Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.
Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.
Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.
Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25.
"Lo gila Jessy...? Gue nggak mau nurutin omongan lo...!" Satria menuding tajam gadis berambut pirang di depannya. Matanya menyorot tajam, menyiratkan kebencian yang menggumpal.
"Ya udah sih kalo lo nggak mau, gue bisa suruh orang lain" ucap gadis berambut pirang, diakhiri senyuman miring.
Ia melangkah mendekati pemuda itu. Seperti biasa, ia mulai menggerayanginya, meraba setiap aliran nadinya. Hingga tangannya berhenti pada satu titik pusat.
"Sayang..." ucapnya mendayu. Tangannya naik turun mengusap halus inti tubuh. Dalam hati ia merasa bangga dan puas setiap kali melakukannya, ketika pemuda itu tak berdaya dalam genggamannya.
"Gimana sayang..." gerakannya semakin liar, jemarinya menyelinap masuk diantara sela-sela pakaian.
"Hentikan Jessy..." ucap Satria parau. Tubuhnya menegang sempurna, tapi wajahnya lemah tak berdaya. Setiap sentuhan itu memicu rasa panas yang menjalar cepat ke seluruh persendian, membuatnya lemas tak berdaya melawan.
"Kenapa sayang, lo suka ini kan?" gadis itu dengan sigap melepas gesper yang melingkar di pinggang Satria, bersiap menanggalkan apapun yang menghalangi gerakannya.
“Hentikan... Jessy, hentikan!” desis Satria lirih dengan suara terputus‑putus. Tubuhnya menegang kaku, otot‑ototnya berkontraksi menahan dorongan keras untuk mendorong gadis itu pergi.
"Jessy... Gu-gue... Gue turutin apa mau lo" ucapnya terbata dengan napas memburu menahan gejolak di dada. Ia menyerah pada akhirnya.
"Bagus" ucapnya merasa puas. Ia tersenyum miring memandang Satria yang selalu kalah dalam genggamannya. Jemarinya meremas kuat ketegangan sebelum ia benar-benar melepaskan.
Satria berjalan tertatih, menahan emosi dan hasrat yang tak terbendung lagi. Ia meninggalkan kamar gadis itu yang baginya seperti sebuah sarang kekejaman.
Langkahnya terus berlanjut memasuki sebuah ruang kecil rahasia, untuk menuntaskan sesuatu yang bergejolak hebat.
Sedangkan Jessy, gadis itu menatap sendu kepergian Satria. Ia meraba dadanya sendiri yang terus berdebar sejak tadi. Tak ayal, rasa panas itu ikut membakar dirinya. Denyutan halus ia rasakan di inti tubuhnya, menjalar ke setiap urat nadi.
Ia menatap cangkir kopi bekas milik Satria, yang masih menyisakan separuh isinya. Lalu ia membuang cairan itu, kopi yang diam‑diam telah dicampurinya dengan serbuk aprodisiak.
****************
Sinar fajar merayap perlahan menembus celah daun, melemparkan cahaya lembut yang menyentuh sudut‑sudut halaman, diantara rimbunnya bunga tabebuya.
Sejak pulang kemarin, hati Naysilla terasa lebih tenang, seolah angin malam telah membawa pergi sebagian beban yang membebani pikirannya.
Kini ia berdiri di balkon depan kamarnya, pakaian rapi dan tas tersandang ringan. Rambutnya tergerai indah, jatuh hampir menutupi mata.
Sayup-sayup ia mendengar langkah kaki mendekat. Jantungnya berdetak kian cepat. Wajahnya menunduk dalam, menekan rindu yang siap memuncak. Namun...
"Nay..."
Suara itu? Panggilan itu? Bukan miliknya. Ia memutar tubuhnya lemas, memandang Satria yang sudah berdiri tegap didepannya. Wajahnya sangat ceria di hiasi senyum manis khas-nya.
"Udah siap? Ayo...!" tangannya terulur ke depan, bersiap menggenggam kelembutan. Tapi dengan cepat gadis itu menarik diri, Satria hanya bisa menggenggam angin kosong.
"Kak Satria, tumben nyamper aku ke sini"
"Kemarin kan gue udah janji, mau jemput lo"
"Oh iya, lupa. Kok bisa sampe keringetan banyak gini sih"
Ia mengambil selebar tissue yang terselip di antara sakunya. Mengusap ringan peluh yang membanjir dahi cowok itu. Sederhana, terasa lembut, tapi cukup mendebarkan bagi Satria.
"Terima kasih yah, Nay" ucapnya tulus.
"Hah... Apanya....?"
"Lo baik banget mau hapus keringet gue"
"Oh, ini. Bukan apa-apa kok" ia menarik tangannya kembali, membuang bekas tissue sembarang dengan perasaan gugup. Ia hanya mengikuti kata otak, tanpa berfikir akibat dari perbuatannya.
"Ayo, Nay. Kita sarapan dulu di kantin"
"Kak Satria kamarnya di mana? Kok kaya habis lari jauh" ucap Naysilla di sela-sela langkah.
"Di ujung sana" ia menunjuk bangunan berbeda yang ada di seberang. Terlihat lebih sederhana dan cukup jauh jaraknya.
"Lumayan jauh juga yah, apalagi kalo jalan kaki ke sekolah"
"Nggak jauh-jauh banget sih, tapi kalo di banding jarak dari sini ya beda jauh, beda juga kualitasnya"
"Hah, beda kualitas... Maksudnya?
"Kamar gue tipe ekonomi, nggak semewah kamar lo. Apalagi disana satu kamar tinggal bareng-bareng"
"Kok bisa gitu?"
"Ya memang gitu aturannya. Perkamar maksimal bisa ditinggali 4 orang"
"Waaah.... Asyik dong, jadi ada temennya"
"Ada plus minusnya deh pokoknya"
Di antara obrolan hangat pagi hari, terselip rasa bersalah yang diam-diam menjalar di hati Satria.
Langkahnya pelan menuju sekolah, di antara rimbunnya bunga tabebuya. Tapi ketenangan itu seketika musnah, ketika seseorang dengan sengaja menyenggol bahunya.
"Woy... Ati-ati napa... Lo nggak liat jalan, ada orang sebesar ini main tabrak ajah" ucap Satria berang.
"Oh, situ orang? gue pikir kotoran yang membandel" ucap Mohan sarkas. Dengan cepat ia genggam tangan Naysilla, menariknya cepat menuju sekolah.
Satria hendak mengejar, tapi terhalang ranting kecil di depannya. Ia terjatuh, seketika tersungkur ke bawah. "Sialan... Gue kalah cepat"
"Momon..."
Langkahnya memburu, ia terus menyeret tangan gadis itu untuk mengikuti langkahnya. Tak peduli rintihan yang keluar dari mulutnya.
"Lho, Momon... Kita mau kemana? Kelasnya di sebelah sana" protes Naysilla, ketika mereka melangkah keluar jalur. Tapi Mohan, mana peduli.
Cowok itu terus membawanya, pada sebuah tempat yang tak asing baginya. Membawanya pada memori pertemuan pertama mereka, sebuah ruang UKS terbengkalai yang di sulap menjadi ruangan pribadi yang nyaman.
"Momon, kok kita kesini" ucapnya heran ketika ia dibawa masuk kembali ke ruangan ini.
Mohan tetap diam, menutup pintu perlahan, menguncinya rapat-rapat, sampai tak ada celah untuk bisa keluar dari sana.
"Momon..."
Grep
Naysilla terhenyak, ketika tubuh tegap itu mendekap dirinya. Begitu erat, semakin erat sampai membuatnya sesak. Menumpahkan semua kerinduan yang terpendam.
Naysilla mematung, lalu diam-diam membalas memeluknya erat, seolah ingin menyatukan kembali seluruh jarak dan waktu yang telah memisahkan mereka.
Wajahnya tenggelam di bahu Mohan, menghirup dalam-dalam aroma yang selama ia rindukan, aroma yang menjadi tempat pulang yang tak tergantikan.
Kedua tangannya memeluk punggung cowok itu erat, seakan takut jika dilepaskan sedikit saja, sosok itu akan lenyap kembali menjadi mimpi.
Di dalam pelukan itu, segala rasa rindu yang tertahan, segala pertanyaan yang tak terucap, segala keraguan yang membebani perlahan meleleh dan mengalir begitu saja. Tak perlu kata-kata lagi, detak jantung yang saling bersahutan sudah berbicara lebih jujur daripada ribuan kalimat.
“Momon...”
"Iya, Na. Kenapa..." ia mengusap lembut pinggang ramping dalam dekapannya. Begitu nyaman, sangat nyaman, sampai enggan dilepaskan.
"Kangen..."bisiknya lirih, suaranya tergetar menahan haru, seluruh isi hatinya dituangkan ke dalam pelukan itu, memohon agar momen ini tak pernah berakhir.
Namun, ketenangan itu, rasa nyaman itu tak bertahan lama. Ketika kehadiran sosok misterius mengusik semuanya.
Brak...!
"Siapa di sana...!"
cupu tuh apaan ?