Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng Utara
Suasana desa berubah sunyi setelah Gerald membaca pesan itu.
Angin pagi masih berhembus. Api unggun masih menyala.
Namun satu kalimat tadi cukup membuat semua orang merasa tidak nyaman.
“Benteng utara sekarang milik Raven.”
Elias mengernyit bingung.
“Benteng utara itu penting ya?”
Varn langsung menjawab pelan:
“Penting banget.”
Pria tua itu mengambil tongkat lalu menggambar di tanah.
“Lihat.”
Ia membuat garis sederhana:
desa mereka di selatan
hutan di tengah
dan benteng besar di utara
“Itu satu-satunya jalur aman menuju wilayah selatan.”
Gerald langsung mengerti.
Kalau Raven menguasai benteng itu…
Berarti semua pengungsi, pedagang, dan tentara yang lewat harus melewati wilayahnya.
Dan orang seperti Raven…
Pasti tidak akan membiarkan itu gratis.
“Dia bangun kerajaan kecil,” gumam Gerald.
“Betul,” jawab Varn.
Doran malah tersenyum kecil.
“Menarik.”
Elias langsung menoleh.
“APANYA YANG MENARIK?!”
“Kalau dia punya benteng…”
Doran memutar kapaknya pelan.
“…berarti dia juga punya makanan.”
“OTAK KALIAN KENAPA ISINYA PERANG DAN MAKAN DOANG?!”
Boris langsung angkat tangan.
“Aku lebih dominan makan.”
“DIAM KAU!”
Beberapa orang tertawa kecil lagi.
Namun Gerald tetap serius.
Benteng berarti:
pertahanan
persediaan
pasukan
dan kekuasaan
Kalau Raven benar-benar mantan ksatria…
Maka dia jauh lebih berbahaya dibanding orc biasa.
Karena monster bertarung pakai insting.
Namun manusia seperti Raven… bertarung pakai otak.
Dan itu lebih mengerikan.
“Gerald.”
Luca mendekat perlahan.
“Apa kita bakal lawan mereka?”
Semua langsung diam mendengar pertanyaan itu.
Karena mereka tahu satu hal:
Cepat atau lambat… mereka pasti bertemu Raven.
Gerald melihat sekeliling desa kecil mereka.
Orang-orang sedang latihan. Beberapa memperbaiki rumah. Sebagian menjaga gerbang.
The 10th Battalion mulai terbentuk.
Namun masih terlalu lemah.
Kalau perang sekarang…
Mereka kalah.
“Belum,” jawab Gerald akhirnya.
Elias langsung lega.
“Syukurlah…”
“Tapi kita harus siap.”
“…ANJIR.”
Gerald berdiri lalu melihat seluruh anggota batalion.
“Mulai hari ini latihan digandakan.”
Seluruh desa langsung protes.
“HAH?!”
“BARU KEMARIN LATIHAN!”
“BADANKU MASIH SAKIT!”
Doran malah tertawa keras.
“HAHAHA!” “Bagus!”
“Kau bukan manusia normal!” teriak Elias.
Gerald mengabaikan keributan itu.
“Kita butuh:
formasi
pemanah
penjaga malam
dan orang yang bisa berburu.”
Lalu matanya berhenti ke Boris.
“…Dan kita butuh makanan lebih banyak.”
Boris langsung bangga.
“Akhirnya ada yang mengerti aku.”
“Itu bukan pujian.”
Tak lama kemudian…
Latihan kembali dimulai.
Namun kali ini jauh lebih serius.
Gerald membagi mereka:
tombak depan
pedang belakang
pemanah
pengintai
Meski kacau… perlahan mereka mulai terlihat seperti pasukan sungguhan.
“Elias!”
“Hah?!”
“Tombakmu terlalu tinggi!”
“Aku capek!”
“Kalau orc datang dia gak peduli kau capek!”
“KENAPA HIDUP GUE ISINYA DIMARAHIN TERUS?!”
Di sisi lain—
DUARR!!
Doran menjatuhkan tiga orang sekaligus saat latihan dorong tameng.
“HAHAHAHA!”
“ITU LATIHAN BUKAN PEMBANTAIAN!” teriak Luca.
Sementara Boris…
“Kenapa aku disuruh lari…”
Karena tubuh besarnya, Gerald memaksa Boris latihan stamina.
Dan pria gendut itu sekarang hampir mati cuma karena keliling desa.
“Aku mau pensiun…”
“Kau belum mulai perang,” jawab Gerald datar.
“Kejam.”
Namun di tengah latihan kacau itu…
Seseorang tiba-tiba berlari masuk desa sambil panik.
“GERALD!”
Semua langsung berhenti.
Pria itu terengah sambil menunjuk arah hutan.
“Ada orang datang!”
“Bandit?” tanya Varn.
Pria itu menggeleng cepat.
“…Tentara.”
Suasana langsung berubah dingin.
Gerald menyipitkan mata.
“Berapa banyak?”
“Mungkin… dua puluh.”
Elias langsung panik.
“PASUKAN RAVEN?!”
“Entahlah!”
Gerald langsung mengambil pedangnya.
“Semua posisi.”
Dalam hitungan detik— seluruh desa berubah tegang.
Orang-orang mengambil senjata. Pemanah naik ke atap rumah. Tombak diarahkan ke gerbang.
Dan beberapa menit kemudian…
Mereka akhirnya melihat kelompok itu keluar dari hutan.
Sekitar dua puluh orang.
Membawa pedang. Memakai armor rusak. Dan berjalan dalam formasi rapi.
Berbeda dari bandit biasa.
Salah satu pria maju ke depan.
Tubuhnya tinggi dengan jubah abu-abu panjang.
Tatapannya tajam.
Dan di pinggangnya tergantung pedang ksatria.
Pria itu melihat desa kecil mereka beberapa detik.
Lalu tersenyum tipis.
“…Jadi ini markas The 10th Battalion.”
Semua langsung membeku.
Karena mereka belum pernah memberi tahu siapa pun nama itu.