Namanya Takeuchi Hideki. Dia hanyalah seorang pekerja kantoran biasa yang sudah bosan hidup.
Saking bosannya, apapun yang bakalan terjadi padanya takkan ia pedulikan. Hingga suatu hari, Hideki menemukan sebuah portal menuju dunia lain.
Yang dimasukinya adalah negara Inggris dan dirinya berada di dalam tubuh seorang bayi bernama James Darren.
Seorang anak terkutuk dan pria pekerja kantoran, benar-benar perpaduan yang sangat sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A Giraldin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.6: Pertukaran Kembali
[Boleh. Jadi, hari ini mau istirahat dulu kah?]
“Aku mau bertanya banyak hal padamu. Boleh kan!”
[Ya, boleh kok.]
“Baiklah, pertama-tama, di dunia sana aku bisa mengingat banyak hal atau tidak? Maksudku... Diriku pintar atau bodoh?”
[Menurutku pintar. Kau tahu banyak sejarah kami lho! Padahal hidupmu baru 15 tahun di sana.]
“Begitu ya! Keren juga diriku, hehehe. Oh benar! Apakah mungkin seharusnya tak ada yang menghentikanku masuk ke dalam portal?”
[Ya, harusnya tidak ada dan dengan begitu, kau akan berada di dalam dunia kami. Tapi... Di dunia sana kau cerita bahwa dirimu mati. Masuk ke dalam tubuhku serta jiwaku sendiri mati atau digantikan olehmu.]
[Tubuhku dan jiwamu, itulah James Darren awal mulanya, lebih mudah dimengertinya. Selanjutnya adalah tubuhku dan suaramu. Suaraku asalnya tiada.]
[Dan sekarang tubuhmu dan suaraku. Selanjutnya kira-kira apa ya?]
“Hahaha. Pusing sekali! Aku benar-benar tidak mengerti satupun yang kau katakan. Jadi... Intinya apa?”
[Intinya... Tubuh dan jiwa kita saling bertukar setiap kematian.]
“Oke, terimakasih. Ingatan juga kah?”
[Ya benar. Maaf, lupa tak mengatakannya di intinya!]
“Tenang saja. Yang sebelumnya mudah dimengerti olehku soalnya, hahaha.”
[O-oke.]
Otakku benar-benar kecil ya! Di dunia sana otakku sebesar apa? Kayaknya yang besar adalah otaknya. Itulah kenapa di dunia sana aku pintar.
Hahaha, yang pintar adalah dia dan sepertinya aku tetaplah bodoh. Sungguh ironis dan agak membuatku kesal.
“Kalau mendengarkan penjelasanmu lebih lanjut bisa membuat otakku rusak. Jadi... Mari tidur saja! Besok lanjut lagi.”
[Baiklah. Ternyata dirimu yang ada di dunia sana dan sini berbeda. Apakah mungkin kematian bisa menyebakan perubahan perilaku seseorang?]
“Ahaha, mana aku tahu. Hal-hal ribet seperti itu pikirkan saja sendiri. Jangan bawa-bawa aku dalam hal seperti itu! Memikirkannya membuatku muak serta lebih baik dengar aja walau otak bisa rusak.”
[Begitu ya! Oh benar! Di dunia sana keren lho! Dunia sini pun sepertinya sama. Sebelum kembali, bolehkah aku memintamu mengajakku jalan-jalan?]
“Jalan-jalan ya! Kayaknya bagus.”
Sesekali menghirup udara segar itu tidak masalah kan! Hehehe, perkataanku keren banget dan pastinya nggak masalah.
Kalau jalan-jalan sepertinya bagusnya ke pemandian air panas. Aku sudah lama tidak menikmati onsen.
Di onsen para laki-laki selalu menantang diri mereka di tempat bernama sauna. Hahaha, aku jadi ingin mencobanya.
Diriku ini belum pernah ke sauna kah? Ya, tentu saja. Sauna itu katanya nggak ada AC dan panas banget di dalamnya.
Itu wajar sir dan kalau menyiram air ke atas batu bara di dalam ruangan bernama onsen ini, maka suhunya bakal semakin panas.
Kebanyakan laki-laki melakukan hal tersebut dan nanti coba ajak Yamada aja kali ya!
Yamada asyik orangnya walaupun dia terkadang selalu berperilaku aneh di depanku sampai membuat para perempuan yang satu ruangan denganku cemburu.
Yamada itu seperti salah satu teman sekelasku dulu yang seorang Madonna. Berarti disukai banyak perempuan?
Bukan banyak lagi, tapi semuanya menyukainya. Hahaha, benar-benar hebat dan aku jarang melihatnya bersama para perempuan sih.
Dia hampir ke mana-mana sama aku kalau diriku sudah ada di kantor. Jika tidak... Eemm... Entahlah.
Dan baru juga tiga hari. Mana mungkin dia selalu denganku ya, hahaha. Oh benar! Apakah matematika ku sangat buruk?
Tentu saja iya. Aku bodoh dan dalam hal menghitung atau apapun itu hasilnya pasti selalu salah.
Selama ada Yamada, diriku kayaknya bakal aman-aman saja, hahaha. Di perusahaan sebelumnya milik Bos Han yang kumisnya kayak lele, aku nggak dibantu sama sekali.
Seperti dibiarkan saja. Yahh... Aku sendiri tidak tahu perusahaanku hancur atau tidak karenaku, tapi semoga saja baik-baik saja.
Jadinya diriku tidak merasa bersalah, hehehe. “Sekarang jam berapa?”
Aku melirik ke arah jam dinding di depan diriku yang sekarang berbaring di atas kasur ini.
Sudah jam sembilan malam rupanya. “Tidur aja deh. Kau juga tidur ya, James Darren! Jangan kemalaman atau akan membuatku mudah sakit.”
[Oke. Kau ini seperti orang tua ya! Yaah... Usiamu sesungguhnya 43 tahun harusnya, jika di dunia sana.]
“Tua banget aku rupanya. Berarti 34 tahun aku hidup di sana?”
[Fufufu, Takeuchi Hideki bodoh sekali untuk versi yang ini rupanya. Yang benar itu 15 tahun.]
“Oh oke.”
Aku mengatakan itu tanpa sedikitpun merasa malu atau merasa apa gitu. Hahaha, karena sudah cukup terbiasa, jadi tidak terlalu buruk kayak gini itu.
Benar-benar aneh diriku ini. Lalu... Setelah aku menutup mata, mimpiku sekarang berbeda dan diriku melihat ada banyak sekali pemandangan indah di depan kedua mataku.
Wow! Hamparan rumput yang sangat luas dengan dikelilingi oleh banyak sekali kertas indah beterbangan.
Di kertas tersebut, ada banyak sekali angka yang tertulis. Entah kenapa, di mimpi ini aku malah membacanya sambil berbaring santai di atas rumput dengan sangat santai serta terlihat kayak seorang ahli.
Hehehe, di mimpi ini pastinya diriku sangat pintar. “50 + 60 \=?”
“Ini mudah sekali. Seorang profesor terhormat sepertiku tahu jawabannya apa. Soal anak SD kok dikasih ke lulusan kuliahan yang hampir nggak lulus ini saking terlalu pintarnya! Baiklah, waktunya ku jawab.”
Di situ aku menuliskan angka jawabannya, yakni 70. “Hehehe, sudah pasti ini benar. Tak perlu di cek lagi dan biarkan terbang serta sampai ke pak guru menyebalkan yang selalu mengomeliku karena jawabanku salah terus katanya.”
“Padahal benar, hahaha.”
Benar juga ya! Terimakasih atas kata-katanya, wahai diriku di dalam mimpi. Kau benar-benar aku banget.
Menurutku jawaban dari hasil matematikaku adalah benar, tapi kenapa disalahkan terus?
Dunia ini kayaknya bodoh sekali. Aku terlalu pintar, jadinya hanya di mimpiku saja diriku diakui.
“Dasar anak bodohhhhh!!!”
“AAAA!!! MA-MAAFKAN AKU SENSEIIII!!!”
Payah sekali diriku di dalam mimpi ini. Lalu... Kayaknya dia bolos dan berakhir dikejar-kejar terus oleh pak guru botak dengan pakaiannya rapi sekali.
Beliau mau ke mana? Ahaha, entahlah. Bukan urusanku kalau seseorang sepertinya ingin bepergian kan!
Ah! Sekolah pakaiannya harus rapi dan pakaian guru itu rapi, jadi... Sudah tentu agar terlihat berilmu.
Mau ke mana ku tanyakan? Hehehe, benar-benar bodoh sekali. Jawabannya sudah ada dari sananya.
Lalu... Sekarang, tiba-tiba mimpi lain muncul. Di dalam mimpi ini, sekelilingku terlihat sangat mengerikan.
Ada banyak sekali kegelapan yang tampak menakutiku. Ingin membunuhku dan di ujung sana sebuah pintu terbuka.
Kegelapan di sini berpusat kepada apa? Sekitar juga dunianya. Dunia yang hancur, banyak orang-orang demo ke sana dan kemari hanya karena masalah kecil, dan paling parah... Kanibalisme terjadi di tempat ini.
Saling support sabi kali ya😉