas kasur ini."

"Tapi tubuhmu itu butuh istirahat! Kalau jahitannya terbuka lagi di dalam pesawat bagaimana?!" seru Nayara frustrasi.

Setiap kali Dante berbicara, Nayara selalu menemukan celah untuk menjawab dan mendebatnya. Tidak ada sedikit pun rasa takut yang tersisa di wajah gadis itu, padahal dia tahu betul pria di depannya bisa melenyapkan nyawanya dalam sekejap.

Dante menghentikan gerakan tangan kirinya yang sedang membetulkan kerah kemeja. Dia melangkah perlahan mendekati Nayara, membuat gadis itu refleks mundur selangkah hingga punggungnya membentur dinding kamar. Dante mengurung tubuh mungil Nayara dengan satu lengan kirinya yang bertumpu pada dinding, tepat di samping kepala gadis itu. Aromanya yang khas—campuran parfum maskulin dan antiseptik rumah sakit—seketika mengepung indra penciuman Nayara.

"Kau tahu, Nayara..." bisik Dante, suaranya yang berat dan dalam menggema tepat di depan wajah Nayara. "Kau adalah satu-satunya tawanan di dunia ini yang sangat kurang ajar dan berani menjawab setiap perkataanku."

Nayara menelan ludah, mencoba menahan debar jantungnya yang mendadak berpacu gila-gilaan akibat jarak mereka yang terlalu dekat. "L-Lalu kenapa? Kau mau membunuhku?"

Dante tersenyum smirk, sebuah senyuman kejam namun sarat akan ketertarikan yang tak bisa disembunyikan. "Kau juga harus tahu satu fakta lagi. Kau adalah satu-satunya tawananku yang masih hidup sampai detik ini. Jika tawanan lain yang berani bicara sekasar dirimu padaku... saat ini mereka mungkin sudah menjadi tumpukan tulang belulang yang membusuk, atau sudah berubah menjadi abu yang ditiup angin."

Ancaman itu terdengar begitu nyata, membuat bulu kuduk Nayara meremang sejenak. Namun, gengsi dan sifat dasarnya yang pembangkang menolak untuk tunduk. Nayara memberanikan diri menatap balik mata elang Dante.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak merubahku menjadi abu sekalian? Kenapa kau malah repot-repot menyelamatkanku di hutan malam itu?" tantang Nayara dengan suara bergetar namun tajam.

Dante terdiam sejenak, menatap lekat bibir ranum Nayara yang baru saja menantangnya. Sial, gadis ini benar-benar tidak punya rasa takut. Dante perlahan menarik kembali tangannya dari dinding,

menjauhkan tubuhnya dengan helaan napas pendek.

"Karena kau masih berguna sebagai bidakku, Kucing Liar. Jangan berpikir macam-macam," jawab Dante dingin, kembali ke mode mafianya yang tak tersentuh.

Tok... Tok... Tok...

Pintu kamar ICU VVIP itu terbuka. Lucas melangkah masuk dengan setelan jas hitamnya yang rapi. Meskipun wajahnya masih agak pucat dan ada perban di pelipisnya, kondisi tangan kanan kepercayaan Dante itu sudah jauh lebih baik dan tampak siap bertugas kembali setelah mendapat perawatan kilat.

"Tuan Muda Dante, semua persiapan untuk penerbangan pribadi kembali ke Jakarta sudah selesai," lapor Lucas dengan sikap hormat yang kaku. "Mobil jip dan pengawalan ketat sudah bersiap di lobi bawah rumah sakit."

Dante menoleh, mengangguk kecil. "Bagus. Bagaimana dengan Lorenzo?"

"Tuan Lorenzo sudah pergi sejak subuh tadi, Tuan Muda. Beliau harus kembali ke markas utama karena ada urusan faksi yang harus diselesaikan setelah interogasi semalam," jawab Lucas tenang.

Mendengar nama Lorenzo disebut, Dante hanya mendengus sinis. Dia tahu betul ayahnya pergi bukan hanya karena urusan faksi, melainkan karena rasa tidak nyaman dan amarah yang tertahan setelah melihat kedekatan Dante dengan Nayara—anak dari Emily—di kamar rawat ini semalam. Permainan psikologisnya dengan sang ayah berjalan persis seperti yang dia inginkan.

"Baguslah kalau singa tua itu sudah pergi," gumam Dante dingin. Dia beralih menatap Nayara yang masih berdiri mematung di dekat dinding. "Ayo jalan, Nayara. Jangan membuatku harus menyeretmu keluar dari rumah sakit ini."

"Aku bisa jalan sendiri!" ketus Nayara, menyambar tas kecilnya dari atas kursi dengan sentakan kesal. Sebelum melangkah keluar, dia sempat menatap Lucas dengan pandangan yang jauh lebih ramah. "Lucas, kau benar-benar sudah tidak apa-apa? Kau yakin tidak mau istirahat sehari lagi?"

Lucas sempat melirik Dante yang mendadak memberikan tatapan mematikan ke arahnya, membuat pria jangkung itu berdehem canggung. "Saya sudah sehat, Nona Nayara. Terima kasih atas perhatian Anda. Tugas saya adalah mendampingi Tuan Muda."

"Lihat itu, Dante. Contohlah tangan kananmu, dia jauh lebih manusiawi dan tahu cara berterima kasih daripada tuannya yang berengsek!" sindir Nayara sengaja sambil berjalan mendahului mereka keluar pintu.

"Nayara, tutup mulutmu atau aku akan benar-benar mengikatmu di bagasi pesawat nanti!" ancam Dante dari belakang, melangkah dengan tegap meski menahan nyeri yang luar biasa di punggungnya demi menjaga wibawanya sebagai seorang pemimpin klan Moretti.

Lucas yang berjalan di paling belakang hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, dia melihat ada seorang wanita yang bisa membuat ruang ICU VVIP yang mencekam berubah menjadi arena perdebatan yang penuh warna, dan anehnya, Tuan Mudanya yang kejam itu tampaknya menikmati setiap detik ketidaksopanan gadis tersebut. Perjalanan kembali ke Jakarta kali ini dipastikan tidak akan berjalan dengan membosankan.

1
Muhamad Nazril
👍👍👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih🤗
total 1 replies
HamdanR M
Makin kesini semakin seru😍
Lanjutt min, Semangat 💪💪💪
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀: Terimakasih kak🤗
total 1 replies
Padil
👍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
siap
Nazwan Nazwan
Bagus😍😍😍
𝘚𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩𝘢𝘯_𝘧𝘪𝘬𝘴𝘪 🥀
😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!