NovelToon NovelToon
Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Wanita Miskin Pengganti Nyonya Mahesa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Quin

Nadira, gadis miskin dari desa, datang ke kota demi biaya pengobatan ibunya. Hidupnya berubah ketika ia menemukan seorang wanita tewas di pinggir jalan dan tanpa sengaja menjadi tersangka pembunuhan karena DNA-nya ditemukan di tubuh korban.

Korban itu adalah Nayla Adiprana, istri Mahesa Adiprana, pengusaha kaya yang dipenuhi duka dan amarah. Sebagai hukuman, Mahesa memaksa Nadira menikah dengannya dan hidup menderita di rumahnya.

Namun seiring waktu, Mahesa mulai melihat ketulusan Nadira yang merawat putranya dengan penuh kasih. Saat benih cinta tumbuh, kebenaran mengejutkan terungkap.

Akankah Nadira memaafkannya atau justru Nadira akan menjauh darinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Nadira menatap tempat duduk yang ada di samping Mahesa. Rasanya sangat berat untuk melangkah dan duduk di sana.

" Jangan berdiri terus ayo duduk! Keano berat kamu akan pegal dan tidak bisa mengurusnya dengan baik." Mahesa masih bicara dengan dingin.

Nadira melangkah perlahan, ia kemudian duduk di samping Mahesa. Mereka sangat dekat membuat jantung Nadira berdegup kencang. Mahesa sangat menakutkan baginya.

" Aku dengar kamu sudah sembuh, besok sudah bisa pulang. Tapi kamu akan tetap di sini menjaga Keano. Jangan pikir aku akan membebaskan mu. Beberapa hari ini kamu beruntung karena aku merawat Keano yang sakit dan tidak menghukum mu."

Nadira tahu, Mahesa tak akan mungkin melepaskannya begitu saja. Pria itu masih menganggapnya sebagai pembunuh dan akan menghukumnya.

Tapi sekarang Nadira sudah menjadi pengasuh Keano, apakah Mahesa akan tetap memukulnya dengan ikat pinggang?

Nadira menatap Keano, " Dia sudah tidur, aku akan meletakkannya di ranjang bayi." ujar Nadira dengan suara pelan.

Mahesa diam, kemudian tangannya terulur untuk mempersilahkan Nadira.

Nadira bangkit, ia meletakkan Keano dengan pelan di ranjangnya. Keano tampaknya tidur dengan nyenyak, Keano tak menangis lagi.

Nadira menatap Keano dengan tulus, tanpa ia sadari Mahesa sedang mengawasi nya.

Nadira melangkah ke arah pintu.

" Mau kemana kamu?." tanya Mahesa dingin.

" Sa...saya mau ke ruangan saya tuan. Ini sudah larut." jawab Nadira takut takut.

" Tidak! kamu harus tetap di sini!. jangan tinggalkan Keano sedetik pun."

Deg.

Nadira kembali merasakan gugup luar biasa. Mahesa tidak membiarkannya pergi. Berarti ia akan tidur di ruangan yang sama dengan Mahesa.

" Tapi ...saya..."

Mahesa berdiri dan menarik lengan Nadira. " Jangan membantah!." tatapannya dingin membuat Nadira menunduk tak berani.

" Kamu akan tidur di samping Keano."

Mahesa menuntun Nadira menuju ranjang Keano yang besar. Ranjang itu di kelilingi dinding jaring.

Nadira tak punya pilihan, ia masuk ke dalam dan berbaring di samping Keano.

Malam itu, ketegangan yang Nadira rasakan membuatnya tak bisa tidur.

Sementara di lain sisi Mahesa juga sama, ia sulit memejamkan matanya.

Mahesa tidur di sofa, sementara Nadira tidur disamping Keano.

Mahesa menatap ke arah Nadira yang terlihat memejamkan mata. " Kenapa wanita ini sangat menarik perhatianku. Sudah lima hari dia di rawat, aku berniat untuk tidak peduli. Tapi nyatanya aku malah diam diam memperhatikannya dari balik pintu untuk memastikan keadaannya. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan aku sangat membencinya. tapi mengapa perhatianku seolah mengarahkan aku padanya. Dan dia juga bisa menenangkan Keano dengan mudah. Bahkan Keano tidur dengan tenang di samping wanita itu. Siapa sebenarnya dia?. Sihir apa yang diberikannya?. Aku tidak mengerti."

Mahesa menghela nafas berat, rasanya yang terjadi saat ini sulit untuk ia pahami. Ia yang diam diam ingin tahu keadaan Nadira, serta Keano yang tenang dalam pelukan Nadira.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, terlihat Nadira juga mulai tertidur. Sementara Mahesa masih terjaga dengan pikirannya yang bergelut.

Tiba tiba pintu ruangan terbuka perlahan, Mahesa dapat melihat ada sosok perempuan yang membelakanginya. Mahesa sangat mengenal wanita itu, dia adalah...Nayla ..."

Mahesa mendekati sosok Nayla dengan wajah sedih, " Kenapa kamu pergi? kenapa secepat itu kamu pergi? Meninggalkan aku sendirian, kenapa Nayla?." tanya Mahesa.

Sosok itu berbalik, wajahnya pucat dan juga seperti sedang menangis. " Maafkan aku, aku telah mengecewakanmu. Aku sangat menyesal."

" Jangan minta maaf Nayla, aku tahu kamu pasti sangat menderita karena merasakan rasa sakit sebelum kamu meninggal, aku menyesal karena tak bisa menyelamatkan mu saat itu." ujar Mahesa.

Sosok Nayla perlahan mulai memudar di balik cahaya, Mahesa ingin menggapainya namun tidak bisa.

"Naylaaa..."

" Tuan Mahesa, apa yang terjadi bangunlah..."

" Nayla ... Jangan pergi..."

" Tuan Mahesa... Anda bermimpi bangunlah..."

" Nayla..."

Mahesa memeluk Nadira dengan erat sambil menyebut nama Nayla. Sementara itu Nadira yang mencoba membangunkan Mahesa tak menyangka jika kejadian ini akan terjadi.

" Nayla, jangan pergi..." Mahesa menitikkan air mata sambil mencium bahu Nadira berkali kali.

Nadira yang merasa geli langsung mendorong tubuh Mahesa menjauh.

" Tuan, ini saya Nadira!."

Deg

Mahesa membeku di tempatnya, ternyata ia hanya bermimpi dan telah memeluk Nadira.

Mahesa kembali terbayang wajah Nayla. " Dia ada di sini!."

Mahesa melangkah keluar dari ruangan, mencari sosok Nayla yang ia lihat ada di sana.

Nadira hanya memperhatikan tingkah Mahesa. Saat ia mendengar Mahesa mengigau, Nadira berusaha membangunkan Mahesa. Nadira merasa kasihan, Ternyata Mahesa sangat kehilangan sosok istrinya.

Saat sedang melamun, Nadira terkejut karena tiba-tiba Mahesa malah mendorongnya hingga ia terjatuh di sofa. Mahesa mencengkram lehernya dengan penuh amarah.

" Beraninya kamu memeluk ku! Kamu telah membunuh istriku! Kamu harus menanggung akibatnya."

Nadira yang kesulitan bernapas hanya bisa menepuk nepuk tangan Mahesa. pria itu menatapnya dengan marah.

" Tuan ... Saya tidak bisa bernafas..." Nadira mulai menitikkan air mata.

Mahesa yang mulai menyadari tindakannya akhirnya melepaskan tangannya pada leher Nadira.

Nadira langsung berdiri dan menjauh dari Mahesa. Badannya kembali gemetar bahkan ia meremas ujung bajunya.

Sementara itu Mahesa yang mulai bisa menguasai emosinya terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menyadari semuanya hanya mimpi. Tapi saat melihat wajah Nayla, Mahesa seperti ingin membunuh Nadira saat itu juga.

Mahesa menatap ke arah Nadira yang ketakutan, " Kembali ke tempatmu!."

Nadira tak bergeming, ia takut mendekat.

" Apa kau akan tidur sambil berdiri?." tanya Mahesa lagi.

" Saya..."

" Kembali ke tempatmu!."

Mahesa kembali melayangkan tatapan tajam.

Nadira menghapus air matanya, ia takut akan di cekik lagi. kejadian tadi membuatnya tak bisa bernafas, rasanya sangat sakit.

Nadira tak ingin mengambil resiko, ia memilih keluar dari ruangan itu.

Tapi saat akan membuka pintu, tangannya malah di tarik oleh Mahesa.

" Kamu tidak mendengar perintahku? Aku sudah katakan jangan tinggalkan Keano!." ujar Mahesa dengan tatapan marah.

Nadira berusaha untuk melawan, tapi hal yang tak terduga terjadi. Mahesa malah menggendongnya dan meletakkannya kembali ke samping Keano.

Nadira mematung, Mahesa sangat menyeramkan.

" Jangan coba coba kabur! Kamu harus ingat kalau kamu itu hanyalah tahananku! Walaupun aku membunuhmu kamu harus menerimanya!."

Deg

Nadira tak menyangka, ternyata Mahesa tidak peduli dengan dirinya yang ketakutan. Mahesa malah memperingatkan nya untuk tidak kabur.

Mahesa kembali ke sofa panjang yang menjadi tempat tidurnya, Mahesa menatap tangannya yang telah mencekik leher Nadira. Ia sadar, tadi tangannya mencekik Nadira dengan sangat kuat.

"Kenapa aku bisa merasa bersalah seperti ini? Seharusnya itu wajar untuk menghukumnya. Tapi aku merasa bersalah setelah mencekiknya. Ekspresi kesakitan itu...benar benar menggangguku!." gumam Mahesa dalam hati.

Nadira diam diam kembali menitikkan air mata, lehernya sangat sakit. Ia pikir ia akan mati. Nadira menyentuh lehernya yang terasa perih. " Apa takdirku memang seperti ini? Aku tidak sanggup!."

1
NN
lanjut
Quin: okeyy best👍😍
total 1 replies
Ma Em
Semoga kebenarannya segera terungkap agar Nadira bisa cepat bebas dari siksaan Mahesa , dan bisa pulang kerumah ibunya .
Quin: terimakasih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!